Masih terngiang ditelinga tuli ini lagu-lagu kebangsaan; Indonesia tanah air beta salah satu lagu yang lirik-liriknya, nada-nadanya, menjadi seolah suluk pelembut hati ini. Bagaimana egoisme terbuang dalam nurani ini untuk melebur menjadi wahdatul wujud, manunggal dengan orang-orang kita terdahulu, pahlawan-pahlawan kita. Kita harus tahu, tanah yang kita injak ini tidak dengan mudah untuk kita injak, maksudnya bisa saja hari ini, waktu ini, kaki kita tiada untuk menginjak bumi pertiwi ini bila saja dahulu tak ada yang memperjuangkan kita, tak ada ridho Tuhan untuk kita; sebagaimana tertulis dalam pembukaan UUD 45.
Darah pejuang itu haram; haram untuk tidak dikenang, haram untuk tidak sama sekali penghargaan. Tapi, bukan hanya dengan ratapan, bukan hanya dengan renungan, dengan hari-hari pahlawan, dengan sekadar mengetahui, sekadar membicarakan, atau hanya sekadar menikmati hasil-hasil kemerdekaan sekarang, bahkan mungkin bukan hanya sekadar malah merusak cita-cita luhur dari bangsa Indonesia, merusak Indonesia. Kegiatan-kegiatan legal-formalistik yang telah ditetapkan pemerintah untuk bagaimana menjadi salah satu jalan mengenang para jasa pahlawan; seperti hari-hari besar pahlawan hanyalah sebatas kulit syariat, thoriqoh, jalan-jalan menuju the inner truth kegiatan-kegiatan yang benar-benar mengandung semangat juang pahlawan didalamnya, mengandung kesedihan-kesedihan yang sama dirasakan pahlawan dulu tatkala melihat gejala-gejala, peristiwa-peristiwa, yang menghina akal sehat, menghina kemanusiaan, menghina peradaban dunia, menghina bangsa Indonesia.
Bulan ini; Agustus, adalah bulan dimana dulu tahun 45 ghirah Nusantara sedang dalam tahap-tahap menuju puncak momen terindah, momen-momen harapan mengharu biru untuk hari kemudian, untuk kita orang ini generasi selanjutnya. Sekeras-keras prinsip yang dipegang, ideologi, kekuatan-kekuatan kelompok dahulu, tapi tetap mereka rela bersatu demi bangsa ini, demi kita ini. Paling menyentuh adalah bagaimana kita dijajah oleh negeri orang sekitar hampir 350 tahun dan 3,5 tahun sebelum mencapai kemerdekaan. Dan, itu bukanlah penghalang bagi Indonesia dengan arif dan bijaknya, dengan rasa rendah hatinya, untuk mencantumkan kalimat maka penjajahan dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan. Indonesia tidak memikirkan diri sendiri, kepentingan bangsa saja, tidak ashobiyah, unshelfish, think of humanity, prioritize the interests of the world. Jika kita pelajari dari kalimat itu, kita akan menemukan bentuk-bentuk dimana yang biasa terjadi dalam film-film pahlawan yang memiliki kerendahaan hati, kebijaksanaan tingkat dewa, maqam ma'rifat; oleh karena bila tokoh dahulu berpandangan bahwa penjajahan dimuka bumi tak selayaknya dilakukan, maka kita harus pikir bahwa tak ada dendam, tak ada pilih-pilih, dimana negeri yang dahulunya menjajah kitapun Indonesia lindungi dengan UUD 45-nya. Jadi bila suatu saat negeri Belanda ikut dijajah, maka seharusnya tak satu orang dibumi pertiwipun yang diperbolehkan untuk tidak mengutuk penjajahan tersebut, bahkan bisa jadi ikut dalam barisan, ikut serta dalam ketertiban dunia menumpas segala bentuk perbudakaan manusia terhadap manusia.
Hari ini kita sedang dilanda cedera, kebanggaan akan negeri dipoles sedemikian rupa pemuda-pemuda dewasa ini hanya untuk ranah-ranah dimana merasuk dalam semangatnya saja, bangkit hanya ketika timbul ancaman dan redup kembali ketika nyaman. Bukan salah Indonesia, bukan salah falsafahnya, tapi salah kita orang sendiri, yang tak mampu menahan pedihnya hidup, retaknya jiwa, interaksi budaya, saudara yang hilang jadi tak biasa, menjadi tak Indonesia. Kita tertinggal bukan 50 tahun, 100 tahun tapi lebih dari pada itu, bukan untuk mengejar ketertinggalan tapi mengejar kemajuan, bukan kemandulan, bukan malah kehancuran yang didapat.
Sebenarnya memang tak ada yang patut dipersalahkan, bagaimanapun Indonesia tetap Indonesia kita; pahit, manis, asin, apapun itu kita lihat yang buat. Tak perlu menentang untuk menentang, dewasa ini perang sebangsa makin marak dimana-mana, paling mengerikan memperdebatkan masalah pemikiran, bahkan keagamaan, sampai lupa bagaimana cita-cita keadilan, dimana keadilah akurasinya hanya untuk tameng bagi kepentingan kelompoknya masing-masing. Remaja perang saudara, tawuran jadi kebanggaan, bertemu orang luar negeri seolah melempem jadi kaum puritan. Ada peristiwa-peristiwa yang tidak bisa divonis menjadi kesalahan mutlak dari aktor-aktor antagonis didalamnya, perlu ada pengkajian, pendalaman, diskusi-diskusi untuk menemukan kambing hitam sebenarnya, karena terkadang setiap kesalahanpun tidak tahu kenapa dirinya bersalah. Pejuang-pejuang the tiny creative minority yang akan menyelesaikan permaslahan yang terjadi dengan tidak mengorbankan hak-hak saudaranya, atau bahkan rivalnya, karena kemanusiaan. karena ke-Indonesiaan. Tidak berbangga buta dengan Indonesia, bukan fanatik buta, karena perjuangan tidak harus menjadi pohon yang tumbuh pesat tinggi, berprestasi, tapi tidak menaungi orang-orang yang ingin berteduh dibawahnya; Biarlah pohon yang rendah tapi ranting-ranting daunnya yang lebar bisa lebih bermanfaat bagi orang-orang yang ingin berteduh dibawahnya, yang terpenting bisa memanfaatkan yang ada, tapi tidak seadanya. Berlanjut rekonstruksi, rethinking, pembangunan-pembangunan yang esensial dengan mengacu pada keadaan-keadaan dan juga kemampuan-kemampuan, dimana bukan hanya pemerintah yang bisa melakukannya tapi individu-individu, kelompok, organisasi, komunitas, yang ada dalam cakupan wilayah negara Indonesia juga harus bisa melakukannya. Maksudnya, terus jangan pernah berhenti belajar, memperbaiki diri, menyesuaikan keadaan, mengejar mimpi, menambah wawasan, keilmuwan, karya-karya, percobaan-percobaan laboratorium, teknologi, interaksi-interaksi tabayyun antar sesama anak bangsa.
Tidak boleh merendah, dalam arti merendahkan harga diri dihadapan bangsa lain, jangan hanya jadi preman dinegeri sendiri; buktikan dengan berani menuju luar negeri, kancah internasional bersaing, berkompetisi secara sehat, karena kompetisi secara sehat adalah bentuk interaksi kerjasama yang terbaik dan seharusnya tidak merugikan salah satu pihak, hidup ini kerjasama dan kerjamassa. Kerjamassa tidak harus kita bersama dalam satu ruang & waktu bersamaan karena pada hakikatnya seorang pemuda yang merantau ke tempat jauh tentulah untuk sanak saudara yang ditinggalkan pada akhirnya. Intinya bukan tentang dekat secara fisik, tapi kedekatan emosional yang membuat kita kuat, kebersamaan emosional yang membuat kita kuat. Tidak harus dengan menciptakan musuh kita bisa berjuang, tidak dengan membenci manusia lain yang berbeda kita harus berjuang, bukan manusia yang kita benci, tapi gejala-gejala yang ditimbulkan produk implikasi dari interaksi manusia dengan manusia yang merugikan dan bersifat negatif.
Tulisan ini juga hendaknya memang menuliskan sejarah agar kita bisa membaca dan belajar dari sejarah untuk masa depan, tapi sudah terlalu banyak yang menceritakan sejarah, dan sudah saatnya membuat perubahannya hasil belajar dari sejarah itu. Bahkan dengan hanya membersihkan lantai, mencuci piring, membantu orang tua dirumah, memperbaiki pribadi diri, sambil dengan sedikit demi sedikit menularkan hal-hal postif dilingkungan, bila gagal, terus perbaiki dan lanjutkan. Masalah itu biasa, dan ada saat-saat dimana kita harus merenungi sejarah kita dan pikirkan sejarah macam apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita kelak nanti, mau pahit ataupun manis, tapi haruslah ada kebaikan yang bisa diambil untuk generasi selanjutnya.
Angin, air, api, tanah, segala unsur dalam bentuk-bentuk lebih banyak; unsur kimia adalah bagian kita dan itu merupakan microchip kita yang akan merekam setiap langkah dan jalan perjuangan kita. Setiap unsur, zat, yang seolah mati dan hanya kita yang hidup ini sebenarnya adalah saksi-saksi seberapa banyak kebaikan yang kita buang sembarang tanpa melihat siapa objeknya. Bagaimana Indonesia menjadi negeri yang penuh dengan berjuta-juta pelajaran hidup, dan hanya ada di Indonesia-tanpa ada maksud meremehkan yang lain. Oleh karena inilah kekhususan kita yang ditakdirkan, kita berbeda dengan Arab, dan Arab jangan kita-kitakan. Kita unik, Indonesia unik, dirimu unik, karena banyak dari generasi kita, pemuda kita yang sekarang sedang berjuang memperbaiki dirinya sendiri, yang sedang memikirkan bangsanya, memikirkan orang lain, atau malah sedang melakukan pekerjaan kebaikan yang sedang dalam jalurnya, jalur yang akan menghantarkan ke hilir dan samudera kebahagiaan ketika melihat orang lain menangis bangga karenanya. Tidak ada yang tida berguna, semua anak bangsa berguna, tak ada yang putus harapan, laki-laki, perempuan, wahai anak bangsa, tak ada pintu untuk kita berputus asa, kalaupun kita merasa Tuhan telah menghancurkan kita, itu adalah bentuk cinta kasihNya dalam bentuk lain.
Rakyat Indonesia adalah yang paling berkuasa, yang berhak mendapatkan otoritas kekuasaannya. Tidak dengan diberi emas, migas, atau harta kekayaan yang hanya bersifat materialistis saja. Sungguhpun sebenarnya yang paling optimal adalah berikan rakyat kewajiban sesungguhnya untuk merasakan bahwa mereka penguasa sebenarnya tanpa harus dipuja-puja, dimanja-manja. Tak ada yang perlu marah disaat optimalisasi proses kebaikannya pada seseorang, atau contoh-pemerinta terhadap rakyatnya diabaikan rakyatnya dengan bentuk rakyat kurang responsif dan seolah tak ada timbal balik karena tak seharusnya seorang orang tua menuntut bayinya mengucapkan kalimat terimakasih atas air asi yang sudah diberikannya.
Tak ada kupu-kupu malam; seharusnya, karena beberapa diantaranya mungkin kekurangan makan, atau terlanjur demikian disebabkan konteks historis kehidupannya yang menuntutnya untuk mengaktualisasi hidupnya diranah yang kurang bagus dikehidupannya, tapi itu adalah warna, warna kehidupan. Apa yang salah dengan kupu-kupu malam ? Salahnya adalah didalam sanubari kita, kalimat tersebut telah dikonsesus menjadi kalimat yang sifatnya negatif padahal tidak ada kenegatifan dalam idematik kalimatnya, sebenarnya. Perempuan adalah gambaran keindahan, pancaran cahaya, perlu dihormati, bukan dieksploitasi, atau dibiarkan mengeksploitasi dirinya sendiri, minimal ada rasa iba dihati kita tatkala melihat peristiwa kehidupan demikian. Perempuan adalah tonggak utama berlanjut tidaknya peradaban manusia dibumi, sehingga masa depan Indonesia salah satunya berada ditangannya, kalau perempuan tidak dihargai, kita sudah menghina segala karya-karya yang sumber aslinya berada dalam rahim perempuan. Perempuan bentuk keindahan sehingga perlu dihargai, laki-laki bentuk kekuatan sehingga harus melindungi, saling melengkapi dengan perbedaan itu sudah menjadi takdir yang merupakan karunia yang tidak bisa dipisahkan, tidak bisa dihancurkan, tidak bisa dipersalahkan, karena hidup adalah hidup, jangan biarkan saudara kita mati dikehidupannya.
Sebuah peristiwa bisa jadi renungan, sebuah buku bisa jadi senjata sekawan, dan hati serta pikiran menjadi lautan rencana masa depan. Pengamalan, pelaksanaan dari itu semua menjadi hak-hak setiap orang, asalkan jujur dan bertanggung jawab untuk setiap apa yang diperjuangkan. Kita jangan pernah berhenti belajar, untuk masa depan dunia, khususnya Indonesia tercinta !!! Selamat merenungi kembali kemerdekaan !!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar