I. PENDAHULUAN
Satuan
pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan
pendidikan pada jalur formal, nonformal dan informal pada setip jenjang
dan jenis pendidikan .
Satuan Pendidikan Nonformal (Sisdiknas Pasal 26 ayat 4) terdiri atas :
1. Lembaga Kursus dan Pelatihan,
2. Kelompok belajar,
3. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),
4. Majelis taklim serta satuan pendidikan sejenis
Sisdiknas Pasal 26 ayat 5: Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi
masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan
hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi,
bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi.
II. PERMASALAHAN
1. Apa yang dimaksud dengan kursus ?
2. Jenis-jenis kursus seperti apakah yang diatur pemerintah?
3. Apa yang dimaksud dengan pelatihan dan pendidikan?
4. Apa manfaat pelatihan dan pendidikan?
5. Bagaimana peranan pelatihan dan pendidikan untuk peningkatan sumber daya manusia?
III. PEMBAHASAN
1. KURSUS
Lembaga
Kursus merupakan satuan pendidikan pendidikan luar sekolah (Nonformal)
yang diselenggarakan bagi warga masya- rakat yang memerlukan bekal untuk
mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, dan atau melanjutkan ke
tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
A. Ciri-ciri kursus:
a.
Isi dan tujuan pendidikannya selalu berorientsi pada hal-hal yang
berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, untuk mengembangkan minat dan
bakat, pekerjaan, profesi, usaha mandiri, karier, mempersiapkan diri
dari masa depan, memperkuat kegiatan pendidikan, dan untuk melanjutkan
ke jenjang yang lebih tinggi.
b. Warga beajar usianya tidak dibatasi,
dan tidak dibedakan jenis kelaminya, jumlah disesuaikan dengan
kebutuhan proses belajar yang efektif
c. Program belajar isi
pendidikan berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan fungsional,
profesi yang dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar dan untuk
persiapan memasuki masa depan. Metode penyajian disesuaikan dengan
kondisi warga belajar dan situasi setempat.
d. Tenaga pendidik, sarana/fasilitas disesuaikan dengan jenis dan tingkat kursus.
e. Hasil belajar langsung dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri kursus:
Isi dan tujuan pendidikannya selalu berorientsi pada hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat
Warga beajar usianya tidak dibatasi
Program belajar isi pendidikan berkaitan dengan pengetahuan dan
keterampilan fungsional, profesi yang dibutuhkan, untuk memenuhi
kebutuhan pasar dan untuk persiapan memasuki masa depan
Tenaga pendidik, sarana/fasilitas disesuaikan dengan jenis dan tingkat kursus
Hasil belajar langsung dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Memiliki kurikulum sesuai dengan program belajar yang dibutuhkan.
Kursus
diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan,
keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri,
mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
Beberapa rumpun kursus diantaranya :
o Menjahit
o Tata Kecantikan Kulit/Rambut
o Tata Rias Pengantin
o Jasa Boga
o Otomotif
o Elektronika
o SPA
o Komputer
o Pariwisata (perhotelan)
o Bahasa
o dsb
Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Kursus.
Dalam
rangka Pemerataan dan Perluasan Akses, dilaksanakan melalui
penyelenggaraan berbagai program yang mengarah pada pembekalan kepada
warga belajar tentang pengetahuan, keterampilan sikap, dan kepribadian
profesional yang berbasis pada pendidikan kecakapan hidup, untuk
memenuhi kebutuhan warga masyarakat baik pada spektrum pedesaan,
perkotaan, nasional, dan internasional, yaitu: 1) Kursus Wirausaha Kota
(KWK), 2) Kursus Wirausaha Desa (KWD), 3)Kursus Para Profesi (KPP), dan
4) Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) kerjasama SMK/Politeknik/BLK
/Perguruan Tinggi.
Kebijakan mengacu pada misi direktorat kursus dan kelem- bagaan yaitu :
Mendorong
terwujudnya kelembagaan kursus dan kursus para profesi (KPP) yang
berorientasi pada peningkatan kecakapan hidup(PKH) yang bermutu dan
relevan dengan kebutuhan masyarakat khususnya bagi penduduk miskin dan
pengangguran terdidik, dapat bekerja dan atau berusaha secara produktif
mandiri dan profesional.
Penjabaran dari misi tersebut dijabarkan kedalam induk program pembinaan kursus dan kelembagaan diantaranya :
Mewujudkan KPP yang berorientasi pada wirausaha pedesaan (Kursus Wirausaha Desa atau KWD)
Mewujudkan KPP yang berorientasi pada wirausaha perkotaan (Kursus Wirausaha Kota atau KWK)
Mewujudkan KPP yang berorientasi pada penyiapan tenaga kerja luar negeri
Dari misi dan induk program tersebut merupakan dasar dalam mengembangan program Kursus Para Profesi (KPP)
Landasan konseptual KPP.
Kursus yang dimaksud disini adalah salah satu bentuk layanan pendidikan
pada jalur pendidikan non formal bagi masyarakat (peserta didik) melaui
pendidikan dan latihan untuk membekali sejumlah kompetensi tertentu
kepada pesera didik, sehingga mereka siap memasuki dunia kerja/DUDI
Istilah
Para dalam bentuk kata benda mengandungarti pembantu (asisten) dan
dalam kata kerja mengandung arti membantu (to assist).
Profesi
(profession) berarti pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh
melalui pendidikan dan latihan, artinya pekerjaan yang bersifat
profesional bukan dilakukan orang yang karena tidak memilik pekerjaan
sehingga harus melakukan pekerjaan tersebut.
Para Profesi dapat
diartikan sebagai asisten profesi atau pembantu tenaga profesional
berkenaan dengan pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu (spesifik)
yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. Sebagai contoh: Para
Medis adalah pembantu dibidang pekerjaan medis.
Jadi yang dimaksud
Kursus Para Profesi (KPP) adalah program layanan pendidikan dan latihan
yang berorientasi pda kecakapan hdup (Life-Skills) yang diberikan pada
peserta didik agar memiliki kompetensi dibidang keterampilan tertentu,
setingkat operator dan teknisi yang bersertifikat kompetensi sebagai
bekal untuk bekerja didalam dan diluar negeriatau melaksanakan usaha
mandiri.
Difininisi tersebut memberikan indikasi bahwa program KPP harus memenuhi 3 syarat :
Komptensi yang dikembangkan harus sesuai dengan permintaan atau kebutuhan DUDI.
Harus dilakukan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat
Lulusan KPP yaitu para profesi harus harus disalurkan untuk mengisi
lapangan kerja baik dalam maupun luar negeri atau membuka usaha sendiri.
.
Oleh karena itu penyelenggaraan KPP harus didasarkan atas “Job Order ” dari DUDI baik dalam negeri maupun Luar negeri.
a. Program Kursus Wirausaha Kota (KWK)
Kursus
Wirausaha Kota (KWK) adalah program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH)
yang diselenggarakan secara khusus untuk memberikan kesempatan belajar
bagi masyarakat perkotaan agar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan
menumbuhkembangkan sikap mental kreatif, inovatif, bertanggung jawab
serta berani menanggung resiko (sikap mental profesional) dalam
mengelola potensi diri dan lingkungannya yang dapat dijadikan bekal
untuk bekerja dan atau berwirausaha dalam upaya peningkatan kualitas
hidupnya.
o Jenis Keterampilan/Vokasi
Keterampilan yang
diselenggarakan dalam program KWK adalah jenis keterampilan yang sesuai
dengan kebutuhan pasar kerja dan/atau usaha yang ada diperkotaan, antara
lain:
1. Menjahit
2. Tata Kecantikan Kulit/Rambut
3. Tata Rias Pengantin
4. Jasa Boga
5. Otomotif
6. Elektronika
7. SPA
8. Komputer
9. Pariwisata (perhotelan)
10 Jenis keterampilan bidang jasa lainnya sesuai kebutuhan pasar kerja dan usaha di perkotaan.
b. Program Kursus Wirausaha Desa (KWD)
KWD
adalah program Pendidikan Kecakapan Hidup yang diselenggarakan secara
khusus untuk memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat pedesaan agar
memperoleh pengetahuan, keterampilan dan menumbuhkembangkan sikap
mental kreatif, inovatif, bertanggung jawab serta berani menanggung
resiko (sikap mental profesional) dalam mengelola potensi diri dan
lingkungannya yang dapat dijadikan bekal untuk peningkatan kualitas
hidupnya.
o Jenis Keterampilan/Vokasi
Keterampilan yang
diselenggarakan dalam program KWD adalah jenis keterampilan yang sesuai
dengan kebutuhan pasar kerja dan/atau wirausaha yang ada di pedesaan.
Jenis keteram pilan KWD diarahkan pada sektor produksi yang
memberdayakan sumber potensi sekitarnya. Prioritas jenis keterampilan
yang relevan dengan pasar kerja dan/atau usaha di pedesaan, antara lain:
1. Pertanian
2. Perkebunan
3. Perikanan darat dan laut
4. Kehutanan
5. Peternakan
6. Pertukangan
7. Keterampilan lain yang dianggap laku di pasar
sekitar (marketable).
c. Program Kursus Para Profesi (KPP)
Kursus
Para Profesi (KPP) adalah program pelayanan pendidikan dan pelatihan
berorientasi pada Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) yang diberikan kepada
peserta didik agar memiliki kompetensi di bidang keterampilan tertentu
setingkat operator dan teknisi yang bersertifikat kompetensi sebagai
bekal untuk bekerja.
o Jenis Keterampilan/Vokasi
Keterampilan
yang diselenggarakan dalam program KPP adalah jenis keterampilan yang
sesuai dengan pesanan tenaga kerja (job order) yang dimiliki oleh
lembaga penyelenggara KPP. Prioritas Jenis keterampilan yang dapat
diselenggarakan melalui program KPP, antara lain :
1. Otomotif
2. Elektronika
3. Spa
4. Komputer
5. Akupunktur
6. PLRT plus
7. Garmen/menjahit
8. Baby Sitter
9. Care Giver
10. House Keeping
11. Pariwisata (perhotelan)
12. Jenis keterampilan lainnya sesuai job order.
2. PELATIHAN DAN PENDIDIKAN
Pengertian Pelatihan dan Pendidikan
Mengikut
Fliffo (1988) “education is concerded with increasing general
knowledge and understanding of our total environment” (pendidikan ialah
berkait rapat dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman kepada
persekitaran secara keseluruhan). Manakala “Training is the act of
increasing the knowldedge and skill of an employe for doing a particular
job” (latihan ialah suatu usaha peningkatan pengetahuan dan kefakaran
seorang pegawai untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu).
F.
Sikula pula berpendapat bahawa “training is a short term educational
process utilizing a systematic and organized procedure by which non
managerial personnel learn techical knowledge and skills for a definete
purpose” (latihan ialah suatu proses pendidikan jangka masa singkat
dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir dimana
pegawai operasional belajar pengetahuan teknik pengerjaan dan kefakaran
untuk tujuan tertentu).
Daripada dua pendapat tersebut, dapat
disimpulkan bahwa pendidikan (education) berbeda dengan latihan
(training). Latihan merupakan bagian daripada pendidikan, latihan
bersifat spesifik, praktis, dan segera. Yang dimaksud dengan spesifik
dalam artian latihan bertalian erat dengan suatu pekerjaan tertentu atau
spesifik daripada peserta. Manakala yang dimaksud dengan praktis dan
segera ialah bahawa apa yang telah diberikan dalam masa latihan boleh
diterapkan dengan segera, sehingga materi yang diberikan mestilah
bersifat praktis.
Pendidikan lebih bersifat filosofis dan teoritis.
Walaupun demikian, pendidikan dan latihan mempunyai matlamat yang sama,
iaitu pembelajaran. Didalam pembelajaran terdapat pemahaman secara
implisit. Menerusi pemahaman, pegawai dimungkinkan untuk menjadi
seorang inovator, pengambil inisiatif, pemecah masalah yang kreatif,
serta menjadi pegawai efisien dan efektip (berkesan) didalam menjalankan
pekerjaan.
Latihan ialah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk
mempertingkatkan kefakaran, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan
sikap seseorang individu. Program latihan berusaha untuk mengajarkan
kepada peserta (trainee) bagaimana menjalankan aktiviti atau pekerjaan
tertentu. Menerusi latihan trainne memperoleh atau mempelajari sikap,
kemampuan, kefakaran, pengetahuan, dan perilaku yang spesifik yang
bertalian dengan pekerjaannya.
Perbedaan antara latihan dan
pembinaan, latihan dimaksudkan untuk menolong pegawai menjalankan
pekerjaan mereka pada masa sekarang secara lebih baik, manakala
pembinaan pula ialah proses jangka masa lama peningkatan kinerja pegawai
untuk menyongsong tantangan di masa hadapan.
Pembinaan berteraskan
kepada fakta bahawa seorang pegawai akan memerlukan serangkaian
pengetahuan, kefakaran, dan kebolehan yang lebih maju untuk
mempertingkatkan kualiti kerja yang dipikulnya sepanjang kariernya.
Pembinaan (development) diartikan sebagai penyiapan individu-individu
untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau yang lebih tinggi di
dalam organisasi. Pada amnya pembinaan bertalian dengan peningkatan
kebolehan intelektual atau emosional yang diperlukan untuk menjalankan
pekerjaan yang lebih baik.
2.1. Orientasi Pendidikan dan Latihan
Pendidikan
dan latihan sebagai alat kepada organisasi untuk memudahkan pegawai
melakukan tugasnya perlu diberikan sedari awal penempatan pegawai baru
supaya dalam menghadapi cara kerja, lingkungan dan sistem kerja yang
berlaku, pegawai berkenaan tidak merasa cemas dan mudah menyesuaikan
diri.
Kerap sekali ditemui, pada masa pertama kali seseorang bekerja
di persekitaran yang baru, akan nampak bahawa orang tersebut tidak boleh
menyesuaikan diri dengan persekitaran kerjanya. Keadaan seperti ini
juga dialami oleh mereka yang telah berpengalaman dalam pekerjaannya.
Untuk mengatasi perasaan cemas dan sulitnya menyesuaikan diri bagi
pegawai baru, organisasi membuat program pengenalan yang disebut
orientasi.
Orientasi ialah aktiviti yang bertalian pengenalan
individu kepada organisasi, dimana organisasi menyediakan landasan bagi
pegawai baru untuk boleh berfungsi efektip dan menyenangi pekerjaan yang
baru. Program orientasi bermula daripada pengenalan informasi yang
singkat sehinggalah kepada program yang panjang. Pegawai baru
memerlukan informasi spesifik dalam tiga perkara utama, iaitu:
1. Standard, pengharapan, norma, tradisi, dan kebijakan organisasi,
2. Perilaku sosial, iklim kerja, mengenalpasti rekan sejawat/kerja dan atasan langsung,
3. Aspek-aspek teknis pekerjaan.
Kejayaan
orientasi mengikut French dalam Prasetya Irawan, dan at.al (1977),
bahawa prosedur orientasi selayaknya menerusi perancangan dimana program
tersebut dikhususkan untuk memecahkan persoalan spesifik pegawai baru.
Mengikutnya pula, bahawa kunci sukses program orientasi terletak kepada
pendekatan yang partisipatif, sambutan yang hangat, dan perhatian
kepada individu merupakan, perkara yang vital dalam program orientasi.
Tujuan orientasi pegawai baru oleh Hendry Simamora (1985) ialah:
1. Mempelajari prosedur pekerjaan,
2.
Menjalin hubungan dengan rakan sekerja, bawahan ataupun atasan dan
menyesuaikan diri dengan cara-cara organisasi dalam melaksanakan tugas
pekerjaannya. Masudnya adalah untuk mengembangkan pengharapan pekerjaan
yang realistik dan sikap positif terhadap organisasi,
3. Menumbuhkan
kepada pegawai baru perasaan memiliki dengan cara memperlihatkan
bagaimana pekerjaan mereka bersesuaian dengan keseluruhan organisasi,
4. Mengurangi jumlah stres dan kegelisahan yang dialami oleh pegawasi baru,
5. Mengurangi biaya start-up.
Program
pengenalan pegawai baru terhadap persekitaran kerjanya disebut pula
induksi ataupun sosialisasi. Induksi merupakan tarap awal daripada
program orientasi dimana pegawai baru mempelajari tugas yang akan
dilakukan, siapa penyelia/pembimbing atasan langsungnya, struktur
organisasi, peraturan, kebijakan prosedur kerja, dan lain-lain.
Sementara itu sosialisasi adalah proses yang berlangsung terus menerus
berupa penanaman dalam diri pegawai mengenai norma, standard, prosedur
kerja, sikap dan perilaku kerja yang berlaku dalam organisasi.
Sosialisasi tidak hanya untuk pegawai baru, tetapi juga berlangsung
ketika seorang pegawai memperoleh promosi atau dimutasikan ke unit
organisasi lainnya. Dalam sosialisasi ini diharapkan perilaku individu
yang inovatif ataupun adaptif.
Pelaksananaan program orientasi supaya
lebih efektip, mengikut Henry Simamora (1995) mestilah dihindari
perkara-perkara seperti berikut:
1. Penekanan kepada kertas kerja (paper work),
Pegawai
baru diberikan sambutan sepintas lalu, setelah mengisi
formulir-formulir yang diberikan oleh biro/bagian kepegawaian. Kemudian
pegawai berkenaan diarahkan kepada atasan langsungnya. Pendekatan
seperti ini, implikasinya pegawai tidak merasa sebagai bagian dari
instansinya.
2. Tinjauan yang kurang lengkap mengenai dasar-dasar pekerjaan.
Suatu
orientasi yang cepat dan dangkal karena pegawai baru langsung
ditempatkan pada pekerjaan, sehingga mereka merasa tenggelam ataupun
mangap-mangap.
3. Tugas-tugas pertama pegawai baru tidak signifikan, dimaksudkan untuk mengajarkan pekerjaan mulai dari dasar sekali,
4.
Memberikan terlampau banyak maklumat secara cepat adalah suatu
keinginan yang baik, tetapi merupakan pendekatan yang mencelakakan,
menyebabkan pegawai baru merasa kewalahan dan mati lemas.
2.2. Keterkaitan Pendidikan dan Latihan
Pendidikan
dan latihan berhubung kait dengan aspek-aspek lainnya daripada
pengurusan sumber manusia, seperti penempatan, perencanaan karier,
penilaian prestasi kerja, dan kompensasi. Hubungan atau keterkaitan
pelatihan boleh dijelaskan seperti berikut:
a) Keterkaitan pendidikan dan latihan dengan penempatan (placement),
Konsep
penempatan mencakup promosi, transfer dan bahkan demosi. Sebagaimana
halnya pegawai baru, pegawai lamapun perlu direkrut secara internal,
perlu diseleksi dan lazimnya mereka menjalani program orientasi sebelum
mereka ditempatkan pada posisi baru dan melaksanakan pekerjaan yang baru
pula. Untuk penempatan seperti promosi, salah satu persyaratannya,
pernah dan lulus mengikuti program pendidikan dan latihan jabatan.
Dengan demikian penempatan pegawai dilandasi oleh program latihan dalam
rangka peningkatan profesionaliti, sama ada untuk masa sekarang mahupun
dimasa yang akan datang.
b) Keterkaitan latihan dengan perencanaan karier,
Biro/bagian
kepegawaian departemen/intansi diharapkan bersikap proaktif dalam
perencanaan karier para pegawainya. Dengan sikap yang proaktif tersebut
akan boleh menolong para pelatih/instruktur/widyaiswara
mengidentifikasikan keperluan para pegawai didalam pendidikan dan
latihan serta pengembangan tertentu. Biro/bagian boleh menyelenggarakan
latihan tentang perencanaan karier yakni pengalihan pengetahuan
mengenai berbagai teknik perencanaan karier dengan menggunakan kaedah
ceramah dari para pejabat, lokakarya ataupun seminar. Pendikatan ini
memberikan manfaat bagi pegawai, antara lain:
i) Pegawai mengetahui
komitmen pimpinan bahawa mereka diberikan kesempatan untuk meniti karier
setinggi mungkin dalam organisasi,
ii) Para pegawai diarahkan untuk
menentukan sasaran kariernya, mengidentifikasikan jalur karier yang
mungkin ditempuhnya, cara memanfaatkan berbagai peluang mengembangkan
karier, serta memilih berbagai kegiatan pengembangan karier yang mungkin
dilakukannya.
c) Keterkaitan pendidikan dan latihan dengan penilaian prestasi kerja,
Suatu
sistem penilaian prestasi kerja yang baik sangat berguna untuk berbagai
kepentingan. Salah satu manfaatnya ialah untuk menyusun program
pendidikan dan latihan, sama ada yang dimaksudkan untuk mengatasi
berbagai kekurangan dan kelemahan mahupun untuk mengembangkan potensi
pegawai yang ternyata belum sepenuhnya terungkap menerusi penilaian
prestasi kerja.
d) Keterkaitan pendidikan dan latihan dengan kompensasi.
Salah
satu faktor pribadi pegawai yang mempengaruhi besarnya pemberian
kompensasi ialah pendidikan dan latihan. Pegawai yang berpendidikan
lebih tinggi akan memperoleh kompensasi yang lebih besar daripada
pegawai yang lebih rendah tingkat pendididkannya. Pertimbangan faktor
ini merupakan penghargaan organisasi kepada keprofesionalitasan
seseorang. Pertimbangan ini juga boleh memotivasi pegawai untuk
senantiasa meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilannya.
2.3. Tujuan dan Manfaat Pendidikan dan Latihan
Departemen/instansi
yang akan menyelenggarakan pendidikan dan latihan perlu terlebih dahulu
menentukan manfaat yang ingin dicapai menerusi pendidikan dan latihan
tersebut. Penyelenggaraan pendidikan dan latihan harus jelas apa yang
akan menjadi matlamatnya sehingga nyata arah atau tujuan yang harus
diraih. Pendidikan dan latihan yang sekedar untuk menghabiskan anggaran
yang tersedia atau ketertarikan pimpinan terhadap program tertentu
sering kali merupakan pemborosan. Oleh itu tujuan latihan merupakan
pedoman dan penyusunan program latihan, pelaksanaan dan evaluasinya.
Manfaat
pendidikan dan latihan mengikut Hani Handoko (1994), semestinya boleh
menutupi gap atau kesenjangan antara kemampuan pegawai dengan
spesifikasi pekerjaan. Tujuan lainnya, program pendidikan dan latihan
diharapkan merubah perilaku kerja pegawai agar boleh mempertingkatkan
efisiensi dan efektivitas kerja pegawai dalam meraih sasaran kerja yang
telah ditetapkan.
Walaupun program pendidikan dan latihan
menghabiskan waktu dan biaya yang mahal, namun akan mengurangi
perpindahan atau pusing ganti pegawai (turnover) dan boleh
mempertingkatkan produktiviti pegawai. Program pendidikan dan latihan
akan membantu pegawai dalam menghindari diri daripada keusangan dan
melaksanakan tugas pekerjaan dengan lebih baik.
Henry Simamora (1995) berpendapat bahawa tujuan-tujuan utama latihan dapat dikelompokkan kedalam lima bidang:
i) Memutahirkan keahlian para pegawai sejalan dengan perubahan teknologi,
ii) Mengurangi waktu belajar bagi pegawai baru untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan,
iii) Membantu memecahkan permasalahan operasional,
iv) Mempersiapkan pegawai untuk promosi,
v) Mengorientasikan pegawai terhadap organisasi.
Pendidikan
dan latihan mustahak perlu dijalankan, kemutlakan itu tergambar pada
berbagai jenis manfaat yang boleh dipetik daripada pendidikan dan
latihan. Sama ada P. Siagian (1999) mahupun William B. Werter Jr. dan
Keith Davis (1996) menyatakan bahawa pada asasnya terdapat beberapa
manfaat pendidikan dan latihan bagi organisasi, individu, dan bagi
penumbuhan dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara berbagai
kelompok (kumpulan) kerja dalam suatu organisasi.
a) Manfaat bagi organisasi
1)
Peningkatan produktiviti kerja organisasi sebagai keseluruhan antara
lain karena tidak terjadinya pemborosan, karena kecermatan melaksanakan
tugas, tumbuh suburnya kerja sama antara berbagai satuan kerja yang
melaksanakan kegiatan yang berbeda dan bahkan spesialistik, meningkatkan
tekad mencapai sasaran yang telah ditetapkan serta lancarnya
koordinasi, sehingga organisasi bergerak sebagai suatu kesatuan yang
bulat dan utuh,
2) Terwujudnya hubungan yang serasi antara atasan dan
bawahan, antara lain karena adanya pendelegasian wewenang, interaksi
yang didasarkan kepada sikap dewasa, sama ada secara terknikal maupun
intelektual. Saling menghargai dan adanya kesempatan bagi bawahan untuk
berfikir dan bertindak secara inovatif,
3) Terjadinya proses
pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat karena membabitkan
para pegawai yang bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
operasional dan tidak sekedar diperintahkan oleh para manajer.
4) Meningkatkan semangat kerja seluruh pegawai dalam organisasi dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi,
5) Mendorong sikap keterbukaan manajemen menerusi penerapan gaya managerial (pengurusan) yang partisipatif,
6)
Memperlancar jalannya komunikasi yang efektip yang pada gilirannya
memperlancar proses perumusan kebijakan organisasi dan operasionalnya,
7)
Penyelesaian konflik secara fungsional yang dampaknya ialah tumbuh
suburnya rasa persatuan dan suasana kekeluargaan di kalangan para
anggota organisasi.
b) Manfaat bagi individu
1) Menolong para pegawai membuat keputusan dengan lebih baik,
2) Meningkatkan kemampuan para pegawai menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya,
3) Terjadinya internalisasi dan operasionalisasi faktor-faktor motivasional,
4) Timbulnya dorongan di dalam diri para pegawai untuk terus mempertingkatkan kemampuan kerjanya,
5)
Peningkatan kemampuan pegawai untuk mengatasi stress, frustasi dan
konflik yang pada gilirannya memperbesar rasa percaya pada diri sendiri,
6)
Tersedianya informasi tentang berbagai program yang dapat dimanfaatkan
oleh para pegawai dalam rangka pertumbuhan masing-masing secara teknikal
dan intelektual,
7) Meningkatkannya kepuasan kerja,
8) Semakin besarnya pengakuan atas kemampuan seseorang,
9) Makin besarnya tekad pegawai untuk lebih mandiri,
10) Mengurangi ketakutan menghadapi tugas-tugas baru dimasa depan,
c) Manfaat bagi kelompok kerja
1) Terjadinya proses komunikasi yang efektip,
2) Adanya persepsi yang sama tentang tugas-tugas yang harus diselesaikan,
3)
Ketaatan semua pihak kepada berbagai ketentuan yang bersifat normal,
sama ada yang berlaku umum dan ditetapkan oleh instatnsi pemerintah yang
berwenang mahupun yang berlaku khusus di lingkungan suatu organisasi
tertentu.
4) Terjadinya iklim yang baik bagi pertumbuhan selurus pegawai,
5) Menjadikan organisasi sebagai tempat yang lebih menyenangkan untuk berkarya.
Kendati
demikian luasnya manfaat pendidikan dan latihan tersebut, tidaklah
berarti bahawa seluruhnya akan dapat dicapai dengan satu jenis
pendidikan dan latihan sahaja. Karena tujuan pendidikan dan latihan itu
berbeda-beda tergantung kepada sasaran yang ingin dicapai dengan
pendidikan dan latihan tersebut.
METODE PELATIHAN
Berdasarkan
pertimbangan dalam menentukan metode latihan tersebut, berikut ini ialah
berbagai metode diklat yang sudah umum dikenal dan digunapakai di
berbagai organisasi, iaitu:
1) On the job training
Diklat ini
berbentuk penugasan pegawai-pegawai baru di bawah bimbingan pegawai lain
yang telah berpengalaman. Para pegawai senior yang bertugas untuk
membimbing pegawai baru diharapkan memperhatikan suatu pekerjaan yang
jelas dan konkret yang akan dikerjakan oleh pegawai baru tersebut segera
setelah diklat berakhir.
Berbagai macam metode on the job training
yang pada umumnya digunakan dalam praktek antara lain rotasi pekerjaan,
sistem magang, coaching, tugas belajar, dan penugasan sementara.
Berikut ini penjelasan masing-masing metode tersebut:
a) Rotasi pekerjaan
Para
pegawai dilatih mengerjakan beraneka ragam tugas, mereka ditransfer
atau dimutasikan dari suatu jabatan ke jabatan lain untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan mereka.
b) Sistem magang (apprenticeships)
Pegawai dilatih dibawah bimbingan rekan kerja yang sangat terampil.
c) Coaching
Atasan
langsung memberikan bimbingan dan pengarahan kepada para pegawai dalam
pelaksanaan kerja rutin pegawai dalam menjalankan kerja rutin mereka.
d) Tugas belajar (internship).
Pegawai
belajar dari pegawai lain yang dianggap lebih berpengalaman dan lebih
mahir melaksanakan tugas tertentu. Diklat kerja ini kerap
dikombinasikan dengan pengajaran formal dalam kelas yang ada hubungannya
dalam diklat tersebut.
e) Penugasan sementara
Penempatan pegawai
pada posisi menajerial atau sebagai anggota panitia tertentu untuk
jangka waktu ditetapkan. Pegawai tersebut terbabit langsung dalam
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah-masalah organisasional
nyata, serta mereka dapat meningkatkan keterampilan nyata, serta mereka
dapat meningkatkan keterampilan dalam interaksi antara pegawai.
2) Off the job training
Diklat
dengan menggunakan kaedah ini berarti pegawai sebagai peserta keluar
sementara dari kegiatan atau pekerjaannya untuk mengikuti latihan.
Metode ini terdiri atas dua macam yakni teknik-teknik presentasi
informasi dan metode simulasi.
1) Teknik-teknik presentasi informasi
a) Ceramah
Pengajar bertatap muka langsung dengan peserta. Peserta diklat pasif mendengarkannya.
b) Presentasi video
Presentasi
TV, films, silides dan sejenisnya ialah serupa dengan bentuk kuliah.
Metode ini biasanya digunakan sebagai bahan atau alat pelengkap
bentuk-bentuk latihan lainnya.
c) Metode konverensi
Metode ini
analog dengan bentuk kelas seminar di perguruan tinggi, sebagai
pengganti metode kuliah. Tujuannya ialah untuk mengembangkan kecakapan
dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dan untuk mengubah
sikap pegawai.
d) Programmed instruction
Metode ini menggunakan
komputer untuk memperkenalkan kepada peserta mengenai topik yang harus
dipelajari dan serangkaian langkah dengan umpan balik langsung pada
penyelesaian setiap langkah sebelum pelajaran diberikan, peserta
diberikan placement test untuk menentukan tingkatan awal setiap peserta.
e) Belajar sendiri (self study)
Teknik
ini biasanya menggunakan manual atau modul tertulis dan kaset atau
video tape rekaman. Belajar sendiri berguna bila pegawai tersebar
secara geografis atau bila proses belajar hanya memerlukan sedikit
interaksi.
2) Metode-metode simulasi
Peserta diklat menerima
representasi tiruan (artificial) suatu aspek organisasi dan diminta
untuk menanggapinya seperti dalam keadaan sebenarnya. Diantaranya
metode-metode simulasi yang sering dugunapakai, antara lain:
a) Studi kasus
Pada
metode ini peserta dihadapkan kepada suatu peristiwa/kejadian atau
situasi yang pernah terjadi (studi kasus). Peserta diharapkan mampu
mengidentifikasikan masalah-masah menganalisis situasi dan merumuskan
penyelesaian-penyelesaian alternatif. Dengan metode kasus, pegawai
dapat mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan.
b) Bermain peran (role playing).
Peserta
ditugaskan untuk memerankan individu tertentu untuk membahas suatu
permasalahan sesuai dengan peran masing-masing. Dalam perkara ini tidak
ada naskah yang mengatur pembicaraan dan perilaku.
Efektivitas
kaedah ini sangat tergantung kepada kemampuan peserta untuk memainkan
peranan (sedapat mungkin sesuai dengan realitas) yang ditugaskan
kepadanya. Teknik role playing dapat mengubah sikap peserta seperti
misalnya menjadi lebih toleransi terhadap perbedaan individual dan
mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi (interpersonal
skills).
c) Vestibule training
Kaedah ini ialah untuk meningkatkan
keterampilan terutama yang bersifat teknikal, ditempat pekerjaan, akan
tetapi tanpa menganggu kegiatan organisasi sehari-hari. Organisasi
menyediakan lokasi tertentu dengan dilengkapi berbagai jenis peralatan
sama seperti yang akan digunakan dalam pekerjaan sebenarnya. Contoh
Frontdesk, kegiatannya meliputi menerima tamu, pendaftaran tamu,
pemberian informasi, menerima keluhan dan sebagainya.
d) Diklat laboratorium (laboratory training)
Teknik
ini adalah suatu bentuk diklat kelompok yang terutama digunakan untuk
mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi. Salah satu
bentuk diklat ini seperti diklat kepekaan (sensitivity training)
terhadap perasaan orang lain dan lingkungan. Diklat ini berguna untuk
mengembangkan berbagai perilaku bagi tanggung jawab pekerjaan dimasa
yang akan datang.
IV. KESIMPULAN
Lembaga
Kursus merupakan satuan pendidikan pendidikan luar sekolah (Nonformal)
yang diselenggarakan bagi warga masya- rakat yang memerlukan bekal untuk
mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, dan atau melanjutkan ke
tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pendidikan
(education) berbeda dengan latihan (training). Latihan merupakan bagian
daripada pendidikan, latihan bersifat spesifik, praktis, dan segera.
Manfaat pendidikan dan latihan mengikut Hani Handoko (1994), semestinya
boleh menutupi gap atau kesenjangan antara kemampuan pegawai dengan
spesifikasi pekerjaan.
V. DAFTAR PUSTAKA
1.
Sutrisno, Ir, M. Pd. 2009. Makalah Satuan Pendidikan dan Program
Pendidikan Non Formal. Bandung: Diklat Supervisi dan BimbinganTeknis
Pendidikan Non Formal.
2. Suhari, Mukhlis. 2009. Diklat. Diakses: tanggal 5 April 2009. Sumber: www.suhardi-mukhlis.co.cc/download/3/ -
Kamis, 31 Maret 2016
Selasa, 29 Maret 2016
LEBIH DEKAT DENGAN PENGERTIAN KURSUS
Kursus adalah lembaga pelatihan yang termasuk ke dalam jenis
pendidikan nonformal. Kursus merupakan suatu kegiatan belajar-mengajar
seperti halnya sekolah. Perbedaanya adalah bahwa kursus biasanya diselenggarakan dalam waktu pendek dan hanya untuk mempelajari satu keterampilan tertentu. Misalnya, kursus bahasa Inggris tiga bulan atau 50 jam, kursus montir, kursus memasak, menjahit, musik
dan lain sebagainya. Peserta yang telah mengikuti kursus dengan baik
dapat memperoleh sertifikat atau surat keterangan. Untuk keterampilan
tertentu seperti, kursus ahli kecantikan atau penata rambut, peserta
kursus diwajibkan menempuh ujian negara. Ujian negara ini dimaksudkan
untuk mengawasi mutu kursus yang bersangkutan, sehingga pelajaran yang
diberikan memenuhi syarat dan peserta memiliki keterampilan dalam
bidangnya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Kursus)
Pengertian kursus secara umum adalah belajar sesuatu pengetahuan atau keterampilan dalam waktu yang relatif singkat. Kursus merupakan salah satu pendidikan yang diberikan di luar sekolah resmi (non-formal) untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan diri.
Tujuan mengikuti kursus adalah sebagai bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, pengembangan diri, pengembangan profesi, modal kerja, usaha mandiri atau untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Alasan mengikuti kursus adalah keterbatasan waktu belajar, tidak ada kesempatan lagi untuk mengikuti pendidikan formal, faktor biaya belajar, lebih terfokus dengan apa yang akan dipelajari, meningkatkan ketrampilan yang telah dimiliki.
Pengertian Kursus resmi
Kursus yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga yang telah memenuhi syarat mendirikan kursus tertentu sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar. Beberapa syarat, antara lain Perizinan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk memberikan legalitas atau pengakuan dan persetujuan resmi atas status penyelenggaraan kursus yang meliputi materi, sarana dan prasarana, pembiayaan, sistem evaluasi dan sertifikasi serta manajemen dan proses kursus.
Pengertian Kursus tidak resmi
Kursus yang diadakan secara pribadi (privat) dari seseorang terhadap orang atau kelompok, dengan kesepakatan tertentu seperti biaya, tempat dan waktu.
Pengertian Kursus khusus
Kursus yang diadakan oleh lembaga tertentu seperti perusahaan, organisasi, pemerintahan yang bersifat tertutup untuk umum dan hanya berlaku untuk kalangan sendiri. Biasanya untuk karyawan, pegawai dalam mengembangkan karir dan jabatan.
Pengertian kursus secara umum adalah belajar sesuatu pengetahuan atau keterampilan dalam waktu yang relatif singkat. Kursus merupakan salah satu pendidikan yang diberikan di luar sekolah resmi (non-formal) untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan diri.
Tujuan mengikuti kursus adalah sebagai bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, pengembangan diri, pengembangan profesi, modal kerja, usaha mandiri atau untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Alasan mengikuti kursus adalah keterbatasan waktu belajar, tidak ada kesempatan lagi untuk mengikuti pendidikan formal, faktor biaya belajar, lebih terfokus dengan apa yang akan dipelajari, meningkatkan ketrampilan yang telah dimiliki.
Jenis-jenis Kursus
Pengertian Kursus resmi
Kursus yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga yang telah memenuhi syarat mendirikan kursus tertentu sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar. Beberapa syarat, antara lain Perizinan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk memberikan legalitas atau pengakuan dan persetujuan resmi atas status penyelenggaraan kursus yang meliputi materi, sarana dan prasarana, pembiayaan, sistem evaluasi dan sertifikasi serta manajemen dan proses kursus.
Pengertian Kursus tidak resmi
Kursus yang diadakan secara pribadi (privat) dari seseorang terhadap orang atau kelompok, dengan kesepakatan tertentu seperti biaya, tempat dan waktu.
Pengertian Kursus khusus
Kursus yang diadakan oleh lembaga tertentu seperti perusahaan, organisasi, pemerintahan yang bersifat tertutup untuk umum dan hanya berlaku untuk kalangan sendiri. Biasanya untuk karyawan, pegawai dalam mengembangkan karir dan jabatan.
Perkembangan Kursus di Indonesia
Seiring kemajuan teknologi, penyelenggaraan kursus tidak harus bertatap
muka secara langsung. Dengan kemajuan internet dan perangkatnya, saat
ini telah terwujud kursus online bersertifikat di Indonesia.
Meskipun terlambat dibandingkan dengan negara maju lainnya, setidaknya
ada beberapa lembaga kursus yang ada di Indonesia telah menyelenggarakan
kursus online.
Pengertian Kursus - Kanal Informasi
Langganan:
Komentar (Atom)