Jumat, 29 Juli 2016

CINTA UNTUK SEMUA

Seorang bijak berkata "Kesalahan tidaklah salah, hingga jika tidak memperbaikinya"
Biarlah nuansa hatimu berkata, bukan harfiah tapi bukan pula membenci harfiah, karena buah tanpa kulit itu tak akan pernah sempurna susunan kompilasinya. Sebenarnya semuanya malu, seharusnya malu dengana keadaan kita ini. Jiwa dan raga telah dipasrahkan bukan pada tempatnya. Bukan matahari, alam semesta, berhala-berhala, ataupun bulan tapi justru diserahkan, dipasrahkan pada yang lebih rendah dari itu-untuk tidak menyebutkan lebih hina. Bukan untuk bicara kau, kau, kau,... atau dia, dia, dia... Tapi semuanya, seluruh yang menghamba, yang dicipta, dan tercipta. Sebuah kesalahan bukan untuk para kaum proletariat saja, bahkan seorang yang sucipun tak menutup kemungkinan-kemungkinan salah.

Ketika jiwamu dikutuk untuk tidak bisa mencinta didunia, itu merupakan siksa yang lebih berat daripada siksa api neraka. Bahkan karena seorang pecinta akan bisa bahagia kalaupun itu harus dineraka. Saya ingat dengan kata-kata sufi perempuan Rabiatul Adawiyah.

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku didalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu,
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya


Sungguh bila rasionalitas akal dan kandungan hati manusia bisa sinkron dengan tingkah laku akan terbentuk sintesa etos alur kehidupan yang melahirkan karya-karya yang indah contoh salah satunya adalah sufi perempuan Rabiatul Adawiyah ini, yang banyak melahirkan puisi-puisi yang bagi sebagian orang akan menimbulkan kontoversi.

Ahli-ahli Tasawuf harus kita bedakan antara orang yang paham tentang historis dan praktek-prakteknya dengan orang yang benar-benar beraktifitas dan mengalaminya. Inilah yang disebut ada hal-hal yang tidak bisa cukup  kita ketahui saja untuk menumbuhkan fakta empiris parsial khusus dalam diri individu, tapi perlu untuk benar-benar mengalami sendiri prosesnya. Intinya, seorang akademisi yang berada dijurusan Tasawuf belum tentu orang yang paham betul secara esensial Tasawuf itu sendiri.

Kita harus perjelas isi-isi makna dari literatur ini, maksudnya adakah orang mengetahui makna asli Cinta ? Okeh, senang menganalogikan Cinta sebagai sebuah cahaya dan sama dengan apa yang ducapkan Albert Enstein bahwa gelap itu tidak ada dan yang ada itu ketiadaan Cahaya, sama dengan Cinta, tidak pernah tidak ada Cinta. Pernahkah kita melakukan kesalahan atau dosa ? Ya pasti setiap manusia pernah melakukannya, termasuk saya. Manusia yang belum pernah melakukan subversif belum sempurna secara alamiah sebagai manusia, karena  toh seorang bayi yang dikata bersih pasti pernah terjatuh dan secara alamiah itu penyimpangan dan kesalahan atau kegagalan karena kesalahan. Tapi yang jadi hikmah atau sophia adalah setelah itu bayi terus belajar sampai dia bisa berdiri, berjalan, dan seterusnya.

Rasional, suprarasional, tidak ada yang irrasional sebenarnya hanya saja terbatas itu warisan kita, otak kita, akal yang telah diamanahi oleh Tuhan untuk digunakan sebaik-baiknya. Tuhan ingin dikenal, dia ciptakan jagat raya, dia ciptakan aktifitas-aktifitasnya dibumi sebagai tempat tinggal manusia. Untuk itu kita jangan berpikir tentang wujud Tuhan yang rasio kita terbatas untuk membayang visualisasi atau personifikasiNya, karena jika ada pengetahuan atau konklusi mutlak kebenaran akan Tuhan maka bagaimana dikata lagi, apakah masih layak Tuhan dikata maha sempurna ?

Dunia Cinta itu tentang rasa bukan tentang bagaimana memilih rasa, atau bagaimana menghasilkan rasa, atau rasa mana yang terbaik. Cinta adalah tentang mengalami rasa, menikmati rasa, hasil daripada kontemplatif dan perjuangan yang tidak mudah, hasil dari riwayat hidup, atau faktor-faktor lain yang menjadi pendukung kita untuk mengalami rasa, bukan sekedar mengetahui jalan menuju rasa, dan hanya terjebak dalam Cinta yang meninabobokan dan menggelapkan jiwa.

Pernah terbayang bahwa ketika sedang berusaha meningkatkan titik akurasi fokus kekhusyuan dalam berhadapan denganNya, justru yang terpersonifikasi dalam imaji ini adalah laknatNya, sungguh mengerikan ketika kita sedang berhadapan denganNya ternyata disetiap step gestur ritus kita ternyata berbarengan dengan laknatNya, na'udzubillah..Mungkin karena dosa atau kesalahan yang mengingatkan akan hal-hal itu, sama seperti mitologi-mitologi Yunani kuno atau Dewa-dewa pagan yang sangat kejam dan menakutkan serta "pemarah". Tapi aku percaya Tuhan kita arrahman arrahim dan itu bukan hanya sekedar ayat kosong, tapi benar adanya. Pandangan filsuf akan Tuhan tidak pernah sempurna, karena bukan akal rasio kita yang maha sempurna tapi Tuhannya, kalaupun akal sempurna tetap saja inikan sedang memikirkan yang maha sempurna, jadi kita harus terus belajar.

Banyak orang merasa hina, rendah, atau santai-santai saja akan kesalahannya. Melihat kondisi sosial dewasa ini sangat memungkinkan justru kebaikanpun dimonopoli, dan kesalahan seolah dilimpahkan pada satu pihak yang justru memiliki rasa ingin kembali berhijrah atau kembali ke fitrah untuk merekonstruksi puzzle yang terhempas oleh kesalahannya, baik pecahan-pecahan puzzle dalam dirinya sendiri ataupun pengaruhnya terhadap lingkungan. Bagaimanapun ketika muncul sesuatu secara parsial pasti implikasinya akan komprehensif baik efek skala rendah atau besar. Itu sama dengan berbicara tentang lokal yang berimplikasi atau berkolerasi dengan sesuatu yang global.

Orang-orang yang merasa dirinya tidak berguna, banyak dosa, itu harus dimotivasi kembali oleh orang-orang yang berkesempatan untuk menempuh tiang-tiang pendidikan penjaga moralnya, bukan malah menyerang orang-orang yang dirasa olehnya berdosa. Beda zaman, beda cara harus likulimakan wa likulizaman, harap kita tahu banyak keadaan ditatanan atas dimana secara eksplisit ternyata keadaan itu lebih berbahaya, lebih berdosa daripada yang dilakukan orang-orang biasa.

Beberapa Aforisme Al Hikam karangan Syaikh Ibn 'Athaillah yang menyentuh contohnya Ma'ashiyatun awratsat dzullan wahtiqaran khayrun min tha'atin awratsat 'izzan wastikbaran. Maksiat yang menumbuhkan rasa hina dan rendah diri lebih baik daripada taat yang menumbuhkan rasa unggul dan tinggi hati. Poin-poin seperti ini yang dibutuhkan mereka orang-orang pendosa yang ingin konversi akhlak menuju arah lebih baik, bukanlah ayat-ayat mengerikan yang mesti diiumbar, terkecuali bagi orang-orang yang masih dalam keadaan normatif atau dalam hal ini belum terjerumus dalam lubang maksiat dan kesalahan.

Kita jangan berjalan masing-masing, yang kaya dengan yang kaya, miskin dengan yang miskin, ulama dengan kepentingannya masing-masing, kita harus bersama, gotong royong. Jangan buat saudara kita kehilangan kepercayaan dirinya, dikala ada sela peluang untuk membantu mereka dan posisi kita bisa untuk mengulurkan tangan kita untuk bisa sedikit menolong ataupun membantu maka kita lakukan, kalaupun hanya dengan memindahkan krikil dijalan agar tak ada yang terhempas dan terluka saudara kita karenanya. Bukan masalah ras, suku, atau agama, tapi kemanusiaan, Tuhan tidak akan marah bila kita tidak sengaja menginjak kitabNya, tapi Tuhan akan marah bila kita sesama saudara tidak pernah minimal ada rasa untuk saling merekonstruksi kesalahan-kesalahan kita. Oleh karena Cinta milik semua orang dan punya semua orang laa yu'minu ahadukum hatta yuhibbu li akhiihi maa yuhibbu lnafsihi tidaklah seseorang sempurna imannya, sampai ia mencintai saudaranya sendirinya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. 

BERSAMBUNG...





 


 






Rabu, 13 Juli 2016

PUISI GERILYA DOSA RAKYAT SI "AKU"

Aku ingin mencurahkan, segala bentuk kekesalan.
Bukan pada sang dewa, manusia lain, alam, atau kosmos-kosmos lain.
Tapi pada diri ini, aku tahu aku manusia.
Wajibku mencintai mereka segalanya samahalnya seperti aku mencintai diriku sendiri.

Kenyataannya, aku mengkhianati aku.
Bagaimana aku yang cara cintanya pada jiwanya sendiri seperti ini ?
Kepada mereka tidak menutup kemungkinan aku menyimpang.
Laknat & segala bentuk kemarahan untukku, terbayang.

Bukan ku takut padamu duhai alam semesta.
Engkau terlalu ghaib untuk ditakuti.
Tapi, penguasamu, cahaya segala Cinta.
Realita sesungguhnya yang jiwa ini ada diotoritasNya.

Masih kuingat, simpul senyum lugu bercengkrama dulu.
Ketika dulu belum dibalut kepentingan masing-masing.
Tak terbayang kesalahan, tak terbayang pertentangan.
Harapan selalu ada, tapi tiada.
 
Sekarang, tanah air benar-benar menjadi tanah yang dilelehi air mata.
Seorang filsuf berkata kohesi alam semesta
Dosamu belum tentu hanya dosamu, sebaliknya pula.
Pahalamu belum tentu hanya pahalamu, sebaliknya pula.

Derita, hancur, terbelenggu, tak ada yang memahami.
Asal mula insan ke jalan yang sama, tolonglah mereka.
Bisa jadi aku, kamu, siapapun itu.
Maafku untuk aku, maafkan aku... 

Pendosa menari-menari dalam jurangnya.
Pendosa berputar kebingunan mencari sucinya
Andai semuanya mengerti kondisi, nuansa, hal-hal seolah tak penting
Andai sesama yang mungkin berdosa tak mudah mendosai kembali pendosa
Pendosa bingung, air mata cukup untuk bayangan siksa Tuhannya

Tuhan, katanya dirimu begitu lembut dan penuh kasih..
Tuhan, katanya dirimu begitu tegas dan seolah keji..
DekatNya ke kita, jauhNya ke kita
Aku dan kamu sama-sama kacau

Pendosa tak menemukan alternatif jalan sekawan yang ramah
Tak punya solusi, terkadang benar, sedetik kemudian kembali ke hitamnya
Kasiannya pendosa, Tuhan pasti punya ukuran untuknya
Yakin usaha sampai, dosapun sampai.

Yakinlah dosa kita bukanlah realita paling menakutkan
Itu semua terkalahkan oleh wajahNya sumber harapan
Dosa bukan untuk neraka, tak ada yang berpikir demikian
Elegannya pahalapun bukan untuk Surga
Tapi untuk yang bukan sesuatu, diluar sesuatu.
Pemilik jiwa ini, hadir dijiwa ini.
Yang semestapun tak ada apa-apanya.