Hari kemarin jumat, tanggal 1 April 2016 merupakan hari bersejarah bagi rakyat diwilayah Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten karena merupakan HUT Pandeglang yang ke-142. Itu berarti Kabupaten Pandeglang atau adanya pemerintahan di Pandeglang lahir tanggal 1 April 1874 saat zaman kolonial Belanda. Hasil riset dari berbagai komponen dan lapisan masyarakat untuk meremukan dan menyimpulkan bahwa Pandeglang berdiri pada tanggal 1 April 1874 lebih
jelas lagi dalam Ordonansi 1887 No. 224 tentang batas-batas wilayah
Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam
tahun 1925 dengan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14
Agustus 1925 No. IX maka jelas Kabupaten telah berdiri sendiri tidak di
bawah penguasaan Keresidenan Banten.
Bertepatan dengan HUT Pandeglang itu juga, beberapa organisasi mahasiswa melakukan aksinya outputnya hanya untuk ikut berpartisipasi dalam acara dan memberikan konstribusi masukan dan kritik-konstrukstif pada kepengurusan sebelumnya, dan ingin kepengurusan pemerintahan Kabupaten Pandeglang yang sekarang baru terpilih bisa untuk bersedia mendengarkan mahasiswa sebagai kaum pemuda intelektual daerah yang juga termasuk komponen yang memiliki hak untuk berpendapat mengaspirasikan suaranya untuk memproposisikan diri mereka, seyogyanya mahasiswa agent of control, dan pergerakannya bisa menjadi komposisi yang lezat bagi proses pemerintahan yang ada. Beberapa organisasi tersebut adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Keluarga Mahasiswa Cibaliung. Tapi karena beberapa hambatan dari kepolisian yang membawa dan di back up oleh kaum Jawara yaitu Laskar Berkah untuk menghindari keributan dan bentrok Mahasiswapun mundur jadi mereka hanya bisa mengaspirasikan sedikit daripada masukan dan tuntutan buat saudara-saudara birokrat Pandeglang.
Kekuatan dan kemenangan mahasiswa serta pergerakan dan perjuangannya tidak hanya sebatas ceremony belaka hanya untuk formalitas program organisasi agar tidak ada reduksi kreatifitas anggota Organisasi mahasiswa, tapi lebih daripada itu lebih daripada hanya sekedar "gagah-gagahan" konotasinya murni karena ingin bergerak mengeksplor dan terus mengevaluasi serta mengontrol perkembangan bangsa & negara dengan pendapat dan persepsi-persepsi subjektif mereka masing-masing, dan... tidak ada masalah. Kebebasan pers yang selama ini disuarakan ketika aksi tersebut bisa disebut hanya takhayul, dilindungi UU hanya takhayul, seolah-olah oknum-oknum yang merasa bersalah terancam dan ketakutan, Lucunya... Kenapa harus ? Kenapa harus hidup sampeyan-sampeyan ini dibikin ruwet dan ribet wahai sang penguasa birokrasi, hukum, dan keamanan ? Padahal anggap saja pergerakan-pergerakan mahasiswa ini yang menimbulkan pergolakan selama kawan-kawan tidak anarkis anggap saja sebuah tampilan "seni" kehidupan dan implementasi percontohan dari bapak proklamator kita Bung Karno dengan orasi-orasinya. Soekarno sebagai orator ulung bisa mengajak secara persuasif-psikologis rakyat untuk tetap tertanam namanya nasionalisme didalam jiwa-jiwa rakyat. Terlepas adanya yang suka dan tidak suka pada sang proklamator, tapi titik temunya adalah dimana bangsa Indonesia ini tidak akan merdeka kalau tanpa Bung Karno. Pertunjukan seni mahasiswa yang dilakukan dengan orasi-orasinya dijalan, tempat terbuka, dimuka umum, merupakan manifestasi dari semangat juang kemerdekaan, semangat juang pahlawan-pahlawan dari berbagai macam lapisan kaum intelektual, budayawan, sastrawan, agamawan, ulama-ulama, dan lain-lain dari berbagai suku dan latar belakang bersatu demi terciptanya kemerdekaan yang sudah sejak lama dimimpikan diimpikan. Kamipun percaya, suatu saat benar adanya sebuah pernyataan kalimat Soekarno yang menyatakan bahwa suatu saat Indonesia bakal menjadi "mercusuar dunia". Kami masih menunggu itu, kami masih berusaha ikut terlibat memperjuangkan juga, sebagai alasan adalah Soekarno, Soekarno yang sangat menghargai pemuda potensinya, bakatnya, dan generasi pemudalah yang bakal merubah, mereformasi dari yang baik menuju yang lebih baik.
Harapannya pemerintah tidak hanya menjadi kipas angin yang memiliki dua fungsi, pertama untuk menghilangkan panas, contohnya pemerintah akan bilang "Hargailah tahap-tahap pembangunan.." ketika mereka terpojokan oleh suara kritik rakyat. Satu lagi, fungsi dimana kipas angin justru menjadi pelopor stimulus hawa panas itu sendiri sama halnya tukang sate yang memanggang bara apinya, beberapa dari mereka yang menggunakan cara-cara konvensional memakai kipas tradisional dan lainnya ada yang sudah memakai kipas angin, nah... contoh sikap pemerintahnya adalah saat pembangunan terasa kering dan masyarakat sudah mengindikasikan sikap-sikap yang apatis, mereka akan berkata "Mari bersama-sama ikut berkontribusi dan meningkatkan rasa memiliki akan pembanguan...". Meskipun fungsi kipas angin ini hanya sebagai analogi dari hasil analisi subjektif penulis tapi ini bisa jadi bahan kontemplasi positif-negatifnya.
Jadi intinya, dinamika yang terjadi terasa sangat indah dinegeri tercinta ini bagai pelangi dengan warna warninya tapi tetap disebut satu yaitu "pelangi" tak pernah yang lain, terkecuali hanya beda bahasa saja. Negeri ini dengan keunikan tipologinya, dan cabang-cabangnya juga dari tipologi itu seperti sektetarian, primordial, aliran-aliran keagamaan, bukanlah hal-hal yang tendensinya mengarah pada orientasi pengkotak-kotakan sebagaimana dikampus-kampus dengan berbagai organisasinya dengan beragam ideologinya, itulah bhineka tunggal ika itulah manifestasi nyatanya. Dewasa ini, berbagai dekadensi dinegeri Indonesia negerinya para cendekia muda Nusantara ini, wabilkhusus... didaerah Pandeglang sebagai spesifikasi pembahasan tulisan ini tidak serta merta mendekadensi semangat juang pemuda-pemudi Indonesia yang nyatanya walau harus tereduksi oleh budaya-budaya barat diserang dari berbagai arah untuk melemahkan kami para pemuda. Jadi analoginya pemuda mahasiswa sekarang seperti atmosfer yang lapisannya sudah banyak yang bocor tapi tetap dengan tekad dan itikad yang baik sesuai dengan fungsinya melindungi bumi dari radiasi matahari yang berlebihan.
Semoga kawan-kawan yang membaca akan tetap menjunjung tinggi NKRI, Pancasilanya, serta beragam hasil cipta rasa dan karya para pendahulu bangsa, boleh dengan berbagai referensi, boleh mengkomparasikan dengan berbagai ideologi, sejarah luar negeri, untuk terus mengeksplor, meningkatkan juga menambah wawasan generasi muda Indonesia untuk akhirnya kami akan sampai pada titik dimana usaha-usaha tersebut mencapai sebuah kalimat bahwa "Inilah Indonesiaku... bagaimanapun Indonesia tetaplah aku yang akan mempahit maniskannya aku, bukan yang lain.."
Semoga tulisannya bermanfaat, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan sebagai salah satu aplikasi budaya gotong royong bangsa kita!!! :)

Semangat demi perubahan negeri ini kawan....semoga tulisan ini tersampaikan kepada petinggi negara..khususnya petinggi kab pandeglang. Perubahan nyata suatu bangsa terletak pada generasi muda yg intelek.
BalasHapusSip, makasih kawan !! :)
Hapus