Assalamualaikum.
Bismillah. Saya berharap satu atau dua orang akan jadi pemimpin digenerasi kita yang itu berani dan tahan hati. Dalam ilmu pengetahuan, mengamalkan ilmunya lebih baik daripada hanya membicarakannya, tapi transformasinya untuk meneruskan warisan ilmu mau bagaimanapun harus menggunakan metoda komunikasi yang itu berkonstelasi dengan yang namanya suara, salah satu yang lazim digunakan manusia, organ yang digunakan adalah mulut untuk berbicara yang nantinya memiliki tata kelola serta nada yang menghasilkan produk suara yang dapat dimengerti manusia lainnya yang memiliki sistem program yang telah terlegitimasi untuk dapat mengerti kode atau rumus-rumus yang dihasilkan berbentuk suara penyebabnya adalah bicara. Betul nggak ? Jadi intinya, blablabla semuanya punya penafsiran dan interpretasi masing-masing yang unik bahkan diranah pengaplikasian, pengimplementasian, pemanifestasian dari pernyataan diatas yang itu merdeka bagi setiap-setiap individu.
Sunyi itu penting, bersuara "serius" juga penting, marilah walau wajah-wajah kita Indonesia ramah tamah serta kocak-kocak untuk dibalik itu semua ada sesuatu hal yang sangat sensitif serius sifatnya yang diperjuangkan, yang menjadi tujuan, menjadi target, atas semua hal yang telah kita buang, atas kesalahan-kesalahan, kekeliruan-kekeliruan, hutang-hutang, yang sampai sekarang mungkin beberapa kita termasuk saya belum menemukan sebenarnya kepada siapa ketidakmudahan-ketidakmudahan ini harus dimudahkan atau kepada siapa kita membayar hutang. Dunia hutang kepada siapa ? Toh segala hal telah dipersiapkan, segala hal telah ada, hanya saja kita orang manusia yang me
ruwet-ruwetkan pada awalnya. Dan, itu tidak bisa dan tidak boleh dirubah seradikal mungkin menjadi awal dimana dunia belum hutang pada siapa-siapa. Tapi ada syarat, pola, tuntunan yang dapat meringankan serta bahkan melepaskan beban-beban yang selama ini menindih kita serta mengusik keseimbangan kita. Lebih jauh, kalau serius kita dapat mendapat bonus-bonus yang lebih dari itu sesuatu atas ketekunan kita, kesabaran kita, akan terus melakukan syarat-syarat yang walau seperti dongeng-tapi dapat memudahkan, oleh karena terkadang terjebaknya kita karena ditengah, awal, atau yang paling mematikan diakhir menjadikan syarat, pola, rumus, atau metoda tadi target padahal sangat jauh, itu hanyalah jalan dan wasilah. Contoh minum kopi itu bukan tujuan, tapi ketenangan setelah meminum kopi sesuai fungsi kopi tadilah yang jadi tujuan, yang menjadi hakikat. Sekarangkan syarat atau syariatnyakan jalan dan wasilah karena ingin bukan karena melanjutkan perjalanan. hehe jadi pusing saya.
Ekstra waspada bukan berarti kaku untuk berbuat apa-apa, sangat mudah berbuat baik diIndonesia. Jangan harap perbuatan baik kita perlu dilegitimasi dulu oleh pemangku kebijakan baru kita melakukan, legitimasi itu hanya aspirasi, perbuatan baik itu dilakukan dari sesuatu hal yang kita orang Indonesia mampu dari titik terkecil, bahkan mencuci piring membantu orang tua, atau meringankan beban istri, atau bentuk berbakti terhadap suami, telah menyentuh esensi daripada pemikiran-pemikiran besar, kata dan suara yang diomongkan besar. Negeri dengan sejuta derita tapi rakyatnya masih dapat tertawa hanya dengan merokok kretek, atau ibu-ibu sambil menumbuk kopi, dan panen palawija. Siapa SDMnya yang lebih maju kalau begitu ? Indonesia tidak butuh nominal untuk bahagia, sebenarnya, jangan geer merasa membela saudaranya misalkan rakyat, bukan membela, itu hanya tuntunan untuk saling mengerti antar sesama karena tidak ada kelas pada hakikatnya hanya saja karena dibeberapa aspek ada yang lebih mampu dan ada yang tidak, maka bantulah yang tidak. Itu hanya tuntunan. Bukan membela, masa tuntunan dibela ? Nanti kita bisa terjatuh. wkwk.
Merambah kemana-mana, jangan lupakan nama-nama semacam Sunan Kudus, Sunan Ampel, dll.. yang telah bahkan sampai sekarang penawar rindu bagi rakyat-rakyat jelata, bukan untuk beberapa ummat semua ummat beragama, oleh karena banyak hal disejarah Sunan Kudus tentang toleransi yang sebenarnya dibanding gaya toleransi zaman yang katanya modern ini sejarah Sunan Kudus lebih efektif, atau mungkin modern itu bukan kata dan bahasa yang tata kelola definisi dari realitanya semakin efektif ? Sebaliknya materialis dan kurang efektif, atau lebih parah semakin tidak efektif itu disebut semakin modern? Maksudnya dari berbagai perspektif, tingkat kebutuhan, keadaan, kemampuan, dll dll dll ukuran-ukuran semacam inilah yang harus dikuatkan untuk mengalahkan propaganda-propaganda yang fungsi dan awal tujuannya sebagai konspirasi bagi beberapa pihak yang ingin mencari keuntungan dan atau kepentingan golongan, kelompok.
Tugas-tugas suci yang langsung bersentuhan dengan orang lain yang itu membutuhkan bantuan dari aksi nyata kita melakukan perbaikan-perbaikan dari hal-hal terkecil tanpa perlu mengingat
puzzle perbaikan lain ketika melakukan aktivitas perbaikan disektor tertentu, cita-cita dan gambaran secara komprehensif serta universalnya ditunda dulu saat detik penghayatan, penikmatan, karena amal usaha kita orang yang sedikit mampu dibeberapa bidang bagi saudara-saudara kita. Contoh misal disektor pendidikan dengan meningkatkan produktifitas siswa diluar sekolah yang dibantu pemuda atau mahasiswa yang mampu dan mau melakukannya, misal. Ingat, tukang ngaduk tidak pernah membayangkan dia ada ditempat pasang-pasang kramik ketika kerja, tapi ketika melihat sketsa bangunan dan susunan pasti secara keseluruhan..
Jauh spesifik, misal pelatihan-pelatihan public speaking dan atau penampilan-penampilan tradisional menyesuaikan dan akomodatif akan tempat, lebih radikal bahkan sesuai individu, itu dalam kategori penanganan-penanganan yang lebih ekstrem sampai ke titik individu, yang mau bagaimanapun potensi itu istimewa, dan terkadang harus diistimewakan. Nantinya akan ada yang istimewa tanpa merasa istimewa dan ada juga yang tidak diistimewakan tapi istimewa. Bukan mngistimewa-istimewakan. Coba kawan-kawan bayangkan berjuta-juta orang dari awal mula satu, dua, tiga orang yang bisa berbicara atau dasar bicaranya karena kita, betapa bahagianya, karena kita tanpa berharap disebut karena kita oleh karena itupun bukan karena kita secara keseleruhuhan sempurna. Maha sempurna. Menemukan idiom-idiom komunikasi itu penting, entah dengan benda apapun, coba dan terus mencoba, sambil terus bertanya-tanya berbagai sumber kepada orang yang dianggap bisa, sehingga nantinya muncul Ibrahim-Ibrahim baru, dengan gaya dan zaman baru. Asseekkkk.
Entah kenapa jiwa ini akhir-akhir ini bahagia, bukan membahagiakan diatas penderitaan saudara-saudara kita, justru kita bisa terisak tersedu mereka masih jauh lebih kuat dengan penderitaan yang jika dibandingkan dengan kita masih jauh lebih parah tapi kita masih tetap tidak bersyukur, bersabar, tahan hati. Identitas itu seruan, amal usaha bukan kesempatan mencari kesempatan, belajarlah dari Vicky Prasetyo yang bangkit dari keterpurukan karena tipu daya sendiri, sing penting yang postifnya saja. Bersinarlah Badiuzaman, Badiuzaman, baru, keajaiban zaman keajaiban zaman baru, seperti Syeikh Badiuzaman Said Nursi, kekasih Allah SWT. Tuhan semesta alam. Sekarang ditakutkan telah senja, kekasih-kekasih Tuhan mulai redup akan tutup usia, bukan Tuhan khawatir, tapi apakah kita tidak mau ? Dengan Cinta sesama merasakan balutan kasih sayang kecilNya lewat kita. Siapapun itu. Amin.