Kata sekolah berasal dari bahasa Yunani
yaitu skho·le´ yang berarti "waktu terluang". Namun dapat
juga diartikan menggunakan waktu luang untuk kegiatan belajar. Belakangan kata
ini digunakan untuk menunjukkan tempat diselenggarakan kegiatan belajar. Memang
pada masa awal kegiatan belajar di tempat khusus seperti ini hanya bisa
dinikmati oleh golongan kaya di Yunani. Demikian juga pada zaman dahulu di
negeri-negeri lainnya, kegiatan belajar di sekolah hanya bisa dinikmati oleh
golongan elit saja.
Terlepas sejarahnya bagaimana, tapi jika kita fokuskan pada defenisi secara bahasa diatas skho-le
yang berarti "waktu terluang", kita analisis dengan kondisi sekolah
dewasa ini yang memang sekolah seolah sudah menjadi barang dan aktivitas
yang sifatnya prioritas paling utama dalam dimensi pendidikan. Dan,
dominasi waktu kegiatan peserta didik hampir dihabiskan disekolah,
terkhusus kita memandang pendidikan yang ada di Indonesia. Konsepsi
pendidikan Indonesia yang didasari oleh UU No 23 tahun 2003 tentang
pemetaan antara non formal, informal, dan formal belum mencapai titik kohesi yang sinergitasnya dapat menunjang output daripada yang diinginkan pendidikan Indonesia.
Saya sebagai mahasiswa merasakan adanya ketimpangan dan kesenjangan yang akhirnya menimbulkan sebuah gap antara kehidupan diinstansi pendidikan sebagai peserta didik dan civil society sebagai individu yang bermasyarakat. Ini menurut saya sudah urgent untuk dibahas sebagai salah satu topik issue
permasalahan pendidikan Indonesia dewasa ini lebih spesifik
dipendidikan instansi formal yaitu sekolah. Sekolah formal yang pada
hakikatnya memiliki tujuan untuk memproduksi peserta didik yang dapat
menunjang dan menjadi individu yang produktif yang berguna bagi bangsa,
negara, maupun agama tentunya. Hal-hal tersebut haruslah melalui jalan
atau jalur yang pastinya bakal berinteraksi dengan kehidupan
bermasyarakat yang nyata, sedangkan faktanya sekolah justru seolah-olah
kegiatannya dikotomis dengan kegiatan aktivitas nyata masyarakat. Itu
menyebabkan, peserta didik sebagai objek pendidikan kadang memiliki
masalah dengan masyarakatnya sendiri akibat dari korelasinya dengan
sekolah.
Tulisan
ini bukan bermaksud untuk bagaimana peserta didik secara luas untuk
tidak bersekolah, tulisan saya ini justru bermaksud mengajak peserta
didik memiliki kepekaan akan cara sikap menyikapinya hasil dari sekolah
itu sendiri. Data fakta kongkret lainnya yang menurut saya jadi salah
satu hal sabab-muasab terjadinya masalah adalah waktu masuk kegiatan
belajar mengajar yang terlalu dini, terlalu panjang atau lama, dll.
Misal, waktu KBM yang terlalu awal itu membuat peserta didik tidak
memiliki waktu yang panjang untuk berolahraga dipagi hari. Hal-hal kecil
semacam ini yang sering kali tidak diperhatikan, padahal memiliki efek
yang sangat luas.
Kooptasi
disekolah oleh beberapa guru atau pendidik kepada para peserta didik
menimbulkan daya inovasi kreatifitas mereka yang tidak tereksplor,
bahkan yang lebih berbahaya ketika peserta didik sudah tidak dapat
dibendung kehausan akan ekspresi kreatifitasnya yang terpendam membuat
jalur atau jalan yang ditempuh berujung pada hal-hal subversif. Tidak
serta merta hanya sebuah kalimat, tapi data atau fakta dilapangan dapat
kita tinjau ulang untuk analisi, hal-hal subversif yang dilakukan
peserta didik seperti tawuran, perkaliahan, tawuran massal antar
sekolah, sex bebas, dan masih banyak lagi, itu merupakan bentuk cermin
ekspresi mereka yang tidak terwadahi oleh hal positif sehingga
kebanyakan yang dipublis oleh mereka tendensinya negatif. Saya juga
menyadari tidak hanya semua yang negatif saja disekolah, banyak peserta
didik berprestasi, lomba-lomba positif, dan lain sebagainya hanya saja
saya ingin lebih mendalami sisi kekurangan agar kita semua dapat
benar-benar mengontemplasi hasil-hasil sekolah untuk dievaluasi bersama
berkelanjutan dan berkemajuan.
Tidak ingin terlalu banyak untuk terus meng'ghibah'i
pendidikan sekolah formal siIndonesia, bukan karena apa-apa, bukan
takut juga, tapi tidak akan selesai dalam 1 tahun saya untuk dapat
menuliskan perkara-perkara yang perlu adanya resolusi dan juga
reinterpretasi kembali akan makna dasar dan tujuan sebenarnya
diadakannya sekolah.
Tokoh-tokoh
besar dunia dan dapat merubah dunia justru beberapa diantaranya yang
tidak bersekolah formal malah memiliki peranan strategis dalam perubahan
dunia. Entah itu didimensi pendidikan, ideologi, pemikiran, bahkan science-technology mereka
berkarya. Selain daripada tokoh klasik seperti Thomas Alva Edison,
Abraham Lincoln, Socrates, bahkan ulama-ulama muslim klasik bukanlah
hasil dari produksi metabolisme pendidikan formal persekolahan.
Tokoh-tokoh sukses yang tidak bersekolah dan hanya mengecap pendidikan
non formal modern ini diantaranya Walt Disney, Mark Zuckerberg, Bill
Gates, meski beberapa orang ini pernah berkuliah tapi substansinya tokoh
ini sukses oleh peran eskternal dalam diri mereka yang barang tentu
berhulu dari pendidikan-pendidikan non formal baik berwadah ataupun
otodidak.
Kearifan
lokal kita dengan wadah-wadah pendidikan yang sangat meluas banyak,
baik yang modern bahkan tradisional merupakan warisan pendidikan yang
luar biasa dengan sudah menghasilkan berpuluh-puluh, beratus-ratus,
bahkan berjuta-juta tokoh Indonesia atau orang Indonesia yang memiliki
bakat dan etos kerja serta potensi yang termaksimalkan eksploitasinya
diberbagai bidang dan sektor. Negara Indonesia yang saat ini mulai
menapaki masa-masa yang maju dari segi pembangunan, tapi masih subhat
atau ambigu apa darimana siapa yang melatar belakangi serta motif apa
sehingga pembangunan di Indonesia seolah-olah harus cepat, dalam hal ini
adalah infrastruktur. Sedangkan SDM atau kualitas individu manusia
Indonesia yang belum merata antara Sabang sampai Merauke tidak
diprioritaskan, kembali dalam hal ini pendidikan. Segala bentuk
pembangunan yang memiliki titik pusat polarisasi sebagai ordinat sudah
barang tentu adalah Pendidikan, bagaimana bentuk pendidikannya skala
mana yang diprioritaskan untuk dimajukan dan dikembangkan merupakan
perkara atau hal yang harus menjadi bentuk perumusan bersama sebagai
konsepsi Indonesia yang mengedepankan nasionalisasi bukan sektarian,
primordial, dan dimensi sempit lainnya.
Skala
tonggak bahan kenapa saya selalu menulis pendidikan yang harus
dikedepankan baik itu modern ataupun tradisional bahkan fusi diantara
keduanya dikarenakan faktor dimana pendidikan merupakan ordinat dan
bukanlah sebuah sub-ordinat. Dan, order yang saya berikan tentang
pendidikan itu terkhusus bagi kalangan aktivis mahasiswa sebagai
komponen masyarakat yang harus benar-benar serus dalam mengabdikan dalam
memproposisi fungsi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
adalah jadikan diri ini, organisasi-organisasi kemahasiswaan baik
internal ataupun eksternal sebagai 'kepompong' yang nantinya melahirkan
kupu-kupu indah sebagai bagian dari orientalis seharusnya dari Tri Darma
Perguruan Tinggi. Impian-impian dan harapan-harapan yang sifatnya
utopis dan mengilusi dikalangan mahasiswa hendaknya tidak justru
menjadikan represi. Tapi, hal yang mengutopis itu perlu supaya tiap
regenerasi dari aktivis-aktivis akan tetap movement dalam upaya
pembebasan rakyat, pembebasan dari penjajagan modernis sekarang, dan hal
lain sebagainya. Selain daripada, kitapun harus diajak berpikir
realistis, rasional, serta melakukan kegiatan kongkret dilapangan baik
kecil ataupun besar tapi tidak mereduksi substansi dan esensi ruang
waktu akan output suci didalamnya.
Pendidikan
selain daripada hal yang tematis diatas, mahasiswa haruslah
memperhatikan apakah tuntutannya harus juga mencapai titik spesifikasi
tuntutan dan gerakan sampai pada skala prioritas apa yang akan
didahulukan dalam pengembangan peserta didik. Apakah kognitifnya ?
afektifnya ? bahkan pula psikomotoriknya ? dan apakah akan
diakomodasikan dengan keadaan sosio-kultural, sosio-geografis, dan
lain-lain. Tapi harapannya tidak sampai disitu, karena tentulah bukan
mahasiswa orang yang menjadi ahlinya, kita serahkan pada ahli-ahlinya,
setelah terlaksananya reformasi baik secara fisik maupun lebih halus.
Reformasi yang dimaksud tidaklah harus dengan pertumpahan darah atau
perketidakmanusiaan antar manusia nantinya, tapi lebih kepada
perjuangan-perjuangan yang positif tentunya. Saya maksudkan adalah
selain daripada kita berjuang ke atas yang bagi beberapa kalangan
aktivis mahasiswa yang sampai berani ngejudge bahwa negara kita
adalah setengah jajahan setengah feodal dan dikuasai kaum imprealis dan
kapitalis kita pula harus bisa mengakomodir diri untuk terus berupaya gesture tubuh kita sebagai movement
yang bermanfaat yang langsung dirasakan manfaatnya ke masyarakat, susah
jika harus terus berteriak mengharap birokrat, toh kita percaya Tuhan
tidak tuli untuk dapat mendengar dan melihat setiap pengharapan dan
kondisi masyarakat Nusantara yang mulai ternodai dan sekarang yang
ditakutkan siap menodai bahkan diri mereka sendiri.
Pembahasan
literer yang melebar-lebar ini bukan berarti tidak terfokusnya sebuah
tulisan, tapi lebih kepada daya seni pertubrukan keadaan dengan keadaan
lain antara objek, subjek, dan problem. Jika bersedih dan merasa
keing kerontang jiwa ini melihat keadaan negeri yang seolah diambang
kehancuran terkadang bagi beberapa orang sempat-sempatnya berpikir
seolah apa yang dinamakan Tuhan itu tidak ada, dimanakah perannya ? Tapi
seorang beragama menjawab bahwa Tuhan berada dihati orang-orang seperti
mereka-mereka ini yang merasa getir dan bergetar jiwanya melihat
penindasan. Titik beratnya jika kita tahu akan diri kita sendiri, 50%
kemenangan sudah ada didepan, dan jika kita mengetahui musuh kita, 50%
kemenangan ada didepan pula, sebagai peluang jika berpikir tematis maka
penyatuan diantara keduanya membuat peluang kemenangan 100% didepan
kita, ini untuk perjuangan kebenaran tentunya.
Suatu
saat mercusuar dunia kata Ir Soekarno bagi Indonesia dan gambaran
Indonesia bisa menjadi kenyataan. Mentalitas bangsa Indonesia self confident
bangsa, dalam hal ini rakyat merupakan modal yang sangat besar selain
daripada Intelegensi manusia Indonesia. Dan, demikian halnya penunjang
itu semua tidak bisa kita sandarkan nasibnya pada pendidikan yang
mengedepankan sekolah formal, peran orang tua informal, dan tentunya non formal
yang dominan yang selalu bersentuhan objek peserta didik
sebagai regenerasi para pejuang bangsa dan dunia serta alam semesta
artefak seni terbaik ciptaan sang maha memenuhi Tuhan yang maha esa. Dan
harapannya lagi, Indonesia bukan jadi halnya negara penghasil kertas
sertifikat dan ijazah hehe...
Budaya komentar sebagai budaya saling membangun diharapkan akan tulisan yang masih banyak kekurangan ini, terimakasih :)
Senin, 18 April 2016
Minggu, 03 April 2016
TIADA MATERI, BUMI, BAHKAN DIRI INI KARENA HANYA ADA CINTA
Sedikit yang saya tahu tentang makna arti Cinta, berbagai pandangan, perspektif, pendapat, literasi, dan defenisi-defenisi lain dari zaman ke zaman. Jika saya anda dan kita lihat, mencoba berkontemplasi dengan apa yang sering disebut Cinta dalam konteks historis, Cinta yang dianggap "racun" dewasa ini sudah ada sejak zaman bahkan tatkala manusia belum terbentuk tubuhnya, belum tercipta jiwanya, sang Maha Ada huwa awalu wal akhiru sudah menyebarkan sudah mensyiarkan membudayakan indah-indahnya nyaman-nyamannya kasih-kasihnya rasa sayang menyayangi, dan lain sebagainya. Itu terjadi dengan nuansa dan kondisi yang jika harus logika saja yang digunakan untuk merasakan dan mencari-cari asbabul nujub nya saya kira sampai saya mati tidak akan ada yang bisa menggambarkan, merangkaikan, sampai dititik ditemukannya konsep atau definisi Cinta yang konkret dan disepakati oleh insan diseluruh dunia, dan itu bersifat demokratis dan egaliter dengan tentunya makhluk hidup lainnya tumbuhan, hewan, dan lain sebagainya.
Ini semua bukan untuk benar-benar kita mencari solusi dari itu semua, tapi lebih kepada "penggelisahan" kembali orang-orang yang akan membaca ini. Filsuf Socrates lewat muridnya Plato pernah berkata Aku tida bisa mengajar siapapun, apapun. Aku hanya bisa membuat mereka berpikir Sang filsuf melegenda ini terlepas bagaimana historis-biografis hidupnya bagaimana siabang Socrates ini merupakan orang yang telah banyak menyumbang terhadap kebudayaan Eropa bahkan dunia. Ketertarikan saya adalah adanya korelasi dengan konsep "penggelisahan" yang saya maksud diatas, yaitu mungkin bisa kita cross check kepada psikolog bahwa ketika insan gelisah maka otak dan akalnya itu akan terus maen dan disini keinginan Tuhan akan salah satu anugerahnya yang luar biasa harus disyukuri yaitu "akal" dapat digunakan dengan tetap tidak terlepas dari awal timbulnya kegelisahan afeksi insan. Bisa kegelisan itu terjadi karena kegagalan hidup mungkin kebanyakan hutang, ditolak lawan jenis, masalah rumah tangga, bahkan kalau sering dibullypun bisa jadi asbabul nujub timbulnya kegelisahan atau bahasa jawanya depression personality. Sampai dititik ini, mungkin kawan-kawan yang membaca akan terus memutar otaknya untuk berusaha menginterpretasi literatur ini sebenarnya kemana arah dan outputnya. Bisa jadi beberapa dari kawan-kawan telah berputus asa dan menganggap ini tidak penting, dan menurut saya memang tidak penting-penting amat...haha. Tapi ada kalimat motivasi yang mengataan bahwa teruslah berjuang jangan sampai putus asa, dan jika anda sampai berputus asa, maka berjuanglah walau sambil berputus asa.
Cinta yang urgent menurut pandangan subjektif kita khususnya anak muda gahoel zaman ini terkadang mengarah dan menjalur yang kurang memperhatikan skala prioritas yang mana yang harus didahulukan yang mana yang harus diakhirkan. Begitu sempit dan dangkalnya kita untuk memaknai dan memahami nada-nada sunyi Cinta yang pada akhirnya tidak dapat didefinisikan secara mutlak atau adanya relativitas tafsir dari setiap insan yang dipengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhinya bisa jadi keadaan sosio-kultural, sosio-geografis atau bahkan lebih dalam psikis-kondisional, kognitif-situasional, dll dll dll. Sekalipun 100, 1000, 10000, atau berjuta-juta orang dan insan yang terus berusaha memberi tahu bahwa Cinta itu tidak hanya tentang dwi insan saja pria-wanita atau yang berlebih-lebihan yang melampaui batas contohnya LGBT. Sudahlah saya tidak tertarik lagi membahas LGBT toh... menurut saya dari referensi beberapa kiyai, ulama, yang namanya amar ma'ruf nahi mungkar itu menurut simpulan mereka yang sudah terbiasa dan berusaha susah payah dengan cinta memahami pesan-pesan Tuhannya, Allahnya, baik lewat ayat-ayatnya atau peninggalan RasulNya yang mulia Shalallahwa'alaihiwassalam adalah mengikat individu insan, jadi amar ma'ruf nahi mungkar sangat-sangat mengikat insan sebagai manusia sebagai ciptaanNya. Oh iya.. lupa juga bahwa pesan-pesan dan perumpamaan Tuhan tidak hanya ada diayat, hadits saja, bahkan kejadian alam, baik alam terbuka ataupun alam bawah sadar sendiri, bahkan tandaNya kadang ada didalam riwayat kejadian hidup kita, bahkan maaf disebuah fesespun pasti Tuhan menginginkan agar manusia bisa untuk bagaimana mau mencari pelajaran-pelajaranNya.
Jadi simpelnya, disimpel-simpelkan saja tidak usah dibikin ruwet bahwa polarisasi kita, alam semesta atau mungkin seekor bebek yang sedang berenang adalah untuk menuju yang satu, yang ahad yang satu-satunya didunia ini, dialam semesta ini, dan siapa ? maka anak kecil atau orang awam seperti saya akan cepat-cepat menyimpulkan yaitu "Tuhan", tapi Tuhan yang mana ? dan, ketika sampai dititik ini beberapa orang mungkin akan berputus asa dan menjadi atheis berada pada situasi lailaha, tapi harapannya semoga Tuhan jikalau benar-benar ada akan menghargai atheis yang terus mencari kebenaran daripada yang hanya berdiam diri statis-parsial.
Kata Albert Enstein tidak ada yang namanya gelap, yang ada itu adalah ketiadaan cahaya dan untuk membedakan atau supaya bisa membedakan maka diberilah sebutan "gelap" untuk mensifati ketiadaan cahaya. Dalam ayat Qur'an tipis sekali yang namanya nur atau cahaya dengan naar yaitu api atau neraka, jadi terkadang dekat sekali yang namanya kegelapan dan terang benderang kadang penilaian kita bisa justru bersifat dikotomis dengan fakta dan realita akan suatu objek, atau diri pribadi kita sendiri. Gus Mus bilang Janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti, sadar ataupun tidak sadar disini saya rasa perlu adanya evaluasi yang berkelanjutan dan berkemajuan. Hidup manusia ini berarti tidak selamanya kafir, atau bahkan tidak selamanya muslim yang saya tahu atau yang kita semua tahu, you know ? .. bahwa kata kiyai kampung saya yang diitung itu disaat kita berada di akhiru kehidupan kita dan antum-antum..tapi yang jadi masalah, siapa yang tahu tentang akhirnya ? Waliyullah bisa ? wallahualam.
Ada kiyai berceramah dan menerangkan bahwa telah diturunkan nabi & rasul terakhir oleh Allah SWT, dan menerangkan dan meyakinkan jama'ahnya bahwa dialah yang terakhir maksudnya Rasul terakhir, seolah-olah Nabi Muhammad sang Maestro Cinta Ilahi ini baru turun atau diangkat menjadi Nabi & Rasul kemarin sore, hehe...tapi tidak ada masalah. Ya yang bermasalah orang-orang seperti saya ini yang bisa menilai seseorang tapi tidak tahu ukuran tentang dirinya sendiri, walaupun sekarang-sekarang inshaAllah mulai mau berubah, pastinya berubah dari yang baik menuju yang lebih baik sesuai konsep hijrah. Maestro-maestro Cinta selanjutnya Ibn Arabi, El Jalaludin Rumi, Syech Abdul Qadir Jaelani, Abu Hamid Al-Ghazali, Al Baghdadi, dll dll dll saya takzim saya cinta sekaligus iri dan saya mengajak semua orang untuk bagaimana iri terhadap mereka-mereka ini, dan semoga menjadi motivasi dikemudian hari, amin.
Pembaharu, penjaga sama saja akulturasi atau kolaborasi berkemajuan dan bernusantara dewasa ini menurut saya sudah mulai menuju puncak ketepatannya, ya semoga anda-anda tahu ... KH Hasyim Asy'ari & KH Ahmad Dahlan bersaudara semoga Allah memberi mereka tempat terbaik disana karena telah bermanfaat bagi umat insan, dan menjadi benar-benar penerang dan pengaplikasi Rahmatanlilalamin terbaik. Tak pernah berhenti untuk berkata saya berusaha Cinta pada mereka ini dan berusaha sekaligus iri pada mereka ini.
Berbagai perspektif yang bisa memberikan referensi akan interpretasi Cinta tidak akan selesai dalam kajian 1 hari, 10 hari, bahkan satu tahun sekalipun, dan walau bisa pasti akhirnya hanya akan menimbulkan kegelisahan, dan itu tidak menjadi masalah selagi kawan-kawan bisa untuk bagaimana bulir-bulir, poin-poin, berbagai pelajaran Cinta dari permasalahan atau jika kegelisahan yang mungkin terjadi di internal diri dianggap masalah, berpikirlah ! Sampai akhirnya maqam mahabah bisa mencapai kulminasi dari insan itu sendiri relatif dari keinginan dan perwayangan apa yang diinginkan Tuhan kita, atau yang tercatat dilauhulmahfuz kita, doalah yang tepat dan tajam dengan syarat-syaratnya.
Perlu diketahui Tuhan kita Allah kita, Tuhan bagi semua umat semua agama sebenarnya hanya satu, hanya saja ada beberapa umat yang salah sambung, salah memasukan kode nomor menuju Tuhannya. Manusia diajarkan lewat alfatihah dimana kita disuruh untuk mengucapkan alhamdulillah, arahmanirahim pujian-pujian terlebih dahulu sebelum iyakanabuduaiyakanasyta'in, ihdinasyiratalmustaqim sebagai kalimat doa, maknai saja sendiri !!! Cinta dan rasa tasyrikh pada Rasulullah shalalallahwa'alaihiwassalam itu juga penting, pujian-pujian, doa-doa sebagai rumus take-give dengan Rasul (kalau menurut Cak Nun), penting sebelum berdoa kepada Allah Subhanawata'ala.
Mari bersatu, mari beilmu, mari berevaluasi untuk maju.
Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan, budaya komentar baik tanggapan ataupun kritik-konstruktif sangat diharapkan sebagai budaya aplikasi gotong royong nyata !! :) terimakasih wassalamualaikum
Moh Yogi Mukti
Ini semua bukan untuk benar-benar kita mencari solusi dari itu semua, tapi lebih kepada "penggelisahan" kembali orang-orang yang akan membaca ini. Filsuf Socrates lewat muridnya Plato pernah berkata Aku tida bisa mengajar siapapun, apapun. Aku hanya bisa membuat mereka berpikir Sang filsuf melegenda ini terlepas bagaimana historis-biografis hidupnya bagaimana siabang Socrates ini merupakan orang yang telah banyak menyumbang terhadap kebudayaan Eropa bahkan dunia. Ketertarikan saya adalah adanya korelasi dengan konsep "penggelisahan" yang saya maksud diatas, yaitu mungkin bisa kita cross check kepada psikolog bahwa ketika insan gelisah maka otak dan akalnya itu akan terus maen dan disini keinginan Tuhan akan salah satu anugerahnya yang luar biasa harus disyukuri yaitu "akal" dapat digunakan dengan tetap tidak terlepas dari awal timbulnya kegelisahan afeksi insan. Bisa kegelisan itu terjadi karena kegagalan hidup mungkin kebanyakan hutang, ditolak lawan jenis, masalah rumah tangga, bahkan kalau sering dibullypun bisa jadi asbabul nujub timbulnya kegelisahan atau bahasa jawanya depression personality. Sampai dititik ini, mungkin kawan-kawan yang membaca akan terus memutar otaknya untuk berusaha menginterpretasi literatur ini sebenarnya kemana arah dan outputnya. Bisa jadi beberapa dari kawan-kawan telah berputus asa dan menganggap ini tidak penting, dan menurut saya memang tidak penting-penting amat...haha. Tapi ada kalimat motivasi yang mengataan bahwa teruslah berjuang jangan sampai putus asa, dan jika anda sampai berputus asa, maka berjuanglah walau sambil berputus asa.
Cinta yang urgent menurut pandangan subjektif kita khususnya anak muda gahoel zaman ini terkadang mengarah dan menjalur yang kurang memperhatikan skala prioritas yang mana yang harus didahulukan yang mana yang harus diakhirkan. Begitu sempit dan dangkalnya kita untuk memaknai dan memahami nada-nada sunyi Cinta yang pada akhirnya tidak dapat didefinisikan secara mutlak atau adanya relativitas tafsir dari setiap insan yang dipengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhinya bisa jadi keadaan sosio-kultural, sosio-geografis atau bahkan lebih dalam psikis-kondisional, kognitif-situasional, dll dll dll. Sekalipun 100, 1000, 10000, atau berjuta-juta orang dan insan yang terus berusaha memberi tahu bahwa Cinta itu tidak hanya tentang dwi insan saja pria-wanita atau yang berlebih-lebihan yang melampaui batas contohnya LGBT. Sudahlah saya tidak tertarik lagi membahas LGBT toh... menurut saya dari referensi beberapa kiyai, ulama, yang namanya amar ma'ruf nahi mungkar itu menurut simpulan mereka yang sudah terbiasa dan berusaha susah payah dengan cinta memahami pesan-pesan Tuhannya, Allahnya, baik lewat ayat-ayatnya atau peninggalan RasulNya yang mulia Shalallahwa'alaihiwassalam adalah mengikat individu insan, jadi amar ma'ruf nahi mungkar sangat-sangat mengikat insan sebagai manusia sebagai ciptaanNya. Oh iya.. lupa juga bahwa pesan-pesan dan perumpamaan Tuhan tidak hanya ada diayat, hadits saja, bahkan kejadian alam, baik alam terbuka ataupun alam bawah sadar sendiri, bahkan tandaNya kadang ada didalam riwayat kejadian hidup kita, bahkan maaf disebuah fesespun pasti Tuhan menginginkan agar manusia bisa untuk bagaimana mau mencari pelajaran-pelajaranNya.
Jadi simpelnya, disimpel-simpelkan saja tidak usah dibikin ruwet bahwa polarisasi kita, alam semesta atau mungkin seekor bebek yang sedang berenang adalah untuk menuju yang satu, yang ahad yang satu-satunya didunia ini, dialam semesta ini, dan siapa ? maka anak kecil atau orang awam seperti saya akan cepat-cepat menyimpulkan yaitu "Tuhan", tapi Tuhan yang mana ? dan, ketika sampai dititik ini beberapa orang mungkin akan berputus asa dan menjadi atheis berada pada situasi lailaha, tapi harapannya semoga Tuhan jikalau benar-benar ada akan menghargai atheis yang terus mencari kebenaran daripada yang hanya berdiam diri statis-parsial.
Kata Albert Enstein tidak ada yang namanya gelap, yang ada itu adalah ketiadaan cahaya dan untuk membedakan atau supaya bisa membedakan maka diberilah sebutan "gelap" untuk mensifati ketiadaan cahaya. Dalam ayat Qur'an tipis sekali yang namanya nur atau cahaya dengan naar yaitu api atau neraka, jadi terkadang dekat sekali yang namanya kegelapan dan terang benderang kadang penilaian kita bisa justru bersifat dikotomis dengan fakta dan realita akan suatu objek, atau diri pribadi kita sendiri. Gus Mus bilang Janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti, sadar ataupun tidak sadar disini saya rasa perlu adanya evaluasi yang berkelanjutan dan berkemajuan. Hidup manusia ini berarti tidak selamanya kafir, atau bahkan tidak selamanya muslim yang saya tahu atau yang kita semua tahu, you know ? .. bahwa kata kiyai kampung saya yang diitung itu disaat kita berada di akhiru kehidupan kita dan antum-antum..tapi yang jadi masalah, siapa yang tahu tentang akhirnya ? Waliyullah bisa ? wallahualam.
Ada kiyai berceramah dan menerangkan bahwa telah diturunkan nabi & rasul terakhir oleh Allah SWT, dan menerangkan dan meyakinkan jama'ahnya bahwa dialah yang terakhir maksudnya Rasul terakhir, seolah-olah Nabi Muhammad sang Maestro Cinta Ilahi ini baru turun atau diangkat menjadi Nabi & Rasul kemarin sore, hehe...tapi tidak ada masalah. Ya yang bermasalah orang-orang seperti saya ini yang bisa menilai seseorang tapi tidak tahu ukuran tentang dirinya sendiri, walaupun sekarang-sekarang inshaAllah mulai mau berubah, pastinya berubah dari yang baik menuju yang lebih baik sesuai konsep hijrah. Maestro-maestro Cinta selanjutnya Ibn Arabi, El Jalaludin Rumi, Syech Abdul Qadir Jaelani, Abu Hamid Al-Ghazali, Al Baghdadi, dll dll dll saya takzim saya cinta sekaligus iri dan saya mengajak semua orang untuk bagaimana iri terhadap mereka-mereka ini, dan semoga menjadi motivasi dikemudian hari, amin.
Pembaharu, penjaga sama saja akulturasi atau kolaborasi berkemajuan dan bernusantara dewasa ini menurut saya sudah mulai menuju puncak ketepatannya, ya semoga anda-anda tahu ... KH Hasyim Asy'ari & KH Ahmad Dahlan bersaudara semoga Allah memberi mereka tempat terbaik disana karena telah bermanfaat bagi umat insan, dan menjadi benar-benar penerang dan pengaplikasi Rahmatanlilalamin terbaik. Tak pernah berhenti untuk berkata saya berusaha Cinta pada mereka ini dan berusaha sekaligus iri pada mereka ini.
Berbagai perspektif yang bisa memberikan referensi akan interpretasi Cinta tidak akan selesai dalam kajian 1 hari, 10 hari, bahkan satu tahun sekalipun, dan walau bisa pasti akhirnya hanya akan menimbulkan kegelisahan, dan itu tidak menjadi masalah selagi kawan-kawan bisa untuk bagaimana bulir-bulir, poin-poin, berbagai pelajaran Cinta dari permasalahan atau jika kegelisahan yang mungkin terjadi di internal diri dianggap masalah, berpikirlah ! Sampai akhirnya maqam mahabah bisa mencapai kulminasi dari insan itu sendiri relatif dari keinginan dan perwayangan apa yang diinginkan Tuhan kita, atau yang tercatat dilauhulmahfuz kita, doalah yang tepat dan tajam dengan syarat-syaratnya.
Perlu diketahui Tuhan kita Allah kita, Tuhan bagi semua umat semua agama sebenarnya hanya satu, hanya saja ada beberapa umat yang salah sambung, salah memasukan kode nomor menuju Tuhannya. Manusia diajarkan lewat alfatihah dimana kita disuruh untuk mengucapkan alhamdulillah, arahmanirahim pujian-pujian terlebih dahulu sebelum iyakanabuduaiyakanasyta'in, ihdinasyiratalmustaqim sebagai kalimat doa, maknai saja sendiri !!! Cinta dan rasa tasyrikh pada Rasulullah shalalallahwa'alaihiwassalam itu juga penting, pujian-pujian, doa-doa sebagai rumus take-give dengan Rasul (kalau menurut Cak Nun), penting sebelum berdoa kepada Allah Subhanawata'ala.
Mari bersatu, mari beilmu, mari berevaluasi untuk maju.
Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan, budaya komentar baik tanggapan ataupun kritik-konstruktif sangat diharapkan sebagai budaya aplikasi gotong royong nyata !! :) terimakasih wassalamualaikum
Moh Yogi Mukti
Jumat, 01 April 2016
HARAPAN UNTUK NEGERIKU YANG TERKOTAKAN DEMOKRASI YANG TERABAIKAN, PANDEGLANGKU...
Hari kemarin jumat, tanggal 1 April 2016 merupakan hari bersejarah bagi rakyat diwilayah Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten karena merupakan HUT Pandeglang yang ke-142. Itu berarti Kabupaten Pandeglang atau adanya pemerintahan di Pandeglang lahir tanggal 1 April 1874 saat zaman kolonial Belanda. Hasil riset dari berbagai komponen dan lapisan masyarakat untuk meremukan dan menyimpulkan bahwa Pandeglang berdiri pada tanggal 1 April 1874 lebih
jelas lagi dalam Ordonansi 1887 No. 224 tentang batas-batas wilayah
Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam
tahun 1925 dengan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14
Agustus 1925 No. IX maka jelas Kabupaten telah berdiri sendiri tidak di
bawah penguasaan Keresidenan Banten.
Bertepatan dengan HUT Pandeglang itu juga, beberapa organisasi mahasiswa melakukan aksinya outputnya hanya untuk ikut berpartisipasi dalam acara dan memberikan konstribusi masukan dan kritik-konstrukstif pada kepengurusan sebelumnya, dan ingin kepengurusan pemerintahan Kabupaten Pandeglang yang sekarang baru terpilih bisa untuk bersedia mendengarkan mahasiswa sebagai kaum pemuda intelektual daerah yang juga termasuk komponen yang memiliki hak untuk berpendapat mengaspirasikan suaranya untuk memproposisikan diri mereka, seyogyanya mahasiswa agent of control, dan pergerakannya bisa menjadi komposisi yang lezat bagi proses pemerintahan yang ada. Beberapa organisasi tersebut adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Keluarga Mahasiswa Cibaliung. Tapi karena beberapa hambatan dari kepolisian yang membawa dan di back up oleh kaum Jawara yaitu Laskar Berkah untuk menghindari keributan dan bentrok Mahasiswapun mundur jadi mereka hanya bisa mengaspirasikan sedikit daripada masukan dan tuntutan buat saudara-saudara birokrat Pandeglang.
Kekuatan dan kemenangan mahasiswa serta pergerakan dan perjuangannya tidak hanya sebatas ceremony belaka hanya untuk formalitas program organisasi agar tidak ada reduksi kreatifitas anggota Organisasi mahasiswa, tapi lebih daripada itu lebih daripada hanya sekedar "gagah-gagahan" konotasinya murni karena ingin bergerak mengeksplor dan terus mengevaluasi serta mengontrol perkembangan bangsa & negara dengan pendapat dan persepsi-persepsi subjektif mereka masing-masing, dan... tidak ada masalah. Kebebasan pers yang selama ini disuarakan ketika aksi tersebut bisa disebut hanya takhayul, dilindungi UU hanya takhayul, seolah-olah oknum-oknum yang merasa bersalah terancam dan ketakutan, Lucunya... Kenapa harus ? Kenapa harus hidup sampeyan-sampeyan ini dibikin ruwet dan ribet wahai sang penguasa birokrasi, hukum, dan keamanan ? Padahal anggap saja pergerakan-pergerakan mahasiswa ini yang menimbulkan pergolakan selama kawan-kawan tidak anarkis anggap saja sebuah tampilan "seni" kehidupan dan implementasi percontohan dari bapak proklamator kita Bung Karno dengan orasi-orasinya. Soekarno sebagai orator ulung bisa mengajak secara persuasif-psikologis rakyat untuk tetap tertanam namanya nasionalisme didalam jiwa-jiwa rakyat. Terlepas adanya yang suka dan tidak suka pada sang proklamator, tapi titik temunya adalah dimana bangsa Indonesia ini tidak akan merdeka kalau tanpa Bung Karno. Pertunjukan seni mahasiswa yang dilakukan dengan orasi-orasinya dijalan, tempat terbuka, dimuka umum, merupakan manifestasi dari semangat juang kemerdekaan, semangat juang pahlawan-pahlawan dari berbagai macam lapisan kaum intelektual, budayawan, sastrawan, agamawan, ulama-ulama, dan lain-lain dari berbagai suku dan latar belakang bersatu demi terciptanya kemerdekaan yang sudah sejak lama dimimpikan diimpikan. Kamipun percaya, suatu saat benar adanya sebuah pernyataan kalimat Soekarno yang menyatakan bahwa suatu saat Indonesia bakal menjadi "mercusuar dunia". Kami masih menunggu itu, kami masih berusaha ikut terlibat memperjuangkan juga, sebagai alasan adalah Soekarno, Soekarno yang sangat menghargai pemuda potensinya, bakatnya, dan generasi pemudalah yang bakal merubah, mereformasi dari yang baik menuju yang lebih baik.
Harapannya pemerintah tidak hanya menjadi kipas angin yang memiliki dua fungsi, pertama untuk menghilangkan panas, contohnya pemerintah akan bilang "Hargailah tahap-tahap pembangunan.." ketika mereka terpojokan oleh suara kritik rakyat. Satu lagi, fungsi dimana kipas angin justru menjadi pelopor stimulus hawa panas itu sendiri sama halnya tukang sate yang memanggang bara apinya, beberapa dari mereka yang menggunakan cara-cara konvensional memakai kipas tradisional dan lainnya ada yang sudah memakai kipas angin, nah... contoh sikap pemerintahnya adalah saat pembangunan terasa kering dan masyarakat sudah mengindikasikan sikap-sikap yang apatis, mereka akan berkata "Mari bersama-sama ikut berkontribusi dan meningkatkan rasa memiliki akan pembanguan...". Meskipun fungsi kipas angin ini hanya sebagai analogi dari hasil analisi subjektif penulis tapi ini bisa jadi bahan kontemplasi positif-negatifnya.
Jadi intinya, dinamika yang terjadi terasa sangat indah dinegeri tercinta ini bagai pelangi dengan warna warninya tapi tetap disebut satu yaitu "pelangi" tak pernah yang lain, terkecuali hanya beda bahasa saja. Negeri ini dengan keunikan tipologinya, dan cabang-cabangnya juga dari tipologi itu seperti sektetarian, primordial, aliran-aliran keagamaan, bukanlah hal-hal yang tendensinya mengarah pada orientasi pengkotak-kotakan sebagaimana dikampus-kampus dengan berbagai organisasinya dengan beragam ideologinya, itulah bhineka tunggal ika itulah manifestasi nyatanya. Dewasa ini, berbagai dekadensi dinegeri Indonesia negerinya para cendekia muda Nusantara ini, wabilkhusus... didaerah Pandeglang sebagai spesifikasi pembahasan tulisan ini tidak serta merta mendekadensi semangat juang pemuda-pemudi Indonesia yang nyatanya walau harus tereduksi oleh budaya-budaya barat diserang dari berbagai arah untuk melemahkan kami para pemuda. Jadi analoginya pemuda mahasiswa sekarang seperti atmosfer yang lapisannya sudah banyak yang bocor tapi tetap dengan tekad dan itikad yang baik sesuai dengan fungsinya melindungi bumi dari radiasi matahari yang berlebihan.
Semoga kawan-kawan yang membaca akan tetap menjunjung tinggi NKRI, Pancasilanya, serta beragam hasil cipta rasa dan karya para pendahulu bangsa, boleh dengan berbagai referensi, boleh mengkomparasikan dengan berbagai ideologi, sejarah luar negeri, untuk terus mengeksplor, meningkatkan juga menambah wawasan generasi muda Indonesia untuk akhirnya kami akan sampai pada titik dimana usaha-usaha tersebut mencapai sebuah kalimat bahwa "Inilah Indonesiaku... bagaimanapun Indonesia tetaplah aku yang akan mempahit maniskannya aku, bukan yang lain.."
Semoga tulisannya bermanfaat, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan sebagai salah satu aplikasi budaya gotong royong bangsa kita!!! :)
Bertepatan dengan HUT Pandeglang itu juga, beberapa organisasi mahasiswa melakukan aksinya outputnya hanya untuk ikut berpartisipasi dalam acara dan memberikan konstribusi masukan dan kritik-konstrukstif pada kepengurusan sebelumnya, dan ingin kepengurusan pemerintahan Kabupaten Pandeglang yang sekarang baru terpilih bisa untuk bersedia mendengarkan mahasiswa sebagai kaum pemuda intelektual daerah yang juga termasuk komponen yang memiliki hak untuk berpendapat mengaspirasikan suaranya untuk memproposisikan diri mereka, seyogyanya mahasiswa agent of control, dan pergerakannya bisa menjadi komposisi yang lezat bagi proses pemerintahan yang ada. Beberapa organisasi tersebut adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Keluarga Mahasiswa Cibaliung. Tapi karena beberapa hambatan dari kepolisian yang membawa dan di back up oleh kaum Jawara yaitu Laskar Berkah untuk menghindari keributan dan bentrok Mahasiswapun mundur jadi mereka hanya bisa mengaspirasikan sedikit daripada masukan dan tuntutan buat saudara-saudara birokrat Pandeglang.
Kekuatan dan kemenangan mahasiswa serta pergerakan dan perjuangannya tidak hanya sebatas ceremony belaka hanya untuk formalitas program organisasi agar tidak ada reduksi kreatifitas anggota Organisasi mahasiswa, tapi lebih daripada itu lebih daripada hanya sekedar "gagah-gagahan" konotasinya murni karena ingin bergerak mengeksplor dan terus mengevaluasi serta mengontrol perkembangan bangsa & negara dengan pendapat dan persepsi-persepsi subjektif mereka masing-masing, dan... tidak ada masalah. Kebebasan pers yang selama ini disuarakan ketika aksi tersebut bisa disebut hanya takhayul, dilindungi UU hanya takhayul, seolah-olah oknum-oknum yang merasa bersalah terancam dan ketakutan, Lucunya... Kenapa harus ? Kenapa harus hidup sampeyan-sampeyan ini dibikin ruwet dan ribet wahai sang penguasa birokrasi, hukum, dan keamanan ? Padahal anggap saja pergerakan-pergerakan mahasiswa ini yang menimbulkan pergolakan selama kawan-kawan tidak anarkis anggap saja sebuah tampilan "seni" kehidupan dan implementasi percontohan dari bapak proklamator kita Bung Karno dengan orasi-orasinya. Soekarno sebagai orator ulung bisa mengajak secara persuasif-psikologis rakyat untuk tetap tertanam namanya nasionalisme didalam jiwa-jiwa rakyat. Terlepas adanya yang suka dan tidak suka pada sang proklamator, tapi titik temunya adalah dimana bangsa Indonesia ini tidak akan merdeka kalau tanpa Bung Karno. Pertunjukan seni mahasiswa yang dilakukan dengan orasi-orasinya dijalan, tempat terbuka, dimuka umum, merupakan manifestasi dari semangat juang kemerdekaan, semangat juang pahlawan-pahlawan dari berbagai macam lapisan kaum intelektual, budayawan, sastrawan, agamawan, ulama-ulama, dan lain-lain dari berbagai suku dan latar belakang bersatu demi terciptanya kemerdekaan yang sudah sejak lama dimimpikan diimpikan. Kamipun percaya, suatu saat benar adanya sebuah pernyataan kalimat Soekarno yang menyatakan bahwa suatu saat Indonesia bakal menjadi "mercusuar dunia". Kami masih menunggu itu, kami masih berusaha ikut terlibat memperjuangkan juga, sebagai alasan adalah Soekarno, Soekarno yang sangat menghargai pemuda potensinya, bakatnya, dan generasi pemudalah yang bakal merubah, mereformasi dari yang baik menuju yang lebih baik.
Harapannya pemerintah tidak hanya menjadi kipas angin yang memiliki dua fungsi, pertama untuk menghilangkan panas, contohnya pemerintah akan bilang "Hargailah tahap-tahap pembangunan.." ketika mereka terpojokan oleh suara kritik rakyat. Satu lagi, fungsi dimana kipas angin justru menjadi pelopor stimulus hawa panas itu sendiri sama halnya tukang sate yang memanggang bara apinya, beberapa dari mereka yang menggunakan cara-cara konvensional memakai kipas tradisional dan lainnya ada yang sudah memakai kipas angin, nah... contoh sikap pemerintahnya adalah saat pembangunan terasa kering dan masyarakat sudah mengindikasikan sikap-sikap yang apatis, mereka akan berkata "Mari bersama-sama ikut berkontribusi dan meningkatkan rasa memiliki akan pembanguan...". Meskipun fungsi kipas angin ini hanya sebagai analogi dari hasil analisi subjektif penulis tapi ini bisa jadi bahan kontemplasi positif-negatifnya.
Jadi intinya, dinamika yang terjadi terasa sangat indah dinegeri tercinta ini bagai pelangi dengan warna warninya tapi tetap disebut satu yaitu "pelangi" tak pernah yang lain, terkecuali hanya beda bahasa saja. Negeri ini dengan keunikan tipologinya, dan cabang-cabangnya juga dari tipologi itu seperti sektetarian, primordial, aliran-aliran keagamaan, bukanlah hal-hal yang tendensinya mengarah pada orientasi pengkotak-kotakan sebagaimana dikampus-kampus dengan berbagai organisasinya dengan beragam ideologinya, itulah bhineka tunggal ika itulah manifestasi nyatanya. Dewasa ini, berbagai dekadensi dinegeri Indonesia negerinya para cendekia muda Nusantara ini, wabilkhusus... didaerah Pandeglang sebagai spesifikasi pembahasan tulisan ini tidak serta merta mendekadensi semangat juang pemuda-pemudi Indonesia yang nyatanya walau harus tereduksi oleh budaya-budaya barat diserang dari berbagai arah untuk melemahkan kami para pemuda. Jadi analoginya pemuda mahasiswa sekarang seperti atmosfer yang lapisannya sudah banyak yang bocor tapi tetap dengan tekad dan itikad yang baik sesuai dengan fungsinya melindungi bumi dari radiasi matahari yang berlebihan.
Semoga kawan-kawan yang membaca akan tetap menjunjung tinggi NKRI, Pancasilanya, serta beragam hasil cipta rasa dan karya para pendahulu bangsa, boleh dengan berbagai referensi, boleh mengkomparasikan dengan berbagai ideologi, sejarah luar negeri, untuk terus mengeksplor, meningkatkan juga menambah wawasan generasi muda Indonesia untuk akhirnya kami akan sampai pada titik dimana usaha-usaha tersebut mencapai sebuah kalimat bahwa "Inilah Indonesiaku... bagaimanapun Indonesia tetaplah aku yang akan mempahit maniskannya aku, bukan yang lain.."
Semoga tulisannya bermanfaat, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan sebagai salah satu aplikasi budaya gotong royong bangsa kita!!! :)
Langganan:
Komentar (Atom)

