Sekali lagi, diujung pena ini curahan
segenap bentuk usaha transformsasi cinta untuk sebuah negeri bernama Indonesia.
Tidak jadi masalah jikalau goresan ini sedikit atau bahkan tidak ada yang akan
melihatnya, yang jadi masalah adalah ketika tidak ada daya usaha mencurahkan
sama sekali goresan untuk Nusantara. Kata ‘ujung pena’ jangan terlalu
dipermasalahkan, memang itu hanya metafora karena pada faktanya untuk sekelas
zaman sekarang, jarang dan bahkan sudah tak ada lagi yang menulis langsung
dengan pena.
Negeri ini baru saja melakukan perayaan
ulang tahunnya yang ke-71 tepat ditanggal dimana dahulu Bung Karno membacakan
proklamasi kemerdekaan tanah dikebon belakang kita salah satunya. Uniknya,
tidak semeriah dan semerah dulu ketika kita masih lengoh. Mungkin hipotesa awal adalah bukan karena nasionalisme
mulai luntur, tapi karena semua orang Indonesia sudah merasa merdeka karena itu
merayakan kemerdekaan Indonesia saja mereka merasa merdeka untuk memilih ikut
atau tidak, atau bisa jadi hanya tentang metoda cara perayaannya saja yang
mulai kreatif-inovatif bentuknya baik secara bersama-sama, kelompok, dan
masing-masing individu. Harap semuanya tidak harus terlalu serius merespon itu,
karena pasti ujung-ujungnya perjuangan legal-formalistik yang paling
diperhatikan untuk menangani itu semua yang pada kenyataannya seketat-ketatnya
aturan yang dilegitimasi secara tekstual, khusus di Indonesia pasti bolong
juga, karena sebenarnya bukan itu inti permasalahannya, dan juga karena sebuah
nasionalisme tidak bisa digantikan dengan secarik tulisan yang dilegitimasi menjadi
sebuah aturan. Jujur itu jauh dari ‘sama dengan’.
Kemerdekaan
atau Independence Indonesia menurut
Bung Karno hanyalah sebagai pintu gerbang. Setelah itu tentang keadilan,
persamaan, dan demokrasi korelasinya tidak bisa dipaksakan dengan euforia
kejayaan sejarah dulu. Maksudnya, kalau kata sang proklamator kita orang
Indonesia ini terlampau lama hanya memanfaatkan kerak kemampuannya tidak
menyalakan apinya. Sekarang-sekarang sudah ada yang menyalakan apinya tapi
justru malah yang terbakar hutan-hutan disumatera dan kalimantan. Dan,
pelakunya bebas. Mari kita analisis bersama Indonesia setelah ‘pintu gerbang’ itu baik dengan
perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan jikalau ada relasi dengan subordinat
lainnya.
Bolehlah
kita apresiasi terlebih dahulu segala bentuk-bentuk kemajuan secara sosial
dinegeri ini dari kemerdekaan sampai pula sekarang ini. Dimana, humanity atau Hak Asasi Manusia telah
menjadi kalimat konsumsi masyarakat kita secara luas dengan memang tema besar
itu harus menjadi salah satu pokok dan syarat dari pada sebuah masyarakat
modern dunia. Tentu saja pro-kontra sudah menjadi alamiah (nature) dari individu manusia yang dilengkapi akal pikiran dan
indra sebagai alat pembaca keadaan sekitar. Indonesia punya potensi sebagai stick holder dari keadaan sosial yang
memiliki perbedaan yang sangat kaya untuk contoh masyarakat dunia. Kalau perlu
jujur pada hati nurani disetiap jiwa-jiwanya masyarakat Indonesia secara
komprehensif, mungkin saja kita bisa berkata no try to teach me about humanity ! Tidak peduli benar atau salah
ejaannya, wong Indonesia kok.
Sebagian
masyarakat pro HAM di Indonesia bisa dibagi menjadi beberapa kategori, mungkin
yang paling umum adalah pertama yang mengerti secara komprehensif HAM dan kedua
yang awam yang hanya memahami HAM menurut tafsiran dewek. Permasalahannya adalah apakah kita akan menerapkan HAM yang
arkitipe dengan yang ada dipola corak masyarakat barat khususnya Eropa ? Atau
akan ada adaptasi sosial dan budaya (nurture)
dengan pola corak masyarakat Nusantara ? Paling penting substansinya pokoknya
HAM, masalah bentuk-bentuk penerapan yang penting tidak dimonopoli untuk satu
kepentingan golongan.
Selain
itu zaman ini ada semacam fenomena marginalisasi peran generasi muda atau
marginalisasi generasi muda dari poros perhatian prioritas pembenahan baik
secara kebijakan birokrasi ataupun secara prioritas polarisasi sosial-kultural
kebanyakan masyarakat Indonesia, generasi muda menjadi hanya subordinat akurasi
bidang yang perlu diperhatikan, aktivis hanya bermain elitis dan kegiatannya
lebih berpihak kepada yang sifatnya jangka pendek karena memang itu yang
menguntungkan dan yang sifatnya jangka panjang perjuangannya lebih berat dan
terkadang sering dilupakan. Konstelasi kebudayaan internasional baik dari
barat, timur, tengah, bersintesa dalam peradaban manusia Indonesia dewasa ini,
khususnya generasi muda. Kelebihannya, nilai komersial-eksploitatif dan
industri pasar hiburan Indonesia meningkat pesat, baik ranah musik, tari, seni,
dan lain sebagainya. Hebatnya lagi sebagai masyarakat yang sangat memuliakan
tamu, di Indonesia barang luar seolah adalah yang pasti kualitasnya diatas
barang lokal, berbentuk apapun itu.
Kita
masyarakat yang mengerti sudah sedikit mulai aga priyayi sulit masuk kebawah, kalaupun kebawah hanya ranah jangka
pendek. Kalau dianalogikan, sudah terlampau banyak orang-orang akademisi,
praktisi, dan lainnya yang sudah menjadi pohon tinggi (berprestasi), maka perlu
adanya orang-orang yang hanya dengan pohon yang rendah tapi ranting dan
daun-daunnya dapat menaungi, meneduhi orang-orang dibawahnya. Sekarang sulit
membedakan pemuda kota atau pemuda desa, karena orientasinya mayoritas sama
karena kita telah dimekanisme dengan konsumsi publik yang membentuk
mental-mental jiwa orang Indonesia khususnya generasi muda untuk dibentuk ya
begitu, entah untuk jadi alat pembebasan atau penindasan kita tidak pernah tahu
dan tidak mau tahu, masing-masing kita kehilangan identitas diri.
Pendidikan
sebagai ordinat dari semua aspek perspektif haruslah jadi tonggak utama
pembenahan baik secara formal ataupun non formal. Saat ini sudah menjadi
rahasia umum bahwa banyak siswa-siswa yang belum pada umurnya sudah bisa
dijumpai ditempat-tempat umum merokok misal, dan kita tidak bisa berbuat
apa-apa selagi hanya duduk-duduk dan hanya ikut andil memaki mereka saja. Dan,
paling menghina logika sehat manusia adalah dimana peristiwa rokok
disekolah-sekolah seolah dilarang dan menjadi barang yang sangat berbahaya, hal
itu disosialisasikan oleh tenaga-tenaga pendidik hampir dominan. Sedangkan pada
faktanya rokok dijual secara meluas diseluruh Indonesia, apakah ada tanda-tanda
rokok sangat-sangatlah berbahaya ? Maksudnya carilah alternatif solusi untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang nantinya kompleks ini. Alangkah baiknya jika
objek ‘rokok’ dalam hal ini tidak dijadikan kambing hitam dalam pendidikan,
penjelasan-penjelasan oleh pendidik lebih menitikberatkan pada keadaan tidak
menyimpulkan ‘rokok’ tersebut boleh atau tidak boleh, tapi lebih kepada
penjelasan baik-buruk manfaat-mudharat setelah itu beri mereka kebebasan
memilih dengan tidak mengenyampingkan peraturan disekolah tidak boleh merokok
tentunya, realistis saja. Bukan hanya untuk masalah ‘rokok’ tapi gejala-gejala
yang lain. Metoda-metoda seperti ini memang tidak mutlak, bisa saja ada
modifikasi tapi ini hanya sedikit saran secara psikologis. Ini merupakan
personifikasi dimana terkadang dibeberapa sekolah, antara yang diberi disekolah
dengan sosial masyarakat secara luas tidak ilmiah, atau kurang sinkron.
Budaya-budaya
hedonis telah menjalar dengan hampir holistik diseluruh Indonesia karena
teknologi media sebagai penunjang penyebaran cepat tentunya. Kebahagiaan itu
diukur dengan seberapa banyak anda menang dalam kompetisi materalistis, mirip dengan
teori Kaptalisnya Weber. Menurut Anies Baswedan orang Indonesia yang masih
melihat kekayaan Indonesia itu lewat sumber daya alamnya, kemajuan
fasilitasnya, itu kalaupun menamengi diri membela kepentingan rakyat sebenarnya
itulah otak-otak kaptalis. Stephen R Covey adalah tokoh yang sangat cocok
teorinya untuk keadaan Indonesia hari ini, dimana kompetisi, interaksi antar
manusia adalah kerja sama dan hasilnya diusahakan win/win tidak ada yang dirugikan.
Generasi kita telah terjebak dengan mindshet ekonomi dimana uang itu
dihasilkan dari gaji hasil kerja entah jadi buruh, karyawan, dll. Dan, dengan
peningkatan ekonomi Indonesia yang katanya terus meningkat berapa persen tiap
tahun sehingga dipuji G-20 sedangkan masyarakat termasuk kita melohok bingung, iki opo rek. Kenyataannya kita lapar
tapi kita hidup, karena terlalu sering kita lapar, dan diberi makan secara
cuma-cuma dengan gratis entah itu bentuk BLT atau makhluk lainnya, kita jadi
manja.
Katanya akan ada suatu masa dimana
masyarakat dunia tidak ada yang mau menerima sadaqah , bisa jadi hal itu terjadi karena sistem tukar dengan uang
kertas memang jelas berbeda dengan sistem barter dulu yang keadaan terus
seimbang (beras ditukar gandum), atau dengan emas atau perak (yang secara nyata
bernilai). Sistem ini memungkinkan yang sebenarnya barang pokok kebutuhan hidup
semacam beras, gandum, jagung, akan lebih sedikit dari uang kertas yang
berputar. Jika kita analisis, dan kontekstualisasikan maka bisa jadi masa
diatas yang masyarakat dunia tidak ada lagi yang mau menerima sadaqah itu berhubungan dengan
kemungkinan dari sistem diatas, yang khusus di Indonesia mata uang kita terus
turun nilai tukarnya. Hubungannya adalah dengan mindshet pemuda sekarang yang menginginkan uang dari hasil kerja
sedangkan dia punya kemampuan mengeksploitasi lahan yang dipunya, misal kebun
singkong dan dengan pendidikan yang telah dia tuntut, bolehlah sedikit kreasi
dari produksi singkongnya bisa meningkatkan nilai marketnya. Anak ekonomi
mungkin akan lebih khatam, terkadang
poros perhatian kita selalu sesuatu yang belum tentu kita genggam sedangkan
yang kita punya tidak dimaksimalkan potensi-akurasinya.
Intinya pasca-kemerdekaan Indonesia
ranah sosial, budaya, ekonomi mengalami perkembangan. Perkembangan itu
tergantung dari sudut pandang mana diukurnya. Boleh jadi, bagi sebagian
kalangan ini (Indonesia) kondisi yang sudah baik, tapi untuk sebagian lainnya
mungkin saja buruk. Dalam perkembangannya life
of society Indonesia mengalami fluktuatif yang relatif seimbang, terkadang
terlalu menjadi ekstrim atau ruwet itu
hanyalah permainan media yang kita tidak tahu persenstase benar-salahnya dan
tidak pernah ada rumus untuk menghitungnya serta maksud dibalik publikasi
berita-berita tersebut. Jadi media punya potensi besar menjadi alat pengatur
hampir disetiap ide gagasan dan pola tingkah manusia Indonesia dalam
perkembangan disemua sektor. Lebih jelas yang kurang hanyalah justice, belum sama seperti social justice. Semua bahan yang
Indonesia miliki, baik kalangan yang konservatif ataupun yang mengatasnamakan
modern sudah cukup mampu membuat tatanan sosial yang baik, dengan
tradisi-tradisinya, segala hal bentuk ragam budaya yang sebenarnya menjadi
salah satu penunjang utama dalam pengembangan tatanan sosial yang diinginkan,
kembali yang kurang hanya tinggal justice
(keadilan) dari pemangku kebijakan. Oleh karena kebijakan akan berimplikasi
pada pola sifat karakter tatanan sosial dan juga percepatan tatanan sosial dan
budaya tersebut berakomodasi dengan zaman teknologi, sehingga tidak menimbulkan
disfusi antara tuntutan zaman dan keadaan sosial, juga karena kebijakan juga
berimplikasi pada ekonomi rakyat.
Semua aspek menjadi
terintegrasi-terinterkoneksi bisa berpisah tapi tidak bisa dipisah-pisahkan,
karena segala alurnya menuju muara dan output yang sama. Bisa jadi rumusnya
ekonomi-budaya-sosial, jadi maksudnya bukan untuk supaya masyarakat sejahtera
secara materalis tapi kebijakan-kebijakan yang bersentuhan langsung dengan
rakyat yang berhubungan dengan ekonomi diusahakan haruslah mencapai titik
maksimal kebijakan yang berkeadilan sehingga setelah itu terciptalah budaya,
pengamalan budaya, pelestarian budaya, yang perkembangannya tidak dikotomis
dengan zaman. Tatanan sosial adalah hasil dari kedua sektor tersebut,
sungguhpun bisa jadi ada pendapat lain.
Dalam al-kulliyyat al-khams (lima prinsip universal) perlindungan
terhadap keyakinan, terhadap hak hidup, hak berpikir dan mengekspresikannya, hak
reproduksi, dan hak perlindungan terhadap harta benda. Tak ada warga negara
nomor dua, tak ada yang namanya dzimmi ,
dalam hukum Indonesia semuanya sama. Jadi bila akhir-akhir ini negara ini mulai
digerogoti kembali oleh orang-orang baik yang ingin adanya formalisasi syar’iat
atau macam-macam hal, merupakan sesuatu yang miris. Sekarang kita sudah jauh
banyak terjebak dalam perdebatan-perdebatan yang tidak menguntungkan karena
hanya bergeliat disitu-situ saja, lupa akan kemajuan dunia, teknologi, sosial,
keilmuan, karya-karya, dan semacamnya. Sedangkan anak Indonesia yang orang
tuanya tidak bisa menyekolahkan anaknya, mereka hanya yang penting hari ini
masih bisa bernafas itu sudah mereka syukuri tanpa memperdulikan, memperhatikan,
bahkan mengerti apa yang kita perdebatkan, lebih parah apa yang kita
perdebatkan tidak seminimalnya berhubungan dengan apa yang mereka rasakan.
Berpikir maju, luas, ataupun expert dibeberapa
bidang boleh karena pada akhirnya demi kebaikan bersama think global and action local.
Semoga dikemudian hari demi hari
Indonesia akan tetap berkembang, perkembangan kita untuk Indonesia. Terus su’ubawwaqoba ila lita’arafu, saling
mengenal antar sesama anak bangsa, karakternya, segala bentuk konflik, debat,
sehingga membuat seolah negeri ini menjadi carut murut sungguh suatu yang harus
disyukuri, oleh karena bagaimanapun justru itulah yang menambah khazanah
keilmuwan kita, pergerakan kita. Tidak perlu iri dengan negeri-negeri seberang,
kemajuan mereka, pentingnya harus ada yang rela kotor-kotoran, terhinadinakan,
teraniaya, ataupun bersusah payah demi memperbaiki jalan-jalan tikus yang
menjadi tempat sebenarnya yang harus lebih diprioritaskan untuk dibenahi,
karena tidak boleh diabaikan seekor tikus bisa jadi koruptor, maka datangilah
sarangnya.
Semangat keberagaman dimulai saat
Ahlu-sunnah Wal Jama’ah muncul zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan sebagai
sebuah istilah semangat inklusivisme, persatuan, baik kalangan umawi, syi’ah,
khawarij, dll. Serta juga konsep tarbi’ (Abu
bakr, Umar, Utsman, Ali) yang sukses dikembangkan yang sebenarnya sebuah
kesepakatan dan bukan dogma seperti yang kita yakini hari ini. Sehingga muncul
slogan terkenal nahnu jama’atun wahidah
tahta rayati din Allah (kita semua adalah anggota jama’ah yang tunggal
dibawah bendera agama Allah). Jadi jika dinegeri yang Pancasilais ini kita yang
menamengi diri ASWAJA tapi pola pikirnya masih menunjukan tanda-tanda
ekslusivisme, maaf kita sampai kapanpun tidak akan jadi seperti Issac Newton.
Gak pake Kiyai Haji.
Masih banyak hal yang ingin dituliskan,
dirapikan dalam tulisan ini, tapi dirasa itu akan lebih baik jika nanti
respon-respon dibelakang akan membuat kajian semakin berkembang. Tapi kekurangan
dalam tulisan ini tetaplah kekurangan karena sedang menunggu pelengkapnya dari
kawan seperjuangan. Indonesia, TANAH AIR
KITA !!! Untuk itu saatnya kita semua berkata nahnu jama’atun wahidah tahta rayati indhonasia KITA ADALAH ANGGOTA
JAMA’AH YANG TUNGGAL DIBAWAH BENDERA INDONESIA !! :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar