Hari itu seorang pemuda telah dimabuk asmara terhadap seorang wanita yang cantik jelita. Pemuda polos yang sebelum-sebelumnya merupakan pemuda yang kurang-tidak tahu menahu dunia luar terlalu banyak. Dunia yang penuh dengan keunikan; dimana ada yang hitam ternyata putih dan yang putih ternyata hitam padahal kenyataannya itu fluktuatif dan wajar karena kalau hidup tanpa statistik seperti nada musik tanpa gelombang frekuensi. Pemuda itu merasa bahwa siwanita merupakan perwujudan yang sempurna yang diciptakan oleh TuhanNya sebagai cinta sejatinya. Tapi karena sifat karakter pemuda ini pemalu dan minderan dia sangat sulit-bahkan hanya untuk bercengkrama ataupun saling sapa menyapa, jadinya sipemuda terkadang dicap seperti angkuh dan sombong karenda sifatnya itu. Harus tahu bahwa karakter sifat itu bisa jadi mengikuti teori genetika dimana sifat-sifat itu memang dibawa sejak lahir, atau mungkin saja sesuai dengan karakter bintang yang lahir dibulannya, itukan faktor. Selain faktor-faktor tersebut, yang paling rasional adalah faktor lingkungan; baik lingkungan keluarga, masyarakat, atau bahkan pendidikan formalnya atau sekolah bahkan mungkin dibalik bilik pondok pesantren. Banyak hal didunia ini yang boleh kita kenang, bernostalgia, asal jangan sampai terngiang-ngiang dan jadi gila.
Mabuk cinta pemuda sudah mencapai puncak ekstase, dirinya liar, dirinya bukan dirinya lagi. Pemuda merasa adanya berkah Tuhan ketika sang wanita bermanuver terlebih dahulu untuk berorientasi dengannya. Bunga bertebaran diimajinya, jiwanya berlumuran dengan coklat manis yang siap dikolaborasikan dengan strawberry manis siwanita pujaan hatinya-menurutnya. Wanita manis tak kalah riang akan cara manuver overtake-nya pada sipemuda polos ruang & waktu. Waktu demi waktu, sang awan mulai menampakan mendungnya untuk cerita mereka berdua ini, taman bunga romantis lahan mereka bercengkrama yang awalnya bak surga yang tak pernah ada pertentangan, penentangan, perlawanan, apalagi perselisihan, ternyata fatamorgana. Jika untuk berkata surga tidak ada itu naif; karena pada pada hakikatnya mereka berdua belum masuk fase tersebut, asumsi dasar untuk bagaimana tahu bahwa surga atau lawannya neraka itu ada; adalah dengan pemuda atau siwanita meninggal, baru mereka akan tahu kebenaran hakiki, baik ada atau tiada.
Perselisihan; konfrontasi atau konflik yang terjadi antara pasangan sejoli biasanya disebut bumbu penyedap yang akan semakin mengeratkan atau menyedapkan alur kehidupan hubungan keduanya. Pernyataan-pernyataan demikian adalah opini, bisa jadi benar atau bisa jadi salah atau bisa jadi abu-abu atau kopi susu-atau bahkan kopi susu itu benar dan mungkin salah. Kekurangpahaman sosial kultural pemuda digeografisnya sendiri menjadi penyulutnya pula. Pengalaman siwanita akan kondisi-kondisi sosial bahkan keadaan putih bahkan hitam menjadi penyulutnya pula, menjadi faktor juga. Malaikat dilangit mungkin saja menangis tragis melihat kondisi keadaan hubungan yang katanya indah pada umumnya antara dua sejoli ini. Panggung pernikahan seolah menjauh darinya karena puing-puing itu seharusnya menjadi pertanda bahwa proses hubungan yang diikat cinta kudus ini tak harus dilanjutkan karena berbahaya bagi keduanya, prediksinya buram. Tangis adalah tinggal tangis keduanya tetap teguh mempertahankan kredo (prinsip) janji suci ala remaja zaman modern kekinian, hubunganpun dilanjutkan.
Masa-masa pasangan sejoli ini adalah masa dimana gelap telah dijadikan bintang yang dicita-citakan tapi tidak diinginkan hadirnya. Sejarah mereka berlanjut, kehidupan cinta berjalan normal mengikuti arus globalisasi. Keduanya tidak tahu bahaya diatas, dibawah, dibelakang, didepan, dikiri, dikanan, yang jadi musuh nyata. Tepatnya bukan tidak mengetahui, tapi justru terlalu berani-merasa cinta mereka berdua memiliki power mengalahkan musuh-musuh nyata yang lama kelamaan juga bertambah kekuatannya. Sedangkan yang terjadi kekuatan yang katanya cinta sejoli ini kian hari terus melemah digantikan rasa ingin tahu berlebihan menuju arah kegelapan. Syahdu menjadi syahdu. Daging manusia ini tersiram bau busuk perbuatan sendiri yang dilakukan berulang kali. Tuhan tidak marah. Tuhan hanya kecewa dan cemburu karena nikmat luasnya terhadap mereka berdua digantikan nikmat sempit berdua tanpa memperdulikan lainnya, bahkan Tuhannya. Inilah pentingnya Cinta Untuk Semua.
Penyesalahan akan ada diakhir, tapi akhir tidak selalu penyesalan. Akhir bukanlah akhir, karena akhir yang kita anggap hanya awal bangkit dari kesalahan yang disediakan wahana, fasilitas, dan persiapan-persiapannya oleh Tuhan untuk mereka berdua. Entah nantinya mereka berpisah karena Tuhan... atau tetap bersatu karena Tuhan... Tuhan yang menentukan dengan kasih dan sayang, dengan ketetapan dan ketegasannya, karena ketika Dia mengirim hujan dia tak pandang anak kecil atau orang dewasa, hewan apa tumbuhan, hanya yang takut keluar- tetap ingin berada dalam lindungan atap rumah saja yang tak terguyur hujannya. Sama dengan hidayah, rahmat, berkah, atau pintu taubatnya hanya orang yang ingin saja yang mendapatkannya, yang berusaha saja, yang statis dalam naungan belenggu duniawi saja yang jika tidak merubahnya maka tidak akan mendapatkannya. Inallaha laa yu ghoiyiru maa bi qaumin hattta maa bi anfusihim. Sekelas Tuhanpun tidak akan merubah kita sebelum kita ingin dan berusaha merubahnya.
Pemuda tinggal pemuda, wanita tinggal wanita, semoga pintu Cinta sesungguhnya tercurah untuk keduanya, sehingga keduanya bisa berdo'a kembali untuk semuanya. Saya mengerti sekarang kenapa bentuk kesalahan kecil selalu disebut fasad filardh. Contoh saja, disaat kita melakukan satu kali kebohongan maka akan berlanjut kebohongan-kebohongan lainnya. Konektifitas kesalahan ini memang sangat eksplisit, sama seperti implikasi kemewahan pejabat terhadap kemiskinan rakyat hingga berlanjut pada hal yang seolah-olah pure kesalahan rakyat semacam perampokan, perzinahan, datang kekuburan-kuburan (sering dituduh syirik), dan deviasi atau penyimpangan-penyimpangan lain sebagainya.
