Kamis, 22 Desember 2016

Tadabur Diri 1

Salam sejahtera untuk kita semua.
Tanggal 22 Desember 2016 merupakan hari kamis yang dengan sangat luar biasa bertepatan dengan hari Ibu. Semoga Ibunda kita masing-masing selalu diberi kemudahan, kesehatan, panjang umur, atau mungkin bagi yang sudah tiada semoga selalu berada dilindungan, ridho, dan sisi-Nya. Amin.

Inilah sepenggal kisah.

Merenungkan wajah, ucapan, wejangan, perlindungan, pelukan, ciuman, kekhawatiran, dan segala bentuk-bentuk cinta kasih ibu membuat hati ini teriris mengingat dengan umur, kesalahan-kesalahan, dan apa manfaat aku hari ini bagi lingkungan, masyarakat, keluarga, dan lain sebagainya. Jika dibandingkan perjuanganmu bu... untuk aku... mungkin sudah selayaknya aku menjadi manusia terpelajar yang proaktif disetiap wadah aktualisasi yang aku jumpai, tapi faktanya sedari dulu aku tetap memble.. Ingatanku akan gelapnya masa lalu menjadi trauma akut yang tak berkesudahan mengganggu psikologisku sehingga implikasinya menyentuh kehidupan sosialku.

Aku adalah seorang laki-laki satu-satunya dikeluargaku, umurku 19 tahun, dan ayahku telah tiada ketika dulu aku sekolah menengah atas. Sudah tentu aku yang diharapkan keluargaku, kakak-kakakku, untuk menjadi sosok pengganti ayah dikeluarga, meski ku rasa aku belum sanggup, bahkan untuk sekedar menjadi pengganti memenuhi kewajiban sosial dimasyarkat sebagai pengganti ayah, tanpa perlu menafkahi, dan memang bukan nafkah yang diharapkan ibunda dan keluargaku.

Ke-introvertan diriku ini menyiksaku, bagaimana tidak disaat lingkungan yang masih homogen dengan karakteristik kebudayaan yang masih kental, aku pemuda pemalu yang individualistik berada tanpa efek ada ataupun tiada bagi sebagian mereka. Perjalanan hidupku sesungguhnya secara lahiriah mungkin orang-orang akan menganggap aku bahagia, nyatanya tidak. Kontemplasi yang aku lakukan mencoba terus pahami dan berhusnuzhon disetiap kejadian, meskipun tanpa dipungkiri terkadang disaat tertentu saat aku masih bersekolah menengah aku memaki diriku, wajahku, badanku, pada pantulan dicermin, itu menyakitkan, sekali waktu dibumbui dengan adegan-adegan dramatis khas film-film dimana aku menyakiti diriku sendiri secara fisik karena ketidakmampuanku memahami nikmat ilahi dikejadian yang aku alami.

Kata 'bunuh diri' seolah bukan hal asing, tapi hampir menjadi produksi yang tak terlupakan oleh proses pikiran diotak hampir dikeseharian, bisa disebut kata yang menjelma menjadi sahabat sejati. Itu seperti obat penahan rasa sakit, tidak menyembuhkan, tapi lumayan untuk sesaat mengusir kegilaanku-untuk tidak mengatakan stres kronisku. Ibundaku pernah atau sering menangis karena kelakuanku, keadaanku, suatu waktu dia berkata "dosa apa ibu dulu, sehingga nasibmu begini" itu sedikit bisa menghiburku walau gelap hatiku berkata kalimat ibu itu berarti menyesal melahirkanku, setelahnya perang saudara terjadi didalam batin.

Kelam karena sebenarnya hal-hal yang membuat seperti itu sangat meluas faktornya sehingga jika terucap satu persatu akan menyelesaikan bait perbait yang memakan tinta dan kertas yang tak terhitung serta jika terucap semuanya seolah mengumbar aib-aib dan juga keluh kesah yang dirasa tak patut untuk dibagikan, tapi hendak berkata apalagi ketika jiwa ini sudah tak tahan menampung perasaan yang ingin terucap tapi tak sanggup mengutarakan, aku harap Tuhan tersenyum ketika aku melukiskan perasaan ini bukan murka-Nya yang datang juga kepada sedulur-sedulurku yang sama memiliki sandungan yang bersemayam telah lama dijiwanya.

Aku memandang dengan hanya satu mata, bukan karena buta tapi ambliopia, entah benar atau salah penulisannya tak peduli, toh bukan kata yang indah untuk didendangkan. Ambliopia adalah nama penyakit atau kelainan dimana mata yang normal hanya satu yang satunya diabaikan oleh otak untuk bagaimana hanya fokus dipancaran gambar disalah satu mata sehingga efek fisiknya adalah mata lelah atau mata malas disalah satu mata dan terkadang menjadi terlihat juling. Nah, itulah salah satu penyebabnya, sebenarnya bukan karena itu aku tak terima tapi sudah pasti tanggapan teman sebaya dulu, komunikasi sosial, kehidupan sosial, menjadi banyak terhambat, pendidikan, pembelajaran, berkarya, menjadi susah karena terlalu minder dan takut dengan ejekan orang-orang, atau salah pahamnya orang-orang, yang radikalnya ketika berhadapan dengan perempuan, sungguh sebuah ujian yang mungkin bagi yang membaca biasa saja. Tapi, bayangkan proses tekanan yang terjadi sedari kecil berkelanjutan sampai sekolah, sehingga  aku mengecap diri ini tak berguna, tak bermanfaat, dan penilaian-penilaian lain yang menambah benar gambaran itu aku dikeadaan realistiknya.

Lagu, musik, galau, sunyi, senyap, sepi adalah sahabat-sahabat terbaik. Aku bukan orang yang pandai berkata dan bercerita jadi maaf bila tulisan ini begitu abstrak dan sulit diinterpretasi, aku hanya bisa mengucap semoga cerita-cerita ini, pengalaman ini, tak terjadi pada siapapun lagi khususnya orang-orang disekelilingku. Ejekan takut menjadi nyata, bangkitku kadang kembali menuju keterpurukan, aku butuh sesuatu, sesuatu yang menjadi stimulus energi kehidupan untuk tetap semangat melakukan keseharian bagi diriku sendiri sampai setelahnya harapnya bermanfaat bagi orang lain. Amin.

Tuhan menitipkan kekurangan itu karena dia tahu akulah yang mampu memegang amanah ini. Semua orang diciptakan secara sempurna, jadi walaupun dilahirkan tanpa tangan misalkan berarti itu kadar kesempurnaan yang diberikan Tuhan pada orang itu karena kita tidak pernah tahu dibalik itu semua yang ada dibalik tirai rahasia yang diberikan-Nya.

Penderitaan adalah bisa jadi ujian, dan menurutku penderitaan itu diperlukan oleh setiap insan yang berekonstruksi, berkembang, demi grows, karir, serta pemahaman hidup yang nantinya boleh dikata matang. Ada yang lebih mengerikan daripada ujian berbentuk penderitaan, yaitu ujian yang berbentuk anugerah, kelebihan, yang terkadang sulit untuk menyadari bahwa itu adalah ujian dan cobaan, sangat tipis sekali dengan nikmat atau itu kenikmatan yang dibeberapa sisi bisa jadi ujian ketika tidak bisa mengoptimalisasikan itu untuk kebaikan bagi sesama.

Tidak ada yang namanya cacat fisik yang ada itu ialah cacat hati.
Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar