Jumat, 26 Agustus 2016

INDONESIA NEGERI KEBANGSAAN BERJAMA’AH



Sekali lagi, diujung pena ini curahan segenap bentuk usaha transformsasi cinta untuk sebuah negeri bernama Indonesia. Tidak jadi masalah jikalau goresan ini sedikit atau bahkan tidak ada yang akan melihatnya, yang jadi masalah adalah ketika tidak ada daya usaha mencurahkan sama sekali goresan untuk Nusantara. Kata ‘ujung pena’ jangan terlalu dipermasalahkan, memang itu hanya metafora karena pada faktanya untuk sekelas zaman sekarang, jarang dan bahkan sudah tak ada lagi yang menulis langsung dengan pena. 

Negeri ini baru saja melakukan perayaan ulang tahunnya yang ke-71 tepat ditanggal dimana dahulu Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan tanah dikebon belakang kita salah satunya. Uniknya, tidak semeriah dan semerah dulu ketika kita masih lengoh. Mungkin hipotesa awal adalah bukan karena nasionalisme mulai luntur, tapi karena semua orang Indonesia sudah merasa merdeka karena itu merayakan kemerdekaan Indonesia saja mereka merasa merdeka untuk memilih ikut atau tidak, atau bisa jadi hanya tentang metoda cara perayaannya saja yang mulai kreatif-inovatif bentuknya baik secara bersama-sama, kelompok, dan masing-masing individu. Harap semuanya tidak harus terlalu serius merespon itu, karena pasti ujung-ujungnya perjuangan legal-formalistik yang paling diperhatikan untuk menangani itu semua yang pada kenyataannya seketat-ketatnya aturan yang dilegitimasi secara tekstual, khusus di Indonesia pasti bolong juga, karena sebenarnya bukan itu inti permasalahannya, dan juga karena sebuah nasionalisme tidak bisa digantikan dengan secarik tulisan yang dilegitimasi menjadi sebuah aturan. Jujur itu jauh dari ‘sama dengan’. 
         
   Kemerdekaan atau Independence Indonesia menurut Bung Karno hanyalah sebagai pintu gerbang. Setelah itu tentang keadilan, persamaan, dan demokrasi korelasinya tidak bisa dipaksakan dengan euforia kejayaan sejarah dulu. Maksudnya, kalau kata sang proklamator kita orang Indonesia ini terlampau lama hanya memanfaatkan kerak kemampuannya tidak menyalakan apinya. Sekarang-sekarang sudah ada yang menyalakan apinya tapi justru malah yang terbakar hutan-hutan disumatera dan kalimantan. Dan, pelakunya bebas. Mari kita analisis bersama Indonesia  setelah ‘pintu gerbang’ itu baik dengan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan jikalau ada relasi dengan subordinat lainnya.
           
 Bolehlah kita apresiasi terlebih dahulu segala bentuk-bentuk kemajuan secara sosial dinegeri ini dari kemerdekaan sampai pula sekarang ini. Dimana, humanity atau Hak Asasi Manusia telah menjadi kalimat konsumsi masyarakat kita secara luas dengan memang tema besar itu harus menjadi salah satu pokok dan syarat dari pada sebuah masyarakat modern dunia. Tentu saja pro-kontra sudah menjadi alamiah (nature) dari individu manusia yang dilengkapi akal pikiran dan indra sebagai alat pembaca keadaan sekitar. Indonesia punya potensi sebagai stick holder dari keadaan sosial yang memiliki perbedaan yang sangat kaya untuk contoh masyarakat dunia. Kalau perlu jujur pada hati nurani disetiap jiwa-jiwanya masyarakat Indonesia secara komprehensif, mungkin saja kita bisa berkata no try to teach me about humanity ! Tidak peduli benar atau salah ejaannya, wong Indonesia kok.
            Sebagian masyarakat pro HAM di Indonesia bisa dibagi menjadi beberapa kategori, mungkin yang paling umum adalah pertama yang mengerti secara komprehensif HAM dan kedua yang awam yang hanya memahami HAM menurut tafsiran dewek. Permasalahannya adalah apakah kita akan menerapkan HAM yang arkitipe dengan yang ada dipola corak masyarakat barat khususnya Eropa ? Atau akan ada adaptasi sosial dan budaya (nurture) dengan pola corak masyarakat Nusantara ? Paling penting substansinya pokoknya HAM, masalah bentuk-bentuk penerapan yang penting tidak dimonopoli untuk satu kepentingan golongan. 

            Selain itu zaman ini ada semacam fenomena marginalisasi peran generasi muda atau marginalisasi generasi muda dari poros perhatian prioritas pembenahan baik secara kebijakan birokrasi ataupun secara prioritas polarisasi sosial-kultural kebanyakan masyarakat Indonesia, generasi muda menjadi hanya subordinat akurasi bidang yang perlu diperhatikan, aktivis hanya bermain elitis dan kegiatannya lebih berpihak kepada yang sifatnya jangka pendek karena memang itu yang menguntungkan dan yang sifatnya jangka panjang perjuangannya lebih berat dan terkadang sering dilupakan. Konstelasi kebudayaan internasional baik dari barat, timur, tengah, bersintesa dalam peradaban manusia Indonesia dewasa ini, khususnya generasi muda. Kelebihannya, nilai komersial-eksploitatif dan industri pasar hiburan Indonesia meningkat pesat, baik ranah musik, tari, seni, dan lain sebagainya. Hebatnya lagi sebagai masyarakat yang sangat memuliakan tamu, di Indonesia barang luar seolah adalah yang pasti kualitasnya diatas barang lokal, berbentuk apapun itu. 

            Kita masyarakat yang mengerti sudah sedikit mulai aga priyayi sulit masuk kebawah, kalaupun kebawah hanya ranah jangka pendek. Kalau dianalogikan, sudah terlampau banyak orang-orang akademisi, praktisi, dan lainnya yang sudah menjadi pohon tinggi (berprestasi), maka perlu adanya orang-orang yang hanya dengan pohon yang rendah tapi ranting dan daun-daunnya dapat menaungi, meneduhi orang-orang dibawahnya. Sekarang sulit membedakan pemuda kota atau pemuda desa, karena orientasinya mayoritas sama karena kita telah dimekanisme dengan konsumsi publik yang membentuk mental-mental jiwa orang Indonesia khususnya generasi muda untuk dibentuk ya begitu, entah untuk jadi alat pembebasan atau penindasan kita tidak pernah tahu dan tidak mau tahu, masing-masing kita kehilangan identitas diri. 

            Pendidikan sebagai ordinat dari semua aspek perspektif haruslah jadi tonggak utama pembenahan baik secara formal ataupun non formal. Saat ini sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak siswa-siswa yang belum pada umurnya sudah bisa dijumpai ditempat-tempat umum merokok misal, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa selagi hanya duduk-duduk dan hanya ikut andil memaki mereka saja. Dan, paling menghina logika sehat manusia adalah dimana peristiwa rokok disekolah-sekolah seolah dilarang dan menjadi barang yang sangat berbahaya, hal itu disosialisasikan oleh tenaga-tenaga pendidik hampir dominan. Sedangkan pada faktanya rokok dijual secara meluas diseluruh Indonesia, apakah ada tanda-tanda rokok sangat-sangatlah berbahaya ? Maksudnya carilah alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang nantinya kompleks ini. Alangkah baiknya jika objek ‘rokok’ dalam hal ini tidak dijadikan kambing hitam dalam pendidikan, penjelasan-penjelasan oleh pendidik lebih menitikberatkan pada keadaan tidak menyimpulkan ‘rokok’ tersebut boleh atau tidak boleh, tapi lebih kepada penjelasan baik-buruk manfaat-mudharat setelah itu beri mereka kebebasan memilih dengan tidak mengenyampingkan peraturan disekolah tidak boleh merokok tentunya, realistis saja. Bukan hanya untuk masalah ‘rokok’ tapi gejala-gejala yang lain. Metoda-metoda seperti ini memang tidak mutlak, bisa saja ada modifikasi tapi ini hanya sedikit saran secara psikologis. Ini merupakan personifikasi dimana terkadang dibeberapa sekolah, antara yang diberi disekolah dengan sosial masyarakat secara luas tidak ilmiah, atau kurang sinkron.

            Budaya-budaya hedonis telah menjalar dengan hampir holistik diseluruh Indonesia karena teknologi media sebagai penunjang penyebaran cepat tentunya. Kebahagiaan itu diukur dengan seberapa banyak anda menang dalam kompetisi materalistis, mirip dengan teori Kaptalisnya Weber. Menurut Anies Baswedan orang Indonesia yang masih melihat kekayaan Indonesia itu lewat sumber daya alamnya, kemajuan fasilitasnya, itu kalaupun menamengi diri membela kepentingan rakyat sebenarnya itulah otak-otak kaptalis. Stephen R Covey adalah tokoh yang sangat cocok teorinya untuk keadaan Indonesia hari ini, dimana kompetisi, interaksi antar manusia adalah kerja sama dan hasilnya diusahakan win/win tidak ada yang dirugikan. 

Generasi kita telah terjebak dengan mindshet ekonomi dimana uang itu dihasilkan dari gaji hasil kerja entah jadi buruh, karyawan, dll. Dan, dengan peningkatan ekonomi Indonesia yang katanya terus meningkat berapa persen tiap tahun sehingga dipuji G-20 sedangkan masyarakat termasuk kita melohok bingung, iki opo rek. Kenyataannya kita lapar tapi kita hidup, karena terlalu sering kita lapar, dan diberi makan secara cuma-cuma dengan gratis entah itu bentuk BLT atau makhluk lainnya, kita jadi manja. 

Katanya akan ada suatu masa dimana masyarakat dunia tidak ada yang mau menerima sadaqah , bisa jadi hal itu terjadi karena sistem tukar dengan uang kertas memang jelas berbeda dengan sistem barter dulu yang keadaan terus seimbang (beras ditukar gandum), atau dengan emas atau perak (yang secara nyata bernilai). Sistem ini memungkinkan yang sebenarnya barang pokok kebutuhan hidup semacam beras, gandum, jagung, akan lebih sedikit dari uang kertas yang berputar. Jika kita analisis, dan kontekstualisasikan maka bisa jadi masa diatas yang masyarakat dunia tidak ada lagi yang mau menerima sadaqah itu berhubungan dengan kemungkinan dari sistem diatas, yang khusus di Indonesia mata uang kita terus turun nilai tukarnya. Hubungannya adalah dengan mindshet pemuda sekarang yang menginginkan uang dari hasil kerja sedangkan dia punya kemampuan mengeksploitasi lahan yang dipunya, misal kebun singkong dan dengan pendidikan yang telah dia tuntut, bolehlah sedikit kreasi dari produksi singkongnya bisa meningkatkan nilai marketnya. Anak ekonomi mungkin akan lebih khatam, terkadang poros perhatian kita selalu sesuatu yang belum tentu kita genggam sedangkan yang kita punya tidak dimaksimalkan potensi-akurasinya

Intinya pasca-kemerdekaan Indonesia ranah sosial, budaya, ekonomi mengalami perkembangan. Perkembangan itu tergantung dari sudut pandang mana diukurnya. Boleh jadi, bagi sebagian kalangan ini (Indonesia) kondisi yang sudah baik, tapi untuk sebagian lainnya mungkin saja buruk. Dalam perkembangannya life of society Indonesia mengalami fluktuatif yang relatif seimbang, terkadang terlalu menjadi ekstrim atau ruwet itu hanyalah permainan media yang kita tidak tahu persenstase benar-salahnya dan tidak pernah ada rumus untuk menghitungnya serta maksud dibalik publikasi berita-berita tersebut. Jadi media punya potensi besar menjadi alat pengatur hampir disetiap ide gagasan dan pola tingkah manusia Indonesia dalam perkembangan disemua sektor. Lebih jelas yang kurang hanyalah justice, belum sama seperti social justice. Semua bahan yang Indonesia miliki, baik kalangan yang konservatif ataupun yang mengatasnamakan modern sudah cukup mampu membuat tatanan sosial yang baik, dengan tradisi-tradisinya, segala hal bentuk ragam budaya yang sebenarnya menjadi salah satu penunjang utama dalam pengembangan tatanan sosial yang diinginkan, kembali yang kurang hanya tinggal justice (keadilan) dari pemangku kebijakan. Oleh karena kebijakan akan berimplikasi pada pola sifat karakter tatanan sosial dan juga percepatan tatanan sosial dan budaya tersebut berakomodasi dengan zaman teknologi, sehingga tidak menimbulkan disfusi antara tuntutan zaman dan keadaan sosial, juga karena kebijakan juga berimplikasi pada ekonomi rakyat.

Semua aspek menjadi terintegrasi-terinterkoneksi bisa berpisah tapi tidak bisa dipisah-pisahkan, karena segala alurnya menuju muara dan output yang sama. Bisa jadi rumusnya ekonomi-budaya-sosial, jadi maksudnya bukan untuk supaya masyarakat sejahtera secara materalis tapi kebijakan-kebijakan yang bersentuhan langsung dengan rakyat yang berhubungan dengan ekonomi diusahakan haruslah mencapai titik maksimal kebijakan yang berkeadilan sehingga setelah itu terciptalah budaya, pengamalan budaya, pelestarian budaya, yang perkembangannya tidak dikotomis dengan zaman. Tatanan sosial adalah hasil dari kedua sektor tersebut, sungguhpun bisa jadi ada pendapat lain.

Dalam al-kulliyyat al-khams (lima prinsip universal) perlindungan terhadap keyakinan, terhadap hak hidup, hak berpikir dan mengekspresikannya, hak reproduksi, dan hak perlindungan terhadap harta benda. Tak ada warga negara nomor dua, tak ada yang namanya dzimmi , dalam hukum Indonesia semuanya sama. Jadi bila akhir-akhir ini negara ini mulai digerogoti kembali oleh orang-orang baik yang ingin adanya formalisasi syar’iat atau macam-macam hal, merupakan sesuatu yang miris. Sekarang kita sudah jauh banyak terjebak dalam perdebatan-perdebatan yang tidak menguntungkan karena hanya bergeliat disitu-situ saja, lupa akan kemajuan dunia, teknologi, sosial, keilmuan, karya-karya, dan semacamnya. Sedangkan anak Indonesia yang orang tuanya tidak bisa menyekolahkan anaknya, mereka hanya yang penting hari ini masih bisa bernafas itu sudah mereka syukuri tanpa memperdulikan, memperhatikan, bahkan mengerti apa yang kita perdebatkan, lebih parah apa yang kita perdebatkan tidak seminimalnya berhubungan dengan apa yang mereka rasakan. Berpikir maju, luas, ataupun expert dibeberapa bidang boleh karena pada akhirnya demi kebaikan bersama think global and action local.

Semoga dikemudian hari demi hari Indonesia akan tetap berkembang, perkembangan kita untuk Indonesia. Terus su’ubawwaqoba ila lita’arafu, saling mengenal antar sesama anak bangsa, karakternya, segala bentuk konflik, debat, sehingga membuat seolah negeri ini menjadi carut murut sungguh suatu yang harus disyukuri, oleh karena bagaimanapun justru itulah yang menambah khazanah keilmuwan kita, pergerakan kita. Tidak perlu iri dengan negeri-negeri seberang, kemajuan mereka, pentingnya harus ada yang rela kotor-kotoran, terhinadinakan, teraniaya, ataupun bersusah payah demi memperbaiki jalan-jalan tikus yang menjadi tempat sebenarnya yang harus lebih diprioritaskan untuk dibenahi, karena tidak boleh diabaikan seekor tikus bisa jadi koruptor, maka datangilah sarangnya.

Semangat keberagaman dimulai saat Ahlu-sunnah Wal Jama’ah muncul zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan sebagai sebuah istilah semangat inklusivisme, persatuan, baik kalangan umawi, syi’ah, khawarij, dll. Serta juga konsep tarbi’ (Abu bakr, Umar, Utsman, Ali) yang sukses dikembangkan yang sebenarnya sebuah kesepakatan dan bukan dogma seperti yang kita yakini hari ini. Sehingga muncul slogan terkenal nahnu jama’atun wahidah tahta rayati din Allah (kita semua adalah anggota jama’ah yang tunggal dibawah bendera agama Allah). Jadi jika dinegeri yang Pancasilais ini kita yang menamengi diri ASWAJA tapi pola pikirnya masih menunjukan tanda-tanda ekslusivisme, maaf kita sampai kapanpun tidak akan jadi seperti Issac Newton. Gak pake Kiyai Haji.

Masih banyak hal yang ingin dituliskan, dirapikan dalam tulisan ini, tapi dirasa itu akan lebih baik jika nanti respon-respon dibelakang akan membuat kajian semakin berkembang. Tapi kekurangan dalam tulisan ini tetaplah kekurangan karena sedang menunggu pelengkapnya dari kawan seperjuangan.  Indonesia, TANAH AIR KITA !!! Untuk itu saatnya kita semua berkata nahnu jama’atun wahidah tahta rayati indhonasia KITA ADALAH ANGGOTA JAMA’AH YANG TUNGGAL DIBAWAH BENDERA INDONESIA !! :D

Kamis, 11 Agustus 2016

Puisi itulah "Aveno Shalom Alekhim"


Berita gembira selalu datang

Kitalah yang tak keluar rumah

Menjemput sejuknya kebersamaan

Walau kadang pahit itulah hadiah


Abu Nawas dengan syair dan lucunya

Ceritanya mengundang kemewahan dihati

Tapi maknanya menusuk pengakuan jiwa

Api pedih pembalasan seolah sedang menanti

Dan... kasih sayang seolah menjauhi


Kisah Imam bushiri menitikan air mata

Salam untuk sang pejuang baginda mulya

Cengengnya kita bentuk kreasi

Kreasi yang akan membunuh harapan semuanya


Kita belum rela untuk berbeda

Padahal kebersamaan rasanya indah

Jangan berkata saudara wakil yang maha esa !

Bila merasakan kepedihannya saja tidak pernah

Atau bahkan hanya menambah-nambah


Dialektika hanya untuk kepentingan kita

Padahal bayangkan ketakutan didada mereka

Seolah terancam dijiwa-jiwa saudara yang berbeda

Hingga timbul rasa benci dijiwa minoritas

Meskipun itu bukan masalah selagi kita tetap menyayangi


Tak peduli simbol apapun yang ada

Karena.. simbol tetaplah simbol

Bukan alasan untuk bermusuhan

Sekarang adanya berita sejahtera !!

Senin, 08 Agustus 2016

SEBAB INDONESIA MERDEKA TAK BOLEH DISALAHKAN

Masih terngiang ditelinga tuli ini lagu-lagu kebangsaan; Indonesia tanah air beta salah satu lagu yang lirik-liriknya, nada-nadanya, menjadi seolah suluk pelembut hati ini. Bagaimana egoisme terbuang dalam nurani ini untuk melebur menjadi wahdatul wujud, manunggal dengan orang-orang kita terdahulu, pahlawan-pahlawan kita. Kita harus tahu, tanah yang kita injak ini tidak  dengan mudah untuk kita injak, maksudnya bisa saja hari ini,  waktu ini, kaki kita tiada untuk menginjak bumi pertiwi ini bila saja dahulu tak ada yang memperjuangkan kita, tak ada ridho Tuhan untuk kita; sebagaimana tertulis dalam pembukaan UUD 45.

Darah pejuang itu haram; haram untuk tidak dikenang, haram untuk tidak sama sekali penghargaan. Tapi, bukan hanya dengan ratapan, bukan hanya dengan renungan, dengan hari-hari pahlawan, dengan sekadar mengetahui, sekadar membicarakan, atau hanya sekadar menikmati hasil-hasil kemerdekaan sekarang, bahkan mungkin bukan hanya sekadar malah merusak cita-cita luhur dari bangsa Indonesia, merusak Indonesia. Kegiatan-kegiatan legal-formalistik yang telah ditetapkan pemerintah untuk bagaimana menjadi salah satu jalan mengenang para jasa pahlawan; seperti hari-hari besar pahlawan hanyalah sebatas kulit syariat, thoriqoh, jalan-jalan menuju the inner truth kegiatan-kegiatan yang benar-benar mengandung semangat juang pahlawan didalamnya, mengandung kesedihan-kesedihan yang sama dirasakan pahlawan dulu tatkala melihat gejala-gejala, peristiwa-peristiwa, yang menghina akal sehat, menghina kemanusiaan, menghina peradaban dunia, menghina bangsa Indonesia.

Bulan ini; Agustus, adalah bulan dimana dulu tahun 45 ghirah Nusantara sedang dalam tahap-tahap menuju puncak momen terindah, momen-momen harapan mengharu biru untuk hari kemudian, untuk kita orang ini generasi selanjutnya. Sekeras-keras prinsip yang dipegang, ideologi, kekuatan-kekuatan kelompok dahulu, tapi tetap mereka rela bersatu demi bangsa ini, demi kita ini. Paling menyentuh adalah bagaimana kita dijajah oleh negeri orang sekitar hampir 350 tahun dan 3,5 tahun sebelum mencapai kemerdekaan. Dan, itu bukanlah penghalang bagi Indonesia dengan arif dan bijaknya, dengan rasa rendah hatinya, untuk mencantumkan kalimat maka penjajahan dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan. Indonesia tidak memikirkan diri sendiri, kepentingan bangsa saja, tidak ashobiyah, unshelfish, think of humanity, prioritize the interests of the world. Jika kita pelajari dari kalimat itu, kita akan menemukan bentuk-bentuk dimana yang biasa terjadi dalam film-film pahlawan yang memiliki kerendahaan hati, kebijaksanaan tingkat dewa, maqam ma'rifat; oleh karena bila tokoh dahulu berpandangan bahwa penjajahan dimuka bumi tak selayaknya dilakukan, maka kita harus pikir bahwa tak ada dendam, tak ada pilih-pilih, dimana negeri yang dahulunya menjajah kitapun Indonesia lindungi dengan UUD 45-nya. Jadi bila suatu saat negeri Belanda ikut dijajah, maka seharusnya tak satu orang dibumi pertiwipun yang diperbolehkan untuk tidak mengutuk penjajahan tersebut, bahkan bisa jadi ikut dalam barisan, ikut serta dalam ketertiban dunia menumpas segala bentuk perbudakaan manusia terhadap manusia

 Hari ini kita sedang dilanda cedera, kebanggaan akan negeri dipoles sedemikian rupa pemuda-pemuda dewasa ini hanya untuk ranah-ranah dimana merasuk dalam semangatnya saja, bangkit hanya ketika timbul ancaman dan redup kembali ketika nyaman. Bukan salah Indonesia, bukan salah falsafahnya, tapi salah kita orang sendiri, yang tak mampu menahan pedihnya hidup, retaknya jiwa, interaksi budaya, saudara yang hilang jadi tak biasa, menjadi tak Indonesia. Kita tertinggal bukan 50 tahun, 100 tahun tapi lebih dari pada itu, bukan untuk mengejar ketertinggalan tapi mengejar kemajuan, bukan kemandulan, bukan malah kehancuran yang didapat. 

Sebenarnya memang tak ada yang patut dipersalahkan, bagaimanapun Indonesia tetap Indonesia kita; pahit, manis, asin, apapun itu kita lihat yang buat. Tak perlu menentang untuk menentang, dewasa ini perang sebangsa makin marak dimana-mana, paling mengerikan memperdebatkan masalah pemikiran, bahkan keagamaan, sampai lupa bagaimana cita-cita keadilan, dimana keadilah akurasinya hanya untuk tameng bagi kepentingan kelompoknya masing-masing. Remaja perang saudara, tawuran jadi kebanggaan, bertemu orang luar negeri seolah melempem jadi kaum puritan. Ada peristiwa-peristiwa yang tidak bisa divonis menjadi kesalahan mutlak dari aktor-aktor antagonis didalamnya, perlu ada pengkajian, pendalaman, diskusi-diskusi untuk menemukan kambing hitam sebenarnya, karena terkadang setiap kesalahanpun tidak tahu kenapa dirinya bersalah. Pejuang-pejuang the tiny creative minority yang akan menyelesaikan permaslahan yang terjadi dengan tidak mengorbankan hak-hak saudaranya, atau bahkan rivalnya, karena kemanusiaan. karena ke-Indonesiaan. Tidak berbangga buta dengan Indonesia, bukan fanatik buta, karena perjuangan tidak harus menjadi pohon yang tumbuh pesat tinggi, berprestasi, tapi tidak menaungi orang-orang yang ingin berteduh dibawahnya; Biarlah pohon yang rendah tapi ranting-ranting daunnya yang lebar bisa lebih bermanfaat bagi orang-orang yang ingin berteduh dibawahnya, yang terpenting bisa memanfaatkan yang ada, tapi tidak seadanya. Berlanjut rekonstruksi, rethinking, pembangunan-pembangunan yang esensial dengan mengacu pada keadaan-keadaan dan juga kemampuan-kemampuan, dimana bukan hanya pemerintah yang bisa melakukannya tapi individu-individu, kelompok, organisasi, komunitas, yang ada dalam cakupan wilayah negara Indonesia juga harus bisa melakukannya. Maksudnya, terus jangan pernah berhenti belajar, memperbaiki diri, menyesuaikan keadaan, mengejar mimpi, menambah wawasan, keilmuwan, karya-karya, percobaan-percobaan laboratorium, teknologi, interaksi-interaksi tabayyun antar sesama anak bangsa.

Tidak boleh merendah, dalam arti merendahkan harga diri dihadapan bangsa lain, jangan hanya jadi preman dinegeri sendiri; buktikan dengan berani menuju luar negeri, kancah internasional bersaing, berkompetisi secara sehat, karena kompetisi secara sehat adalah bentuk interaksi kerjasama yang terbaik dan seharusnya tidak merugikan salah satu pihak, hidup ini kerjasama dan kerjamassa. Kerjamassa tidak harus kita bersama dalam satu ruang & waktu bersamaan karena pada hakikatnya seorang pemuda yang merantau ke tempat jauh tentulah untuk sanak saudara yang ditinggalkan pada akhirnya. Intinya bukan tentang dekat secara fisik, tapi kedekatan emosional yang membuat kita kuat, kebersamaan emosional yang membuat kita kuat. Tidak harus dengan menciptakan musuh kita bisa berjuang, tidak dengan membenci manusia lain yang berbeda kita harus berjuang, bukan manusia yang kita benci, tapi gejala-gejala yang ditimbulkan produk implikasi dari interaksi manusia dengan manusia yang merugikan dan bersifat negatif. 

Tulisan ini juga hendaknya memang menuliskan sejarah agar kita bisa membaca dan belajar dari sejarah untuk masa depan, tapi sudah terlalu banyak yang menceritakan sejarah, dan sudah saatnya membuat perubahannya hasil belajar dari sejarah itu. Bahkan dengan hanya membersihkan lantai, mencuci piring, membantu orang tua dirumah, memperbaiki pribadi diri, sambil dengan sedikit demi sedikit menularkan hal-hal postif dilingkungan, bila gagal, terus perbaiki dan lanjutkan. Masalah itu biasa, dan ada saat-saat dimana kita harus merenungi sejarah kita dan pikirkan sejarah macam apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita kelak nanti, mau pahit ataupun manis, tapi haruslah ada kebaikan yang bisa diambil untuk generasi selanjutnya. 

Angin, air, api, tanah, segala unsur dalam bentuk-bentuk lebih banyak; unsur kimia adalah bagian kita dan itu merupakan microchip kita yang akan merekam setiap langkah dan jalan perjuangan kita. Setiap unsur, zat, yang seolah mati dan hanya kita yang hidup ini sebenarnya adalah saksi-saksi seberapa banyak kebaikan yang kita buang sembarang tanpa melihat siapa objeknya. Bagaimana Indonesia menjadi negeri yang penuh dengan berjuta-juta pelajaran hidup, dan hanya ada di Indonesia-tanpa ada maksud meremehkan yang lain. Oleh karena inilah kekhususan kita yang ditakdirkan, kita berbeda dengan Arab, dan Arab jangan kita-kitakan. Kita unik, Indonesia unik, dirimu unik, karena banyak dari generasi kita, pemuda kita yang sekarang sedang berjuang memperbaiki dirinya sendiri, yang sedang memikirkan bangsanya, memikirkan orang lain, atau malah sedang melakukan pekerjaan kebaikan yang sedang dalam jalurnya, jalur yang akan menghantarkan ke hilir dan samudera kebahagiaan ketika melihat orang lain menangis bangga karenanya. Tidak ada yang tida berguna, semua anak bangsa berguna, tak ada yang putus harapan, laki-laki, perempuan, wahai anak bangsa, tak ada pintu untuk kita berputus asa, kalaupun kita merasa Tuhan telah menghancurkan kita, itu adalah bentuk cinta kasihNya dalam bentuk lain. 

Rakyat Indonesia adalah yang paling berkuasa, yang berhak mendapatkan otoritas kekuasaannya. Tidak dengan diberi emas, migas, atau harta kekayaan yang hanya bersifat materialistis saja. Sungguhpun sebenarnya yang paling optimal adalah berikan rakyat kewajiban sesungguhnya untuk merasakan bahwa mereka penguasa sebenarnya tanpa harus dipuja-puja, dimanja-manja. Tak ada yang perlu marah disaat optimalisasi proses kebaikannya pada seseorang, atau contoh-pemerinta terhadap rakyatnya diabaikan rakyatnya dengan bentuk rakyat kurang responsif dan seolah tak ada timbal balik karena tak seharusnya seorang orang tua menuntut bayinya mengucapkan kalimat terimakasih atas air asi yang sudah diberikannya. 

Tak ada kupu-kupu malam; seharusnya, karena beberapa diantaranya mungkin kekurangan makan, atau terlanjur demikian disebabkan konteks historis kehidupannya yang menuntutnya untuk mengaktualisasi hidupnya diranah yang kurang bagus dikehidupannya, tapi itu adalah warna, warna kehidupan. Apa yang salah dengan kupu-kupu malam ? Salahnya adalah didalam sanubari kita, kalimat tersebut telah dikonsesus menjadi kalimat yang sifatnya negatif padahal tidak ada kenegatifan dalam idematik kalimatnya, sebenarnya. Perempuan adalah gambaran keindahan, pancaran cahaya, perlu dihormati, bukan dieksploitasi, atau dibiarkan mengeksploitasi dirinya sendiri, minimal ada rasa iba dihati kita tatkala melihat peristiwa kehidupan demikian. Perempuan adalah tonggak utama berlanjut tidaknya peradaban manusia dibumi, sehingga masa depan Indonesia salah satunya berada ditangannya, kalau perempuan tidak dihargai, kita sudah menghina segala karya-karya yang sumber aslinya berada dalam rahim perempuan. Perempuan bentuk keindahan sehingga perlu dihargai, laki-laki bentuk kekuatan sehingga harus melindungi, saling melengkapi dengan perbedaan itu sudah menjadi takdir yang merupakan karunia yang tidak bisa dipisahkan, tidak bisa dihancurkan, tidak bisa dipersalahkan, karena hidup adalah hidup, jangan biarkan saudara kita mati dikehidupannya. 

Sebuah peristiwa bisa jadi renungan, sebuah buku bisa jadi senjata sekawan, dan hati serta pikiran menjadi lautan rencana masa depan. Pengamalan, pelaksanaan dari itu semua menjadi hak-hak setiap orang, asalkan jujur dan bertanggung jawab untuk setiap apa yang diperjuangkan. Kita jangan pernah berhenti belajar, untuk masa depan dunia, khususnya Indonesia tercinta !!! Selamat merenungi kembali kemerdekaan !!!

Senin, 01 Agustus 2016

CINTA UNTUK SEMUA II

Hari itu seorang pemuda telah dimabuk asmara terhadap seorang wanita yang cantik jelita. Pemuda polos yang sebelum-sebelumnya merupakan pemuda yang kurang-tidak tahu menahu dunia luar terlalu banyak. Dunia yang penuh dengan keunikan; dimana ada yang hitam ternyata putih dan yang putih ternyata hitam padahal kenyataannya itu fluktuatif dan wajar karena kalau hidup tanpa statistik seperti nada musik tanpa gelombang frekuensi. Pemuda itu merasa bahwa siwanita merupakan perwujudan yang sempurna yang diciptakan oleh TuhanNya sebagai cinta sejatinya. Tapi karena sifat karakter pemuda ini pemalu dan minderan dia sangat sulit-bahkan hanya untuk bercengkrama ataupun saling sapa menyapa, jadinya sipemuda terkadang dicap seperti angkuh dan sombong karenda sifatnya itu. Harus tahu bahwa karakter sifat itu bisa jadi mengikuti teori genetika dimana sifat-sifat itu memang dibawa sejak lahir, atau mungkin saja sesuai dengan karakter bintang yang lahir dibulannya, itukan faktor. Selain faktor-faktor tersebut, yang paling rasional adalah faktor lingkungan; baik lingkungan keluarga, masyarakat, atau bahkan pendidikan formalnya atau sekolah bahkan mungkin dibalik bilik pondok pesantren. Banyak hal didunia ini yang boleh kita kenang, bernostalgia, asal jangan sampai terngiang-ngiang dan jadi gila.

Mabuk cinta pemuda sudah mencapai puncak ekstase, dirinya liar, dirinya bukan dirinya lagi. Pemuda merasa adanya berkah Tuhan ketika sang wanita bermanuver terlebih dahulu untuk berorientasi dengannya. Bunga bertebaran diimajinya, jiwanya berlumuran dengan coklat manis yang siap dikolaborasikan dengan strawberry manis  siwanita pujaan hatinya-menurutnya. Wanita manis tak kalah riang akan cara manuver overtake-nya pada sipemuda polos  ruang & waktu. Waktu demi  waktu, sang awan mulai menampakan mendungnya untuk cerita mereka  berdua ini, taman bunga romantis lahan mereka bercengkrama yang awalnya bak surga yang tak pernah ada pertentangan, penentangan, perlawanan, apalagi perselisihan, ternyata fatamorgana. Jika untuk berkata surga tidak ada itu naif; karena pada pada hakikatnya mereka berdua belum masuk fase tersebut, asumsi dasar untuk bagaimana tahu bahwa surga atau lawannya neraka itu ada; adalah dengan pemuda atau siwanita meninggal, baru mereka akan tahu kebenaran hakiki, baik ada atau tiada.

Perselisihan; konfrontasi atau konflik yang terjadi antara pasangan sejoli biasanya disebut  bumbu penyedap yang akan semakin mengeratkan atau menyedapkan alur kehidupan hubungan keduanya. Pernyataan-pernyataan demikian adalah opini, bisa jadi benar atau bisa jadi salah atau bisa jadi abu-abu atau kopi susu-atau bahkan kopi susu itu benar dan mungkin salah. Kekurangpahaman sosial kultural pemuda digeografisnya sendiri menjadi penyulutnya pula. Pengalaman siwanita akan kondisi-kondisi sosial bahkan keadaan putih bahkan hitam menjadi penyulutnya pula, menjadi faktor juga. Malaikat dilangit mungkin saja menangis tragis melihat kondisi keadaan hubungan yang katanya indah pada umumnya antara dua sejoli ini. Panggung pernikahan seolah menjauh darinya karena puing-puing itu seharusnya menjadi pertanda bahwa proses hubungan yang diikat cinta kudus ini tak harus dilanjutkan karena berbahaya bagi keduanya, prediksinya buram. Tangis adalah tinggal tangis keduanya tetap teguh mempertahankan kredo (prinsip) janji suci ala remaja zaman modern kekinian, hubunganpun dilanjutkan.

Masa-masa pasangan sejoli ini adalah masa dimana gelap telah dijadikan bintang yang dicita-citakan tapi tidak diinginkan hadirnya. Sejarah mereka berlanjut, kehidupan cinta berjalan normal mengikuti arus globalisasi. Keduanya tidak tahu bahaya diatas, dibawah, dibelakang, didepan, dikiri, dikanan, yang jadi musuh nyata. Tepatnya bukan tidak mengetahui, tapi justru terlalu berani-merasa cinta mereka berdua memiliki power mengalahkan musuh-musuh nyata yang lama kelamaan juga bertambah kekuatannya.  Sedangkan yang terjadi kekuatan yang katanya cinta sejoli ini kian hari terus melemah digantikan rasa ingin tahu berlebihan menuju arah kegelapan. Syahdu menjadi syahdu. Daging manusia ini tersiram bau busuk perbuatan sendiri yang dilakukan berulang kali. Tuhan tidak marah. Tuhan hanya kecewa dan cemburu karena nikmat luasnya terhadap mereka berdua digantikan nikmat sempit berdua tanpa memperdulikan lainnya, bahkan Tuhannya. Inilah pentingnya Cinta Untuk Semua.

Penyesalahan akan ada diakhir, tapi akhir tidak selalu penyesalan. Akhir bukanlah akhir, karena akhir yang kita anggap hanya awal bangkit dari kesalahan yang disediakan wahana, fasilitas, dan persiapan-persiapannya oleh Tuhan untuk mereka berdua. Entah nantinya mereka berpisah karena Tuhan... atau tetap bersatu karena Tuhan... Tuhan yang menentukan dengan kasih dan sayang, dengan ketetapan dan ketegasannya, karena ketika Dia mengirim hujan dia tak pandang anak kecil atau orang dewasa, hewan apa tumbuhan, hanya yang takut keluar- tetap ingin berada dalam lindungan atap rumah saja yang tak terguyur hujannya. Sama dengan hidayah, rahmat, berkah, atau pintu taubatnya hanya orang yang ingin saja yang mendapatkannya, yang berusaha saja, yang statis dalam naungan belenggu duniawi saja yang jika tidak merubahnya maka tidak akan mendapatkannya. Inallaha laa yu ghoiyiru maa bi qaumin hattta maa bi anfusihim. Sekelas Tuhanpun tidak akan merubah kita sebelum kita ingin dan berusaha merubahnya.

Pemuda tinggal pemuda, wanita tinggal wanita, semoga pintu Cinta sesungguhnya tercurah untuk keduanya, sehingga keduanya bisa berdo'a kembali untuk semuanya. Saya mengerti sekarang kenapa bentuk kesalahan kecil selalu disebut fasad filardh. Contoh saja, disaat kita melakukan satu kali kebohongan maka akan berlanjut kebohongan-kebohongan lainnya. Konektifitas kesalahan ini memang sangat eksplisit, sama seperti implikasi kemewahan pejabat terhadap kemiskinan rakyat hingga berlanjut pada hal yang seolah-olah pure kesalahan rakyat semacam perampokan, perzinahan, datang kekuburan-kuburan (sering dituduh syirik), dan deviasi atau penyimpangan-penyimpangan lain sebagainya.

Membahas parsial pasti komprehensif, lokal pasti global, bahkan relasinya bisa sampai menuju konstalasi internasional, konspirasi internasional. Konstalasi-konstalasi ini sangat rumit dan unik. Kekeringan didaerah pedalaman Indonesia bisa jadi ada korelasinya dengan rapat kerja gedung putih Amerika. Perampokan dibuat rakyat lebih kecil skalanya; tapi seolah lebih besar hinanya karena pelaku tidak memakai baju berjas, berdasi, dan bersepatu pantopel. Perzinahan dilakukan rakyat karena mereka tidak punya biaya nikah atau karena tidak adanya ketegasan hukum atau peraturan tentang hal-hal yang seolah kemajuan semacam teknologi ternyata terdapat embrio daya sifat penghancur moralitas-atau karena keadaan dari luar atau dari dalam diri. Ulama yang selalu menuduh syirik rakyat yang meminta-minta ke kuburan; padahal kesyirikan dalam paket lebih modern sedang terjadi disistem kebirokrasian dibalut dengan gaya perlente kaum aristokrat, artis-artis, tokoh-tokoh, dan lain-lain. Dan, kesalahan-kesalahan lainnya yang sebetulnya siklus dari faktor menuju faktor yang tidak diketahui sumber aslinya.

Saya tidak maksud membela kesalahan, karena kesalahan tetaplah kesalahan. Dan, tidak semua pejabat itu penjahat dan tidak semua rakyat itu baik. Bagi negeri ini, bagi para kaum kita yang mulai ingin berhijrah lebih baik, tumbuhkan benih-benih cinta kita untuk kita, simpelnya untuk semua. Mengakui kesalahan itu boleh yang tidak boleh itu putus asa. Alam ya'lamu annallahaa huwayaqbalu taubata 'an ibadih. Tidak kah mereka ketahui Allah menerima taubat hamba-hambaNya ?. Jangan putus asa !

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Sejelek-jeleknya ulat suatu saat dia bakal jadi kupu-kupu. Sekasar-kasarnya buah durian didalamnya terdapat buah yang manis dan sedap. Sesial-sialnya pertemuan pasti ada pelajaran. Semenyedihkan-menyedihkannya keadaan pasti ada yang bisa diusahakan. Cinta kita untuk semua, bagi muslim mungkin cinta Rasulullah SAW sebagai penyambung lidah kita menuju Tuhan kita karena dia kekasihNya.

Pemuda dan siwanita tadi merupakan perumpamaan suci dimana banyak hikmah dibalik orang-orang bagi sebagian orang menjijikan. Cinta itu tak akan terbatas ruang & waktu bahkan objek yang dicinta. Kita suka karena cinta, kita benci karena cinta, kita peduli dan tak peduli karena cinta. Sehingga hati dan pikiran cinta pasti akan berusaha bertutur kata cinta. Maksudnya berusaha meminimalisir hal-hal yang bakal membuat rasa lebih unggul dari yang lainnya, menyakiti, egois, kepentingan sendiri-sendiri, dll.

Jalan suluk, jalan pengalaman, jalan pengamalan, jalan pengheningan, jalan penginspirasian, jalan pengorbanan, apapun itu apa yang kita bisa dan coba hindari konfrontasi horizontal. Kalaupun ada konflik, selesaikan dengan sebijak-bijaknya karena itulah yang membuat kita dewasa, membuat kita mengamalkan itikad ingin memperbaiki diri dan berharap hadirnya Cinta sejati, Cinta sesungguhnya.

Malam ini mengingatmu, sama dengan mengingat cahaya, mengingat cahaya terkadang lupa mengingatmu karena mengingat cahaya sudah mencakup mengingatmu. Berbalut asap dan sedikit tegukan air kenikmatan hitam, padahal hitam tapi bisa jadi sumber untuk hadirnya putih. Detik ini kumohon hadirkan Cinta Untuk Semua karena kesedihan kita karena praduga dan praktek yang salah oleh kata "Cinta". Terlalu banyak tangis, pahit, pedih, kekacauan, kesusahan, kerusakan, kesalahpahaman karena "Cinta" padahal kita ada dijalan penuh asap yang kita rasa itu bentuk nikmat memabukan "Cinta" padahal asap menuju tersesatnya kita sekarang, sekarang, sekarang...