Membahas parsial pasti komprehensif, lokal pasti global, bahkan relasinya bisa sampai menuju konstalasi internasional, konspirasi internasional. Konstalasi-konstalasi ini sangat rumit dan unik. Kekeringan didaerah pedalaman Indonesia bisa jadi ada korelasinya dengan rapat kerja gedung putih Amerika. Perampokan dibuat rakyat lebih kecil skalanya; tapi seolah lebih besar hinanya karena pelaku tidak memakai baju berjas, berdasi, dan bersepatu pantopel. Perzinahan dilakukan rakyat karena mereka tidak punya biaya nikah atau karena tidak adanya ketegasan hukum atau peraturan tentang hal-hal yang seolah kemajuan semacam teknologi ternyata terdapat embrio daya sifat penghancur moralitas-atau karena keadaan dari luar atau dari dalam diri. Ulama yang selalu menuduh syirik rakyat yang meminta-minta ke kuburan; padahal kesyirikan dalam paket lebih modern sedang terjadi disistem kebirokrasian dibalut dengan gaya perlente kaum aristokrat, artis-artis, tokoh-tokoh, dan lain-lain. Dan, kesalahan-kesalahan lainnya yang sebetulnya siklus dari faktor menuju faktor yang tidak diketahui sumber aslinya.
Saya tidak maksud membela kesalahan, karena kesalahan tetaplah kesalahan. Dan, tidak semua pejabat itu penjahat dan tidak semua rakyat itu baik. Bagi negeri ini, bagi para kaum kita yang mulai ingin berhijrah lebih baik, tumbuhkan benih-benih cinta kita untuk kita, simpelnya untuk semua. Mengakui kesalahan itu boleh yang tidak boleh itu putus asa. Alam ya'lamu annallahaa huwayaqbalu taubata 'an ibadih. Tidak kah mereka ketahui Allah menerima taubat hamba-hambaNya ?. Jangan putus asa !
قُلْ يَا
عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ
رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا
لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada
Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu
kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
Sejelek-jeleknya ulat suatu saat dia bakal jadi kupu-kupu. Sekasar-kasarnya buah durian didalamnya terdapat buah yang manis dan sedap. Sesial-sialnya pertemuan pasti ada pelajaran. Semenyedihkan-menyedihkannya keadaan pasti ada yang bisa diusahakan. Cinta kita untuk semua, bagi muslim mungkin cinta Rasulullah SAW sebagai penyambung lidah kita menuju Tuhan kita karena dia kekasihNya.
Pemuda dan siwanita tadi merupakan perumpamaan suci dimana banyak hikmah dibalik orang-orang bagi sebagian orang menjijikan. Cinta itu tak akan terbatas ruang & waktu bahkan objek yang dicinta. Kita suka karena cinta, kita benci karena cinta, kita peduli dan tak peduli karena cinta. Sehingga hati dan pikiran cinta pasti akan berusaha bertutur kata cinta. Maksudnya berusaha meminimalisir hal-hal yang bakal membuat rasa lebih unggul dari yang lainnya, menyakiti, egois, kepentingan sendiri-sendiri, dll.
Jalan suluk, jalan pengalaman, jalan pengamalan, jalan pengheningan, jalan penginspirasian, jalan pengorbanan, apapun itu apa yang kita bisa dan coba hindari konfrontasi horizontal. Kalaupun ada konflik, selesaikan dengan sebijak-bijaknya karena itulah yang membuat kita dewasa, membuat kita mengamalkan itikad ingin memperbaiki diri dan berharap hadirnya Cinta sejati, Cinta sesungguhnya.
Malam ini mengingatmu, sama dengan mengingat cahaya, mengingat cahaya terkadang lupa mengingatmu karena mengingat cahaya sudah mencakup mengingatmu. Berbalut asap dan sedikit tegukan air kenikmatan hitam, padahal hitam tapi bisa jadi sumber untuk hadirnya putih. Detik ini kumohon hadirkan Cinta Untuk Semua karena kesedihan kita karena praduga dan praktek yang salah oleh kata "Cinta". Terlalu banyak tangis, pahit, pedih, kekacauan, kesusahan, kerusakan, kesalahpahaman karena "Cinta" padahal kita ada dijalan penuh asap yang kita rasa itu bentuk nikmat memabukan "Cinta" padahal asap menuju tersesatnya kita sekarang, sekarang, sekarang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar