Malam larut adalah kehinangan dan kesunyian dimana keranjang-keranjang Tuhan diturunkan mulai dari pengampunan, rezeki, dan pengejewantahan-pengejewantahan dari keduanya seperti ilmu, nikmat, dan bentuk-bentuk cinta kasih & sayang Tuhan lainnya. Bila satu perkara hanya dipandang dalam satu perspektif atau sudut pandang maka hilanglah hukum relatifitas, maka yang terjadi adalah monopoli dokrtrin akan sesuatu hal yang seharusnya bisa didiskusikan, bisa diadakannya dialog antar pemahaman agar akhirnya menemukan bentuk final dari sebuah kesimpulan perkara dan secara sifat lebih demokratis dan menyenangkan semua pihak.
Terjadinya huru hara akibat dengan bermunculannya pendapat bahwa demokrasi itu hanya membawa kemakaran karena pada kenyataan faktualnya banyak menimbulkan keruwetan dalam sistem sosial ataupun politik. Padahal secara kontekstual demokrasi tidak bisa disalahkan karena tidak ada ideologi yang bisa disalahkan yang ada apakah akomodatif apa tidak dengan keadaan sosial terkini. Selanjutnya, setelah dipastikan secara konsep bahwa ideologi itu sesuai dan cocok untuk diterapkan adalah bagaimana cara penerapannya yang akan jadi masalah bukanlah harus untuk mencabut akar dasarnya tadi, sehingga menimbulkan masalah-masalah baru yang justru bukan menjadi solusi yang solutif.
Itu untuk mukadimah saja. Indah untuk sebuah negeri yang dengan berbagai musim apapun kondisi bahan pangan yang sedikitpun orang-orang akan tetap sejahtera dan dapat tidur dengan nyenyak walau berbantalkan kayu berselimutkan debu dan beratapkan langit. Walau makan dengan singkong rebus yang hanya dibumbui garam itu sudah lebih dari cukup dibanding saudara-saudara kita dibelahan dunia lain yang terkadang merasa teramat sangat dingin dan susahnya mencari panganan atau seteguk air untuk hanya mempertahankan hidup.
Bahagianya ayam dengan caranya sendiri, cacing dengan caranya sendiri, pohon kelapa dengan caranya sendiri, masing-masing punya ukuran subjektif yang kadang tak bisa dipaksakan untuk yang lain. Ayam bahagia dengan hanya berjalan-berjalan dan makan beras, cacing bahagia dengan lumpur basah yang kotor, begitupun kelapa dan lainnya. Tidak bisa kita paksakan cacing untuk keluar dari lumpur basah kotornya untuk kita (manusia) mandikan dan bersihkan dengan air dan dikeringkan dengan sebuah kipas angin atau hair dryer agar mereka tidak kotor dan tidak kedinginan, karena itu semua bahagia dia nikmat Tuhan yang diberikan pada cacing yang dimekanisme sedemikian rupa agar menjadi makhluk yang memiliki nikmat dan karunia dariNya dengan kekhususannya.
Pada awalnya nikmat Tuhan pasti sama, outputnya sama, tapi hanya bentuk-bentuk butiran dan tebarannya saja yang berbeda-beda sesuai dengan tugas-tugas makhluknya dibumi atau lebih jauh alam semesta, sesuai dengan hakikat apa yang diberikan Tuhan pada makhluknya.
Spesifik untuk manusia, yang Tuhan berikan jalan untuk memilih tidak seperti makhluk Tuhan lainnya. Jalan memilih tersebut menjadi faktor dimana manusia bisa berpikir dan itu jadi sebab muasabab kenapa manusia berbeda-beda, berbeda-beda bukan berpecah-pecah karena kalau manusia dituduh memecah-mecahkan diri bagaimana dengan sifat kealamian seperti yang ditimbulkan ras, suku, bahasa, yang mekanismenya bukan manusia yang dengan sengaja ingin berbeda-beda tentang warna kulit, struktur tubuh, dan lain sebagainya. Alam semesta sebagai komposisi yang bersentuhan dengan makhluk memiliki peranan juga, selayaknya cuaca, keadaan geografis yang secara biologis dapat mempengaruhi struktur tubuh manusia, psikis manusia, mental-mentalnya, gaya berpikirnya dan itu merupakan rahmat, ikhtilafi min umatin rahmatun kalau kata Rasulullah SAW.
Orang-orang yang masih berjuang, Indonesia sebagai sumber ekuilibrium sejati dalam hal keadaan geografis, cuaca, atau singkatnya keadaan alam haruslah berani menemukan titik dimana bangsa dan rakyat kita dapat berkobar-kobar berapi-api kembali menghadapi sebuah tantangan karena terjadi disekuilibrium atau ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan bukan untuk kita memicu untuk membuat sebuah musuh agar rakyat Indonesia tergerak jiwanya seperti ala Hitler pada rakyatnya. Tapi maksudnya itulah kesempatan kita, ketika saudara kita dibelahan dunia lain yang tidak mendapatkan keseimbangan secara alam karena itu plot ujian dari Tuhannya, maka bangsa Indonesia sudah sejak lama akan tergugah untuk bermimpi dan bercita-cita dengan tekanan-tekanan sosial, seperti dulu ketika kita dijajah. Jadi ujian kita bukan terletak pada kondisi alam, tapi terletak pada permasalahan-permasalahan sosial, ekonomi, politik, yang carut marut.
Dahulu kala orang-orang Yunani kuno, rata-rata adalah seorang petani zaitun yang proses menuju panennya tidak butuh kerja yang banyak karena zaitun punya sistem proses mandiri dalam pertumbuhan dan produksinya. Sehingga, kawan-kawan Yunani dulu banyak yang cukup dengan rezekinya, cukup dengan harta bendanya dan efeknya mereka banyak bekerja untuk merenung dalam kesehariannya, maka tidak aneh jika bermunculan filsuf-filsuf terkenal dari negara para dewa tersebut. Itulah yang dimaksudkan, mengambil peluang dari keadaan, dari apa yang kita punya, bukan dari apa yang belum kita punya. Kadang kita tidak harus mencontoh cara makan orang Eropa untuk menjadi sehat, tapi cukup saja mencontoh kedisiplinan mereka dalam memprioritaskan kesehatan.
Tak peduli jadi kontroversi selagi kita bisa menjadi contoh dan penstimulus bagi bangkitnya gerakan-gerakan sosial yang tanpa disadari akan membawa dampak positif bagi masyarakat itu sendiri keluar dari kemandekan, jumud, dan kolot. Kontroversi merupakan gerakan orang-orang kreatif yang belum bisa dipahami orang banyak, setelah terpahami akan muncul kreatif-kreatif lainnya entah untuk mematikan yang sebelumnya atau membuat yang baru atau bahkan mendukung dan menguatkan yang sebelumnya.
Kita harus paham bahwa untuk menjadi besar tidak bisa untuk menjadi seorang yang dibenar-benarkan orang selalu. Oleh karena itu perlu kita ketahui bahwa Muhyiddin Ibn Arabi seorang sufi dulu, para pengagumnya menyebut dia sang sufi (mistikus) terbesar sepanjang
sejarah, dialah sang“al Syeikh al Akbar” (guru terbesar) dan “al Kibrit
al Ahmar” (sumber api). Tidak ada pemilik gelar seperti ini di kalangan
ulama, pemikir Islam dan mistikus sepanjang zaman, kecuali dia.
Pengaruhnya demikian besar dan menyebar keseluruh pelosok bumi manusia.
Hanya sedikit tokoh intelektual Islam yang memiliki pengaruh demikian
besar dan meluas selama berabad-abad seperti orang ini. Kajian-kajian
sufisme tidak pernah lupa, sedikit atau banyak menyebutkan namanya. Ibnu
Arabi adalah seorang visioner yang sangat cerdas dan brilian. Tetapi
para pembencinya menyebut dia seorang bid’ah, kafir, zindiq, dungu,
orang gila, dan musyrik. Jadi, orang besar tidak akan dipandang dengan satu sudut pandang, sungguhpun semua orang demikian tapi yang dimaksudkan adalah sudut pandang yang sifatnya radikal antara yang positif ataupun negatif.
Tapi untuk menjadi orang besar agar lebih terasa sempurna perlu adanya diasupi sebuah paham yang nantinya akan tetap bersifat inklusif, memandang dunia secara holistik. Thinking different berpikir diantara, dimana mengambil poin-poin kebaikan dari setiap perkara, benda, kejadian, dan hal-hal lainnya yang bersifat materialis ataupun mistis. Orang yang menyimpelkan-nyimpelkan hidupnya adalah orang yang paling ribet dan ruwet dalam kehidupan, karena bagi sang pencari cahaya menjadi gundah gelisah demi sebuah pelajaran adalah keadaan santai yang hakiki.
Iblis menjadi pembeda dan pembatas, agar manusia dapat menggunakan akalnya untuk memilih. Bisa jadi Iblis hanyalah bias yang diciptakan Tuhan, karena kita yakin percaya bahwa tidak ada makhluk yang berani melawan sang puncak Tuhan. Prasangka-prasangka, praduga-praduga, memang tidak bisa dibenarkan, tapi memang iblis dan antek-anteknyalah musuh yang nyata, dan kenyataannya dalam aliran tubuh ini menghubungkan dengan pola tingkah manusia terdapat iblis yang lebih berbahaya daripada apa yang digambarkan setan berbentuk menyeramkan, tingkah kita, ujian kita, nafsu dan syahwat kita lebih menyeramkan daripada wujud-wujud itu, dan mereka telah bersekutu dengan antek-antek Iblis sebagai pengurai hitam dan putih.
Adakah sisi positif dari Iblis ? Jika jawabannya iya jangan khawatir kita akan menjadi makhluk laknatullah dan dicap sebagai simpatisan Iblis, salahkah kita berkasih sayang dengan pencuri tapi jiwa dan perilaku kita bukan pencuri ? Dan mencari sisi positif dari negatif bukan memaksa yang negatif agar positif tapi ada kejadian apa didalamnya sehingga ada pelajaran yang bisa diambil karena adanya negatif tersebut. Nurcholish Madjid pernah berkata Iblis sebagai pelopor Tauhid murni, dan berada diSurga tertinggi dikemudian nanti. Saya mempelajarinya adalah, bahwa itu bisa jadi acuan dan rujukan kita sebagai bahan pembelajaran dari berbagai referensi sejarah awal mula manusia ketika Adam terbentuk yaitu kita jangan seperti Iblis, atau akan ada manusia yang kelakuannya sama seperti Iblis seolah-olah menjadikan Tauhid semurni-murninya, seolah menjadi yang benar dan pembela kebenaran terbaik, tapi pada akhirnya tergelincir.
Malam Lailatul qodr menjadi harapan bagi kaum muslim yang beritikaf ataupun yang tidak beritikaf. Tapi yang pasti semuanya mendapat kegilaan akan malam itu, malam fenomenal, malam yang pasti semua orang mengalaminya tapi tidak semua orang merasakannya. Adakah orang-orang yang tersesat masih punya peluang untuk mendapatkannya ? Wallahualam. Orang-orang tersesat adalah orang yang mencari jalan kebenaran tapi dia sedang tersesat jadi tak harus represi menanggung tuduhan sesat selama jiwa & itikad kita condong akan kebenaran.
“Apakah sedemikian buruknya untuk disalahpahami? Pythagoras pernah
disalahpahami, demikian pula Socrates, Yesus, Luther, Copernicus,
Galileo, Newton, dan setiap spirit murni dan bijak yang berdaging. Untuk
menjadi agung adalah untuk disalahpahami,” tulis pemikir Amerika Ralph
Waldo Emerson.
"Seperti burung terbang di udara tidak meninggalkan jejak, ikan berenang
di laut tidak meninggalkan bekas, demikian halnya dengan perbuatan baik.
perbuatan baik tidak perlu meninggalkan jejak yg bisa dilihat siapa pun"Kata Mahabrata.
Hanya seniman hati yang dapat merasakan kelembutan-kelembutan kasih dalam perjalanan kehidupan, bisajadi ulama, pendeta, ahli syair, bahkan seorang pendosapun. Bisa jadi Tere Liye novelis terkenal dengan kata-kata nan indahnya itu tersayat-sayat dahulu dulunya untuk mendapatkan sebuah karya-karya yang sangat menginspirasi untuk orang-orang luas, tanpa label agama, golongan, dia dapat berdikari diatas semua golongan jiwa-jiwa yang kesepian dan ingin mendengarkan gemiricik teriakan-teriakan hati dan jiwa makhluk yang lemah dan gundah gulana itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar