Kata sekolah berasal dari bahasa Yunani
yaitu skho·le´ yang berarti "waktu terluang". Namun dapat
juga diartikan menggunakan waktu luang untuk kegiatan belajar. Belakangan kata
ini digunakan untuk menunjukkan tempat diselenggarakan kegiatan belajar. Memang
pada masa awal kegiatan belajar di tempat khusus seperti ini hanya bisa
dinikmati oleh golongan kaya di Yunani. Demikian juga pada zaman dahulu di
negeri-negeri lainnya, kegiatan belajar di sekolah hanya bisa dinikmati oleh
golongan elit saja.
Terlepas sejarahnya bagaimana, tapi jika kita fokuskan pada defenisi secara bahasa diatas skho-le
yang berarti "waktu terluang", kita analisis dengan kondisi sekolah
dewasa ini yang memang sekolah seolah sudah menjadi barang dan aktivitas
yang sifatnya prioritas paling utama dalam dimensi pendidikan. Dan,
dominasi waktu kegiatan peserta didik hampir dihabiskan disekolah,
terkhusus kita memandang pendidikan yang ada di Indonesia. Konsepsi
pendidikan Indonesia yang didasari oleh UU No 23 tahun 2003 tentang
pemetaan antara non formal, informal, dan formal belum mencapai titik kohesi yang sinergitasnya dapat menunjang output daripada yang diinginkan pendidikan Indonesia.
Saya sebagai mahasiswa merasakan adanya ketimpangan dan kesenjangan yang akhirnya menimbulkan sebuah gap antara kehidupan diinstansi pendidikan sebagai peserta didik dan civil society sebagai individu yang bermasyarakat. Ini menurut saya sudah urgent untuk dibahas sebagai salah satu topik issue
permasalahan pendidikan Indonesia dewasa ini lebih spesifik
dipendidikan instansi formal yaitu sekolah. Sekolah formal yang pada
hakikatnya memiliki tujuan untuk memproduksi peserta didik yang dapat
menunjang dan menjadi individu yang produktif yang berguna bagi bangsa,
negara, maupun agama tentunya. Hal-hal tersebut haruslah melalui jalan
atau jalur yang pastinya bakal berinteraksi dengan kehidupan
bermasyarakat yang nyata, sedangkan faktanya sekolah justru seolah-olah
kegiatannya dikotomis dengan kegiatan aktivitas nyata masyarakat. Itu
menyebabkan, peserta didik sebagai objek pendidikan kadang memiliki
masalah dengan masyarakatnya sendiri akibat dari korelasinya dengan
sekolah.
Tulisan
ini bukan bermaksud untuk bagaimana peserta didik secara luas untuk
tidak bersekolah, tulisan saya ini justru bermaksud mengajak peserta
didik memiliki kepekaan akan cara sikap menyikapinya hasil dari sekolah
itu sendiri. Data fakta kongkret lainnya yang menurut saya jadi salah
satu hal sabab-muasab terjadinya masalah adalah waktu masuk kegiatan
belajar mengajar yang terlalu dini, terlalu panjang atau lama, dll.
Misal, waktu KBM yang terlalu awal itu membuat peserta didik tidak
memiliki waktu yang panjang untuk berolahraga dipagi hari. Hal-hal kecil
semacam ini yang sering kali tidak diperhatikan, padahal memiliki efek
yang sangat luas.
Kooptasi
disekolah oleh beberapa guru atau pendidik kepada para peserta didik
menimbulkan daya inovasi kreatifitas mereka yang tidak tereksplor,
bahkan yang lebih berbahaya ketika peserta didik sudah tidak dapat
dibendung kehausan akan ekspresi kreatifitasnya yang terpendam membuat
jalur atau jalan yang ditempuh berujung pada hal-hal subversif. Tidak
serta merta hanya sebuah kalimat, tapi data atau fakta dilapangan dapat
kita tinjau ulang untuk analisi, hal-hal subversif yang dilakukan
peserta didik seperti tawuran, perkaliahan, tawuran massal antar
sekolah, sex bebas, dan masih banyak lagi, itu merupakan bentuk cermin
ekspresi mereka yang tidak terwadahi oleh hal positif sehingga
kebanyakan yang dipublis oleh mereka tendensinya negatif. Saya juga
menyadari tidak hanya semua yang negatif saja disekolah, banyak peserta
didik berprestasi, lomba-lomba positif, dan lain sebagainya hanya saja
saya ingin lebih mendalami sisi kekurangan agar kita semua dapat
benar-benar mengontemplasi hasil-hasil sekolah untuk dievaluasi bersama
berkelanjutan dan berkemajuan.
Tidak ingin terlalu banyak untuk terus meng'ghibah'i
pendidikan sekolah formal siIndonesia, bukan karena apa-apa, bukan
takut juga, tapi tidak akan selesai dalam 1 tahun saya untuk dapat
menuliskan perkara-perkara yang perlu adanya resolusi dan juga
reinterpretasi kembali akan makna dasar dan tujuan sebenarnya
diadakannya sekolah.
Tokoh-tokoh
besar dunia dan dapat merubah dunia justru beberapa diantaranya yang
tidak bersekolah formal malah memiliki peranan strategis dalam perubahan
dunia. Entah itu didimensi pendidikan, ideologi, pemikiran, bahkan science-technology mereka
berkarya. Selain daripada tokoh klasik seperti Thomas Alva Edison,
Abraham Lincoln, Socrates, bahkan ulama-ulama muslim klasik bukanlah
hasil dari produksi metabolisme pendidikan formal persekolahan.
Tokoh-tokoh sukses yang tidak bersekolah dan hanya mengecap pendidikan
non formal modern ini diantaranya Walt Disney, Mark Zuckerberg, Bill
Gates, meski beberapa orang ini pernah berkuliah tapi substansinya tokoh
ini sukses oleh peran eskternal dalam diri mereka yang barang tentu
berhulu dari pendidikan-pendidikan non formal baik berwadah ataupun
otodidak.
Kearifan
lokal kita dengan wadah-wadah pendidikan yang sangat meluas banyak,
baik yang modern bahkan tradisional merupakan warisan pendidikan yang
luar biasa dengan sudah menghasilkan berpuluh-puluh, beratus-ratus,
bahkan berjuta-juta tokoh Indonesia atau orang Indonesia yang memiliki
bakat dan etos kerja serta potensi yang termaksimalkan eksploitasinya
diberbagai bidang dan sektor. Negara Indonesia yang saat ini mulai
menapaki masa-masa yang maju dari segi pembangunan, tapi masih subhat
atau ambigu apa darimana siapa yang melatar belakangi serta motif apa
sehingga pembangunan di Indonesia seolah-olah harus cepat, dalam hal ini
adalah infrastruktur. Sedangkan SDM atau kualitas individu manusia
Indonesia yang belum merata antara Sabang sampai Merauke tidak
diprioritaskan, kembali dalam hal ini pendidikan. Segala bentuk
pembangunan yang memiliki titik pusat polarisasi sebagai ordinat sudah
barang tentu adalah Pendidikan, bagaimana bentuk pendidikannya skala
mana yang diprioritaskan untuk dimajukan dan dikembangkan merupakan
perkara atau hal yang harus menjadi bentuk perumusan bersama sebagai
konsepsi Indonesia yang mengedepankan nasionalisasi bukan sektarian,
primordial, dan dimensi sempit lainnya.
Skala
tonggak bahan kenapa saya selalu menulis pendidikan yang harus
dikedepankan baik itu modern ataupun tradisional bahkan fusi diantara
keduanya dikarenakan faktor dimana pendidikan merupakan ordinat dan
bukanlah sebuah sub-ordinat. Dan, order yang saya berikan tentang
pendidikan itu terkhusus bagi kalangan aktivis mahasiswa sebagai
komponen masyarakat yang harus benar-benar serus dalam mengabdikan dalam
memproposisi fungsi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
adalah jadikan diri ini, organisasi-organisasi kemahasiswaan baik
internal ataupun eksternal sebagai 'kepompong' yang nantinya melahirkan
kupu-kupu indah sebagai bagian dari orientalis seharusnya dari Tri Darma
Perguruan Tinggi. Impian-impian dan harapan-harapan yang sifatnya
utopis dan mengilusi dikalangan mahasiswa hendaknya tidak justru
menjadikan represi. Tapi, hal yang mengutopis itu perlu supaya tiap
regenerasi dari aktivis-aktivis akan tetap movement dalam upaya
pembebasan rakyat, pembebasan dari penjajagan modernis sekarang, dan hal
lain sebagainya. Selain daripada, kitapun harus diajak berpikir
realistis, rasional, serta melakukan kegiatan kongkret dilapangan baik
kecil ataupun besar tapi tidak mereduksi substansi dan esensi ruang
waktu akan output suci didalamnya.
Pendidikan
selain daripada hal yang tematis diatas, mahasiswa haruslah
memperhatikan apakah tuntutannya harus juga mencapai titik spesifikasi
tuntutan dan gerakan sampai pada skala prioritas apa yang akan
didahulukan dalam pengembangan peserta didik. Apakah kognitifnya ?
afektifnya ? bahkan pula psikomotoriknya ? dan apakah akan
diakomodasikan dengan keadaan sosio-kultural, sosio-geografis, dan
lain-lain. Tapi harapannya tidak sampai disitu, karena tentulah bukan
mahasiswa orang yang menjadi ahlinya, kita serahkan pada ahli-ahlinya,
setelah terlaksananya reformasi baik secara fisik maupun lebih halus.
Reformasi yang dimaksud tidaklah harus dengan pertumpahan darah atau
perketidakmanusiaan antar manusia nantinya, tapi lebih kepada
perjuangan-perjuangan yang positif tentunya. Saya maksudkan adalah
selain daripada kita berjuang ke atas yang bagi beberapa kalangan
aktivis mahasiswa yang sampai berani ngejudge bahwa negara kita
adalah setengah jajahan setengah feodal dan dikuasai kaum imprealis dan
kapitalis kita pula harus bisa mengakomodir diri untuk terus berupaya gesture tubuh kita sebagai movement
yang bermanfaat yang langsung dirasakan manfaatnya ke masyarakat, susah
jika harus terus berteriak mengharap birokrat, toh kita percaya Tuhan
tidak tuli untuk dapat mendengar dan melihat setiap pengharapan dan
kondisi masyarakat Nusantara yang mulai ternodai dan sekarang yang
ditakutkan siap menodai bahkan diri mereka sendiri.
Pembahasan
literer yang melebar-lebar ini bukan berarti tidak terfokusnya sebuah
tulisan, tapi lebih kepada daya seni pertubrukan keadaan dengan keadaan
lain antara objek, subjek, dan problem. Jika bersedih dan merasa
keing kerontang jiwa ini melihat keadaan negeri yang seolah diambang
kehancuran terkadang bagi beberapa orang sempat-sempatnya berpikir
seolah apa yang dinamakan Tuhan itu tidak ada, dimanakah perannya ? Tapi
seorang beragama menjawab bahwa Tuhan berada dihati orang-orang seperti
mereka-mereka ini yang merasa getir dan bergetar jiwanya melihat
penindasan. Titik beratnya jika kita tahu akan diri kita sendiri, 50%
kemenangan sudah ada didepan, dan jika kita mengetahui musuh kita, 50%
kemenangan ada didepan pula, sebagai peluang jika berpikir tematis maka
penyatuan diantara keduanya membuat peluang kemenangan 100% didepan
kita, ini untuk perjuangan kebenaran tentunya.
Suatu
saat mercusuar dunia kata Ir Soekarno bagi Indonesia dan gambaran
Indonesia bisa menjadi kenyataan. Mentalitas bangsa Indonesia self confident
bangsa, dalam hal ini rakyat merupakan modal yang sangat besar selain
daripada Intelegensi manusia Indonesia. Dan, demikian halnya penunjang
itu semua tidak bisa kita sandarkan nasibnya pada pendidikan yang
mengedepankan sekolah formal, peran orang tua informal, dan tentunya non formal
yang dominan yang selalu bersentuhan objek peserta didik
sebagai regenerasi para pejuang bangsa dan dunia serta alam semesta
artefak seni terbaik ciptaan sang maha memenuhi Tuhan yang maha esa. Dan
harapannya lagi, Indonesia bukan jadi halnya negara penghasil kertas
sertifikat dan ijazah hehe...
Budaya komentar sebagai budaya saling membangun diharapkan akan tulisan yang masih banyak kekurangan ini, terimakasih :)
Senin, 18 April 2016
Minggu, 03 April 2016
TIADA MATERI, BUMI, BAHKAN DIRI INI KARENA HANYA ADA CINTA
Sedikit yang saya tahu tentang makna arti Cinta, berbagai pandangan, perspektif, pendapat, literasi, dan defenisi-defenisi lain dari zaman ke zaman. Jika saya anda dan kita lihat, mencoba berkontemplasi dengan apa yang sering disebut Cinta dalam konteks historis, Cinta yang dianggap "racun" dewasa ini sudah ada sejak zaman bahkan tatkala manusia belum terbentuk tubuhnya, belum tercipta jiwanya, sang Maha Ada huwa awalu wal akhiru sudah menyebarkan sudah mensyiarkan membudayakan indah-indahnya nyaman-nyamannya kasih-kasihnya rasa sayang menyayangi, dan lain sebagainya. Itu terjadi dengan nuansa dan kondisi yang jika harus logika saja yang digunakan untuk merasakan dan mencari-cari asbabul nujub nya saya kira sampai saya mati tidak akan ada yang bisa menggambarkan, merangkaikan, sampai dititik ditemukannya konsep atau definisi Cinta yang konkret dan disepakati oleh insan diseluruh dunia, dan itu bersifat demokratis dan egaliter dengan tentunya makhluk hidup lainnya tumbuhan, hewan, dan lain sebagainya.
Ini semua bukan untuk benar-benar kita mencari solusi dari itu semua, tapi lebih kepada "penggelisahan" kembali orang-orang yang akan membaca ini. Filsuf Socrates lewat muridnya Plato pernah berkata Aku tida bisa mengajar siapapun, apapun. Aku hanya bisa membuat mereka berpikir Sang filsuf melegenda ini terlepas bagaimana historis-biografis hidupnya bagaimana siabang Socrates ini merupakan orang yang telah banyak menyumbang terhadap kebudayaan Eropa bahkan dunia. Ketertarikan saya adalah adanya korelasi dengan konsep "penggelisahan" yang saya maksud diatas, yaitu mungkin bisa kita cross check kepada psikolog bahwa ketika insan gelisah maka otak dan akalnya itu akan terus maen dan disini keinginan Tuhan akan salah satu anugerahnya yang luar biasa harus disyukuri yaitu "akal" dapat digunakan dengan tetap tidak terlepas dari awal timbulnya kegelisahan afeksi insan. Bisa kegelisan itu terjadi karena kegagalan hidup mungkin kebanyakan hutang, ditolak lawan jenis, masalah rumah tangga, bahkan kalau sering dibullypun bisa jadi asbabul nujub timbulnya kegelisahan atau bahasa jawanya depression personality. Sampai dititik ini, mungkin kawan-kawan yang membaca akan terus memutar otaknya untuk berusaha menginterpretasi literatur ini sebenarnya kemana arah dan outputnya. Bisa jadi beberapa dari kawan-kawan telah berputus asa dan menganggap ini tidak penting, dan menurut saya memang tidak penting-penting amat...haha. Tapi ada kalimat motivasi yang mengataan bahwa teruslah berjuang jangan sampai putus asa, dan jika anda sampai berputus asa, maka berjuanglah walau sambil berputus asa.
Cinta yang urgent menurut pandangan subjektif kita khususnya anak muda gahoel zaman ini terkadang mengarah dan menjalur yang kurang memperhatikan skala prioritas yang mana yang harus didahulukan yang mana yang harus diakhirkan. Begitu sempit dan dangkalnya kita untuk memaknai dan memahami nada-nada sunyi Cinta yang pada akhirnya tidak dapat didefinisikan secara mutlak atau adanya relativitas tafsir dari setiap insan yang dipengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhinya bisa jadi keadaan sosio-kultural, sosio-geografis atau bahkan lebih dalam psikis-kondisional, kognitif-situasional, dll dll dll. Sekalipun 100, 1000, 10000, atau berjuta-juta orang dan insan yang terus berusaha memberi tahu bahwa Cinta itu tidak hanya tentang dwi insan saja pria-wanita atau yang berlebih-lebihan yang melampaui batas contohnya LGBT. Sudahlah saya tidak tertarik lagi membahas LGBT toh... menurut saya dari referensi beberapa kiyai, ulama, yang namanya amar ma'ruf nahi mungkar itu menurut simpulan mereka yang sudah terbiasa dan berusaha susah payah dengan cinta memahami pesan-pesan Tuhannya, Allahnya, baik lewat ayat-ayatnya atau peninggalan RasulNya yang mulia Shalallahwa'alaihiwassalam adalah mengikat individu insan, jadi amar ma'ruf nahi mungkar sangat-sangat mengikat insan sebagai manusia sebagai ciptaanNya. Oh iya.. lupa juga bahwa pesan-pesan dan perumpamaan Tuhan tidak hanya ada diayat, hadits saja, bahkan kejadian alam, baik alam terbuka ataupun alam bawah sadar sendiri, bahkan tandaNya kadang ada didalam riwayat kejadian hidup kita, bahkan maaf disebuah fesespun pasti Tuhan menginginkan agar manusia bisa untuk bagaimana mau mencari pelajaran-pelajaranNya.
Jadi simpelnya, disimpel-simpelkan saja tidak usah dibikin ruwet bahwa polarisasi kita, alam semesta atau mungkin seekor bebek yang sedang berenang adalah untuk menuju yang satu, yang ahad yang satu-satunya didunia ini, dialam semesta ini, dan siapa ? maka anak kecil atau orang awam seperti saya akan cepat-cepat menyimpulkan yaitu "Tuhan", tapi Tuhan yang mana ? dan, ketika sampai dititik ini beberapa orang mungkin akan berputus asa dan menjadi atheis berada pada situasi lailaha, tapi harapannya semoga Tuhan jikalau benar-benar ada akan menghargai atheis yang terus mencari kebenaran daripada yang hanya berdiam diri statis-parsial.
Kata Albert Enstein tidak ada yang namanya gelap, yang ada itu adalah ketiadaan cahaya dan untuk membedakan atau supaya bisa membedakan maka diberilah sebutan "gelap" untuk mensifati ketiadaan cahaya. Dalam ayat Qur'an tipis sekali yang namanya nur atau cahaya dengan naar yaitu api atau neraka, jadi terkadang dekat sekali yang namanya kegelapan dan terang benderang kadang penilaian kita bisa justru bersifat dikotomis dengan fakta dan realita akan suatu objek, atau diri pribadi kita sendiri. Gus Mus bilang Janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti, sadar ataupun tidak sadar disini saya rasa perlu adanya evaluasi yang berkelanjutan dan berkemajuan. Hidup manusia ini berarti tidak selamanya kafir, atau bahkan tidak selamanya muslim yang saya tahu atau yang kita semua tahu, you know ? .. bahwa kata kiyai kampung saya yang diitung itu disaat kita berada di akhiru kehidupan kita dan antum-antum..tapi yang jadi masalah, siapa yang tahu tentang akhirnya ? Waliyullah bisa ? wallahualam.
Ada kiyai berceramah dan menerangkan bahwa telah diturunkan nabi & rasul terakhir oleh Allah SWT, dan menerangkan dan meyakinkan jama'ahnya bahwa dialah yang terakhir maksudnya Rasul terakhir, seolah-olah Nabi Muhammad sang Maestro Cinta Ilahi ini baru turun atau diangkat menjadi Nabi & Rasul kemarin sore, hehe...tapi tidak ada masalah. Ya yang bermasalah orang-orang seperti saya ini yang bisa menilai seseorang tapi tidak tahu ukuran tentang dirinya sendiri, walaupun sekarang-sekarang inshaAllah mulai mau berubah, pastinya berubah dari yang baik menuju yang lebih baik sesuai konsep hijrah. Maestro-maestro Cinta selanjutnya Ibn Arabi, El Jalaludin Rumi, Syech Abdul Qadir Jaelani, Abu Hamid Al-Ghazali, Al Baghdadi, dll dll dll saya takzim saya cinta sekaligus iri dan saya mengajak semua orang untuk bagaimana iri terhadap mereka-mereka ini, dan semoga menjadi motivasi dikemudian hari, amin.
Pembaharu, penjaga sama saja akulturasi atau kolaborasi berkemajuan dan bernusantara dewasa ini menurut saya sudah mulai menuju puncak ketepatannya, ya semoga anda-anda tahu ... KH Hasyim Asy'ari & KH Ahmad Dahlan bersaudara semoga Allah memberi mereka tempat terbaik disana karena telah bermanfaat bagi umat insan, dan menjadi benar-benar penerang dan pengaplikasi Rahmatanlilalamin terbaik. Tak pernah berhenti untuk berkata saya berusaha Cinta pada mereka ini dan berusaha sekaligus iri pada mereka ini.
Berbagai perspektif yang bisa memberikan referensi akan interpretasi Cinta tidak akan selesai dalam kajian 1 hari, 10 hari, bahkan satu tahun sekalipun, dan walau bisa pasti akhirnya hanya akan menimbulkan kegelisahan, dan itu tidak menjadi masalah selagi kawan-kawan bisa untuk bagaimana bulir-bulir, poin-poin, berbagai pelajaran Cinta dari permasalahan atau jika kegelisahan yang mungkin terjadi di internal diri dianggap masalah, berpikirlah ! Sampai akhirnya maqam mahabah bisa mencapai kulminasi dari insan itu sendiri relatif dari keinginan dan perwayangan apa yang diinginkan Tuhan kita, atau yang tercatat dilauhulmahfuz kita, doalah yang tepat dan tajam dengan syarat-syaratnya.
Perlu diketahui Tuhan kita Allah kita, Tuhan bagi semua umat semua agama sebenarnya hanya satu, hanya saja ada beberapa umat yang salah sambung, salah memasukan kode nomor menuju Tuhannya. Manusia diajarkan lewat alfatihah dimana kita disuruh untuk mengucapkan alhamdulillah, arahmanirahim pujian-pujian terlebih dahulu sebelum iyakanabuduaiyakanasyta'in, ihdinasyiratalmustaqim sebagai kalimat doa, maknai saja sendiri !!! Cinta dan rasa tasyrikh pada Rasulullah shalalallahwa'alaihiwassalam itu juga penting, pujian-pujian, doa-doa sebagai rumus take-give dengan Rasul (kalau menurut Cak Nun), penting sebelum berdoa kepada Allah Subhanawata'ala.
Mari bersatu, mari beilmu, mari berevaluasi untuk maju.
Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan, budaya komentar baik tanggapan ataupun kritik-konstruktif sangat diharapkan sebagai budaya aplikasi gotong royong nyata !! :) terimakasih wassalamualaikum
Moh Yogi Mukti
Ini semua bukan untuk benar-benar kita mencari solusi dari itu semua, tapi lebih kepada "penggelisahan" kembali orang-orang yang akan membaca ini. Filsuf Socrates lewat muridnya Plato pernah berkata Aku tida bisa mengajar siapapun, apapun. Aku hanya bisa membuat mereka berpikir Sang filsuf melegenda ini terlepas bagaimana historis-biografis hidupnya bagaimana siabang Socrates ini merupakan orang yang telah banyak menyumbang terhadap kebudayaan Eropa bahkan dunia. Ketertarikan saya adalah adanya korelasi dengan konsep "penggelisahan" yang saya maksud diatas, yaitu mungkin bisa kita cross check kepada psikolog bahwa ketika insan gelisah maka otak dan akalnya itu akan terus maen dan disini keinginan Tuhan akan salah satu anugerahnya yang luar biasa harus disyukuri yaitu "akal" dapat digunakan dengan tetap tidak terlepas dari awal timbulnya kegelisahan afeksi insan. Bisa kegelisan itu terjadi karena kegagalan hidup mungkin kebanyakan hutang, ditolak lawan jenis, masalah rumah tangga, bahkan kalau sering dibullypun bisa jadi asbabul nujub timbulnya kegelisahan atau bahasa jawanya depression personality. Sampai dititik ini, mungkin kawan-kawan yang membaca akan terus memutar otaknya untuk berusaha menginterpretasi literatur ini sebenarnya kemana arah dan outputnya. Bisa jadi beberapa dari kawan-kawan telah berputus asa dan menganggap ini tidak penting, dan menurut saya memang tidak penting-penting amat...haha. Tapi ada kalimat motivasi yang mengataan bahwa teruslah berjuang jangan sampai putus asa, dan jika anda sampai berputus asa, maka berjuanglah walau sambil berputus asa.
Cinta yang urgent menurut pandangan subjektif kita khususnya anak muda gahoel zaman ini terkadang mengarah dan menjalur yang kurang memperhatikan skala prioritas yang mana yang harus didahulukan yang mana yang harus diakhirkan. Begitu sempit dan dangkalnya kita untuk memaknai dan memahami nada-nada sunyi Cinta yang pada akhirnya tidak dapat didefinisikan secara mutlak atau adanya relativitas tafsir dari setiap insan yang dipengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhinya bisa jadi keadaan sosio-kultural, sosio-geografis atau bahkan lebih dalam psikis-kondisional, kognitif-situasional, dll dll dll. Sekalipun 100, 1000, 10000, atau berjuta-juta orang dan insan yang terus berusaha memberi tahu bahwa Cinta itu tidak hanya tentang dwi insan saja pria-wanita atau yang berlebih-lebihan yang melampaui batas contohnya LGBT. Sudahlah saya tidak tertarik lagi membahas LGBT toh... menurut saya dari referensi beberapa kiyai, ulama, yang namanya amar ma'ruf nahi mungkar itu menurut simpulan mereka yang sudah terbiasa dan berusaha susah payah dengan cinta memahami pesan-pesan Tuhannya, Allahnya, baik lewat ayat-ayatnya atau peninggalan RasulNya yang mulia Shalallahwa'alaihiwassalam adalah mengikat individu insan, jadi amar ma'ruf nahi mungkar sangat-sangat mengikat insan sebagai manusia sebagai ciptaanNya. Oh iya.. lupa juga bahwa pesan-pesan dan perumpamaan Tuhan tidak hanya ada diayat, hadits saja, bahkan kejadian alam, baik alam terbuka ataupun alam bawah sadar sendiri, bahkan tandaNya kadang ada didalam riwayat kejadian hidup kita, bahkan maaf disebuah fesespun pasti Tuhan menginginkan agar manusia bisa untuk bagaimana mau mencari pelajaran-pelajaranNya.
Jadi simpelnya, disimpel-simpelkan saja tidak usah dibikin ruwet bahwa polarisasi kita, alam semesta atau mungkin seekor bebek yang sedang berenang adalah untuk menuju yang satu, yang ahad yang satu-satunya didunia ini, dialam semesta ini, dan siapa ? maka anak kecil atau orang awam seperti saya akan cepat-cepat menyimpulkan yaitu "Tuhan", tapi Tuhan yang mana ? dan, ketika sampai dititik ini beberapa orang mungkin akan berputus asa dan menjadi atheis berada pada situasi lailaha, tapi harapannya semoga Tuhan jikalau benar-benar ada akan menghargai atheis yang terus mencari kebenaran daripada yang hanya berdiam diri statis-parsial.
Kata Albert Enstein tidak ada yang namanya gelap, yang ada itu adalah ketiadaan cahaya dan untuk membedakan atau supaya bisa membedakan maka diberilah sebutan "gelap" untuk mensifati ketiadaan cahaya. Dalam ayat Qur'an tipis sekali yang namanya nur atau cahaya dengan naar yaitu api atau neraka, jadi terkadang dekat sekali yang namanya kegelapan dan terang benderang kadang penilaian kita bisa justru bersifat dikotomis dengan fakta dan realita akan suatu objek, atau diri pribadi kita sendiri. Gus Mus bilang Janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti, sadar ataupun tidak sadar disini saya rasa perlu adanya evaluasi yang berkelanjutan dan berkemajuan. Hidup manusia ini berarti tidak selamanya kafir, atau bahkan tidak selamanya muslim yang saya tahu atau yang kita semua tahu, you know ? .. bahwa kata kiyai kampung saya yang diitung itu disaat kita berada di akhiru kehidupan kita dan antum-antum..tapi yang jadi masalah, siapa yang tahu tentang akhirnya ? Waliyullah bisa ? wallahualam.
Ada kiyai berceramah dan menerangkan bahwa telah diturunkan nabi & rasul terakhir oleh Allah SWT, dan menerangkan dan meyakinkan jama'ahnya bahwa dialah yang terakhir maksudnya Rasul terakhir, seolah-olah Nabi Muhammad sang Maestro Cinta Ilahi ini baru turun atau diangkat menjadi Nabi & Rasul kemarin sore, hehe...tapi tidak ada masalah. Ya yang bermasalah orang-orang seperti saya ini yang bisa menilai seseorang tapi tidak tahu ukuran tentang dirinya sendiri, walaupun sekarang-sekarang inshaAllah mulai mau berubah, pastinya berubah dari yang baik menuju yang lebih baik sesuai konsep hijrah. Maestro-maestro Cinta selanjutnya Ibn Arabi, El Jalaludin Rumi, Syech Abdul Qadir Jaelani, Abu Hamid Al-Ghazali, Al Baghdadi, dll dll dll saya takzim saya cinta sekaligus iri dan saya mengajak semua orang untuk bagaimana iri terhadap mereka-mereka ini, dan semoga menjadi motivasi dikemudian hari, amin.
Pembaharu, penjaga sama saja akulturasi atau kolaborasi berkemajuan dan bernusantara dewasa ini menurut saya sudah mulai menuju puncak ketepatannya, ya semoga anda-anda tahu ... KH Hasyim Asy'ari & KH Ahmad Dahlan bersaudara semoga Allah memberi mereka tempat terbaik disana karena telah bermanfaat bagi umat insan, dan menjadi benar-benar penerang dan pengaplikasi Rahmatanlilalamin terbaik. Tak pernah berhenti untuk berkata saya berusaha Cinta pada mereka ini dan berusaha sekaligus iri pada mereka ini.
Berbagai perspektif yang bisa memberikan referensi akan interpretasi Cinta tidak akan selesai dalam kajian 1 hari, 10 hari, bahkan satu tahun sekalipun, dan walau bisa pasti akhirnya hanya akan menimbulkan kegelisahan, dan itu tidak menjadi masalah selagi kawan-kawan bisa untuk bagaimana bulir-bulir, poin-poin, berbagai pelajaran Cinta dari permasalahan atau jika kegelisahan yang mungkin terjadi di internal diri dianggap masalah, berpikirlah ! Sampai akhirnya maqam mahabah bisa mencapai kulminasi dari insan itu sendiri relatif dari keinginan dan perwayangan apa yang diinginkan Tuhan kita, atau yang tercatat dilauhulmahfuz kita, doalah yang tepat dan tajam dengan syarat-syaratnya.
Perlu diketahui Tuhan kita Allah kita, Tuhan bagi semua umat semua agama sebenarnya hanya satu, hanya saja ada beberapa umat yang salah sambung, salah memasukan kode nomor menuju Tuhannya. Manusia diajarkan lewat alfatihah dimana kita disuruh untuk mengucapkan alhamdulillah, arahmanirahim pujian-pujian terlebih dahulu sebelum iyakanabuduaiyakanasyta'in, ihdinasyiratalmustaqim sebagai kalimat doa, maknai saja sendiri !!! Cinta dan rasa tasyrikh pada Rasulullah shalalallahwa'alaihiwassalam itu juga penting, pujian-pujian, doa-doa sebagai rumus take-give dengan Rasul (kalau menurut Cak Nun), penting sebelum berdoa kepada Allah Subhanawata'ala.
Mari bersatu, mari beilmu, mari berevaluasi untuk maju.
Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan, budaya komentar baik tanggapan ataupun kritik-konstruktif sangat diharapkan sebagai budaya aplikasi gotong royong nyata !! :) terimakasih wassalamualaikum
Moh Yogi Mukti
Jumat, 01 April 2016
HARAPAN UNTUK NEGERIKU YANG TERKOTAKAN DEMOKRASI YANG TERABAIKAN, PANDEGLANGKU...
Hari kemarin jumat, tanggal 1 April 2016 merupakan hari bersejarah bagi rakyat diwilayah Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten karena merupakan HUT Pandeglang yang ke-142. Itu berarti Kabupaten Pandeglang atau adanya pemerintahan di Pandeglang lahir tanggal 1 April 1874 saat zaman kolonial Belanda. Hasil riset dari berbagai komponen dan lapisan masyarakat untuk meremukan dan menyimpulkan bahwa Pandeglang berdiri pada tanggal 1 April 1874 lebih
jelas lagi dalam Ordonansi 1887 No. 224 tentang batas-batas wilayah
Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam
tahun 1925 dengan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14
Agustus 1925 No. IX maka jelas Kabupaten telah berdiri sendiri tidak di
bawah penguasaan Keresidenan Banten.
Bertepatan dengan HUT Pandeglang itu juga, beberapa organisasi mahasiswa melakukan aksinya outputnya hanya untuk ikut berpartisipasi dalam acara dan memberikan konstribusi masukan dan kritik-konstrukstif pada kepengurusan sebelumnya, dan ingin kepengurusan pemerintahan Kabupaten Pandeglang yang sekarang baru terpilih bisa untuk bersedia mendengarkan mahasiswa sebagai kaum pemuda intelektual daerah yang juga termasuk komponen yang memiliki hak untuk berpendapat mengaspirasikan suaranya untuk memproposisikan diri mereka, seyogyanya mahasiswa agent of control, dan pergerakannya bisa menjadi komposisi yang lezat bagi proses pemerintahan yang ada. Beberapa organisasi tersebut adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Keluarga Mahasiswa Cibaliung. Tapi karena beberapa hambatan dari kepolisian yang membawa dan di back up oleh kaum Jawara yaitu Laskar Berkah untuk menghindari keributan dan bentrok Mahasiswapun mundur jadi mereka hanya bisa mengaspirasikan sedikit daripada masukan dan tuntutan buat saudara-saudara birokrat Pandeglang.
Kekuatan dan kemenangan mahasiswa serta pergerakan dan perjuangannya tidak hanya sebatas ceremony belaka hanya untuk formalitas program organisasi agar tidak ada reduksi kreatifitas anggota Organisasi mahasiswa, tapi lebih daripada itu lebih daripada hanya sekedar "gagah-gagahan" konotasinya murni karena ingin bergerak mengeksplor dan terus mengevaluasi serta mengontrol perkembangan bangsa & negara dengan pendapat dan persepsi-persepsi subjektif mereka masing-masing, dan... tidak ada masalah. Kebebasan pers yang selama ini disuarakan ketika aksi tersebut bisa disebut hanya takhayul, dilindungi UU hanya takhayul, seolah-olah oknum-oknum yang merasa bersalah terancam dan ketakutan, Lucunya... Kenapa harus ? Kenapa harus hidup sampeyan-sampeyan ini dibikin ruwet dan ribet wahai sang penguasa birokrasi, hukum, dan keamanan ? Padahal anggap saja pergerakan-pergerakan mahasiswa ini yang menimbulkan pergolakan selama kawan-kawan tidak anarkis anggap saja sebuah tampilan "seni" kehidupan dan implementasi percontohan dari bapak proklamator kita Bung Karno dengan orasi-orasinya. Soekarno sebagai orator ulung bisa mengajak secara persuasif-psikologis rakyat untuk tetap tertanam namanya nasionalisme didalam jiwa-jiwa rakyat. Terlepas adanya yang suka dan tidak suka pada sang proklamator, tapi titik temunya adalah dimana bangsa Indonesia ini tidak akan merdeka kalau tanpa Bung Karno. Pertunjukan seni mahasiswa yang dilakukan dengan orasi-orasinya dijalan, tempat terbuka, dimuka umum, merupakan manifestasi dari semangat juang kemerdekaan, semangat juang pahlawan-pahlawan dari berbagai macam lapisan kaum intelektual, budayawan, sastrawan, agamawan, ulama-ulama, dan lain-lain dari berbagai suku dan latar belakang bersatu demi terciptanya kemerdekaan yang sudah sejak lama dimimpikan diimpikan. Kamipun percaya, suatu saat benar adanya sebuah pernyataan kalimat Soekarno yang menyatakan bahwa suatu saat Indonesia bakal menjadi "mercusuar dunia". Kami masih menunggu itu, kami masih berusaha ikut terlibat memperjuangkan juga, sebagai alasan adalah Soekarno, Soekarno yang sangat menghargai pemuda potensinya, bakatnya, dan generasi pemudalah yang bakal merubah, mereformasi dari yang baik menuju yang lebih baik.
Harapannya pemerintah tidak hanya menjadi kipas angin yang memiliki dua fungsi, pertama untuk menghilangkan panas, contohnya pemerintah akan bilang "Hargailah tahap-tahap pembangunan.." ketika mereka terpojokan oleh suara kritik rakyat. Satu lagi, fungsi dimana kipas angin justru menjadi pelopor stimulus hawa panas itu sendiri sama halnya tukang sate yang memanggang bara apinya, beberapa dari mereka yang menggunakan cara-cara konvensional memakai kipas tradisional dan lainnya ada yang sudah memakai kipas angin, nah... contoh sikap pemerintahnya adalah saat pembangunan terasa kering dan masyarakat sudah mengindikasikan sikap-sikap yang apatis, mereka akan berkata "Mari bersama-sama ikut berkontribusi dan meningkatkan rasa memiliki akan pembanguan...". Meskipun fungsi kipas angin ini hanya sebagai analogi dari hasil analisi subjektif penulis tapi ini bisa jadi bahan kontemplasi positif-negatifnya.
Jadi intinya, dinamika yang terjadi terasa sangat indah dinegeri tercinta ini bagai pelangi dengan warna warninya tapi tetap disebut satu yaitu "pelangi" tak pernah yang lain, terkecuali hanya beda bahasa saja. Negeri ini dengan keunikan tipologinya, dan cabang-cabangnya juga dari tipologi itu seperti sektetarian, primordial, aliran-aliran keagamaan, bukanlah hal-hal yang tendensinya mengarah pada orientasi pengkotak-kotakan sebagaimana dikampus-kampus dengan berbagai organisasinya dengan beragam ideologinya, itulah bhineka tunggal ika itulah manifestasi nyatanya. Dewasa ini, berbagai dekadensi dinegeri Indonesia negerinya para cendekia muda Nusantara ini, wabilkhusus... didaerah Pandeglang sebagai spesifikasi pembahasan tulisan ini tidak serta merta mendekadensi semangat juang pemuda-pemudi Indonesia yang nyatanya walau harus tereduksi oleh budaya-budaya barat diserang dari berbagai arah untuk melemahkan kami para pemuda. Jadi analoginya pemuda mahasiswa sekarang seperti atmosfer yang lapisannya sudah banyak yang bocor tapi tetap dengan tekad dan itikad yang baik sesuai dengan fungsinya melindungi bumi dari radiasi matahari yang berlebihan.
Semoga kawan-kawan yang membaca akan tetap menjunjung tinggi NKRI, Pancasilanya, serta beragam hasil cipta rasa dan karya para pendahulu bangsa, boleh dengan berbagai referensi, boleh mengkomparasikan dengan berbagai ideologi, sejarah luar negeri, untuk terus mengeksplor, meningkatkan juga menambah wawasan generasi muda Indonesia untuk akhirnya kami akan sampai pada titik dimana usaha-usaha tersebut mencapai sebuah kalimat bahwa "Inilah Indonesiaku... bagaimanapun Indonesia tetaplah aku yang akan mempahit maniskannya aku, bukan yang lain.."
Semoga tulisannya bermanfaat, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan sebagai salah satu aplikasi budaya gotong royong bangsa kita!!! :)
Bertepatan dengan HUT Pandeglang itu juga, beberapa organisasi mahasiswa melakukan aksinya outputnya hanya untuk ikut berpartisipasi dalam acara dan memberikan konstribusi masukan dan kritik-konstrukstif pada kepengurusan sebelumnya, dan ingin kepengurusan pemerintahan Kabupaten Pandeglang yang sekarang baru terpilih bisa untuk bersedia mendengarkan mahasiswa sebagai kaum pemuda intelektual daerah yang juga termasuk komponen yang memiliki hak untuk berpendapat mengaspirasikan suaranya untuk memproposisikan diri mereka, seyogyanya mahasiswa agent of control, dan pergerakannya bisa menjadi komposisi yang lezat bagi proses pemerintahan yang ada. Beberapa organisasi tersebut adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Keluarga Mahasiswa Cibaliung. Tapi karena beberapa hambatan dari kepolisian yang membawa dan di back up oleh kaum Jawara yaitu Laskar Berkah untuk menghindari keributan dan bentrok Mahasiswapun mundur jadi mereka hanya bisa mengaspirasikan sedikit daripada masukan dan tuntutan buat saudara-saudara birokrat Pandeglang.
Kekuatan dan kemenangan mahasiswa serta pergerakan dan perjuangannya tidak hanya sebatas ceremony belaka hanya untuk formalitas program organisasi agar tidak ada reduksi kreatifitas anggota Organisasi mahasiswa, tapi lebih daripada itu lebih daripada hanya sekedar "gagah-gagahan" konotasinya murni karena ingin bergerak mengeksplor dan terus mengevaluasi serta mengontrol perkembangan bangsa & negara dengan pendapat dan persepsi-persepsi subjektif mereka masing-masing, dan... tidak ada masalah. Kebebasan pers yang selama ini disuarakan ketika aksi tersebut bisa disebut hanya takhayul, dilindungi UU hanya takhayul, seolah-olah oknum-oknum yang merasa bersalah terancam dan ketakutan, Lucunya... Kenapa harus ? Kenapa harus hidup sampeyan-sampeyan ini dibikin ruwet dan ribet wahai sang penguasa birokrasi, hukum, dan keamanan ? Padahal anggap saja pergerakan-pergerakan mahasiswa ini yang menimbulkan pergolakan selama kawan-kawan tidak anarkis anggap saja sebuah tampilan "seni" kehidupan dan implementasi percontohan dari bapak proklamator kita Bung Karno dengan orasi-orasinya. Soekarno sebagai orator ulung bisa mengajak secara persuasif-psikologis rakyat untuk tetap tertanam namanya nasionalisme didalam jiwa-jiwa rakyat. Terlepas adanya yang suka dan tidak suka pada sang proklamator, tapi titik temunya adalah dimana bangsa Indonesia ini tidak akan merdeka kalau tanpa Bung Karno. Pertunjukan seni mahasiswa yang dilakukan dengan orasi-orasinya dijalan, tempat terbuka, dimuka umum, merupakan manifestasi dari semangat juang kemerdekaan, semangat juang pahlawan-pahlawan dari berbagai macam lapisan kaum intelektual, budayawan, sastrawan, agamawan, ulama-ulama, dan lain-lain dari berbagai suku dan latar belakang bersatu demi terciptanya kemerdekaan yang sudah sejak lama dimimpikan diimpikan. Kamipun percaya, suatu saat benar adanya sebuah pernyataan kalimat Soekarno yang menyatakan bahwa suatu saat Indonesia bakal menjadi "mercusuar dunia". Kami masih menunggu itu, kami masih berusaha ikut terlibat memperjuangkan juga, sebagai alasan adalah Soekarno, Soekarno yang sangat menghargai pemuda potensinya, bakatnya, dan generasi pemudalah yang bakal merubah, mereformasi dari yang baik menuju yang lebih baik.
Harapannya pemerintah tidak hanya menjadi kipas angin yang memiliki dua fungsi, pertama untuk menghilangkan panas, contohnya pemerintah akan bilang "Hargailah tahap-tahap pembangunan.." ketika mereka terpojokan oleh suara kritik rakyat. Satu lagi, fungsi dimana kipas angin justru menjadi pelopor stimulus hawa panas itu sendiri sama halnya tukang sate yang memanggang bara apinya, beberapa dari mereka yang menggunakan cara-cara konvensional memakai kipas tradisional dan lainnya ada yang sudah memakai kipas angin, nah... contoh sikap pemerintahnya adalah saat pembangunan terasa kering dan masyarakat sudah mengindikasikan sikap-sikap yang apatis, mereka akan berkata "Mari bersama-sama ikut berkontribusi dan meningkatkan rasa memiliki akan pembanguan...". Meskipun fungsi kipas angin ini hanya sebagai analogi dari hasil analisi subjektif penulis tapi ini bisa jadi bahan kontemplasi positif-negatifnya.
Jadi intinya, dinamika yang terjadi terasa sangat indah dinegeri tercinta ini bagai pelangi dengan warna warninya tapi tetap disebut satu yaitu "pelangi" tak pernah yang lain, terkecuali hanya beda bahasa saja. Negeri ini dengan keunikan tipologinya, dan cabang-cabangnya juga dari tipologi itu seperti sektetarian, primordial, aliran-aliran keagamaan, bukanlah hal-hal yang tendensinya mengarah pada orientasi pengkotak-kotakan sebagaimana dikampus-kampus dengan berbagai organisasinya dengan beragam ideologinya, itulah bhineka tunggal ika itulah manifestasi nyatanya. Dewasa ini, berbagai dekadensi dinegeri Indonesia negerinya para cendekia muda Nusantara ini, wabilkhusus... didaerah Pandeglang sebagai spesifikasi pembahasan tulisan ini tidak serta merta mendekadensi semangat juang pemuda-pemudi Indonesia yang nyatanya walau harus tereduksi oleh budaya-budaya barat diserang dari berbagai arah untuk melemahkan kami para pemuda. Jadi analoginya pemuda mahasiswa sekarang seperti atmosfer yang lapisannya sudah banyak yang bocor tapi tetap dengan tekad dan itikad yang baik sesuai dengan fungsinya melindungi bumi dari radiasi matahari yang berlebihan.
Semoga kawan-kawan yang membaca akan tetap menjunjung tinggi NKRI, Pancasilanya, serta beragam hasil cipta rasa dan karya para pendahulu bangsa, boleh dengan berbagai referensi, boleh mengkomparasikan dengan berbagai ideologi, sejarah luar negeri, untuk terus mengeksplor, meningkatkan juga menambah wawasan generasi muda Indonesia untuk akhirnya kami akan sampai pada titik dimana usaha-usaha tersebut mencapai sebuah kalimat bahwa "Inilah Indonesiaku... bagaimanapun Indonesia tetaplah aku yang akan mempahit maniskannya aku, bukan yang lain.."
Semoga tulisannya bermanfaat, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan sebagai salah satu aplikasi budaya gotong royong bangsa kita!!! :)
Kamis, 31 Maret 2016
PERANAN KURSUS DALAM PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT
I. PENDAHULUAN
Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal dan informal pada setip jenjang dan jenis pendidikan .
Satuan Pendidikan Nonformal (Sisdiknas Pasal 26 ayat 4) terdiri atas :
1. Lembaga Kursus dan Pelatihan,
2. Kelompok belajar,
3. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),
4. Majelis taklim serta satuan pendidikan sejenis
Sisdiknas Pasal 26 ayat 5: Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
II. PERMASALAHAN
1. Apa yang dimaksud dengan kursus ?
2. Jenis-jenis kursus seperti apakah yang diatur pemerintah?
3. Apa yang dimaksud dengan pelatihan dan pendidikan?
4. Apa manfaat pelatihan dan pendidikan?
5. Bagaimana peranan pelatihan dan pendidikan untuk peningkatan sumber daya manusia?
III. PEMBAHASAN
1. KURSUS
Lembaga Kursus merupakan satuan pendidikan pendidikan luar sekolah (Nonformal) yang diselenggarakan bagi warga masya- rakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, dan atau melanjutkan ke tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
A. Ciri-ciri kursus:
a. Isi dan tujuan pendidikannya selalu berorientsi pada hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, untuk mengembangkan minat dan bakat, pekerjaan, profesi, usaha mandiri, karier, mempersiapkan diri dari masa depan, memperkuat kegiatan pendidikan, dan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
b. Warga beajar usianya tidak dibatasi, dan tidak dibedakan jenis kelaminya, jumlah disesuaikan dengan kebutuhan proses belajar yang efektif
c. Program belajar isi pendidikan berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan fungsional, profesi yang dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar dan untuk persiapan memasuki masa depan. Metode penyajian disesuaikan dengan kondisi warga belajar dan situasi setempat.
d. Tenaga pendidik, sarana/fasilitas disesuaikan dengan jenis dan tingkat kursus.
e. Hasil belajar langsung dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri kursus:
Isi dan tujuan pendidikannya selalu berorientsi pada hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat
Warga beajar usianya tidak dibatasi
Program belajar isi pendidikan berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan fungsional, profesi yang dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar dan untuk persiapan memasuki masa depan
Tenaga pendidik, sarana/fasilitas disesuaikan dengan jenis dan tingkat kursus
Hasil belajar langsung dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Memiliki kurikulum sesuai dengan program belajar yang dibutuhkan.
Kursus diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
Beberapa rumpun kursus diantaranya :
o Menjahit
o Tata Kecantikan Kulit/Rambut
o Tata Rias Pengantin
o Jasa Boga
o Otomotif
o Elektronika
o SPA
o Komputer
o Pariwisata (perhotelan)
o Bahasa
o dsb
Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Kursus.
Dalam rangka Pemerataan dan Perluasan Akses, dilaksanakan melalui penyelenggaraan berbagai program yang mengarah pada pembekalan kepada warga belajar tentang pengetahuan, keterampilan sikap, dan kepribadian profesional yang berbasis pada pendidikan kecakapan hidup, untuk memenuhi kebutuhan warga masyarakat baik pada spektrum pedesaan, perkotaan, nasional, dan internasional, yaitu: 1) Kursus Wirausaha Kota (KWK), 2) Kursus Wirausaha Desa (KWD), 3)Kursus Para Profesi (KPP), dan 4) Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) kerjasama SMK/Politeknik/BLK /Perguruan Tinggi.
Kebijakan mengacu pada misi direktorat kursus dan kelem- bagaan yaitu :
Mendorong terwujudnya kelembagaan kursus dan kursus para profesi (KPP) yang berorientasi pada peningkatan kecakapan hidup(PKH) yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat khususnya bagi penduduk miskin dan pengangguran terdidik, dapat bekerja dan atau berusaha secara produktif mandiri dan profesional.
Penjabaran dari misi tersebut dijabarkan kedalam induk program pembinaan kursus dan kelembagaan diantaranya :
Mewujudkan KPP yang berorientasi pada wirausaha pedesaan (Kursus Wirausaha Desa atau KWD)
Mewujudkan KPP yang berorientasi pada wirausaha perkotaan (Kursus Wirausaha Kota atau KWK)
Mewujudkan KPP yang berorientasi pada penyiapan tenaga kerja luar negeri
Dari misi dan induk program tersebut merupakan dasar dalam mengembangan program Kursus Para Profesi (KPP)
Landasan konseptual KPP.
Kursus yang dimaksud disini adalah salah satu bentuk layanan pendidikan pada jalur pendidikan non formal bagi masyarakat (peserta didik) melaui pendidikan dan latihan untuk membekali sejumlah kompetensi tertentu kepada pesera didik, sehingga mereka siap memasuki dunia kerja/DUDI
Istilah Para dalam bentuk kata benda mengandungarti pembantu (asisten) dan dalam kata kerja mengandung arti membantu (to assist).
Profesi (profession) berarti pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, artinya pekerjaan yang bersifat profesional bukan dilakukan orang yang karena tidak memilik pekerjaan sehingga harus melakukan pekerjaan tersebut.
Para Profesi dapat diartikan sebagai asisten profesi atau pembantu tenaga profesional berkenaan dengan pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu (spesifik) yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. Sebagai contoh: Para Medis adalah pembantu dibidang pekerjaan medis.
Jadi yang dimaksud Kursus Para Profesi (KPP) adalah program layanan pendidikan dan latihan yang berorientasi pda kecakapan hdup (Life-Skills) yang diberikan pada peserta didik agar memiliki kompetensi dibidang keterampilan tertentu, setingkat operator dan teknisi yang bersertifikat kompetensi sebagai bekal untuk bekerja didalam dan diluar negeriatau melaksanakan usaha mandiri.
Difininisi tersebut memberikan indikasi bahwa program KPP harus memenuhi 3 syarat :
Komptensi yang dikembangkan harus sesuai dengan permintaan atau kebutuhan DUDI.
Harus dilakukan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat
Lulusan KPP yaitu para profesi harus harus disalurkan untuk mengisi lapangan kerja baik dalam maupun luar negeri atau membuka usaha sendiri. .
Oleh karena itu penyelenggaraan KPP harus didasarkan atas “Job Order ” dari DUDI baik dalam negeri maupun Luar negeri.
a. Program Kursus Wirausaha Kota (KWK)
Kursus Wirausaha Kota (KWK) adalah program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) yang diselenggarakan secara khusus untuk memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat perkotaan agar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan menumbuhkembangkan sikap mental kreatif, inovatif, bertanggung jawab serta berani menanggung resiko (sikap mental profesional) dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya yang dapat dijadikan bekal untuk bekerja dan atau berwirausaha dalam upaya peningkatan kualitas hidupnya.
o Jenis Keterampilan/Vokasi
Keterampilan yang diselenggarakan dalam program KWK adalah jenis keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan/atau usaha yang ada diperkotaan, antara lain:
1. Menjahit
2. Tata Kecantikan Kulit/Rambut
3. Tata Rias Pengantin
4. Jasa Boga
5. Otomotif
6. Elektronika
7. SPA
8. Komputer
9. Pariwisata (perhotelan)
10 Jenis keterampilan bidang jasa lainnya sesuai kebutuhan pasar kerja dan usaha di perkotaan.
b. Program Kursus Wirausaha Desa (KWD)
KWD adalah program Pendidikan Kecakapan Hidup yang diselenggarakan secara khusus untuk memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat pedesaan agar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan menumbuhkembangkan sikap mental kreatif, inovatif, bertanggung jawab serta berani menanggung resiko (sikap mental profesional) dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya yang dapat dijadikan bekal untuk peningkatan kualitas hidupnya.
o Jenis Keterampilan/Vokasi
Keterampilan yang diselenggarakan dalam program KWD adalah jenis keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan/atau wirausaha yang ada di pedesaan. Jenis keteram pilan KWD diarahkan pada sektor produksi yang memberdayakan sumber potensi sekitarnya. Prioritas jenis keterampilan yang relevan dengan pasar kerja dan/atau usaha di pedesaan, antara lain:
1. Pertanian
2. Perkebunan
3. Perikanan darat dan laut
4. Kehutanan
5. Peternakan
6. Pertukangan
7. Keterampilan lain yang dianggap laku di pasar
sekitar (marketable).
c. Program Kursus Para Profesi (KPP)
Kursus Para Profesi (KPP) adalah program pelayanan pendidikan dan pelatihan berorientasi pada Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) yang diberikan kepada peserta didik agar memiliki kompetensi di bidang keterampilan tertentu setingkat operator dan teknisi yang bersertifikat kompetensi sebagai bekal untuk bekerja.
o Jenis Keterampilan/Vokasi
Keterampilan yang diselenggarakan dalam program KPP adalah jenis keterampilan yang sesuai dengan pesanan tenaga kerja (job order) yang dimiliki oleh lembaga penyelenggara KPP. Prioritas Jenis keterampilan yang dapat diselenggarakan melalui program KPP, antara lain :
1. Otomotif
2. Elektronika
3. Spa
4. Komputer
5. Akupunktur
6. PLRT plus
7. Garmen/menjahit
8. Baby Sitter
9. Care Giver
10. House Keeping
11. Pariwisata (perhotelan)
12. Jenis keterampilan lainnya sesuai job order.
2. PELATIHAN DAN PENDIDIKAN
Pengertian Pelatihan dan Pendidikan
Mengikut Fliffo (1988) “education is concerded with increasing general knowledge and understanding of our total environment” (pendidikan ialah berkait rapat dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman kepada persekitaran secara keseluruhan). Manakala “Training is the act of increasing the knowldedge and skill of an employe for doing a particular job” (latihan ialah suatu usaha peningkatan pengetahuan dan kefakaran seorang pegawai untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu).
F. Sikula pula berpendapat bahawa “training is a short term educational process utilizing a systematic and organized procedure by which non managerial personnel learn techical knowledge and skills for a definete purpose” (latihan ialah suatu proses pendidikan jangka masa singkat dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir dimana pegawai operasional belajar pengetahuan teknik pengerjaan dan kefakaran untuk tujuan tertentu).
Daripada dua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan (education) berbeda dengan latihan (training). Latihan merupakan bagian daripada pendidikan, latihan bersifat spesifik, praktis, dan segera. Yang dimaksud dengan spesifik dalam artian latihan bertalian erat dengan suatu pekerjaan tertentu atau spesifik daripada peserta. Manakala yang dimaksud dengan praktis dan segera ialah bahawa apa yang telah diberikan dalam masa latihan boleh diterapkan dengan segera, sehingga materi yang diberikan mestilah bersifat praktis.
Pendidikan lebih bersifat filosofis dan teoritis. Walaupun demikian, pendidikan dan latihan mempunyai matlamat yang sama, iaitu pembelajaran. Didalam pembelajaran terdapat pemahaman secara implisit. Menerusi pemahaman, pegawai dimungkinkan untuk menjadi seorang inovator, pengambil inisiatif, pemecah masalah yang kreatif, serta menjadi pegawai efisien dan efektip (berkesan) didalam menjalankan pekerjaan.
Latihan ialah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk mempertingkatkan kefakaran, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seseorang individu. Program latihan berusaha untuk mengajarkan kepada peserta (trainee) bagaimana menjalankan aktiviti atau pekerjaan tertentu. Menerusi latihan trainne memperoleh atau mempelajari sikap, kemampuan, kefakaran, pengetahuan, dan perilaku yang spesifik yang bertalian dengan pekerjaannya.
Perbedaan antara latihan dan pembinaan, latihan dimaksudkan untuk menolong pegawai menjalankan pekerjaan mereka pada masa sekarang secara lebih baik, manakala pembinaan pula ialah proses jangka masa lama peningkatan kinerja pegawai untuk menyongsong tantangan di masa hadapan.
Pembinaan berteraskan kepada fakta bahawa seorang pegawai akan memerlukan serangkaian pengetahuan, kefakaran, dan kebolehan yang lebih maju untuk mempertingkatkan kualiti kerja yang dipikulnya sepanjang kariernya. Pembinaan (development) diartikan sebagai penyiapan individu-individu untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau yang lebih tinggi di dalam organisasi. Pada amnya pembinaan bertalian dengan peningkatan kebolehan intelektual atau emosional yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan yang lebih baik.
2.1. Orientasi Pendidikan dan Latihan
Pendidikan dan latihan sebagai alat kepada organisasi untuk memudahkan pegawai melakukan tugasnya perlu diberikan sedari awal penempatan pegawai baru supaya dalam menghadapi cara kerja, lingkungan dan sistem kerja yang berlaku, pegawai berkenaan tidak merasa cemas dan mudah menyesuaikan diri.
Kerap sekali ditemui, pada masa pertama kali seseorang bekerja di persekitaran yang baru, akan nampak bahawa orang tersebut tidak boleh menyesuaikan diri dengan persekitaran kerjanya. Keadaan seperti ini juga dialami oleh mereka yang telah berpengalaman dalam pekerjaannya. Untuk mengatasi perasaan cemas dan sulitnya menyesuaikan diri bagi pegawai baru, organisasi membuat program pengenalan yang disebut orientasi.
Orientasi ialah aktiviti yang bertalian pengenalan individu kepada organisasi, dimana organisasi menyediakan landasan bagi pegawai baru untuk boleh berfungsi efektip dan menyenangi pekerjaan yang baru. Program orientasi bermula daripada pengenalan informasi yang singkat sehinggalah kepada program yang panjang. Pegawai baru memerlukan informasi spesifik dalam tiga perkara utama, iaitu:
1. Standard, pengharapan, norma, tradisi, dan kebijakan organisasi,
2. Perilaku sosial, iklim kerja, mengenalpasti rekan sejawat/kerja dan atasan langsung,
3. Aspek-aspek teknis pekerjaan.
Kejayaan orientasi mengikut French dalam Prasetya Irawan, dan at.al (1977), bahawa prosedur orientasi selayaknya menerusi perancangan dimana program tersebut dikhususkan untuk memecahkan persoalan spesifik pegawai baru. Mengikutnya pula, bahawa kunci sukses program orientasi terletak kepada pendekatan yang partisipatif, sambutan yang hangat, dan perhatian kepada individu merupakan, perkara yang vital dalam program orientasi. Tujuan orientasi pegawai baru oleh Hendry Simamora (1985) ialah:
1. Mempelajari prosedur pekerjaan,
2. Menjalin hubungan dengan rakan sekerja, bawahan ataupun atasan dan menyesuaikan diri dengan cara-cara organisasi dalam melaksanakan tugas pekerjaannya. Masudnya adalah untuk mengembangkan pengharapan pekerjaan yang realistik dan sikap positif terhadap organisasi,
3. Menumbuhkan kepada pegawai baru perasaan memiliki dengan cara memperlihatkan bagaimana pekerjaan mereka bersesuaian dengan keseluruhan organisasi,
4. Mengurangi jumlah stres dan kegelisahan yang dialami oleh pegawasi baru,
5. Mengurangi biaya start-up.
Program pengenalan pegawai baru terhadap persekitaran kerjanya disebut pula induksi ataupun sosialisasi. Induksi merupakan tarap awal daripada program orientasi dimana pegawai baru mempelajari tugas yang akan dilakukan, siapa penyelia/pembimbing atasan langsungnya, struktur organisasi, peraturan, kebijakan prosedur kerja, dan lain-lain. Sementara itu sosialisasi adalah proses yang berlangsung terus menerus berupa penanaman dalam diri pegawai mengenai norma, standard, prosedur kerja, sikap dan perilaku kerja yang berlaku dalam organisasi. Sosialisasi tidak hanya untuk pegawai baru, tetapi juga berlangsung ketika seorang pegawai memperoleh promosi atau dimutasikan ke unit organisasi lainnya. Dalam sosialisasi ini diharapkan perilaku individu yang inovatif ataupun adaptif.
Pelaksananaan program orientasi supaya lebih efektip, mengikut Henry Simamora (1995) mestilah dihindari perkara-perkara seperti berikut:
1. Penekanan kepada kertas kerja (paper work),
Pegawai baru diberikan sambutan sepintas lalu, setelah mengisi formulir-formulir yang diberikan oleh biro/bagian kepegawaian. Kemudian pegawai berkenaan diarahkan kepada atasan langsungnya. Pendekatan seperti ini, implikasinya pegawai tidak merasa sebagai bagian dari instansinya.
2. Tinjauan yang kurang lengkap mengenai dasar-dasar pekerjaan.
Suatu orientasi yang cepat dan dangkal karena pegawai baru langsung ditempatkan pada pekerjaan, sehingga mereka merasa tenggelam ataupun mangap-mangap.
3. Tugas-tugas pertama pegawai baru tidak signifikan, dimaksudkan untuk mengajarkan pekerjaan mulai dari dasar sekali,
4. Memberikan terlampau banyak maklumat secara cepat adalah suatu keinginan yang baik, tetapi merupakan pendekatan yang mencelakakan, menyebabkan pegawai baru merasa kewalahan dan mati lemas.
2.2. Keterkaitan Pendidikan dan Latihan
Pendidikan dan latihan berhubung kait dengan aspek-aspek lainnya daripada pengurusan sumber manusia, seperti penempatan, perencanaan karier, penilaian prestasi kerja, dan kompensasi. Hubungan atau keterkaitan pelatihan boleh dijelaskan seperti berikut:
a) Keterkaitan pendidikan dan latihan dengan penempatan (placement),
Konsep penempatan mencakup promosi, transfer dan bahkan demosi. Sebagaimana halnya pegawai baru, pegawai lamapun perlu direkrut secara internal, perlu diseleksi dan lazimnya mereka menjalani program orientasi sebelum mereka ditempatkan pada posisi baru dan melaksanakan pekerjaan yang baru pula. Untuk penempatan seperti promosi, salah satu persyaratannya, pernah dan lulus mengikuti program pendidikan dan latihan jabatan. Dengan demikian penempatan pegawai dilandasi oleh program latihan dalam rangka peningkatan profesionaliti, sama ada untuk masa sekarang mahupun dimasa yang akan datang.
b) Keterkaitan latihan dengan perencanaan karier,
Biro/bagian kepegawaian departemen/intansi diharapkan bersikap proaktif dalam perencanaan karier para pegawainya. Dengan sikap yang proaktif tersebut akan boleh menolong para pelatih/instruktur/widyaiswara mengidentifikasikan keperluan para pegawai didalam pendidikan dan latihan serta pengembangan tertentu. Biro/bagian boleh menyelenggarakan latihan tentang perencanaan karier yakni pengalihan pengetahuan mengenai berbagai teknik perencanaan karier dengan menggunakan kaedah ceramah dari para pejabat, lokakarya ataupun seminar. Pendikatan ini memberikan manfaat bagi pegawai, antara lain:
i) Pegawai mengetahui komitmen pimpinan bahawa mereka diberikan kesempatan untuk meniti karier setinggi mungkin dalam organisasi,
ii) Para pegawai diarahkan untuk menentukan sasaran kariernya, mengidentifikasikan jalur karier yang mungkin ditempuhnya, cara memanfaatkan berbagai peluang mengembangkan karier, serta memilih berbagai kegiatan pengembangan karier yang mungkin dilakukannya.
c) Keterkaitan pendidikan dan latihan dengan penilaian prestasi kerja,
Suatu sistem penilaian prestasi kerja yang baik sangat berguna untuk berbagai kepentingan. Salah satu manfaatnya ialah untuk menyusun program pendidikan dan latihan, sama ada yang dimaksudkan untuk mengatasi berbagai kekurangan dan kelemahan mahupun untuk mengembangkan potensi pegawai yang ternyata belum sepenuhnya terungkap menerusi penilaian prestasi kerja.
d) Keterkaitan pendidikan dan latihan dengan kompensasi.
Salah satu faktor pribadi pegawai yang mempengaruhi besarnya pemberian kompensasi ialah pendidikan dan latihan. Pegawai yang berpendidikan lebih tinggi akan memperoleh kompensasi yang lebih besar daripada pegawai yang lebih rendah tingkat pendididkannya. Pertimbangan faktor ini merupakan penghargaan organisasi kepada keprofesionalitasan seseorang. Pertimbangan ini juga boleh memotivasi pegawai untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilannya.
2.3. Tujuan dan Manfaat Pendidikan dan Latihan
Departemen/instansi yang akan menyelenggarakan pendidikan dan latihan perlu terlebih dahulu menentukan manfaat yang ingin dicapai menerusi pendidikan dan latihan tersebut. Penyelenggaraan pendidikan dan latihan harus jelas apa yang akan menjadi matlamatnya sehingga nyata arah atau tujuan yang harus diraih. Pendidikan dan latihan yang sekedar untuk menghabiskan anggaran yang tersedia atau ketertarikan pimpinan terhadap program tertentu sering kali merupakan pemborosan. Oleh itu tujuan latihan merupakan pedoman dan penyusunan program latihan, pelaksanaan dan evaluasinya.
Manfaat pendidikan dan latihan mengikut Hani Handoko (1994), semestinya boleh menutupi gap atau kesenjangan antara kemampuan pegawai dengan spesifikasi pekerjaan. Tujuan lainnya, program pendidikan dan latihan diharapkan merubah perilaku kerja pegawai agar boleh mempertingkatkan efisiensi dan efektivitas kerja pegawai dalam meraih sasaran kerja yang telah ditetapkan.
Walaupun program pendidikan dan latihan menghabiskan waktu dan biaya yang mahal, namun akan mengurangi perpindahan atau pusing ganti pegawai (turnover) dan boleh mempertingkatkan produktiviti pegawai. Program pendidikan dan latihan akan membantu pegawai dalam menghindari diri daripada keusangan dan melaksanakan tugas pekerjaan dengan lebih baik.
Henry Simamora (1995) berpendapat bahawa tujuan-tujuan utama latihan dapat dikelompokkan kedalam lima bidang:
i) Memutahirkan keahlian para pegawai sejalan dengan perubahan teknologi,
ii) Mengurangi waktu belajar bagi pegawai baru untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan,
iii) Membantu memecahkan permasalahan operasional,
iv) Mempersiapkan pegawai untuk promosi,
v) Mengorientasikan pegawai terhadap organisasi.
Pendidikan dan latihan mustahak perlu dijalankan, kemutlakan itu tergambar pada berbagai jenis manfaat yang boleh dipetik daripada pendidikan dan latihan. Sama ada P. Siagian (1999) mahupun William B. Werter Jr. dan Keith Davis (1996) menyatakan bahawa pada asasnya terdapat beberapa manfaat pendidikan dan latihan bagi organisasi, individu, dan bagi penumbuhan dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara berbagai kelompok (kumpulan) kerja dalam suatu organisasi.
a) Manfaat bagi organisasi
1) Peningkatan produktiviti kerja organisasi sebagai keseluruhan antara lain karena tidak terjadinya pemborosan, karena kecermatan melaksanakan tugas, tumbuh suburnya kerja sama antara berbagai satuan kerja yang melaksanakan kegiatan yang berbeda dan bahkan spesialistik, meningkatkan tekad mencapai sasaran yang telah ditetapkan serta lancarnya koordinasi, sehingga organisasi bergerak sebagai suatu kesatuan yang bulat dan utuh,
2) Terwujudnya hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan, antara lain karena adanya pendelegasian wewenang, interaksi yang didasarkan kepada sikap dewasa, sama ada secara terknikal maupun intelektual. Saling menghargai dan adanya kesempatan bagi bawahan untuk berfikir dan bertindak secara inovatif,
3) Terjadinya proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat karena membabitkan para pegawai yang bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan-kegiatan operasional dan tidak sekedar diperintahkan oleh para manajer.
4) Meningkatkan semangat kerja seluruh pegawai dalam organisasi dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi,
5) Mendorong sikap keterbukaan manajemen menerusi penerapan gaya managerial (pengurusan) yang partisipatif,
6) Memperlancar jalannya komunikasi yang efektip yang pada gilirannya memperlancar proses perumusan kebijakan organisasi dan operasionalnya,
7) Penyelesaian konflik secara fungsional yang dampaknya ialah tumbuh suburnya rasa persatuan dan suasana kekeluargaan di kalangan para anggota organisasi.
b) Manfaat bagi individu
1) Menolong para pegawai membuat keputusan dengan lebih baik,
2) Meningkatkan kemampuan para pegawai menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya,
3) Terjadinya internalisasi dan operasionalisasi faktor-faktor motivasional,
4) Timbulnya dorongan di dalam diri para pegawai untuk terus mempertingkatkan kemampuan kerjanya,
5) Peningkatan kemampuan pegawai untuk mengatasi stress, frustasi dan konflik yang pada gilirannya memperbesar rasa percaya pada diri sendiri,
6) Tersedianya informasi tentang berbagai program yang dapat dimanfaatkan oleh para pegawai dalam rangka pertumbuhan masing-masing secara teknikal dan intelektual,
7) Meningkatkannya kepuasan kerja,
8) Semakin besarnya pengakuan atas kemampuan seseorang,
9) Makin besarnya tekad pegawai untuk lebih mandiri,
10) Mengurangi ketakutan menghadapi tugas-tugas baru dimasa depan,
c) Manfaat bagi kelompok kerja
1) Terjadinya proses komunikasi yang efektip,
2) Adanya persepsi yang sama tentang tugas-tugas yang harus diselesaikan,
3) Ketaatan semua pihak kepada berbagai ketentuan yang bersifat normal, sama ada yang berlaku umum dan ditetapkan oleh instatnsi pemerintah yang berwenang mahupun yang berlaku khusus di lingkungan suatu organisasi tertentu.
4) Terjadinya iklim yang baik bagi pertumbuhan selurus pegawai,
5) Menjadikan organisasi sebagai tempat yang lebih menyenangkan untuk berkarya.
Kendati demikian luasnya manfaat pendidikan dan latihan tersebut, tidaklah berarti bahawa seluruhnya akan dapat dicapai dengan satu jenis pendidikan dan latihan sahaja. Karena tujuan pendidikan dan latihan itu berbeda-beda tergantung kepada sasaran yang ingin dicapai dengan pendidikan dan latihan tersebut.
METODE PELATIHAN
Berdasarkan pertimbangan dalam menentukan metode latihan tersebut, berikut ini ialah berbagai metode diklat yang sudah umum dikenal dan digunapakai di berbagai organisasi, iaitu:
1) On the job training
Diklat ini berbentuk penugasan pegawai-pegawai baru di bawah bimbingan pegawai lain yang telah berpengalaman. Para pegawai senior yang bertugas untuk membimbing pegawai baru diharapkan memperhatikan suatu pekerjaan yang jelas dan konkret yang akan dikerjakan oleh pegawai baru tersebut segera setelah diklat berakhir.
Berbagai macam metode on the job training yang pada umumnya digunakan dalam praktek antara lain rotasi pekerjaan, sistem magang, coaching, tugas belajar, dan penugasan sementara. Berikut ini penjelasan masing-masing metode tersebut:
a) Rotasi pekerjaan
Para pegawai dilatih mengerjakan beraneka ragam tugas, mereka ditransfer atau dimutasikan dari suatu jabatan ke jabatan lain untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka.
b) Sistem magang (apprenticeships)
Pegawai dilatih dibawah bimbingan rekan kerja yang sangat terampil.
c) Coaching
Atasan langsung memberikan bimbingan dan pengarahan kepada para pegawai dalam pelaksanaan kerja rutin pegawai dalam menjalankan kerja rutin mereka.
d) Tugas belajar (internship).
Pegawai belajar dari pegawai lain yang dianggap lebih berpengalaman dan lebih mahir melaksanakan tugas tertentu. Diklat kerja ini kerap dikombinasikan dengan pengajaran formal dalam kelas yang ada hubungannya dalam diklat tersebut.
e) Penugasan sementara
Penempatan pegawai pada posisi menajerial atau sebagai anggota panitia tertentu untuk jangka waktu ditetapkan. Pegawai tersebut terbabit langsung dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah-masalah organisasional nyata, serta mereka dapat meningkatkan keterampilan nyata, serta mereka dapat meningkatkan keterampilan dalam interaksi antara pegawai.
2) Off the job training
Diklat dengan menggunakan kaedah ini berarti pegawai sebagai peserta keluar sementara dari kegiatan atau pekerjaannya untuk mengikuti latihan. Metode ini terdiri atas dua macam yakni teknik-teknik presentasi informasi dan metode simulasi.
1) Teknik-teknik presentasi informasi
a) Ceramah
Pengajar bertatap muka langsung dengan peserta. Peserta diklat pasif mendengarkannya.
b) Presentasi video
Presentasi TV, films, silides dan sejenisnya ialah serupa dengan bentuk kuliah. Metode ini biasanya digunakan sebagai bahan atau alat pelengkap bentuk-bentuk latihan lainnya.
c) Metode konverensi
Metode ini analog dengan bentuk kelas seminar di perguruan tinggi, sebagai pengganti metode kuliah. Tujuannya ialah untuk mengembangkan kecakapan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dan untuk mengubah sikap pegawai.
d) Programmed instruction
Metode ini menggunakan komputer untuk memperkenalkan kepada peserta mengenai topik yang harus dipelajari dan serangkaian langkah dengan umpan balik langsung pada penyelesaian setiap langkah sebelum pelajaran diberikan, peserta diberikan placement test untuk menentukan tingkatan awal setiap peserta.
e) Belajar sendiri (self study)
Teknik ini biasanya menggunakan manual atau modul tertulis dan kaset atau video tape rekaman. Belajar sendiri berguna bila pegawai tersebar secara geografis atau bila proses belajar hanya memerlukan sedikit interaksi.
2) Metode-metode simulasi
Peserta diklat menerima representasi tiruan (artificial) suatu aspek organisasi dan diminta untuk menanggapinya seperti dalam keadaan sebenarnya. Diantaranya metode-metode simulasi yang sering dugunapakai, antara lain:
a) Studi kasus
Pada metode ini peserta dihadapkan kepada suatu peristiwa/kejadian atau situasi yang pernah terjadi (studi kasus). Peserta diharapkan mampu mengidentifikasikan masalah-masah menganalisis situasi dan merumuskan penyelesaian-penyelesaian alternatif. Dengan metode kasus, pegawai dapat mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan.
b) Bermain peran (role playing).
Peserta ditugaskan untuk memerankan individu tertentu untuk membahas suatu permasalahan sesuai dengan peran masing-masing. Dalam perkara ini tidak ada naskah yang mengatur pembicaraan dan perilaku.
Efektivitas kaedah ini sangat tergantung kepada kemampuan peserta untuk memainkan peranan (sedapat mungkin sesuai dengan realitas) yang ditugaskan kepadanya. Teknik role playing dapat mengubah sikap peserta seperti misalnya menjadi lebih toleransi terhadap perbedaan individual dan mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi (interpersonal skills).
c) Vestibule training
Kaedah ini ialah untuk meningkatkan keterampilan terutama yang bersifat teknikal, ditempat pekerjaan, akan tetapi tanpa menganggu kegiatan organisasi sehari-hari. Organisasi menyediakan lokasi tertentu dengan dilengkapi berbagai jenis peralatan sama seperti yang akan digunakan dalam pekerjaan sebenarnya. Contoh Frontdesk, kegiatannya meliputi menerima tamu, pendaftaran tamu, pemberian informasi, menerima keluhan dan sebagainya.
d) Diklat laboratorium (laboratory training)
Teknik ini adalah suatu bentuk diklat kelompok yang terutama digunakan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi. Salah satu bentuk diklat ini seperti diklat kepekaan (sensitivity training) terhadap perasaan orang lain dan lingkungan. Diklat ini berguna untuk mengembangkan berbagai perilaku bagi tanggung jawab pekerjaan dimasa yang akan datang.
IV. KESIMPULAN
Lembaga Kursus merupakan satuan pendidikan pendidikan luar sekolah (Nonformal) yang diselenggarakan bagi warga masya- rakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, dan atau melanjutkan ke tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pendidikan (education) berbeda dengan latihan (training). Latihan merupakan bagian daripada pendidikan, latihan bersifat spesifik, praktis, dan segera. Manfaat pendidikan dan latihan mengikut Hani Handoko (1994), semestinya boleh menutupi gap atau kesenjangan antara kemampuan pegawai dengan spesifikasi pekerjaan.
V. DAFTAR PUSTAKA
1. Sutrisno, Ir, M. Pd. 2009. Makalah Satuan Pendidikan dan Program Pendidikan Non Formal. Bandung: Diklat Supervisi dan BimbinganTeknis Pendidikan Non Formal.
2. Suhari, Mukhlis. 2009. Diklat. Diakses: tanggal 5 April 2009. Sumber: www.suhardi-mukhlis.co.cc/download/3/ -
Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal dan informal pada setip jenjang dan jenis pendidikan .
Satuan Pendidikan Nonformal (Sisdiknas Pasal 26 ayat 4) terdiri atas :
1. Lembaga Kursus dan Pelatihan,
2. Kelompok belajar,
3. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),
4. Majelis taklim serta satuan pendidikan sejenis
Sisdiknas Pasal 26 ayat 5: Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
II. PERMASALAHAN
1. Apa yang dimaksud dengan kursus ?
2. Jenis-jenis kursus seperti apakah yang diatur pemerintah?
3. Apa yang dimaksud dengan pelatihan dan pendidikan?
4. Apa manfaat pelatihan dan pendidikan?
5. Bagaimana peranan pelatihan dan pendidikan untuk peningkatan sumber daya manusia?
III. PEMBAHASAN
1. KURSUS
Lembaga Kursus merupakan satuan pendidikan pendidikan luar sekolah (Nonformal) yang diselenggarakan bagi warga masya- rakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, dan atau melanjutkan ke tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
A. Ciri-ciri kursus:
a. Isi dan tujuan pendidikannya selalu berorientsi pada hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, untuk mengembangkan minat dan bakat, pekerjaan, profesi, usaha mandiri, karier, mempersiapkan diri dari masa depan, memperkuat kegiatan pendidikan, dan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
b. Warga beajar usianya tidak dibatasi, dan tidak dibedakan jenis kelaminya, jumlah disesuaikan dengan kebutuhan proses belajar yang efektif
c. Program belajar isi pendidikan berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan fungsional, profesi yang dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar dan untuk persiapan memasuki masa depan. Metode penyajian disesuaikan dengan kondisi warga belajar dan situasi setempat.
d. Tenaga pendidik, sarana/fasilitas disesuaikan dengan jenis dan tingkat kursus.
e. Hasil belajar langsung dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri kursus:
Isi dan tujuan pendidikannya selalu berorientsi pada hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat
Warga beajar usianya tidak dibatasi
Program belajar isi pendidikan berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan fungsional, profesi yang dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar dan untuk persiapan memasuki masa depan
Tenaga pendidik, sarana/fasilitas disesuaikan dengan jenis dan tingkat kursus
Hasil belajar langsung dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Memiliki kurikulum sesuai dengan program belajar yang dibutuhkan.
Kursus diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
Beberapa rumpun kursus diantaranya :
o Menjahit
o Tata Kecantikan Kulit/Rambut
o Tata Rias Pengantin
o Jasa Boga
o Otomotif
o Elektronika
o SPA
o Komputer
o Pariwisata (perhotelan)
o Bahasa
o dsb
Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Kursus.
Dalam rangka Pemerataan dan Perluasan Akses, dilaksanakan melalui penyelenggaraan berbagai program yang mengarah pada pembekalan kepada warga belajar tentang pengetahuan, keterampilan sikap, dan kepribadian profesional yang berbasis pada pendidikan kecakapan hidup, untuk memenuhi kebutuhan warga masyarakat baik pada spektrum pedesaan, perkotaan, nasional, dan internasional, yaitu: 1) Kursus Wirausaha Kota (KWK), 2) Kursus Wirausaha Desa (KWD), 3)Kursus Para Profesi (KPP), dan 4) Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) kerjasama SMK/Politeknik/BLK /Perguruan Tinggi.
Kebijakan mengacu pada misi direktorat kursus dan kelem- bagaan yaitu :
Mendorong terwujudnya kelembagaan kursus dan kursus para profesi (KPP) yang berorientasi pada peningkatan kecakapan hidup(PKH) yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat khususnya bagi penduduk miskin dan pengangguran terdidik, dapat bekerja dan atau berusaha secara produktif mandiri dan profesional.
Penjabaran dari misi tersebut dijabarkan kedalam induk program pembinaan kursus dan kelembagaan diantaranya :
Mewujudkan KPP yang berorientasi pada wirausaha pedesaan (Kursus Wirausaha Desa atau KWD)
Mewujudkan KPP yang berorientasi pada wirausaha perkotaan (Kursus Wirausaha Kota atau KWK)
Mewujudkan KPP yang berorientasi pada penyiapan tenaga kerja luar negeri
Dari misi dan induk program tersebut merupakan dasar dalam mengembangan program Kursus Para Profesi (KPP)
Landasan konseptual KPP.
Kursus yang dimaksud disini adalah salah satu bentuk layanan pendidikan pada jalur pendidikan non formal bagi masyarakat (peserta didik) melaui pendidikan dan latihan untuk membekali sejumlah kompetensi tertentu kepada pesera didik, sehingga mereka siap memasuki dunia kerja/DUDI
Istilah Para dalam bentuk kata benda mengandungarti pembantu (asisten) dan dalam kata kerja mengandung arti membantu (to assist).
Profesi (profession) berarti pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, artinya pekerjaan yang bersifat profesional bukan dilakukan orang yang karena tidak memilik pekerjaan sehingga harus melakukan pekerjaan tersebut.
Para Profesi dapat diartikan sebagai asisten profesi atau pembantu tenaga profesional berkenaan dengan pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu (spesifik) yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. Sebagai contoh: Para Medis adalah pembantu dibidang pekerjaan medis.
Jadi yang dimaksud Kursus Para Profesi (KPP) adalah program layanan pendidikan dan latihan yang berorientasi pda kecakapan hdup (Life-Skills) yang diberikan pada peserta didik agar memiliki kompetensi dibidang keterampilan tertentu, setingkat operator dan teknisi yang bersertifikat kompetensi sebagai bekal untuk bekerja didalam dan diluar negeriatau melaksanakan usaha mandiri.
Difininisi tersebut memberikan indikasi bahwa program KPP harus memenuhi 3 syarat :
Komptensi yang dikembangkan harus sesuai dengan permintaan atau kebutuhan DUDI.
Harus dilakukan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat
Lulusan KPP yaitu para profesi harus harus disalurkan untuk mengisi lapangan kerja baik dalam maupun luar negeri atau membuka usaha sendiri. .
Oleh karena itu penyelenggaraan KPP harus didasarkan atas “Job Order ” dari DUDI baik dalam negeri maupun Luar negeri.
a. Program Kursus Wirausaha Kota (KWK)
Kursus Wirausaha Kota (KWK) adalah program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) yang diselenggarakan secara khusus untuk memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat perkotaan agar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan menumbuhkembangkan sikap mental kreatif, inovatif, bertanggung jawab serta berani menanggung resiko (sikap mental profesional) dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya yang dapat dijadikan bekal untuk bekerja dan atau berwirausaha dalam upaya peningkatan kualitas hidupnya.
o Jenis Keterampilan/Vokasi
Keterampilan yang diselenggarakan dalam program KWK adalah jenis keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan/atau usaha yang ada diperkotaan, antara lain:
1. Menjahit
2. Tata Kecantikan Kulit/Rambut
3. Tata Rias Pengantin
4. Jasa Boga
5. Otomotif
6. Elektronika
7. SPA
8. Komputer
9. Pariwisata (perhotelan)
10 Jenis keterampilan bidang jasa lainnya sesuai kebutuhan pasar kerja dan usaha di perkotaan.
b. Program Kursus Wirausaha Desa (KWD)
KWD adalah program Pendidikan Kecakapan Hidup yang diselenggarakan secara khusus untuk memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat pedesaan agar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan menumbuhkembangkan sikap mental kreatif, inovatif, bertanggung jawab serta berani menanggung resiko (sikap mental profesional) dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya yang dapat dijadikan bekal untuk peningkatan kualitas hidupnya.
o Jenis Keterampilan/Vokasi
Keterampilan yang diselenggarakan dalam program KWD adalah jenis keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan/atau wirausaha yang ada di pedesaan. Jenis keteram pilan KWD diarahkan pada sektor produksi yang memberdayakan sumber potensi sekitarnya. Prioritas jenis keterampilan yang relevan dengan pasar kerja dan/atau usaha di pedesaan, antara lain:
1. Pertanian
2. Perkebunan
3. Perikanan darat dan laut
4. Kehutanan
5. Peternakan
6. Pertukangan
7. Keterampilan lain yang dianggap laku di pasar
sekitar (marketable).
c. Program Kursus Para Profesi (KPP)
Kursus Para Profesi (KPP) adalah program pelayanan pendidikan dan pelatihan berorientasi pada Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) yang diberikan kepada peserta didik agar memiliki kompetensi di bidang keterampilan tertentu setingkat operator dan teknisi yang bersertifikat kompetensi sebagai bekal untuk bekerja.
o Jenis Keterampilan/Vokasi
Keterampilan yang diselenggarakan dalam program KPP adalah jenis keterampilan yang sesuai dengan pesanan tenaga kerja (job order) yang dimiliki oleh lembaga penyelenggara KPP. Prioritas Jenis keterampilan yang dapat diselenggarakan melalui program KPP, antara lain :
1. Otomotif
2. Elektronika
3. Spa
4. Komputer
5. Akupunktur
6. PLRT plus
7. Garmen/menjahit
8. Baby Sitter
9. Care Giver
10. House Keeping
11. Pariwisata (perhotelan)
12. Jenis keterampilan lainnya sesuai job order.
2. PELATIHAN DAN PENDIDIKAN
Pengertian Pelatihan dan Pendidikan
Mengikut Fliffo (1988) “education is concerded with increasing general knowledge and understanding of our total environment” (pendidikan ialah berkait rapat dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman kepada persekitaran secara keseluruhan). Manakala “Training is the act of increasing the knowldedge and skill of an employe for doing a particular job” (latihan ialah suatu usaha peningkatan pengetahuan dan kefakaran seorang pegawai untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu).
F. Sikula pula berpendapat bahawa “training is a short term educational process utilizing a systematic and organized procedure by which non managerial personnel learn techical knowledge and skills for a definete purpose” (latihan ialah suatu proses pendidikan jangka masa singkat dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir dimana pegawai operasional belajar pengetahuan teknik pengerjaan dan kefakaran untuk tujuan tertentu).
Daripada dua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan (education) berbeda dengan latihan (training). Latihan merupakan bagian daripada pendidikan, latihan bersifat spesifik, praktis, dan segera. Yang dimaksud dengan spesifik dalam artian latihan bertalian erat dengan suatu pekerjaan tertentu atau spesifik daripada peserta. Manakala yang dimaksud dengan praktis dan segera ialah bahawa apa yang telah diberikan dalam masa latihan boleh diterapkan dengan segera, sehingga materi yang diberikan mestilah bersifat praktis.
Pendidikan lebih bersifat filosofis dan teoritis. Walaupun demikian, pendidikan dan latihan mempunyai matlamat yang sama, iaitu pembelajaran. Didalam pembelajaran terdapat pemahaman secara implisit. Menerusi pemahaman, pegawai dimungkinkan untuk menjadi seorang inovator, pengambil inisiatif, pemecah masalah yang kreatif, serta menjadi pegawai efisien dan efektip (berkesan) didalam menjalankan pekerjaan.
Latihan ialah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk mempertingkatkan kefakaran, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seseorang individu. Program latihan berusaha untuk mengajarkan kepada peserta (trainee) bagaimana menjalankan aktiviti atau pekerjaan tertentu. Menerusi latihan trainne memperoleh atau mempelajari sikap, kemampuan, kefakaran, pengetahuan, dan perilaku yang spesifik yang bertalian dengan pekerjaannya.
Perbedaan antara latihan dan pembinaan, latihan dimaksudkan untuk menolong pegawai menjalankan pekerjaan mereka pada masa sekarang secara lebih baik, manakala pembinaan pula ialah proses jangka masa lama peningkatan kinerja pegawai untuk menyongsong tantangan di masa hadapan.
Pembinaan berteraskan kepada fakta bahawa seorang pegawai akan memerlukan serangkaian pengetahuan, kefakaran, dan kebolehan yang lebih maju untuk mempertingkatkan kualiti kerja yang dipikulnya sepanjang kariernya. Pembinaan (development) diartikan sebagai penyiapan individu-individu untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau yang lebih tinggi di dalam organisasi. Pada amnya pembinaan bertalian dengan peningkatan kebolehan intelektual atau emosional yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan yang lebih baik.
2.1. Orientasi Pendidikan dan Latihan
Pendidikan dan latihan sebagai alat kepada organisasi untuk memudahkan pegawai melakukan tugasnya perlu diberikan sedari awal penempatan pegawai baru supaya dalam menghadapi cara kerja, lingkungan dan sistem kerja yang berlaku, pegawai berkenaan tidak merasa cemas dan mudah menyesuaikan diri.
Kerap sekali ditemui, pada masa pertama kali seseorang bekerja di persekitaran yang baru, akan nampak bahawa orang tersebut tidak boleh menyesuaikan diri dengan persekitaran kerjanya. Keadaan seperti ini juga dialami oleh mereka yang telah berpengalaman dalam pekerjaannya. Untuk mengatasi perasaan cemas dan sulitnya menyesuaikan diri bagi pegawai baru, organisasi membuat program pengenalan yang disebut orientasi.
Orientasi ialah aktiviti yang bertalian pengenalan individu kepada organisasi, dimana organisasi menyediakan landasan bagi pegawai baru untuk boleh berfungsi efektip dan menyenangi pekerjaan yang baru. Program orientasi bermula daripada pengenalan informasi yang singkat sehinggalah kepada program yang panjang. Pegawai baru memerlukan informasi spesifik dalam tiga perkara utama, iaitu:
1. Standard, pengharapan, norma, tradisi, dan kebijakan organisasi,
2. Perilaku sosial, iklim kerja, mengenalpasti rekan sejawat/kerja dan atasan langsung,
3. Aspek-aspek teknis pekerjaan.
Kejayaan orientasi mengikut French dalam Prasetya Irawan, dan at.al (1977), bahawa prosedur orientasi selayaknya menerusi perancangan dimana program tersebut dikhususkan untuk memecahkan persoalan spesifik pegawai baru. Mengikutnya pula, bahawa kunci sukses program orientasi terletak kepada pendekatan yang partisipatif, sambutan yang hangat, dan perhatian kepada individu merupakan, perkara yang vital dalam program orientasi. Tujuan orientasi pegawai baru oleh Hendry Simamora (1985) ialah:
1. Mempelajari prosedur pekerjaan,
2. Menjalin hubungan dengan rakan sekerja, bawahan ataupun atasan dan menyesuaikan diri dengan cara-cara organisasi dalam melaksanakan tugas pekerjaannya. Masudnya adalah untuk mengembangkan pengharapan pekerjaan yang realistik dan sikap positif terhadap organisasi,
3. Menumbuhkan kepada pegawai baru perasaan memiliki dengan cara memperlihatkan bagaimana pekerjaan mereka bersesuaian dengan keseluruhan organisasi,
4. Mengurangi jumlah stres dan kegelisahan yang dialami oleh pegawasi baru,
5. Mengurangi biaya start-up.
Program pengenalan pegawai baru terhadap persekitaran kerjanya disebut pula induksi ataupun sosialisasi. Induksi merupakan tarap awal daripada program orientasi dimana pegawai baru mempelajari tugas yang akan dilakukan, siapa penyelia/pembimbing atasan langsungnya, struktur organisasi, peraturan, kebijakan prosedur kerja, dan lain-lain. Sementara itu sosialisasi adalah proses yang berlangsung terus menerus berupa penanaman dalam diri pegawai mengenai norma, standard, prosedur kerja, sikap dan perilaku kerja yang berlaku dalam organisasi. Sosialisasi tidak hanya untuk pegawai baru, tetapi juga berlangsung ketika seorang pegawai memperoleh promosi atau dimutasikan ke unit organisasi lainnya. Dalam sosialisasi ini diharapkan perilaku individu yang inovatif ataupun adaptif.
Pelaksananaan program orientasi supaya lebih efektip, mengikut Henry Simamora (1995) mestilah dihindari perkara-perkara seperti berikut:
1. Penekanan kepada kertas kerja (paper work),
Pegawai baru diberikan sambutan sepintas lalu, setelah mengisi formulir-formulir yang diberikan oleh biro/bagian kepegawaian. Kemudian pegawai berkenaan diarahkan kepada atasan langsungnya. Pendekatan seperti ini, implikasinya pegawai tidak merasa sebagai bagian dari instansinya.
2. Tinjauan yang kurang lengkap mengenai dasar-dasar pekerjaan.
Suatu orientasi yang cepat dan dangkal karena pegawai baru langsung ditempatkan pada pekerjaan, sehingga mereka merasa tenggelam ataupun mangap-mangap.
3. Tugas-tugas pertama pegawai baru tidak signifikan, dimaksudkan untuk mengajarkan pekerjaan mulai dari dasar sekali,
4. Memberikan terlampau banyak maklumat secara cepat adalah suatu keinginan yang baik, tetapi merupakan pendekatan yang mencelakakan, menyebabkan pegawai baru merasa kewalahan dan mati lemas.
2.2. Keterkaitan Pendidikan dan Latihan
Pendidikan dan latihan berhubung kait dengan aspek-aspek lainnya daripada pengurusan sumber manusia, seperti penempatan, perencanaan karier, penilaian prestasi kerja, dan kompensasi. Hubungan atau keterkaitan pelatihan boleh dijelaskan seperti berikut:
a) Keterkaitan pendidikan dan latihan dengan penempatan (placement),
Konsep penempatan mencakup promosi, transfer dan bahkan demosi. Sebagaimana halnya pegawai baru, pegawai lamapun perlu direkrut secara internal, perlu diseleksi dan lazimnya mereka menjalani program orientasi sebelum mereka ditempatkan pada posisi baru dan melaksanakan pekerjaan yang baru pula. Untuk penempatan seperti promosi, salah satu persyaratannya, pernah dan lulus mengikuti program pendidikan dan latihan jabatan. Dengan demikian penempatan pegawai dilandasi oleh program latihan dalam rangka peningkatan profesionaliti, sama ada untuk masa sekarang mahupun dimasa yang akan datang.
b) Keterkaitan latihan dengan perencanaan karier,
Biro/bagian kepegawaian departemen/intansi diharapkan bersikap proaktif dalam perencanaan karier para pegawainya. Dengan sikap yang proaktif tersebut akan boleh menolong para pelatih/instruktur/widyaiswara mengidentifikasikan keperluan para pegawai didalam pendidikan dan latihan serta pengembangan tertentu. Biro/bagian boleh menyelenggarakan latihan tentang perencanaan karier yakni pengalihan pengetahuan mengenai berbagai teknik perencanaan karier dengan menggunakan kaedah ceramah dari para pejabat, lokakarya ataupun seminar. Pendikatan ini memberikan manfaat bagi pegawai, antara lain:
i) Pegawai mengetahui komitmen pimpinan bahawa mereka diberikan kesempatan untuk meniti karier setinggi mungkin dalam organisasi,
ii) Para pegawai diarahkan untuk menentukan sasaran kariernya, mengidentifikasikan jalur karier yang mungkin ditempuhnya, cara memanfaatkan berbagai peluang mengembangkan karier, serta memilih berbagai kegiatan pengembangan karier yang mungkin dilakukannya.
c) Keterkaitan pendidikan dan latihan dengan penilaian prestasi kerja,
Suatu sistem penilaian prestasi kerja yang baik sangat berguna untuk berbagai kepentingan. Salah satu manfaatnya ialah untuk menyusun program pendidikan dan latihan, sama ada yang dimaksudkan untuk mengatasi berbagai kekurangan dan kelemahan mahupun untuk mengembangkan potensi pegawai yang ternyata belum sepenuhnya terungkap menerusi penilaian prestasi kerja.
d) Keterkaitan pendidikan dan latihan dengan kompensasi.
Salah satu faktor pribadi pegawai yang mempengaruhi besarnya pemberian kompensasi ialah pendidikan dan latihan. Pegawai yang berpendidikan lebih tinggi akan memperoleh kompensasi yang lebih besar daripada pegawai yang lebih rendah tingkat pendididkannya. Pertimbangan faktor ini merupakan penghargaan organisasi kepada keprofesionalitasan seseorang. Pertimbangan ini juga boleh memotivasi pegawai untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilannya.
2.3. Tujuan dan Manfaat Pendidikan dan Latihan
Departemen/instansi yang akan menyelenggarakan pendidikan dan latihan perlu terlebih dahulu menentukan manfaat yang ingin dicapai menerusi pendidikan dan latihan tersebut. Penyelenggaraan pendidikan dan latihan harus jelas apa yang akan menjadi matlamatnya sehingga nyata arah atau tujuan yang harus diraih. Pendidikan dan latihan yang sekedar untuk menghabiskan anggaran yang tersedia atau ketertarikan pimpinan terhadap program tertentu sering kali merupakan pemborosan. Oleh itu tujuan latihan merupakan pedoman dan penyusunan program latihan, pelaksanaan dan evaluasinya.
Manfaat pendidikan dan latihan mengikut Hani Handoko (1994), semestinya boleh menutupi gap atau kesenjangan antara kemampuan pegawai dengan spesifikasi pekerjaan. Tujuan lainnya, program pendidikan dan latihan diharapkan merubah perilaku kerja pegawai agar boleh mempertingkatkan efisiensi dan efektivitas kerja pegawai dalam meraih sasaran kerja yang telah ditetapkan.
Walaupun program pendidikan dan latihan menghabiskan waktu dan biaya yang mahal, namun akan mengurangi perpindahan atau pusing ganti pegawai (turnover) dan boleh mempertingkatkan produktiviti pegawai. Program pendidikan dan latihan akan membantu pegawai dalam menghindari diri daripada keusangan dan melaksanakan tugas pekerjaan dengan lebih baik.
Henry Simamora (1995) berpendapat bahawa tujuan-tujuan utama latihan dapat dikelompokkan kedalam lima bidang:
i) Memutahirkan keahlian para pegawai sejalan dengan perubahan teknologi,
ii) Mengurangi waktu belajar bagi pegawai baru untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan,
iii) Membantu memecahkan permasalahan operasional,
iv) Mempersiapkan pegawai untuk promosi,
v) Mengorientasikan pegawai terhadap organisasi.
Pendidikan dan latihan mustahak perlu dijalankan, kemutlakan itu tergambar pada berbagai jenis manfaat yang boleh dipetik daripada pendidikan dan latihan. Sama ada P. Siagian (1999) mahupun William B. Werter Jr. dan Keith Davis (1996) menyatakan bahawa pada asasnya terdapat beberapa manfaat pendidikan dan latihan bagi organisasi, individu, dan bagi penumbuhan dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara berbagai kelompok (kumpulan) kerja dalam suatu organisasi.
a) Manfaat bagi organisasi
1) Peningkatan produktiviti kerja organisasi sebagai keseluruhan antara lain karena tidak terjadinya pemborosan, karena kecermatan melaksanakan tugas, tumbuh suburnya kerja sama antara berbagai satuan kerja yang melaksanakan kegiatan yang berbeda dan bahkan spesialistik, meningkatkan tekad mencapai sasaran yang telah ditetapkan serta lancarnya koordinasi, sehingga organisasi bergerak sebagai suatu kesatuan yang bulat dan utuh,
2) Terwujudnya hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan, antara lain karena adanya pendelegasian wewenang, interaksi yang didasarkan kepada sikap dewasa, sama ada secara terknikal maupun intelektual. Saling menghargai dan adanya kesempatan bagi bawahan untuk berfikir dan bertindak secara inovatif,
3) Terjadinya proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat karena membabitkan para pegawai yang bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan-kegiatan operasional dan tidak sekedar diperintahkan oleh para manajer.
4) Meningkatkan semangat kerja seluruh pegawai dalam organisasi dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi,
5) Mendorong sikap keterbukaan manajemen menerusi penerapan gaya managerial (pengurusan) yang partisipatif,
6) Memperlancar jalannya komunikasi yang efektip yang pada gilirannya memperlancar proses perumusan kebijakan organisasi dan operasionalnya,
7) Penyelesaian konflik secara fungsional yang dampaknya ialah tumbuh suburnya rasa persatuan dan suasana kekeluargaan di kalangan para anggota organisasi.
b) Manfaat bagi individu
1) Menolong para pegawai membuat keputusan dengan lebih baik,
2) Meningkatkan kemampuan para pegawai menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya,
3) Terjadinya internalisasi dan operasionalisasi faktor-faktor motivasional,
4) Timbulnya dorongan di dalam diri para pegawai untuk terus mempertingkatkan kemampuan kerjanya,
5) Peningkatan kemampuan pegawai untuk mengatasi stress, frustasi dan konflik yang pada gilirannya memperbesar rasa percaya pada diri sendiri,
6) Tersedianya informasi tentang berbagai program yang dapat dimanfaatkan oleh para pegawai dalam rangka pertumbuhan masing-masing secara teknikal dan intelektual,
7) Meningkatkannya kepuasan kerja,
8) Semakin besarnya pengakuan atas kemampuan seseorang,
9) Makin besarnya tekad pegawai untuk lebih mandiri,
10) Mengurangi ketakutan menghadapi tugas-tugas baru dimasa depan,
c) Manfaat bagi kelompok kerja
1) Terjadinya proses komunikasi yang efektip,
2) Adanya persepsi yang sama tentang tugas-tugas yang harus diselesaikan,
3) Ketaatan semua pihak kepada berbagai ketentuan yang bersifat normal, sama ada yang berlaku umum dan ditetapkan oleh instatnsi pemerintah yang berwenang mahupun yang berlaku khusus di lingkungan suatu organisasi tertentu.
4) Terjadinya iklim yang baik bagi pertumbuhan selurus pegawai,
5) Menjadikan organisasi sebagai tempat yang lebih menyenangkan untuk berkarya.
Kendati demikian luasnya manfaat pendidikan dan latihan tersebut, tidaklah berarti bahawa seluruhnya akan dapat dicapai dengan satu jenis pendidikan dan latihan sahaja. Karena tujuan pendidikan dan latihan itu berbeda-beda tergantung kepada sasaran yang ingin dicapai dengan pendidikan dan latihan tersebut.
METODE PELATIHAN
Berdasarkan pertimbangan dalam menentukan metode latihan tersebut, berikut ini ialah berbagai metode diklat yang sudah umum dikenal dan digunapakai di berbagai organisasi, iaitu:
1) On the job training
Diklat ini berbentuk penugasan pegawai-pegawai baru di bawah bimbingan pegawai lain yang telah berpengalaman. Para pegawai senior yang bertugas untuk membimbing pegawai baru diharapkan memperhatikan suatu pekerjaan yang jelas dan konkret yang akan dikerjakan oleh pegawai baru tersebut segera setelah diklat berakhir.
Berbagai macam metode on the job training yang pada umumnya digunakan dalam praktek antara lain rotasi pekerjaan, sistem magang, coaching, tugas belajar, dan penugasan sementara. Berikut ini penjelasan masing-masing metode tersebut:
a) Rotasi pekerjaan
Para pegawai dilatih mengerjakan beraneka ragam tugas, mereka ditransfer atau dimutasikan dari suatu jabatan ke jabatan lain untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka.
b) Sistem magang (apprenticeships)
Pegawai dilatih dibawah bimbingan rekan kerja yang sangat terampil.
c) Coaching
Atasan langsung memberikan bimbingan dan pengarahan kepada para pegawai dalam pelaksanaan kerja rutin pegawai dalam menjalankan kerja rutin mereka.
d) Tugas belajar (internship).
Pegawai belajar dari pegawai lain yang dianggap lebih berpengalaman dan lebih mahir melaksanakan tugas tertentu. Diklat kerja ini kerap dikombinasikan dengan pengajaran formal dalam kelas yang ada hubungannya dalam diklat tersebut.
e) Penugasan sementara
Penempatan pegawai pada posisi menajerial atau sebagai anggota panitia tertentu untuk jangka waktu ditetapkan. Pegawai tersebut terbabit langsung dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah-masalah organisasional nyata, serta mereka dapat meningkatkan keterampilan nyata, serta mereka dapat meningkatkan keterampilan dalam interaksi antara pegawai.
2) Off the job training
Diklat dengan menggunakan kaedah ini berarti pegawai sebagai peserta keluar sementara dari kegiatan atau pekerjaannya untuk mengikuti latihan. Metode ini terdiri atas dua macam yakni teknik-teknik presentasi informasi dan metode simulasi.
1) Teknik-teknik presentasi informasi
a) Ceramah
Pengajar bertatap muka langsung dengan peserta. Peserta diklat pasif mendengarkannya.
b) Presentasi video
Presentasi TV, films, silides dan sejenisnya ialah serupa dengan bentuk kuliah. Metode ini biasanya digunakan sebagai bahan atau alat pelengkap bentuk-bentuk latihan lainnya.
c) Metode konverensi
Metode ini analog dengan bentuk kelas seminar di perguruan tinggi, sebagai pengganti metode kuliah. Tujuannya ialah untuk mengembangkan kecakapan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dan untuk mengubah sikap pegawai.
d) Programmed instruction
Metode ini menggunakan komputer untuk memperkenalkan kepada peserta mengenai topik yang harus dipelajari dan serangkaian langkah dengan umpan balik langsung pada penyelesaian setiap langkah sebelum pelajaran diberikan, peserta diberikan placement test untuk menentukan tingkatan awal setiap peserta.
e) Belajar sendiri (self study)
Teknik ini biasanya menggunakan manual atau modul tertulis dan kaset atau video tape rekaman. Belajar sendiri berguna bila pegawai tersebar secara geografis atau bila proses belajar hanya memerlukan sedikit interaksi.
2) Metode-metode simulasi
Peserta diklat menerima representasi tiruan (artificial) suatu aspek organisasi dan diminta untuk menanggapinya seperti dalam keadaan sebenarnya. Diantaranya metode-metode simulasi yang sering dugunapakai, antara lain:
a) Studi kasus
Pada metode ini peserta dihadapkan kepada suatu peristiwa/kejadian atau situasi yang pernah terjadi (studi kasus). Peserta diharapkan mampu mengidentifikasikan masalah-masah menganalisis situasi dan merumuskan penyelesaian-penyelesaian alternatif. Dengan metode kasus, pegawai dapat mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan.
b) Bermain peran (role playing).
Peserta ditugaskan untuk memerankan individu tertentu untuk membahas suatu permasalahan sesuai dengan peran masing-masing. Dalam perkara ini tidak ada naskah yang mengatur pembicaraan dan perilaku.
Efektivitas kaedah ini sangat tergantung kepada kemampuan peserta untuk memainkan peranan (sedapat mungkin sesuai dengan realitas) yang ditugaskan kepadanya. Teknik role playing dapat mengubah sikap peserta seperti misalnya menjadi lebih toleransi terhadap perbedaan individual dan mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi (interpersonal skills).
c) Vestibule training
Kaedah ini ialah untuk meningkatkan keterampilan terutama yang bersifat teknikal, ditempat pekerjaan, akan tetapi tanpa menganggu kegiatan organisasi sehari-hari. Organisasi menyediakan lokasi tertentu dengan dilengkapi berbagai jenis peralatan sama seperti yang akan digunakan dalam pekerjaan sebenarnya. Contoh Frontdesk, kegiatannya meliputi menerima tamu, pendaftaran tamu, pemberian informasi, menerima keluhan dan sebagainya.
d) Diklat laboratorium (laboratory training)
Teknik ini adalah suatu bentuk diklat kelompok yang terutama digunakan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi. Salah satu bentuk diklat ini seperti diklat kepekaan (sensitivity training) terhadap perasaan orang lain dan lingkungan. Diklat ini berguna untuk mengembangkan berbagai perilaku bagi tanggung jawab pekerjaan dimasa yang akan datang.
IV. KESIMPULAN
Lembaga Kursus merupakan satuan pendidikan pendidikan luar sekolah (Nonformal) yang diselenggarakan bagi warga masya- rakat yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, dan atau melanjutkan ke tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pendidikan (education) berbeda dengan latihan (training). Latihan merupakan bagian daripada pendidikan, latihan bersifat spesifik, praktis, dan segera. Manfaat pendidikan dan latihan mengikut Hani Handoko (1994), semestinya boleh menutupi gap atau kesenjangan antara kemampuan pegawai dengan spesifikasi pekerjaan.
V. DAFTAR PUSTAKA
1. Sutrisno, Ir, M. Pd. 2009. Makalah Satuan Pendidikan dan Program Pendidikan Non Formal. Bandung: Diklat Supervisi dan BimbinganTeknis Pendidikan Non Formal.
2. Suhari, Mukhlis. 2009. Diklat. Diakses: tanggal 5 April 2009. Sumber: www.suhardi-mukhlis.co.cc/download/3/ -
Selasa, 29 Maret 2016
LEBIH DEKAT DENGAN PENGERTIAN KURSUS
Kursus adalah lembaga pelatihan yang termasuk ke dalam jenis
pendidikan nonformal. Kursus merupakan suatu kegiatan belajar-mengajar
seperti halnya sekolah. Perbedaanya adalah bahwa kursus biasanya diselenggarakan dalam waktu pendek dan hanya untuk mempelajari satu keterampilan tertentu. Misalnya, kursus bahasa Inggris tiga bulan atau 50 jam, kursus montir, kursus memasak, menjahit, musik
dan lain sebagainya. Peserta yang telah mengikuti kursus dengan baik
dapat memperoleh sertifikat atau surat keterangan. Untuk keterampilan
tertentu seperti, kursus ahli kecantikan atau penata rambut, peserta
kursus diwajibkan menempuh ujian negara. Ujian negara ini dimaksudkan
untuk mengawasi mutu kursus yang bersangkutan, sehingga pelajaran yang
diberikan memenuhi syarat dan peserta memiliki keterampilan dalam
bidangnya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Kursus)
Pengertian kursus secara umum adalah belajar sesuatu pengetahuan atau keterampilan dalam waktu yang relatif singkat. Kursus merupakan salah satu pendidikan yang diberikan di luar sekolah resmi (non-formal) untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan diri.
Tujuan mengikuti kursus adalah sebagai bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, pengembangan diri, pengembangan profesi, modal kerja, usaha mandiri atau untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Alasan mengikuti kursus adalah keterbatasan waktu belajar, tidak ada kesempatan lagi untuk mengikuti pendidikan formal, faktor biaya belajar, lebih terfokus dengan apa yang akan dipelajari, meningkatkan ketrampilan yang telah dimiliki.
Pengertian Kursus resmi
Kursus yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga yang telah memenuhi syarat mendirikan kursus tertentu sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar. Beberapa syarat, antara lain Perizinan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk memberikan legalitas atau pengakuan dan persetujuan resmi atas status penyelenggaraan kursus yang meliputi materi, sarana dan prasarana, pembiayaan, sistem evaluasi dan sertifikasi serta manajemen dan proses kursus.
Pengertian Kursus tidak resmi
Kursus yang diadakan secara pribadi (privat) dari seseorang terhadap orang atau kelompok, dengan kesepakatan tertentu seperti biaya, tempat dan waktu.
Pengertian Kursus khusus
Kursus yang diadakan oleh lembaga tertentu seperti perusahaan, organisasi, pemerintahan yang bersifat tertutup untuk umum dan hanya berlaku untuk kalangan sendiri. Biasanya untuk karyawan, pegawai dalam mengembangkan karir dan jabatan.
Pengertian kursus secara umum adalah belajar sesuatu pengetahuan atau keterampilan dalam waktu yang relatif singkat. Kursus merupakan salah satu pendidikan yang diberikan di luar sekolah resmi (non-formal) untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan diri.
Tujuan mengikuti kursus adalah sebagai bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, pengembangan diri, pengembangan profesi, modal kerja, usaha mandiri atau untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Alasan mengikuti kursus adalah keterbatasan waktu belajar, tidak ada kesempatan lagi untuk mengikuti pendidikan formal, faktor biaya belajar, lebih terfokus dengan apa yang akan dipelajari, meningkatkan ketrampilan yang telah dimiliki.
Jenis-jenis Kursus
Pengertian Kursus resmi
Kursus yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga yang telah memenuhi syarat mendirikan kursus tertentu sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar. Beberapa syarat, antara lain Perizinan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk memberikan legalitas atau pengakuan dan persetujuan resmi atas status penyelenggaraan kursus yang meliputi materi, sarana dan prasarana, pembiayaan, sistem evaluasi dan sertifikasi serta manajemen dan proses kursus.
Pengertian Kursus tidak resmi
Kursus yang diadakan secara pribadi (privat) dari seseorang terhadap orang atau kelompok, dengan kesepakatan tertentu seperti biaya, tempat dan waktu.
Pengertian Kursus khusus
Kursus yang diadakan oleh lembaga tertentu seperti perusahaan, organisasi, pemerintahan yang bersifat tertutup untuk umum dan hanya berlaku untuk kalangan sendiri. Biasanya untuk karyawan, pegawai dalam mengembangkan karir dan jabatan.
Perkembangan Kursus di Indonesia
Seiring kemajuan teknologi, penyelenggaraan kursus tidak harus bertatap
muka secara langsung. Dengan kemajuan internet dan perangkatnya, saat
ini telah terwujud kursus online bersertifikat di Indonesia.
Meskipun terlambat dibandingkan dengan negara maju lainnya, setidaknya
ada beberapa lembaga kursus yang ada di Indonesia telah menyelenggarakan
kursus online.
Pengertian Kursus - Kanal Informasi
Langganan:
Komentar (Atom)

