Minggu, 13 Januari 2019

KRITISLAMISME


KRITISLAMISME





Islam sebagai keyakinan penyempurna memiliki banyak aliran dan sekte di era modernisasi. Di dalamnya banyak perspektif yang bisa ditarik saat membicarakan Islam; Islam sebagai dogma, Islam sebagai sejarah, Islam sebagai praktis-sosial, dst. Fenomena-fenomena ke-Islaman dari sejak berakhirnya era khulafatul rasyidin sudah memproduksi berbagai literatur sejarah yang tak terhitung kayanya; konflik hegemoni, konflik aliran dan sekte, sudah tak terhitung lagi jumlahnya, sungguhpun perlu diapresiasi beberapa fakta sejarah yang itu sifatnya positif-meski dengan hal itu tidak menjadikan kita sebagai orang yang mengaku ber-Islam ataupun orang diluar Islam merasa tabu untuk coba rethinking beberapa nilai-nilai ke-Islaman dizaman ini, apakah masih kontekstual dan relevan ? atau terjadi degradasi interprestasi akan makna Islam itu sendiri ? Sepertinya tidak akan menjadi permasalahan selagi itikadnya adalah bermuara pada kebaikan. Amin.

Pergolakan konstelasi politik Indonesia akhir-akhir ini seperti menemukan karakter baru dalam kontestasinya sebagai arena kompetisi kepemimpinan dan pengelolaan negara. Agama menjadi idiom baru yang "seksi" untuk include ke wilayah konstelasi politik di Indonesia, meskipun bukan berarti agama dan politik di Indonesia terpisah sejak dulu-dulu, akan tetapi ada semacam polarisasi baru yang unik, saat "agama" masuk dikonstelasi politik di Indonesia dalam perannya sebagai informasi yang dikonsumsi oleh masyarakat luas se-Indonesia.

Perlu dipahami bersama bahwa segala gejala dan peristiwa bisa ditarik baik dalam posisi positif atau negatif. Tidak terkecuali politik agama-atau halusnya katakan politik identitas- dalam upayanya masuk mengintervensi baik lewat simbolisasi-simbolisasi atau nilai-nilai ke-Islaman. Dalam posisi demikian Islam dalam arti istilah kadang mengalami pembiasan karena perbedaan tafsir antar kelompok dalam memahami Islam sebagai praktis. Oleh karena itu, pengaruh kuat teknologi-sebagai salah satu biang keladi-kenapa pergelokan issue panas ke-Islaman di Indonesia semakin mencapai titik kulminasinya perlu segera diantisipasi.

Penulis menilai apresiasi akan itikad baik dari berbagai elemen kelompok yang mengaku Islam untuk memurnikan Islam sangatlah penting, dipihak manapun kelompok dan alirannya. Spirit ke-Islaman untuk kembali menjadi pengkajian semakin meluas, meski takaran kompilasinya abstrak, dan motif dibaliknyapun beragam. Dan, pengorbannyapun tidak sedikit, saat berangkat dari realita pergaulan ditataran akar rumput-kelas menengah ke bawah-sekarang sudah bisa membahas issue-issue ke-Islaman begitu bebasnya, amat sangat liberal dan radikal dalam mempelajari Islam-untuk tidak mengatakan ‘serampangan’. Misalnya; belajar dari google, menafsirkan qur’an tanpa rujukan, mengutip hadits tanpa kesadaran kompetensi keilmuwan. Tapi dengan sangat disayangkan spirit belajar menuju sesuatu yang sifatnya kesejatian itu (religi) tidak dibarengi dengan kemampuan kedewasaan dalam berdialog, hasilnya adalah disekuilibirum pemahaman akan ke-Islaman; baik dalam segi metode dakwah, atau pengaplikasian Islam itu sendiri.

Gus Dur didalam bukunya yang berjudul “Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita” menguraikan dua paradigma pemahaman Islam. Pertama, substansial-inklusif yang memandang bahwa Islam  merupakan pemikiran yang menekankan manifestasi substansial dari nilai-nilai Islam. Dan yang kedua, legal-ekslusif yang menyatakan bahwa Islam merupakan totalitas integratif dari; din (agama), daulah (negara), dan dunya (dunia). Antara keduanya memiliki ketimpangan yang sangat bertolak belakang dalam memandang Islam. Mungkin dahulu Ali Syari’ati pernah berkata “Belum bertauhid seorang muslim bila masih membiarkan alam dieksploitasi” sebagai seorang tokoh pergerakan Islam, Ali Syari’ati tidak pernah mau terjebak dalam perdebatan-perdebatan yang sifatnya multi tafsir untuk memahami Islam, akan tetapi justru lebih cenderung terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran kirinya Marxis yang sangat kritis terhadap gejala-gelaja yang terjadi dilingkungannya, khususnya masyarakat atau rakyat.

Menanggapi berbagai kemelut tersebut, munuclulah kajian Kritis Islamisme, mungkin Islam-nya bukanlah Isme (pemikiran dari tafsir manusia) tapi tafsir manusia akan Islam mendorong terjadi pergeseran baru dalam istilah, sehingga untuk membantu itu semua ditulisah "Islamisme". Kajian ini tidak bermaksud untuk coba meruntuhkan berbagai macam hal tentang ke-Islaman yang sudah ajeg  atau bahkan yang qodh’i. Jadi perlu disadari kajian ini hanya coba untuk menstimulus nalar kritis muslim untuk dapat menanggapi berbagai gejala dan peristiwa yang coba dikaitkan dengan Islam agar bisa lebih dewasa, sekurang-kurangnya memperkaya khazanah keilmuwan diri secara individu. Sehingga dalam pemahaman penulis, selain agenda ngalap berkah inipun menjadi momentum dimana dari berbagai latar belakang orang boleh masuk diacara ini tanpa tertekan secara psikis karena simoblisasi-identitas pelaksana acara. Harapannya dikemudian hari berbagai kekurangan yang terjadi dihari ini secara terus menerus menjadi bahan evaluasi, intropeksi, dan data-data baru tentang tipologi mahasiswa-mahasiswa yang beraktualisasi di Untirta, khususnya. 

Tulisan ini dijadikan rujukan pengantar diskusi untuk acara Ngalap Berkah yang dilaksanakan oleh Gusdurian Kota Serang-Banten pada tanggal 23 Oktober 2018 malam.