Tokoh-tokoh bermunculan, antagonis, protagonis, hitam-putih, kelam kelabu, bahkan yang fiktifpun bisa jadi nyata dan yang nyata bisa jadi fiktif atau seolah-olah fiktif. Alur peradaban yang terdokumentasi baik oleh memori manusiawi (otak) ataupun terpendam dan tercatat pada sebuah batu, daun, atau aset-aset arkeologi lainnya sehingga menghasilkan apa yang dinamakan history, sejarah yang lampau karena yang nanti belum bisa lolos verifikasi dan boleh dikatakan sejarah.
Sejuk hati dan damai ketika kita mendengar sebuah lantunan nada-nada karena pada hakikatnya kitapun nada-nada yang dimainkan suatu sistem yang jika hanya logika saja yang digunakan untuk menebak dirasa tak akan pernah mencapai kulminasi pemahamannya akan sistem itu.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات : 13
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S Al-Hujarat 13)
Kutipan ayat Al-qur'an diatas merupakan ayat yang Bung Karno kutip dalam sebuah pertemuan internasional menjadi salah satu dan yang satu-satunya kepala negara yang mengutip ayat suci Al-qur'an bahkan sekelas negara-negara Islampun saat itu tersalip oleh Bung Karno yang jelas-jelas Indonesia bukanlah negara Islam.
Kita tahu secara heurmeunatik (harfiah) pasti sudah ada bayang-bayang dilogika tentang maksud dan tujuannya dari Tuhan, sungguhpun kita tak boleh mengesampingkan untuk bertanya pada orang-orang ahlinya, dalam hal ini ulama ahli tafsir. Asbabul Nuzul dari ayat ini sungguhlah sangat bernilai pluralis, karena tidak semua yang pluralis haruslah itu pluralisme. Dengan demikian, kita ketahui bahwa kita Indonesia dengan mayoritas beragama Islam dan dengan perbedaan dan kanekaragaman suku bangsa, budaya, dan bahasa, hanya dengan satu perspektif agama saja yang mayoritas di Indonesia memang sudah sewajarnya negeri ini menjadi negeri yang damai dan toleran, sehingga tak jadi salah dan keanehan ketika kita Indonesia dapat bertahan walaupun dengan kebhinekaannya.
Ketika meilhat youtube baru-baru ini saya meilihat sebuah video social experiment di Amerika tentang bagaimana respon dan reaksi warga Amerika Serikat yang terkenal heterogen juga melihat seorang wanita berhijab diganggu oleh pria amerika dengan kata-kata dan perilaku rasis. Hasil video yang aksinya dilakukan dijalan-jalan, tempat-tempat umum, seperti taman dan lainnya ini mengejutkan karena 80% warga disana merespon positif, maksudnya berani melindungi siwanita berhijab oleh pria bahkan disalah satu cuplikan terlihat pria berbadan besar yang mencoba melakukan tindakan agresif untuk proteksinya itu
Ini menandakan alkisah bahwa sebenarnya hati nurani manusia tidak pernah mati, bahkan untuk beberapa orang yang dinegeri kita mereka dihujat-hujat atau kebanyakan kita berpikir mereka menghinakan, merendahkan, mencemoohkan kaum-kaum Muslim selayaknya kita. Ini merupakan dampak dan efek serta konsekuensi dari sebuah era dan arus globalisasi, modernisasi, yang cepat. Maksudnya sebagaimana halnya media yang sekarang mendominasi asupan gizi primer dari infromasi kita, bukan dari masalah benar-salah atau valid atau tidak, tapi seberapa sering organ pendengaran kita bersentuhan dengan informasi itu yang bisa jadi memiliki skenario konspirasi atas produksinya, produksi informasinya. Bukan memprovokasi untuk bagaimana kita bertindak ofensive terhadap media massa tapi ini hanyalah sebuah counter-attack karena apakah hanya media saja yang boleh berhipotesa yang cenderung provokasi-untuk tidak menyebut fitnah yang disengajakan agar meningkatkan nilai jual. Tidak untuk menyalahkan kawan-kawan media karena bisa jadi saya, anda, atau kita jikalau masuk dalam ruang & waktu tersebut samahalnya demikian, karena ini bukan terpusat pada individu tapi kolektifitas dan konektifitas yang memang cenderung ditekan untuk melakukan segala cara untuk memanfaatkan peluang kebebasan pers.
Mari kita kembali kepada kemanusaiaan tadi, atau humanity. Salah satu tokoh kemanusiaan yang saya kagumi adalah Mahatma Gandhi tokoh asal dunia yang menggebrak seluruh dunia dengan pemikiran-pemikiran intelektualnya tentang kemanusiaan, tokoh asal India ini telah banyak menginspirasi tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin, para cendekiawan diseluruh pelosok dunia dengan pemikiran dan track record Gandhi. Seperti pada kutipannya You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean, if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty kurang lebih Gandhi ingin mengatakan Anda tidak harus kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan. Kemanusiaan adalah sebuah lautan; jika sedikit bagiannya kotor, lautan tidak akan menjadi kotor.. Sangat tinggi rasa Gandhi, nuansa-nuansa nuraninya menyentuh alam nilai pemikiran dan formasi keintelektualannya sehingga dia menjadi aktivis kemanusiaan yang terkenal dan terkenang.
Kemanusiaan itu cinta, dan setiap manusia memilikinya. Jika Sujiwo Tejo pernah berkata Tuhan itu bukanlah raja yang memiliki kasih sayang, tapi kasih sayang yang telah meraja sungguh luar biasa bukan berarti kita sedang menginterpretasi Tuhan dengan seenak kita, tapi toh bukankah Tuhan menyukai hambanya yang mencrinya dengan jalan apapun tapi benar-benar memiliki itikad mencari kebenaran ? Saya sebut penjawab yang tak terjawab.
Budayawan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib pernah menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan kita agar benar-benar menjadi manusia sejati, insan sejati, Islam sejati. Pertama, kita sebagai makhluk Tuhan sama dengan yang lainnya hewan, tumbuhan, jin, dll. Kedua, kita sebagai insan atau manusia yang memiliki akal dan diberi gelombang khusus oleh Tuhan agar memiliki pilihan hitam-putih. Ketiga, kita sebagai abdullah atau hamba Allah yang benar-benar telah memiliki Iman akan Tuhan. Terakhir keempat, kita sebagai Khalifatullah filardh, wakil/pemimpin Allah dibumi yang diberi tanggung jawab untuk menjaga bumi dan seisinya. Runtutan dan penjelasan diatas walaupun aga sedikit saja tafsir secara pribadi, tapi inshaAllah tidak menghilangkan daripada esensinya. Sekarang kita tahu bahwa sebelum kita menghamba, sebelum kita menjadi khalifah haruslah dari dasar dulu kita mengetahui bahwa sebenar-benarnya diri kita adalah manusia, sebelum kita over confident untuk merasa telah membela kepentingan Tuhan belajar dan sadari dululah kita manusia atau insan dan tidak hanya sekedar makhluk. Agar tidak ada kasus kemanusiaan karena membela ras, agama, golongan, dll.
Hadis riwayat Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra.:
Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia?. (Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia?. (Shahih Muslim)
Ini merupakan kisah Rasulullah yang membuktikan bahwa gerakan Islam tidak sektetarian, golongan, kelompok, atau ras. Islam itu universal, lihat bagaimana Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia? Bukankah sangat humanity, humanitarian, kita ini ? diperkuat dengan dasar negara kita Pancasila hasil kontemplasi Bung Karno dan dilanjutkan konsensus bersama founding father kita yang memiliki cita-cita dan nilai yang sama.
Kita terlalu takut, terlalu mengkhawatirkan masa depan, bahkan beberapa dari kita kepada orang-orang moderat yang toleran sebagai antek Amerika, antek Yahudi, dll. Selain itu mereka menghubung-hubungkan theosofi yang dulu banyak dianut tokoh kita founding father kita sebagai konsepan yahudi, apakah setiap karya Yahudi benar-benar tak memiliki faedah ? Teknologi yang sekarang dominan kita pegang rata-rata merupakan produk mereka (yahudi), kalaupun benar banyak mudharat, apakah itu pure kesalahan mereka ? Sekarang kalau kita punya hipotesa bahwa segala hasil cipta rasa karya orang yahudi memiliki misi dan daya sifat fasad fil ardhi, apakah kita hibrida miskin produk yang smpai sekarang menjadi kaum yang mayoritas berada pada skala bawah segitiga sosial. Semuanya punya peran masing-masing yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, dimekanisme olehNya, skenario-Nya, kalau kita ingin lari dari takdirNya bisa saja, tapi lari dari takdirNya menuju takdirNya. Selow, kita diberi sangat luas untuk mengeksplorasi kebebasan kita bahkan jika suatu saat jiwa kita kering maka ingatlah setiap polarisasi alam semesta bahkan sifat reaksi dzat adalah kembali ke pusat, kembali pada titik hakikat, kembalilah padaNya.
Tingkatan Cinta, jangan salah engkau menilai Cinta ! Ketertarikan saya membahas ini adalah karena hanya ada ini dialam semesta ini, dihati ini. Untuk semakin mengkuatkan dan membuktikan bahwa kehidupan ini soal rasa atau soal nada dimana kalau sayur asem tidak akan lebih baik dengan pizza sebaliknya juga demikian karena struktur dan konstruksi keduanya berbeda, outputnyapun berbeda. Pohon kelapa tidak lebih tinggi dari jagung karena memang kelapa ditakdirkan untuk begitu dan jagung untuk begitu, tidak bisa diperbandingkan. Dalam civil society haruslah ada yang berperan sebagai gula, ada yang sebagai teh, ada sebagai airnya, saling melengkapi dan membawa pada arus mikro yang unik dan pasti itu sistematikanya. Bahkan yang kita anggap jahat, ya memang jahat tapi bagaimana kita mengambil sisi positif dari kejahatannya, kita tidak boleh benci dia karena kita tak tahu faktor apa yang mendorong dia menjadi demikian. Seorang penyair, novelis, abad 19 asal Inggris Oscar Wilde pernah mengatakan setiap orang belum tentu baik, tetapi selalu ada kebaikan pada setiap
orang. Jangan terlalu cepat menilai seseorang, karena setiap orang suci
pasti punya masa lalu, dan setiap pendosa masih punya masa depan. Orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang didalam hatinya ada Tuhan atau dia ada dihati Tuhan, apapun itu tidak ada masalah bagi Tuhan terlepas akan ada dibenak-benak kita yang akan melirik aneh karena dia tidak seimanlah, apalah, dan judge serta klaim-klaim lain yang menurut saya tidak berdasar untuk kita yang menilai, contoh misal kafir, murtad, pendosa, itu merupakan ukuran dan tolak ukur Tuhan, janji Tuhan jangan dijanjikan manusia. Semisal kalaupun harus dituntut mengungkapkan untuk jadi katalisator mana yang baik mana yang buruk atau penilaian benar-salah, maka haruslah berhati-hati sekali karena mereka punya perasaan dan seharusnya kita yang berucappun menjadi bagian yang seharusnya diukur dan dinilai untuk itu. Letak-letak demikian sukar untuk diuraikan karena bentuknya software bukan hardware letaknya state of mind, halus sekali dan bukan wilayah kita manusia untuk menjangkaunya.
Cinta tak bisa kita pahami hanya dengan gaya berpikir yang akademisi kognitif, karena isi liriknya, lantunannya harus sesuai dengan nada agar terasa indah sejuk frekuensinya. Kalaupun terkadang darah menjadi jaminan Cinta, mungkin itulah artikulasi nada kerasnya, kalaupun harus tak dipandang seperti halnya lagu yang memiliki ingredient yang tak selamanya bersuara ada sisi-sisi dimana ada kesunyian, dinamakan titik sunyi, walau hanya sebentar tapi memiliki peran penting didalamnya, itulah Cinta yang seolah tak dipandang tapi sebenarnya terpandang, hanya saja kita jarang memeditasi diri kita mendengar suara sunyi senyap agar sinyal kita terhubung dan nantinya memiliki relasi, sehingga itulah yang disebut kesempurnaan lagu, kesempurnaan nada, kesempurnaan sensibilitas kepekaan kita. Jelas berarti seni sebagai wasilah Cinta tak bisa diabaikan, karena unsur kimiapun bereaksi dengan seni. Terlepas bagaimana jalan-jalan kehususannya, itukan keunikan.
Mohon dibaca seksama. Pertama, Cinta yang masih melihat wujud, wajah, kulit, label, merk, branded, dll sifatnya sangat egois karena masing-masing akan mengeksploitasi sebesar-besarnya dari objek cintanya untuk dirinya. Kedua, Cinta yang mulai melihat wujud relatif yang mulai berbagi, bukanlah sekedar ekslpoitasi tapi bagaimana berbagi antara siaku dan sidia, saling membalas apa yang diberi satu sama lain. Ketiga, Cinta yang sudah tidak memperdulikan wujud, bukan berarti tak berwujud tapi ada kontrol hawa-nafsu atau syahwat yang mencapai tingkat kulminasi, cinta yang seperti ini sudah tak memperdulikan lagi dibalas atau tidak, terus berkorban, terus inginnya memberi, melindungi, dan lainnya tanpa pernah berpikir meminta balas dari objek cintanya. Seperti itu kurang lebih penjelasan tingkatan Cinta yang saya interpretasi dari reformasi sufistik Jalaludin Rakhmat.
Hidup itu akting, jadi bagaimana kita menjadi aktor yang baik, tak peduli apa yang dikatakan orang. Hidup itu harmoni sebenarnya walau mata lahir kita memandang begitu banyak paradoks terjadi. Selayaknya ketika Ulama Muhammadiyah Prof.Dr. Buya Hamka dipenjarakan pemerintahan Ir.Soekarno sejarah mencatat demikian, dan ketika itu seolah-olah Soekarno menjadi tokoh antagonis dengan sikapnya yang memenjarakan tanpa alasan Buya Hamka, tapi hikmah nya Buya Hamka bisa lebih fokus menyelesaikan dan merampungkan buku/kitab tafsir Al-azharnya didalam penjara, dan kalau ketika selalu positive thinking sudah pastilah Buya Hamka akan melihat sisi baik dari segala bentuk kelakuan dari sang putra fajar Bung Karno, ada hikmah dibalik itu semua, sampai-sampai dijenazah Bung Karnopun dishalatkan oleh Buya Hamka, ini suatu skenario peran yang sangat melankolis-filantropi dan memiliki daya aura romantika dalam mekanisme kehidupan mereka berdua. Pastinya, dari perjalanan historis keduanya ada campur tangan-intervensi Tuhan didalamnya itu sudah pasti dan hakiki, apapun yang terjadi, kembali tadi itu kita lari dari takdir menuju takdir lainnya. Begitupun ada saat-saat Buya Hamka menjadi tokoh antagonis, ketika dahulu Hamka menjadi salah satu ulama yang sangat bertentangan dengan ulama-ulama tradisional, tapi ketika menjelas usia tuanya Hamka justru menjadi lebih lentur, fleksibel, bahkan dia datang ke acara-acara yang dulu dia tentang dan kata-katanya yang menginspirasi adalah dulu saya baru baca satu kitab, sekarang sudah baca seribu kitab begitu luar biasa seorang pencari kebenaran bukanlah yang berhenti dan mengklaim diri benar tapi sampai kapanpun terus mencari bahkan juga untuk hal-hal yang bertentangan dengannya. Itulah sisi dimana kita bisajadi malaikat sedetik kemudian menjadi iblis, atau rentetan kehidupan kita yang demikian. Lebih jauh, haruslah kita berpikir untuk tidak hanya dunia ini, maksudnya senang dan indah sekali imaji kita membayangkan konsepsi kehidupan kita 1000 tahun atau dalam keabadian, dan sangat lucu kalau kita memprediksi kita hanya 50-80 tahun hidup kita ini, untuk jasad bisa jadi demikian, karena yang hidup bukan jasad, maka dari itu yang sangat layak dicintai bukan sekedar jasad jasmani, tapi jiwa yang berarti.
Intinya semuanya baik, hanya berbeda ukuran ranah nilai objek kebaikannya. Misalnya yang korupsi mungkin objek kebaikannya adalah untuk diri sendiri, keluarga, golongannya, belum universal, belum holistik ranah karya objeknya. Dan, tingkatan-tingkatannya seterusnya sampai menuju puncak kebaikan dan puncak itu bukan kita makhluk yang mengetahui dan berhak menilai. Menurut Gramsci, untuk menambal kewajiban-kewajiban negara yang tidak terpenuhi adalah kita sebagai warga negaranya yang mampu dari segi tenaga, intelektual, bahkan materi. Jadi, untuk mengevolusi kedepan lebih baik tunaikan saja dulu kewajiban kita semaksimalnya tuntutlah hak kita kepada Tuhan.
Dalam adat Jawa kuno ada istilah kata-kata adalah sampah seusai terurai dari yang mengungkapkannya, agar dia tidak menjadi sampah maka pembaca-pembacalah yang memiliki tanggung jawab agar kata itu bisa didefinisi masing-masing dialam sanubarinya sehingga kata ini tidak hanya menjadi formalitas isi tapi benar-benar menjadi fathasyhur fil ardhi bertebaran dimuka bumi dan menjadi hal atau molekul-molekul kehidupan penggerak evolusi sebelum revolusi menuju yang lebih baik, walau tanpa disadari dicerna dimakan dan menjadi formasi keintelektualan kawan-kawan, rekan-rekan pembaca dekemudian hari, walau hanya setitik. Terimakasih. Wasalamualaikum Wr Wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar