Kata sekolah berasal dari bahasa Yunani
yaitu skho·le´ yang berarti "waktu terluang". Namun dapat
juga diartikan menggunakan waktu luang untuk kegiatan belajar. Belakangan kata
ini digunakan untuk menunjukkan tempat diselenggarakan kegiatan belajar. Memang
pada masa awal kegiatan belajar di tempat khusus seperti ini hanya bisa
dinikmati oleh golongan kaya di Yunani. Demikian juga pada zaman dahulu di
negeri-negeri lainnya, kegiatan belajar di sekolah hanya bisa dinikmati oleh
golongan elit saja.
Terlepas sejarahnya bagaimana, tapi jika kita fokuskan pada defenisi secara bahasa diatas skho-le
yang berarti "waktu terluang", kita analisis dengan kondisi sekolah
dewasa ini yang memang sekolah seolah sudah menjadi barang dan aktivitas
yang sifatnya prioritas paling utama dalam dimensi pendidikan. Dan,
dominasi waktu kegiatan peserta didik hampir dihabiskan disekolah,
terkhusus kita memandang pendidikan yang ada di Indonesia. Konsepsi
pendidikan Indonesia yang didasari oleh UU No 23 tahun 2003 tentang
pemetaan antara non formal, informal, dan formal belum mencapai titik kohesi yang sinergitasnya dapat menunjang output daripada yang diinginkan pendidikan Indonesia.
Saya sebagai mahasiswa merasakan adanya ketimpangan dan kesenjangan yang akhirnya menimbulkan sebuah gap antara kehidupan diinstansi pendidikan sebagai peserta didik dan civil society sebagai individu yang bermasyarakat. Ini menurut saya sudah urgent untuk dibahas sebagai salah satu topik issue
permasalahan pendidikan Indonesia dewasa ini lebih spesifik
dipendidikan instansi formal yaitu sekolah. Sekolah formal yang pada
hakikatnya memiliki tujuan untuk memproduksi peserta didik yang dapat
menunjang dan menjadi individu yang produktif yang berguna bagi bangsa,
negara, maupun agama tentunya. Hal-hal tersebut haruslah melalui jalan
atau jalur yang pastinya bakal berinteraksi dengan kehidupan
bermasyarakat yang nyata, sedangkan faktanya sekolah justru seolah-olah
kegiatannya dikotomis dengan kegiatan aktivitas nyata masyarakat. Itu
menyebabkan, peserta didik sebagai objek pendidikan kadang memiliki
masalah dengan masyarakatnya sendiri akibat dari korelasinya dengan
sekolah.
Tulisan
ini bukan bermaksud untuk bagaimana peserta didik secara luas untuk
tidak bersekolah, tulisan saya ini justru bermaksud mengajak peserta
didik memiliki kepekaan akan cara sikap menyikapinya hasil dari sekolah
itu sendiri. Data fakta kongkret lainnya yang menurut saya jadi salah
satu hal sabab-muasab terjadinya masalah adalah waktu masuk kegiatan
belajar mengajar yang terlalu dini, terlalu panjang atau lama, dll.
Misal, waktu KBM yang terlalu awal itu membuat peserta didik tidak
memiliki waktu yang panjang untuk berolahraga dipagi hari. Hal-hal kecil
semacam ini yang sering kali tidak diperhatikan, padahal memiliki efek
yang sangat luas.
Kooptasi
disekolah oleh beberapa guru atau pendidik kepada para peserta didik
menimbulkan daya inovasi kreatifitas mereka yang tidak tereksplor,
bahkan yang lebih berbahaya ketika peserta didik sudah tidak dapat
dibendung kehausan akan ekspresi kreatifitasnya yang terpendam membuat
jalur atau jalan yang ditempuh berujung pada hal-hal subversif. Tidak
serta merta hanya sebuah kalimat, tapi data atau fakta dilapangan dapat
kita tinjau ulang untuk analisi, hal-hal subversif yang dilakukan
peserta didik seperti tawuran, perkaliahan, tawuran massal antar
sekolah, sex bebas, dan masih banyak lagi, itu merupakan bentuk cermin
ekspresi mereka yang tidak terwadahi oleh hal positif sehingga
kebanyakan yang dipublis oleh mereka tendensinya negatif. Saya juga
menyadari tidak hanya semua yang negatif saja disekolah, banyak peserta
didik berprestasi, lomba-lomba positif, dan lain sebagainya hanya saja
saya ingin lebih mendalami sisi kekurangan agar kita semua dapat
benar-benar mengontemplasi hasil-hasil sekolah untuk dievaluasi bersama
berkelanjutan dan berkemajuan.
Tidak ingin terlalu banyak untuk terus meng'ghibah'i
pendidikan sekolah formal siIndonesia, bukan karena apa-apa, bukan
takut juga, tapi tidak akan selesai dalam 1 tahun saya untuk dapat
menuliskan perkara-perkara yang perlu adanya resolusi dan juga
reinterpretasi kembali akan makna dasar dan tujuan sebenarnya
diadakannya sekolah.
Tokoh-tokoh
besar dunia dan dapat merubah dunia justru beberapa diantaranya yang
tidak bersekolah formal malah memiliki peranan strategis dalam perubahan
dunia. Entah itu didimensi pendidikan, ideologi, pemikiran, bahkan science-technology mereka
berkarya. Selain daripada tokoh klasik seperti Thomas Alva Edison,
Abraham Lincoln, Socrates, bahkan ulama-ulama muslim klasik bukanlah
hasil dari produksi metabolisme pendidikan formal persekolahan.
Tokoh-tokoh sukses yang tidak bersekolah dan hanya mengecap pendidikan
non formal modern ini diantaranya Walt Disney, Mark Zuckerberg, Bill
Gates, meski beberapa orang ini pernah berkuliah tapi substansinya tokoh
ini sukses oleh peran eskternal dalam diri mereka yang barang tentu
berhulu dari pendidikan-pendidikan non formal baik berwadah ataupun
otodidak.
Kearifan
lokal kita dengan wadah-wadah pendidikan yang sangat meluas banyak,
baik yang modern bahkan tradisional merupakan warisan pendidikan yang
luar biasa dengan sudah menghasilkan berpuluh-puluh, beratus-ratus,
bahkan berjuta-juta tokoh Indonesia atau orang Indonesia yang memiliki
bakat dan etos kerja serta potensi yang termaksimalkan eksploitasinya
diberbagai bidang dan sektor. Negara Indonesia yang saat ini mulai
menapaki masa-masa yang maju dari segi pembangunan, tapi masih subhat
atau ambigu apa darimana siapa yang melatar belakangi serta motif apa
sehingga pembangunan di Indonesia seolah-olah harus cepat, dalam hal ini
adalah infrastruktur. Sedangkan SDM atau kualitas individu manusia
Indonesia yang belum merata antara Sabang sampai Merauke tidak
diprioritaskan, kembali dalam hal ini pendidikan. Segala bentuk
pembangunan yang memiliki titik pusat polarisasi sebagai ordinat sudah
barang tentu adalah Pendidikan, bagaimana bentuk pendidikannya skala
mana yang diprioritaskan untuk dimajukan dan dikembangkan merupakan
perkara atau hal yang harus menjadi bentuk perumusan bersama sebagai
konsepsi Indonesia yang mengedepankan nasionalisasi bukan sektarian,
primordial, dan dimensi sempit lainnya.
Skala
tonggak bahan kenapa saya selalu menulis pendidikan yang harus
dikedepankan baik itu modern ataupun tradisional bahkan fusi diantara
keduanya dikarenakan faktor dimana pendidikan merupakan ordinat dan
bukanlah sebuah sub-ordinat. Dan, order yang saya berikan tentang
pendidikan itu terkhusus bagi kalangan aktivis mahasiswa sebagai
komponen masyarakat yang harus benar-benar serus dalam mengabdikan dalam
memproposisi fungsi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
adalah jadikan diri ini, organisasi-organisasi kemahasiswaan baik
internal ataupun eksternal sebagai 'kepompong' yang nantinya melahirkan
kupu-kupu indah sebagai bagian dari orientalis seharusnya dari Tri Darma
Perguruan Tinggi. Impian-impian dan harapan-harapan yang sifatnya
utopis dan mengilusi dikalangan mahasiswa hendaknya tidak justru
menjadikan represi. Tapi, hal yang mengutopis itu perlu supaya tiap
regenerasi dari aktivis-aktivis akan tetap movement dalam upaya
pembebasan rakyat, pembebasan dari penjajagan modernis sekarang, dan hal
lain sebagainya. Selain daripada, kitapun harus diajak berpikir
realistis, rasional, serta melakukan kegiatan kongkret dilapangan baik
kecil ataupun besar tapi tidak mereduksi substansi dan esensi ruang
waktu akan output suci didalamnya.
Pendidikan
selain daripada hal yang tematis diatas, mahasiswa haruslah
memperhatikan apakah tuntutannya harus juga mencapai titik spesifikasi
tuntutan dan gerakan sampai pada skala prioritas apa yang akan
didahulukan dalam pengembangan peserta didik. Apakah kognitifnya ?
afektifnya ? bahkan pula psikomotoriknya ? dan apakah akan
diakomodasikan dengan keadaan sosio-kultural, sosio-geografis, dan
lain-lain. Tapi harapannya tidak sampai disitu, karena tentulah bukan
mahasiswa orang yang menjadi ahlinya, kita serahkan pada ahli-ahlinya,
setelah terlaksananya reformasi baik secara fisik maupun lebih halus.
Reformasi yang dimaksud tidaklah harus dengan pertumpahan darah atau
perketidakmanusiaan antar manusia nantinya, tapi lebih kepada
perjuangan-perjuangan yang positif tentunya. Saya maksudkan adalah
selain daripada kita berjuang ke atas yang bagi beberapa kalangan
aktivis mahasiswa yang sampai berani ngejudge bahwa negara kita
adalah setengah jajahan setengah feodal dan dikuasai kaum imprealis dan
kapitalis kita pula harus bisa mengakomodir diri untuk terus berupaya gesture tubuh kita sebagai movement
yang bermanfaat yang langsung dirasakan manfaatnya ke masyarakat, susah
jika harus terus berteriak mengharap birokrat, toh kita percaya Tuhan
tidak tuli untuk dapat mendengar dan melihat setiap pengharapan dan
kondisi masyarakat Nusantara yang mulai ternodai dan sekarang yang
ditakutkan siap menodai bahkan diri mereka sendiri.
Pembahasan
literer yang melebar-lebar ini bukan berarti tidak terfokusnya sebuah
tulisan, tapi lebih kepada daya seni pertubrukan keadaan dengan keadaan
lain antara objek, subjek, dan problem. Jika bersedih dan merasa
keing kerontang jiwa ini melihat keadaan negeri yang seolah diambang
kehancuran terkadang bagi beberapa orang sempat-sempatnya berpikir
seolah apa yang dinamakan Tuhan itu tidak ada, dimanakah perannya ? Tapi
seorang beragama menjawab bahwa Tuhan berada dihati orang-orang seperti
mereka-mereka ini yang merasa getir dan bergetar jiwanya melihat
penindasan. Titik beratnya jika kita tahu akan diri kita sendiri, 50%
kemenangan sudah ada didepan, dan jika kita mengetahui musuh kita, 50%
kemenangan ada didepan pula, sebagai peluang jika berpikir tematis maka
penyatuan diantara keduanya membuat peluang kemenangan 100% didepan
kita, ini untuk perjuangan kebenaran tentunya.
Suatu
saat mercusuar dunia kata Ir Soekarno bagi Indonesia dan gambaran
Indonesia bisa menjadi kenyataan. Mentalitas bangsa Indonesia self confident
bangsa, dalam hal ini rakyat merupakan modal yang sangat besar selain
daripada Intelegensi manusia Indonesia. Dan, demikian halnya penunjang
itu semua tidak bisa kita sandarkan nasibnya pada pendidikan yang
mengedepankan sekolah formal, peran orang tua informal, dan tentunya non formal
yang dominan yang selalu bersentuhan objek peserta didik
sebagai regenerasi para pejuang bangsa dan dunia serta alam semesta
artefak seni terbaik ciptaan sang maha memenuhi Tuhan yang maha esa. Dan
harapannya lagi, Indonesia bukan jadi halnya negara penghasil kertas
sertifikat dan ijazah hehe...
Budaya komentar sebagai budaya saling membangun diharapkan akan tulisan yang masih banyak kekurangan ini, terimakasih :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar