Bila akhir-akhir ini terasa bahagia, ya alhamdulillah...hehe
Saat ini mungkin sedang ada yang shalawatan, ngaji, diskusi, meneliti, membaca, menulis, berkarya, ngerjain tugas, tidur mungkin. First, yang gua tahu nikmat itu ya nikmat, kita hidup dituntut memahami mana yang baik mana yang buruk terus puzzling deh diantara keduanya. Punya pacar gaul, gak punya pacar ngenes..Itu asumsi-asumsi dan puzzling yang tidak bermutu. Maksudnya, segala yang terjadi dihidup kita itu pasti terikat dengan yang namanya ruang dan waktu yang mendalamnya harus dipahami substansi dan esensi, katanya.. Pemikiran-pemikiran kita khususnya generasi muda kaya kita-kita ini sudah banyak terpengaruh dan dibatasi oleh yang namanya media, film-film, novel, berita, dll dll dll . Terkadang gua sendiri gak tahu seberapa persenkah gua mengetahui kebenaran dan keotentikan sumber-sumber referensi tersebut (termasuk buku pelajaran) tidak ada rumus yang bisa menghasilkan jaminan bahwa segala sesuatu yang selalu gua konsumsi film, berita, pelajaran, dan lain sebagainya adalah kebenaran, minimal beritiqad pada kebenaran.
Banyak hal yang kita tidak tahu, banyak kenikmatan yang tersembunyi dan terasa kaku bila dituangkan secara logis, banyak juga kenikmatan yang menghasilkan kemelaratan. Bumi bola, kotak, datar, atmosfer kesemuanya abstrak. Kesulitan-kesulitan yang menimbulkan kesalahan itu kemudian harusnya disesali, setelahnya bencilah kesalahan tersebut sebagai kesalahan, tapi sebagai sejarah dan hikmah jadikanlah pelajaran. Right ? Kanan ? bukan tapi 'benar', tapi kanan, apapun itu... Memang kanan selalu terkonotasi pada hal yang benar atau baik dan itu bukan jadi permasalahan tapi maksud gua disini ini sebuah keunikan, sebuah anugerah dan kearifan dari Tuhan yang gua yakini sebagai tanda-tanda kebesaranNya. Kenapa ? 'Right' dalam hal ini adalah kata dalam bahasa Inggris dan yo pastinya berasal dari hasil cipta rasa kebudayaan negeri elizabeth. So mungkin kawan-kawan bisa merenunginyalah atau bahkan mengkaji kenapa ternyata ada kemiripan-kemiripan dari berbagai sumber tanpa harus terlebih dahulu membawa ego kepentingan golongan, ras, suku, budaya, agama, dll dll dll yang justru biasanya pada pengkajian dan penelitian ilmu pengetahuan bisa membuat proses kurang maksimal karena ada sifat subjektif dan su'uzdhon terlebih dahulu kalau bahasanya 'ustadz'.
Penekanannya disini sebenarnya yang ingin gua bahas adalah generasi muda itu sendiri sebagai pemuda-pemuda yang haus dan frustasi dengan kejombloan. Aseekk. Efek-efek pengaruh sinetron-sinetron yang gak bermutu ini yang mestinya harus direduksi secepatnya mungkin, tapi bukan hanya dengan tuntutan tapi kesadaran dan gerakan dari kitanya. Jangan berharap kegiatan-kegiatan positif kita mesti dibuat kebijakannya, RUU, oleh pemerintah itu namanya lucu... Oleh karena kalau loe-loe pada sudah sadar, mari dari awal kembali kita rekonstruksi pemuda-pemuda yang kegiatan-kegiatannya relevan dan ideal serta produktif untuk prospek kedepannya, masa depan kita. Tidak usah mikir hidup gua atau siapapun itu sudah tak berarti, misal karena ada masa lalu yang membuat terpuruk, itumah biasa yang jadi lebih luar biasa jika kita bisa bangkit dari semua itu, dari hal-hal yang membuat berkurangnya pilihan hidup kita dimasa depan. Dan, selalu ada satu pilihan besar. Itulah perubahan ke arah lebih baik, perubahan kepada cahaya hati yang lebih mudah empati atas kekurangan-kekurangan saudara-saudara kita yang lainnya, betul gak ?
Selamanya hidup kita gak akan pernah jomblo broo, soalnya bukankah kita selalu dituntut untuk mencintai kawan-kawan, teman-teman, guru-guru, orang tua kita sendiri...Dan itu bukanlah jomblo, justru jomblo adalah ketika kita membatasi ruang gerak kreatifitas dan mencari ilmu kita dengan pilihan-pilihan yang tidak menguntungkan dan menimbulkan tembok-tembok baru dalam kehidupan, contoh pacaran. Okelah bagi yang udah terlanjur pacaran, anggap pacaran ya pertemanan special, kalau bisa tidak harus dengan buaian kata 'cinta' atau 'sayang' 'mamah' 'papah' atau lain-lain, justru karena cinta tak harus dilabeli dengan kata saja, apalagi dimasa-masa dimana kita seharusnya belum harus memprioritaskan terlalu untuk mengungkapkan cinta dengan kata, khususnya pada lawan jenis. Kan ngeri liat anak SMP, SMA udah bisa nembak cewe dijalan raya yang pastinya ditonton publik, mau jadi apa generasi berikutnya, mau jadi orang-orang yang dalam genggaman mind control ? Karena generasi mudapun bagian dari rakyat yang harus diberikan hal-haknya dalam pengetahuan-pengetahuan, wawasan-wawasan yang luas, yang membuka cakrawala berpikir mereka agar nantinya tidak jadi Gayus Gayus baru.. Bukankah mereka yang akan meneruskan perjuangan ? Sumber Daya Manusia ? Nantinya mereka tahu bahwa ada sistem-sistem yang ternyata merugikan rakyat, merugikan orang tuanya ternyata dulu itu, jadi kalau ada yang jadi pemangku kebijakan gak sekonyong-konyong maen gusur aja tanah orang, kalaupun itu secara administratif memang harus digusur. Ada analisis-analisis sosial yang lebih mendalam lagi, dari generasi muda, yang lomba silat ya biarkan lomba silat, yang sedang praktek-praktek sains ya biarkan terus praktek, tapi dibeberapa kesempatan harus selalu ada pendiskusian-pendiskusian, pertemuan-pertemuan diantara mereka yang meningkatkan gairah kompetitif dan produktifitas masa muda mereka sehingga nantinya akan banyak terdapat kegiatan-kegiatan yang sumbernya berasal dari peningkatan kepekaan sosial dari generasi muda itu sendiri entah apapun itu bentuknya, generasi muda berelaborasi satu sama lainnya dengan berbagai background serta disiplin ilmu, minat bakat, yang berbeda-beda.
Jadi kalau gua sendiri ya cuman gini-gini aja, nulis-nulis hasil daripada raksasa-raksasa, tokoh-tokoh hebat terdahulu yang gejala-gejala ataupun peristiwa-peristiwanya serta karyanya gua coba kontekstualisasikan dengan keadaan sekarang ini khususnya generasi muda Indonesia yang hari demi hari mulai terlihat kebangkitannya juga terlihat sektor-sektor yang lemahnya dimana dan sebabnya apa.
Percaya dan optimis, kita bisa bangkit, nggak pada tiduran mulu dikasur tapi terus beraktivitas entah itu otaknya, fisiknya. Pacaran itu bukanlah pacaran, anggap saja gua atau kita punya prasyarat sendiri atas pilihan pasangan hidup kita kelak dan yang sekarang dengan kita kalau bisa tidah harus disebut 'pacar' tapi 'calon prioritas' dan semoga dengan itu bentuk-bentuk ranah nilainyapun tidak teridentikan dengan pacaran secara negatif, ya kalau bisa ya kuat buat tidak pacaran, tapi bukan berarti kita sombong terhadap lawan jenis, ini yang sering salah kaprah. Tidak pacaran bukan berarti memutuskan urat syaraf kebaikan dari hati kita, menjaga bukan seperti itu bentuknya, bukan berarti kita menganggap sumber kesalahan adanya diluar diri. Justru, manfaatkanlah potensi-potensi orang luar baik secara langsung ataupun tidak langsung sebagai bahan renungan, bahan penambah wawasan dan lain-lain. Sebelum selesai tulisan ini, gua ingin curhat kemarin-kemarin gua lihat perempuan-perempuan dari negeri-negeri eropa timur, kalau gak salah kemarin itu Cyprus nah disitu gua liat saudara-saudara kita yang bershalawat dengan wajah khas eropa, dan itu jadi motivasi, ternyata masih ada saudara-saudara kita disana, ya motivasinya sih mungkin supaya kita jangan berpecah-pecah. Minimal ada rasa emosional ketika melihat hal-hal demikian, khusus untuk gua sih termotivasi kali aja salah satu dari mereka ditakdirkan buat jadi jodoh gua tapi karena bahasanya rumit sedangkan bahasa Inggris aja belum lancar, maka dari itu justru menambah semangat dan giat gua buat belajar dan terus berkembang haha...
Literatur kagak jelas ini semoga bisa ada yang membaca meskipun tidak rapi dan sulit dipahami, hehe namanya juga belajar, terimakasih wassalamualaikum..^_^
Mantap.. sangat bermanfaat 👍
BalasHapusBerminat membaca informasi lain? Terusuri link dibawah ini...
http://saketi123.blogspot.com/2018/07/pengendalian-hama-dan-penyakit-pada.html