Jumat, 26 Agustus 2016

INDONESIA NEGERI KEBANGSAAN BERJAMA’AH



Sekali lagi, diujung pena ini curahan segenap bentuk usaha transformsasi cinta untuk sebuah negeri bernama Indonesia. Tidak jadi masalah jikalau goresan ini sedikit atau bahkan tidak ada yang akan melihatnya, yang jadi masalah adalah ketika tidak ada daya usaha mencurahkan sama sekali goresan untuk Nusantara. Kata ‘ujung pena’ jangan terlalu dipermasalahkan, memang itu hanya metafora karena pada faktanya untuk sekelas zaman sekarang, jarang dan bahkan sudah tak ada lagi yang menulis langsung dengan pena. 

Negeri ini baru saja melakukan perayaan ulang tahunnya yang ke-71 tepat ditanggal dimana dahulu Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan tanah dikebon belakang kita salah satunya. Uniknya, tidak semeriah dan semerah dulu ketika kita masih lengoh. Mungkin hipotesa awal adalah bukan karena nasionalisme mulai luntur, tapi karena semua orang Indonesia sudah merasa merdeka karena itu merayakan kemerdekaan Indonesia saja mereka merasa merdeka untuk memilih ikut atau tidak, atau bisa jadi hanya tentang metoda cara perayaannya saja yang mulai kreatif-inovatif bentuknya baik secara bersama-sama, kelompok, dan masing-masing individu. Harap semuanya tidak harus terlalu serius merespon itu, karena pasti ujung-ujungnya perjuangan legal-formalistik yang paling diperhatikan untuk menangani itu semua yang pada kenyataannya seketat-ketatnya aturan yang dilegitimasi secara tekstual, khusus di Indonesia pasti bolong juga, karena sebenarnya bukan itu inti permasalahannya, dan juga karena sebuah nasionalisme tidak bisa digantikan dengan secarik tulisan yang dilegitimasi menjadi sebuah aturan. Jujur itu jauh dari ‘sama dengan’. 
         
   Kemerdekaan atau Independence Indonesia menurut Bung Karno hanyalah sebagai pintu gerbang. Setelah itu tentang keadilan, persamaan, dan demokrasi korelasinya tidak bisa dipaksakan dengan euforia kejayaan sejarah dulu. Maksudnya, kalau kata sang proklamator kita orang Indonesia ini terlampau lama hanya memanfaatkan kerak kemampuannya tidak menyalakan apinya. Sekarang-sekarang sudah ada yang menyalakan apinya tapi justru malah yang terbakar hutan-hutan disumatera dan kalimantan. Dan, pelakunya bebas. Mari kita analisis bersama Indonesia  setelah ‘pintu gerbang’ itu baik dengan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan jikalau ada relasi dengan subordinat lainnya.
           
 Bolehlah kita apresiasi terlebih dahulu segala bentuk-bentuk kemajuan secara sosial dinegeri ini dari kemerdekaan sampai pula sekarang ini. Dimana, humanity atau Hak Asasi Manusia telah menjadi kalimat konsumsi masyarakat kita secara luas dengan memang tema besar itu harus menjadi salah satu pokok dan syarat dari pada sebuah masyarakat modern dunia. Tentu saja pro-kontra sudah menjadi alamiah (nature) dari individu manusia yang dilengkapi akal pikiran dan indra sebagai alat pembaca keadaan sekitar. Indonesia punya potensi sebagai stick holder dari keadaan sosial yang memiliki perbedaan yang sangat kaya untuk contoh masyarakat dunia. Kalau perlu jujur pada hati nurani disetiap jiwa-jiwanya masyarakat Indonesia secara komprehensif, mungkin saja kita bisa berkata no try to teach me about humanity ! Tidak peduli benar atau salah ejaannya, wong Indonesia kok.
            Sebagian masyarakat pro HAM di Indonesia bisa dibagi menjadi beberapa kategori, mungkin yang paling umum adalah pertama yang mengerti secara komprehensif HAM dan kedua yang awam yang hanya memahami HAM menurut tafsiran dewek. Permasalahannya adalah apakah kita akan menerapkan HAM yang arkitipe dengan yang ada dipola corak masyarakat barat khususnya Eropa ? Atau akan ada adaptasi sosial dan budaya (nurture) dengan pola corak masyarakat Nusantara ? Paling penting substansinya pokoknya HAM, masalah bentuk-bentuk penerapan yang penting tidak dimonopoli untuk satu kepentingan golongan. 

            Selain itu zaman ini ada semacam fenomena marginalisasi peran generasi muda atau marginalisasi generasi muda dari poros perhatian prioritas pembenahan baik secara kebijakan birokrasi ataupun secara prioritas polarisasi sosial-kultural kebanyakan masyarakat Indonesia, generasi muda menjadi hanya subordinat akurasi bidang yang perlu diperhatikan, aktivis hanya bermain elitis dan kegiatannya lebih berpihak kepada yang sifatnya jangka pendek karena memang itu yang menguntungkan dan yang sifatnya jangka panjang perjuangannya lebih berat dan terkadang sering dilupakan. Konstelasi kebudayaan internasional baik dari barat, timur, tengah, bersintesa dalam peradaban manusia Indonesia dewasa ini, khususnya generasi muda. Kelebihannya, nilai komersial-eksploitatif dan industri pasar hiburan Indonesia meningkat pesat, baik ranah musik, tari, seni, dan lain sebagainya. Hebatnya lagi sebagai masyarakat yang sangat memuliakan tamu, di Indonesia barang luar seolah adalah yang pasti kualitasnya diatas barang lokal, berbentuk apapun itu. 

            Kita masyarakat yang mengerti sudah sedikit mulai aga priyayi sulit masuk kebawah, kalaupun kebawah hanya ranah jangka pendek. Kalau dianalogikan, sudah terlampau banyak orang-orang akademisi, praktisi, dan lainnya yang sudah menjadi pohon tinggi (berprestasi), maka perlu adanya orang-orang yang hanya dengan pohon yang rendah tapi ranting dan daun-daunnya dapat menaungi, meneduhi orang-orang dibawahnya. Sekarang sulit membedakan pemuda kota atau pemuda desa, karena orientasinya mayoritas sama karena kita telah dimekanisme dengan konsumsi publik yang membentuk mental-mental jiwa orang Indonesia khususnya generasi muda untuk dibentuk ya begitu, entah untuk jadi alat pembebasan atau penindasan kita tidak pernah tahu dan tidak mau tahu, masing-masing kita kehilangan identitas diri. 

            Pendidikan sebagai ordinat dari semua aspek perspektif haruslah jadi tonggak utama pembenahan baik secara formal ataupun non formal. Saat ini sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak siswa-siswa yang belum pada umurnya sudah bisa dijumpai ditempat-tempat umum merokok misal, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa selagi hanya duduk-duduk dan hanya ikut andil memaki mereka saja. Dan, paling menghina logika sehat manusia adalah dimana peristiwa rokok disekolah-sekolah seolah dilarang dan menjadi barang yang sangat berbahaya, hal itu disosialisasikan oleh tenaga-tenaga pendidik hampir dominan. Sedangkan pada faktanya rokok dijual secara meluas diseluruh Indonesia, apakah ada tanda-tanda rokok sangat-sangatlah berbahaya ? Maksudnya carilah alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang nantinya kompleks ini. Alangkah baiknya jika objek ‘rokok’ dalam hal ini tidak dijadikan kambing hitam dalam pendidikan, penjelasan-penjelasan oleh pendidik lebih menitikberatkan pada keadaan tidak menyimpulkan ‘rokok’ tersebut boleh atau tidak boleh, tapi lebih kepada penjelasan baik-buruk manfaat-mudharat setelah itu beri mereka kebebasan memilih dengan tidak mengenyampingkan peraturan disekolah tidak boleh merokok tentunya, realistis saja. Bukan hanya untuk masalah ‘rokok’ tapi gejala-gejala yang lain. Metoda-metoda seperti ini memang tidak mutlak, bisa saja ada modifikasi tapi ini hanya sedikit saran secara psikologis. Ini merupakan personifikasi dimana terkadang dibeberapa sekolah, antara yang diberi disekolah dengan sosial masyarakat secara luas tidak ilmiah, atau kurang sinkron.

            Budaya-budaya hedonis telah menjalar dengan hampir holistik diseluruh Indonesia karena teknologi media sebagai penunjang penyebaran cepat tentunya. Kebahagiaan itu diukur dengan seberapa banyak anda menang dalam kompetisi materalistis, mirip dengan teori Kaptalisnya Weber. Menurut Anies Baswedan orang Indonesia yang masih melihat kekayaan Indonesia itu lewat sumber daya alamnya, kemajuan fasilitasnya, itu kalaupun menamengi diri membela kepentingan rakyat sebenarnya itulah otak-otak kaptalis. Stephen R Covey adalah tokoh yang sangat cocok teorinya untuk keadaan Indonesia hari ini, dimana kompetisi, interaksi antar manusia adalah kerja sama dan hasilnya diusahakan win/win tidak ada yang dirugikan. 

Generasi kita telah terjebak dengan mindshet ekonomi dimana uang itu dihasilkan dari gaji hasil kerja entah jadi buruh, karyawan, dll. Dan, dengan peningkatan ekonomi Indonesia yang katanya terus meningkat berapa persen tiap tahun sehingga dipuji G-20 sedangkan masyarakat termasuk kita melohok bingung, iki opo rek. Kenyataannya kita lapar tapi kita hidup, karena terlalu sering kita lapar, dan diberi makan secara cuma-cuma dengan gratis entah itu bentuk BLT atau makhluk lainnya, kita jadi manja. 

Katanya akan ada suatu masa dimana masyarakat dunia tidak ada yang mau menerima sadaqah , bisa jadi hal itu terjadi karena sistem tukar dengan uang kertas memang jelas berbeda dengan sistem barter dulu yang keadaan terus seimbang (beras ditukar gandum), atau dengan emas atau perak (yang secara nyata bernilai). Sistem ini memungkinkan yang sebenarnya barang pokok kebutuhan hidup semacam beras, gandum, jagung, akan lebih sedikit dari uang kertas yang berputar. Jika kita analisis, dan kontekstualisasikan maka bisa jadi masa diatas yang masyarakat dunia tidak ada lagi yang mau menerima sadaqah itu berhubungan dengan kemungkinan dari sistem diatas, yang khusus di Indonesia mata uang kita terus turun nilai tukarnya. Hubungannya adalah dengan mindshet pemuda sekarang yang menginginkan uang dari hasil kerja sedangkan dia punya kemampuan mengeksploitasi lahan yang dipunya, misal kebun singkong dan dengan pendidikan yang telah dia tuntut, bolehlah sedikit kreasi dari produksi singkongnya bisa meningkatkan nilai marketnya. Anak ekonomi mungkin akan lebih khatam, terkadang poros perhatian kita selalu sesuatu yang belum tentu kita genggam sedangkan yang kita punya tidak dimaksimalkan potensi-akurasinya

Intinya pasca-kemerdekaan Indonesia ranah sosial, budaya, ekonomi mengalami perkembangan. Perkembangan itu tergantung dari sudut pandang mana diukurnya. Boleh jadi, bagi sebagian kalangan ini (Indonesia) kondisi yang sudah baik, tapi untuk sebagian lainnya mungkin saja buruk. Dalam perkembangannya life of society Indonesia mengalami fluktuatif yang relatif seimbang, terkadang terlalu menjadi ekstrim atau ruwet itu hanyalah permainan media yang kita tidak tahu persenstase benar-salahnya dan tidak pernah ada rumus untuk menghitungnya serta maksud dibalik publikasi berita-berita tersebut. Jadi media punya potensi besar menjadi alat pengatur hampir disetiap ide gagasan dan pola tingkah manusia Indonesia dalam perkembangan disemua sektor. Lebih jelas yang kurang hanyalah justice, belum sama seperti social justice. Semua bahan yang Indonesia miliki, baik kalangan yang konservatif ataupun yang mengatasnamakan modern sudah cukup mampu membuat tatanan sosial yang baik, dengan tradisi-tradisinya, segala hal bentuk ragam budaya yang sebenarnya menjadi salah satu penunjang utama dalam pengembangan tatanan sosial yang diinginkan, kembali yang kurang hanya tinggal justice (keadilan) dari pemangku kebijakan. Oleh karena kebijakan akan berimplikasi pada pola sifat karakter tatanan sosial dan juga percepatan tatanan sosial dan budaya tersebut berakomodasi dengan zaman teknologi, sehingga tidak menimbulkan disfusi antara tuntutan zaman dan keadaan sosial, juga karena kebijakan juga berimplikasi pada ekonomi rakyat.

Semua aspek menjadi terintegrasi-terinterkoneksi bisa berpisah tapi tidak bisa dipisah-pisahkan, karena segala alurnya menuju muara dan output yang sama. Bisa jadi rumusnya ekonomi-budaya-sosial, jadi maksudnya bukan untuk supaya masyarakat sejahtera secara materalis tapi kebijakan-kebijakan yang bersentuhan langsung dengan rakyat yang berhubungan dengan ekonomi diusahakan haruslah mencapai titik maksimal kebijakan yang berkeadilan sehingga setelah itu terciptalah budaya, pengamalan budaya, pelestarian budaya, yang perkembangannya tidak dikotomis dengan zaman. Tatanan sosial adalah hasil dari kedua sektor tersebut, sungguhpun bisa jadi ada pendapat lain.

Dalam al-kulliyyat al-khams (lima prinsip universal) perlindungan terhadap keyakinan, terhadap hak hidup, hak berpikir dan mengekspresikannya, hak reproduksi, dan hak perlindungan terhadap harta benda. Tak ada warga negara nomor dua, tak ada yang namanya dzimmi , dalam hukum Indonesia semuanya sama. Jadi bila akhir-akhir ini negara ini mulai digerogoti kembali oleh orang-orang baik yang ingin adanya formalisasi syar’iat atau macam-macam hal, merupakan sesuatu yang miris. Sekarang kita sudah jauh banyak terjebak dalam perdebatan-perdebatan yang tidak menguntungkan karena hanya bergeliat disitu-situ saja, lupa akan kemajuan dunia, teknologi, sosial, keilmuan, karya-karya, dan semacamnya. Sedangkan anak Indonesia yang orang tuanya tidak bisa menyekolahkan anaknya, mereka hanya yang penting hari ini masih bisa bernafas itu sudah mereka syukuri tanpa memperdulikan, memperhatikan, bahkan mengerti apa yang kita perdebatkan, lebih parah apa yang kita perdebatkan tidak seminimalnya berhubungan dengan apa yang mereka rasakan. Berpikir maju, luas, ataupun expert dibeberapa bidang boleh karena pada akhirnya demi kebaikan bersama think global and action local.

Semoga dikemudian hari demi hari Indonesia akan tetap berkembang, perkembangan kita untuk Indonesia. Terus su’ubawwaqoba ila lita’arafu, saling mengenal antar sesama anak bangsa, karakternya, segala bentuk konflik, debat, sehingga membuat seolah negeri ini menjadi carut murut sungguh suatu yang harus disyukuri, oleh karena bagaimanapun justru itulah yang menambah khazanah keilmuwan kita, pergerakan kita. Tidak perlu iri dengan negeri-negeri seberang, kemajuan mereka, pentingnya harus ada yang rela kotor-kotoran, terhinadinakan, teraniaya, ataupun bersusah payah demi memperbaiki jalan-jalan tikus yang menjadi tempat sebenarnya yang harus lebih diprioritaskan untuk dibenahi, karena tidak boleh diabaikan seekor tikus bisa jadi koruptor, maka datangilah sarangnya.

Semangat keberagaman dimulai saat Ahlu-sunnah Wal Jama’ah muncul zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan sebagai sebuah istilah semangat inklusivisme, persatuan, baik kalangan umawi, syi’ah, khawarij, dll. Serta juga konsep tarbi’ (Abu bakr, Umar, Utsman, Ali) yang sukses dikembangkan yang sebenarnya sebuah kesepakatan dan bukan dogma seperti yang kita yakini hari ini. Sehingga muncul slogan terkenal nahnu jama’atun wahidah tahta rayati din Allah (kita semua adalah anggota jama’ah yang tunggal dibawah bendera agama Allah). Jadi jika dinegeri yang Pancasilais ini kita yang menamengi diri ASWAJA tapi pola pikirnya masih menunjukan tanda-tanda ekslusivisme, maaf kita sampai kapanpun tidak akan jadi seperti Issac Newton. Gak pake Kiyai Haji.

Masih banyak hal yang ingin dituliskan, dirapikan dalam tulisan ini, tapi dirasa itu akan lebih baik jika nanti respon-respon dibelakang akan membuat kajian semakin berkembang. Tapi kekurangan dalam tulisan ini tetaplah kekurangan karena sedang menunggu pelengkapnya dari kawan seperjuangan.  Indonesia, TANAH AIR KITA !!! Untuk itu saatnya kita semua berkata nahnu jama’atun wahidah tahta rayati indhonasia KITA ADALAH ANGGOTA JAMA’AH YANG TUNGGAL DIBAWAH BENDERA INDONESIA !! :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar