Siang ini, aku melihat hubungan, ikatan, antara waktu dan tempat. Dan aku sadar aku hanyalah seorang pemimpi yang penuh pengharapan, tapi untuk disebut ambisiku melebihi kemampuanku aku tak mau. Saat ini aku cukup sulit untuk mengatakan sedang berada dimana. Entah dimensi mana pada diriku mengatakan bahwa aku sedang mencari, entah itu mencari seseorang atau sesuatu atau mungkin suatu tempat, aku tak tahu. Dan, aku tak ingin tetap tidak tahu. Langkahnya yang ada dipikiranku siapapun itu, selalu menjauh, dan terus menjauh, sedang kakiku kaku atau dikakukan oleh diriku sendiri untuk tidak mengejarnya. Bahkan "nya" yang aku sebut masih abstrak, tak bisa divisualisasikan, hanya bisa dirasakan, getaran, kasih, kelembutan, cinta, serta harapan.
Hanya ada beberapa alasan aku tetap dijalanku, yang menjadi pilihanku adalah alasan dimana aku tidak bisa membuang begitu saja, tidak mengingat begitu saja seseorang atau sesuatu, katakanlah objek yang aku cari yang dimemoriku pernah mengasihiku, merindukanku, memberikan sentuhan tangannya dipipiku saat aku terjatuh dan air mata tak tertahankan jatuh mengalir romantis dipipiku seraya mereka berkata "Hai jatuhkanlah sebanyak mungkin, aku dan yang lainnya sudah pengap didalam kantong mata seseorang yang tidak berguna !!"
Tetes demi tetes... aku terus berlari menyusuri padang rumput luas yang tak terlihat ujungnya, hanya berlari terus berlari, ku buang semua air mataku yang bahkan tak menginginkan berada pada diriku, bersama kenangan dan getaran rindu yang aku pikir aku buang. Ternyata bukan. Itu semua bukan cara untuk menghapuskan ketakutan dan semua harapan yang tidak jelas dipikiranku, justru itu menambah semua kerinduan yang tak kutahu untuk siapa ini sebenarnya, dan kemana aku harus menyalurkannya.
Sang takdir berbisik bahwa aku harus menjadi seorang yang sendiri dan tidak ada siapapun didunia ini yang berhak dan wajib memberikan kebaikannya untukku, karena takdirku hanya untuk aku dan dia yang kucari. Walau dibeberapa kesempatan walau aku merasa tersiksa dan menderita menanggung rindu ini, tak bisa dipungkiri ada perasaan bahagia dan manis melebihi madu dihati ini ketika berjuang dan berusaha mengingatimu, melafalkanmu, mencarimu, meski aku tak tahu dan tidak bisa melafalkanmu, yang aku rasa hanya keindahan dan cinta yang pasti ada didirimu, senyum simpul manismu, apakah dirimu seorang perempuan ? Tak tahu, begitu banyak perempuan cantik disetiap sisi jejak kehidupanku, dan kurasa kau bukan itu, bukan juga laki-laki, Siapakah dirimu ? atau siapakah aku ?
Kau terlalu cantik untuk disebut seorang perempuan, karena kerinduanku melebihi rinduku pada seseorang peremupan. Juga kau begitu kuat untuk dikatakan seorang laki-laki, karena kesulitanku untuk menemukanmu karena mungkin begitu kuatnya dirimu, misteriusnya kamu, o wahai keindahan.
Ini begitu realistis untuk dikatakan mimpi, terlalu tidak rasional untuk dikatakan realistis. Cinta menolak disakiti, tapi bagi para pejuang ini begitu menyakiti.