Rabu, 13 Juli 2016

PUISI GERILYA DOSA RAKYAT SI "AKU"

Aku ingin mencurahkan, segala bentuk kekesalan.
Bukan pada sang dewa, manusia lain, alam, atau kosmos-kosmos lain.
Tapi pada diri ini, aku tahu aku manusia.
Wajibku mencintai mereka segalanya samahalnya seperti aku mencintai diriku sendiri.

Kenyataannya, aku mengkhianati aku.
Bagaimana aku yang cara cintanya pada jiwanya sendiri seperti ini ?
Kepada mereka tidak menutup kemungkinan aku menyimpang.
Laknat & segala bentuk kemarahan untukku, terbayang.

Bukan ku takut padamu duhai alam semesta.
Engkau terlalu ghaib untuk ditakuti.
Tapi, penguasamu, cahaya segala Cinta.
Realita sesungguhnya yang jiwa ini ada diotoritasNya.

Masih kuingat, simpul senyum lugu bercengkrama dulu.
Ketika dulu belum dibalut kepentingan masing-masing.
Tak terbayang kesalahan, tak terbayang pertentangan.
Harapan selalu ada, tapi tiada.
 
Sekarang, tanah air benar-benar menjadi tanah yang dilelehi air mata.
Seorang filsuf berkata kohesi alam semesta
Dosamu belum tentu hanya dosamu, sebaliknya pula.
Pahalamu belum tentu hanya pahalamu, sebaliknya pula.

Derita, hancur, terbelenggu, tak ada yang memahami.
Asal mula insan ke jalan yang sama, tolonglah mereka.
Bisa jadi aku, kamu, siapapun itu.
Maafku untuk aku, maafkan aku... 

Pendosa menari-menari dalam jurangnya.
Pendosa berputar kebingunan mencari sucinya
Andai semuanya mengerti kondisi, nuansa, hal-hal seolah tak penting
Andai sesama yang mungkin berdosa tak mudah mendosai kembali pendosa
Pendosa bingung, air mata cukup untuk bayangan siksa Tuhannya

Tuhan, katanya dirimu begitu lembut dan penuh kasih..
Tuhan, katanya dirimu begitu tegas dan seolah keji..
DekatNya ke kita, jauhNya ke kita
Aku dan kamu sama-sama kacau

Pendosa tak menemukan alternatif jalan sekawan yang ramah
Tak punya solusi, terkadang benar, sedetik kemudian kembali ke hitamnya
Kasiannya pendosa, Tuhan pasti punya ukuran untuknya
Yakin usaha sampai, dosapun sampai.

Yakinlah dosa kita bukanlah realita paling menakutkan
Itu semua terkalahkan oleh wajahNya sumber harapan
Dosa bukan untuk neraka, tak ada yang berpikir demikian
Elegannya pahalapun bukan untuk Surga
Tapi untuk yang bukan sesuatu, diluar sesuatu.
Pemilik jiwa ini, hadir dijiwa ini.
Yang semestapun tak ada apa-apanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar