KRITISLAMISME
Islam sebagai keyakinan
penyempurna memiliki banyak aliran dan sekte di era modernisasi. Di dalamnya
banyak perspektif yang bisa ditarik saat membicarakan Islam; Islam sebagai
dogma, Islam sebagai sejarah, Islam sebagai praktis-sosial, dst.
Fenomena-fenomena ke-Islaman dari sejak berakhirnya era khulafatul rasyidin sudah memproduksi berbagai literatur sejarah
yang tak terhitung kayanya; konflik hegemoni, konflik aliran dan sekte, sudah
tak terhitung lagi jumlahnya, sungguhpun perlu diapresiasi beberapa fakta
sejarah yang itu sifatnya positif-meski dengan hal itu tidak menjadikan kita
sebagai orang yang mengaku ber-Islam ataupun orang diluar Islam merasa tabu
untuk coba rethinking beberapa
nilai-nilai ke-Islaman dizaman ini, apakah masih kontekstual dan relevan ? atau
terjadi degradasi interprestasi akan makna Islam itu sendiri ? Sepertinya tidak
akan menjadi permasalahan selagi itikadnya adalah bermuara pada kebaikan. Amin.
Pergolakan konstelasi politik
Indonesia akhir-akhir ini seperti menemukan karakter baru dalam kontestasinya
sebagai arena kompetisi kepemimpinan dan pengelolaan negara. Agama menjadi
idiom baru yang "seksi" untuk include ke
wilayah konstelasi politik di Indonesia, meskipun bukan berarti agama dan
politik di Indonesia terpisah sejak dulu-dulu, akan tetapi ada semacam polarisasi
baru yang unik, saat "agama" masuk dikonstelasi politik di Indonesia dalam
perannya sebagai informasi yang dikonsumsi oleh masyarakat luas se-Indonesia.
Perlu dipahami bersama bahwa
segala gejala dan peristiwa bisa ditarik baik dalam posisi positif atau
negatif. Tidak terkecuali politik agama-atau halusnya katakan politik
identitas- dalam upayanya masuk mengintervensi baik lewat
simbolisasi-simbolisasi atau nilai-nilai ke-Islaman. Dalam posisi demikian
Islam dalam arti istilah kadang mengalami pembiasan karena perbedaan tafsir
antar kelompok dalam memahami Islam sebagai praktis. Oleh karena itu, pengaruh
kuat teknologi-sebagai salah satu biang keladi-kenapa pergelokan issue panas
ke-Islaman di Indonesia semakin mencapai titik kulminasinya perlu segera diantisipasi.
Penulis menilai apresiasi akan
itikad baik dari berbagai elemen kelompok yang mengaku Islam untuk memurnikan
Islam sangatlah penting, dipihak manapun kelompok dan alirannya. Spirit
ke-Islaman untuk kembali menjadi pengkajian semakin meluas, meski takaran
kompilasinya abstrak, dan motif dibaliknyapun beragam. Dan, pengorbannyapun
tidak sedikit, saat berangkat dari realita pergaulan ditataran akar
rumput-kelas menengah ke bawah-sekarang sudah bisa membahas issue-issue
ke-Islaman begitu bebasnya, amat sangat liberal dan radikal dalam mempelajari
Islam-untuk tidak mengatakan ‘serampangan’. Misalnya; belajar dari google,
menafsirkan qur’an tanpa rujukan, mengutip hadits tanpa kesadaran kompetensi
keilmuwan. Tapi dengan sangat disayangkan spirit belajar menuju sesuatu yang
sifatnya kesejatian itu (religi) tidak dibarengi dengan kemampuan kedewasaan
dalam berdialog, hasilnya adalah disekuilibirum pemahaman akan ke-Islaman; baik
dalam segi metode dakwah, atau pengaplikasian Islam itu sendiri.
Gus Dur didalam bukunya yang
berjudul “Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita” menguraikan dua paradigma
pemahaman Islam. Pertama, substansial-inklusif yang memandang bahwa Islam merupakan pemikiran yang menekankan
manifestasi substansial dari nilai-nilai Islam. Dan yang kedua, legal-ekslusif
yang menyatakan bahwa Islam merupakan totalitas integratif dari; din (agama),
daulah (negara), dan dunya (dunia). Antara keduanya memiliki ketimpangan yang
sangat bertolak belakang dalam memandang Islam. Mungkin dahulu Ali Syari’ati
pernah berkata “Belum bertauhid seorang muslim bila masih membiarkan alam
dieksploitasi” sebagai seorang tokoh pergerakan Islam, Ali Syari’ati tidak
pernah mau terjebak dalam perdebatan-perdebatan yang sifatnya multi tafsir
untuk memahami Islam, akan tetapi justru lebih cenderung terpengaruh oleh
pemikiran-pemikiran kirinya Marxis yang sangat kritis terhadap gejala-gelaja
yang terjadi dilingkungannya, khususnya masyarakat atau rakyat.
Menanggapi berbagai kemelut
tersebut, munuclulah kajian Kritis
Islamisme, mungkin Islam-nya bukanlah Isme (pemikiran dari tafsir manusia)
tapi tafsir manusia akan Islam mendorong terjadi pergeseran baru dalam istilah,
sehingga untuk membantu itu semua ditulisah "Islamisme". Kajian ini tidak
bermaksud untuk coba meruntuhkan berbagai macam hal tentang ke-Islaman yang
sudah ajeg atau bahkan yang qodh’i. Jadi perlu disadari kajian ini hanya coba untuk menstimulus
nalar kritis muslim untuk dapat menanggapi berbagai gejala dan peristiwa yang
coba dikaitkan dengan Islam agar bisa lebih dewasa, sekurang-kurangnya
memperkaya khazanah keilmuwan diri secara individu. Sehingga dalam pemahaman
penulis, selain agenda ngalap berkah inipun
menjadi momentum dimana dari berbagai latar belakang orang boleh masuk diacara
ini tanpa tertekan secara psikis karena simoblisasi-identitas pelaksana acara.
Harapannya dikemudian hari berbagai kekurangan yang terjadi dihari ini secara
terus menerus menjadi bahan evaluasi, intropeksi, dan data-data baru tentang
tipologi mahasiswa-mahasiswa yang beraktualisasi di Untirta, khususnya.
Tulisan ini dijadikan rujukan pengantar diskusi untuk acara Ngalap Berkah yang dilaksanakan oleh Gusdurian Kota Serang-Banten pada tanggal 23 Oktober 2018 malam.