Senin, 18 April 2016

PERAN AKTIVIS AKAN PENDIDIKAN UNTUK TIDAK HANYA PEMBEDAKAN

Kata sekolah berasal dari bahasa Yunani yaitu skho·le´ yang berarti "waktu terluang". Namun dapat juga diartikan menggunakan waktu luang untuk kegiatan belajar. Belakangan kata ini digunakan untuk menunjukkan tempat diselenggarakan kegiatan belajar. Memang pada masa awal kegiatan belajar di tempat khusus seperti ini hanya bisa dinikmati oleh golongan kaya di Yunani. Demikian juga pada zaman dahulu di negeri-negeri lainnya, kegiatan belajar di sekolah hanya bisa dinikmati oleh golongan elit saja.

Terlepas sejarahnya bagaimana, tapi jika kita fokuskan pada defenisi secara bahasa diatas skho-le yang berarti "waktu terluang", kita analisis dengan kondisi sekolah dewasa ini yang memang sekolah seolah sudah menjadi barang dan aktivitas yang sifatnya prioritas paling utama dalam dimensi pendidikan. Dan, dominasi waktu kegiatan peserta didik hampir dihabiskan disekolah, terkhusus kita memandang pendidikan yang ada di Indonesia. Konsepsi pendidikan Indonesia yang didasari oleh UU No 23 tahun 2003 tentang pemetaan antara non formal, informal, dan formal belum mencapai titik kohesi yang sinergitasnya dapat menunjang output daripada yang diinginkan pendidikan Indonesia. 

Saya sebagai mahasiswa merasakan adanya ketimpangan dan kesenjangan yang akhirnya menimbulkan sebuah gap antara kehidupan diinstansi pendidikan sebagai peserta didik dan civil society sebagai individu yang bermasyarakat. Ini menurut saya sudah urgent untuk dibahas sebagai salah satu topik issue permasalahan pendidikan Indonesia dewasa ini lebih spesifik dipendidikan instansi formal yaitu sekolah. Sekolah formal yang pada hakikatnya memiliki tujuan untuk memproduksi peserta didik yang dapat menunjang dan menjadi individu yang produktif yang berguna bagi bangsa, negara, maupun agama tentunya. Hal-hal tersebut haruslah melalui jalan atau jalur yang pastinya bakal berinteraksi dengan kehidupan bermasyarakat yang nyata, sedangkan faktanya sekolah justru seolah-olah kegiatannya dikotomis dengan kegiatan aktivitas nyata masyarakat. Itu menyebabkan, peserta didik sebagai objek pendidikan kadang memiliki masalah dengan masyarakatnya sendiri akibat dari korelasinya dengan sekolah. 

Tulisan ini bukan bermaksud untuk bagaimana peserta didik secara luas untuk tidak bersekolah, tulisan saya ini justru  bermaksud mengajak peserta didik memiliki kepekaan akan cara sikap menyikapinya hasil dari sekolah itu sendiri. Data fakta kongkret lainnya yang menurut saya jadi salah satu hal sabab-muasab terjadinya masalah adalah waktu masuk kegiatan belajar mengajar yang terlalu dini, terlalu panjang atau lama, dll. Misal, waktu KBM yang terlalu awal itu membuat peserta didik tidak memiliki waktu yang panjang untuk berolahraga dipagi hari. Hal-hal kecil semacam ini yang sering kali tidak diperhatikan, padahal memiliki efek yang sangat luas. 

Kooptasi disekolah oleh beberapa guru atau pendidik kepada para peserta didik menimbulkan daya inovasi kreatifitas mereka yang tidak tereksplor, bahkan yang lebih berbahaya ketika peserta didik sudah tidak dapat dibendung kehausan akan ekspresi kreatifitasnya yang terpendam membuat jalur atau jalan yang ditempuh berujung pada hal-hal subversif. Tidak serta merta hanya sebuah kalimat, tapi data atau fakta dilapangan dapat kita tinjau ulang untuk analisi, hal-hal subversif yang dilakukan peserta didik seperti tawuran, perkaliahan, tawuran massal antar sekolah, sex bebas, dan masih banyak lagi, itu merupakan bentuk cermin ekspresi mereka yang tidak terwadahi oleh hal positif sehingga kebanyakan yang dipublis oleh mereka tendensinya negatif. Saya juga menyadari tidak hanya semua yang negatif saja disekolah, banyak peserta didik berprestasi, lomba-lomba positif, dan lain sebagainya hanya saja saya ingin lebih mendalami sisi kekurangan agar kita semua dapat benar-benar mengontemplasi hasil-hasil sekolah untuk dievaluasi bersama berkelanjutan dan berkemajuan. 

Tidak ingin terlalu banyak untuk terus meng'ghibah'i pendidikan sekolah formal siIndonesia, bukan karena apa-apa, bukan takut juga, tapi tidak akan selesai dalam 1 tahun saya untuk dapat menuliskan perkara-perkara yang perlu adanya resolusi dan juga reinterpretasi kembali akan makna dasar dan tujuan sebenarnya diadakannya sekolah. 

Tokoh-tokoh besar dunia dan dapat merubah dunia justru beberapa diantaranya yang tidak bersekolah formal malah memiliki peranan strategis dalam perubahan dunia. Entah itu didimensi pendidikan, ideologi, pemikiran, bahkan science-technology mereka berkarya. Selain daripada tokoh klasik seperti Thomas Alva Edison, Abraham Lincoln, Socrates, bahkan ulama-ulama muslim klasik bukanlah hasil dari produksi metabolisme pendidikan formal persekolahan. Tokoh-tokoh sukses yang tidak bersekolah dan hanya mengecap pendidikan non formal modern ini diantaranya Walt Disney, Mark Zuckerberg, Bill Gates, meski beberapa orang ini pernah berkuliah tapi substansinya tokoh ini sukses oleh peran eskternal dalam diri mereka yang barang tentu berhulu dari pendidikan-pendidikan non formal baik berwadah ataupun otodidak. 

Kearifan lokal kita dengan wadah-wadah pendidikan yang sangat meluas banyak, baik yang modern bahkan tradisional merupakan warisan pendidikan yang luar biasa dengan sudah menghasilkan berpuluh-puluh, beratus-ratus, bahkan berjuta-juta tokoh Indonesia atau orang Indonesia yang memiliki bakat dan etos kerja serta potensi yang termaksimalkan eksploitasinya diberbagai bidang dan sektor. Negara Indonesia yang saat ini mulai menapaki masa-masa yang maju dari segi pembangunan, tapi masih subhat atau ambigu apa darimana siapa yang melatar belakangi serta motif apa sehingga pembangunan di Indonesia seolah-olah harus cepat, dalam hal ini adalah infrastruktur. Sedangkan SDM atau kualitas individu manusia Indonesia yang belum merata antara Sabang sampai Merauke tidak diprioritaskan, kembali dalam hal ini pendidikan. Segala bentuk pembangunan yang memiliki titik pusat polarisasi sebagai ordinat sudah barang tentu adalah Pendidikan, bagaimana bentuk pendidikannya skala mana yang diprioritaskan untuk dimajukan dan dikembangkan merupakan perkara atau hal yang harus menjadi bentuk perumusan bersama sebagai konsepsi Indonesia yang mengedepankan nasionalisasi bukan sektarian, primordial, dan dimensi sempit lainnya. 

Skala tonggak bahan kenapa saya selalu menulis pendidikan yang harus dikedepankan baik itu modern ataupun tradisional bahkan fusi diantara keduanya dikarenakan faktor dimana pendidikan merupakan ordinat dan bukanlah sebuah sub-ordinat. Dan, order yang saya berikan tentang pendidikan itu terkhusus bagi kalangan aktivis mahasiswa sebagai komponen masyarakat yang harus benar-benar serus dalam mengabdikan dalam memproposisi fungsi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah jadikan diri ini, organisasi-organisasi kemahasiswaan baik internal ataupun eksternal sebagai 'kepompong' yang nantinya melahirkan kupu-kupu indah sebagai bagian dari orientalis seharusnya dari Tri Darma Perguruan Tinggi. Impian-impian dan harapan-harapan yang sifatnya utopis dan mengilusi dikalangan mahasiswa hendaknya tidak justru menjadikan represi. Tapi, hal yang mengutopis itu perlu supaya tiap regenerasi dari aktivis-aktivis akan tetap movement dalam upaya pembebasan rakyat, pembebasan dari penjajagan modernis sekarang, dan hal lain sebagainya. Selain daripada, kitapun harus diajak berpikir realistis, rasional, serta melakukan kegiatan kongkret dilapangan baik kecil ataupun besar tapi tidak mereduksi substansi dan esensi ruang waktu akan output suci didalamnya. 

Pendidikan selain daripada hal yang tematis diatas, mahasiswa haruslah memperhatikan apakah tuntutannya harus juga mencapai titik spesifikasi tuntutan dan gerakan sampai pada skala prioritas apa yang akan didahulukan dalam pengembangan peserta didik. Apakah kognitifnya ? afektifnya ? bahkan pula psikomotoriknya ? dan apakah akan diakomodasikan dengan keadaan sosio-kultural, sosio-geografis, dan lain-lain. Tapi harapannya tidak sampai disitu, karena tentulah bukan mahasiswa orang yang menjadi ahlinya, kita serahkan pada ahli-ahlinya, setelah terlaksananya reformasi baik secara fisik maupun lebih halus. Reformasi yang dimaksud tidaklah harus dengan pertumpahan darah atau perketidakmanusiaan antar manusia nantinya, tapi lebih kepada perjuangan-perjuangan yang positif tentunya. Saya maksudkan adalah selain daripada kita berjuang ke atas yang bagi beberapa kalangan aktivis mahasiswa yang sampai berani ngejudge bahwa negara kita adalah setengah jajahan setengah feodal dan dikuasai kaum imprealis dan kapitalis kita pula harus bisa mengakomodir diri untuk terus berupaya gesture tubuh kita sebagai movement yang bermanfaat yang langsung dirasakan manfaatnya ke masyarakat, susah jika harus terus berteriak mengharap birokrat, toh kita percaya Tuhan tidak tuli untuk dapat mendengar dan melihat setiap pengharapan dan kondisi masyarakat Nusantara yang mulai ternodai dan sekarang yang ditakutkan siap menodai bahkan diri mereka sendiri.

Pembahasan literer yang melebar-lebar ini bukan berarti tidak terfokusnya sebuah tulisan, tapi lebih kepada daya seni pertubrukan keadaan dengan keadaan lain antara objek, subjek, dan problem. Jika bersedih dan merasa keing kerontang jiwa ini melihat keadaan negeri yang seolah diambang kehancuran terkadang bagi beberapa orang sempat-sempatnya berpikir seolah apa yang dinamakan Tuhan itu tidak ada, dimanakah perannya ? Tapi seorang beragama menjawab bahwa Tuhan berada dihati orang-orang seperti mereka-mereka ini yang merasa getir dan bergetar jiwanya melihat penindasan. Titik beratnya jika kita tahu akan diri kita sendiri, 50% kemenangan sudah ada didepan, dan jika kita mengetahui musuh kita, 50% kemenangan ada didepan pula, sebagai peluang jika berpikir tematis maka penyatuan diantara keduanya membuat peluang kemenangan 100% didepan kita, ini untuk perjuangan kebenaran tentunya.

Suatu saat mercusuar dunia kata Ir Soekarno bagi Indonesia dan gambaran Indonesia bisa menjadi kenyataan. Mentalitas bangsa Indonesia self confident bangsa, dalam hal ini rakyat merupakan modal yang sangat besar selain daripada Intelegensi manusia Indonesia. Dan, demikian halnya penunjang itu semua tidak bisa kita sandarkan nasibnya pada pendidikan yang mengedepankan sekolah formal, peran orang tua informal, dan tentunya non formal yang dominan yang selalu bersentuhan objek peserta didik sebagai regenerasi para pejuang bangsa dan dunia serta alam semesta artefak seni terbaik ciptaan sang maha memenuhi Tuhan yang maha esa. Dan harapannya lagi, Indonesia bukan jadi halnya negara penghasil kertas sertifikat dan ijazah hehe...

Budaya komentar sebagai budaya saling membangun diharapkan akan tulisan yang masih banyak kekurangan ini, terimakasih :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar