Kehidupan manusia berkembang dengan berbagai macam rumus dari hasil tafsir penelitian manusia-manusia yang ingin tahu akan asal mula nenek moyangnya. Ada yang mengatakan manusia berasal dari makhluk sejenis Kera lewat Darwinisme, Ubur-ubur, Batu, dsb. Semuanya adalah sintesa dari usaha penelitian manusia-manusia yang penasaran dengan siapa dirinya secara utuh. Keutuhan yang manusia anggap akan benar-benar dipahami secara komprehensif apabila hal-hal mengenai apa yang diluar dirinya terkhusus historis peradaban asal mula manusia dapat dia ketahui; yang selama berabad-abad lamanya sebelum masehi ketika para filsuf Yunani Kuno mencoba menemukan kesimpulan akan itu semua Socrates, Plato, Aristoteles, sampai para filsuf yang dianggap modern semacam Descartes tidak pernah benar-benar ditemukan satu kemutlakan yang bisa memuaskan dahaga manusia akan rasa penasarannya tentang hakikat dirinya. Sehingga kemudian yang terjadi adalah dengan sangat disayangkan beberapa diantaranya berhenti dan menentukan pilihan kebenaran yang dia anggap sejati. Hasilnya adalah pergesekan antara satu manusia dengan manusia lainnya, rasa curiga dengan dalih pilihan kebenaran yang disejatikan atau dimutlakan. Dalam kondisi tertentu itu, dahaga atau syahwat penasaran untuk belajar “ngaji” akan hakikat kemanusiaan berhenti dibeberapa bagian dan terlupakan, yang ada adalah bukan keyakinan tapi teks-teks literatur yang dengan sangat ajaib menjadi doktrin bahkan dogma didalam cara berkehidupan manusia yang menyerap informasi dari teks tersebut dan tidak mencoba mencari secara terus menerus selama keduniaannya. Oleh karenanya, didalam filosofi jawa dan sunda dikatakan bahwa yang dinamakan ilmu itu bukan pada bagian teks; baik berbentuk buku, kitab, kertas, dll tetapi justru “laku” atau dalam bahasa bisa jadi kerja, etika, tingkah, tingkah laku, dan seterusnya.
Era mileneal kekinian sekarang, personalitas kerja dikonotasikan kepada buruh yang mobilisasinya biasa dipabrik-pabrik, industri-industri, yang dibayar dengan patokan gaji. Kerja yang dimaksud adalah mencari nominal uang untuk memenuhi kebutuhan; primer, sekunder, sampai tersier. Dan dalam kehidupan secara universal banyak yang menentang praktek-praktek sistem yang menjadi “gen” dalam pengelolaan dan manajemen di rumah-rumah indsutri tersebut. Banyak analisis yang menjadi alasan kenapa beberapa aktivis tidak setuju dengan sistem pasar industri yang biasa dipakai sekarang. Korelasinya adalah dengan nasib para pekerja yang berada dalam lingkup dunia industri tersebut, yang beberapa analisisnya mengatakan kaum pekerja atau buruh dipakai hanya untuk mengurangi beban biaya produksi, maka dibayarlah dengan upah murah melalui jalur-jalur birokrasi, hukum positif, strategi pasar, branding social, sampai masuk ke wilayah lembaga pendidikan, maka munculah istilah kapitalisasi atau komersialisasi pendidikan.
Secara tidak langsung munculnya perlawanan-perlawanan ini membuat konstelasi politik negara seimbang, karena akan terus muncul masukan, kritikan, gagasan, dan ide-ide baru, selain terdapat yang selalu setuju. Tapi dilain pihak ternyata gerakan-gerakan dibawah tersebut terkadang memunculkan konflik horizontal yang baru. Maka pentingnya untuk satu sama lain saling mengklarifikasi, mengaji diri, untuk mengantisipasi embrio yang jika lahir akan membuat cerita sejarah yang tidak di harapkan oleh siapapun semacam pertumpahan darah yang bisa diartikan justru sifatnya cenderung destruktif lebih banyak mudharat dan jauh dari sandaran utama seharusnya gerakan-gerakan tersebut dimanapun yaitu kemanusiaan.
Gus Dur yang menyandarkan kemanusiaan sangat tinggi dalam “laku” kehidupannya, karena menyadari bahwa manusia adalah manifestasi titipan Tuhan untuk supaya manusia satu sama lain saling pengertian dan dimotivasi lewat fastabiqulkhairat bukan tentang berlomba-lomba menjadi paling baik tetapi berlomba-lomba untuk menjadi paling pengertian, memahami, menjadikan outputnya kebaikan dan keindahan dalam interaksi dengan manusia lain, meskipun yang menjadi objeknya adalah seorang yang tidak dia suka. Itulah objektifitas, independensi, kemerdekaan, liberte, humanis yang dimaksud, sedangkan kebenaran letaknya akan berada didalam bahan atau input. Dan semua itu penulis percaya tidak akan pernah sampai pada titik kesempurnaan, karena manusia hanya “ngaji” untuk menuju dan pragmatis-aplikatifnya berjuang, berusaha, belajar terus menerus.
Untuk bertahan hidup manusia harus makan, selain tadi hanya berjuang untuk menuju. Teknis didalam realitanya bisa bertani, berdagang, jasa, dan seterusnya. Semua itu bisa memiliki kemungkinan terdapat ketidakadilan didalam sistem yang mengikatnya. Selain berjuang untuk melawannya, kembali kepemilikan kesadaran seperti apa yang R.A Kartini katakan yang intinya adalah suatu hal yang benar-benar bisa menghancurkan kita adalah diri kita sendiri menjadi sangat vital, untuk supaya tidak melupakan nilai-nilai kemanusiaan didalam apa yang kita anggap perjuangan bagaimanapun bentuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar