Siang ini, aku melihat hubungan, ikatan, antara waktu dan tempat. Dan aku sadar aku hanyalah seorang pemimpi yang penuh pengharapan, tapi untuk disebut ambisiku melebihi kemampuanku aku tak mau. Saat ini aku cukup sulit untuk mengatakan sedang berada dimana. Entah dimensi mana pada diriku mengatakan bahwa aku sedang mencari, entah itu mencari seseorang atau sesuatu atau mungkin suatu tempat, aku tak tahu. Dan, aku tak ingin tetap tidak tahu. Langkahnya yang ada dipikiranku siapapun itu, selalu menjauh, dan terus menjauh, sedang kakiku kaku atau dikakukan oleh diriku sendiri untuk tidak mengejarnya. Bahkan "nya" yang aku sebut masih abstrak, tak bisa divisualisasikan, hanya bisa dirasakan, getaran, kasih, kelembutan, cinta, serta harapan.
Hanya ada beberapa alasan aku tetap dijalanku, yang menjadi pilihanku adalah alasan dimana aku tidak bisa membuang begitu saja, tidak mengingat begitu saja seseorang atau sesuatu, katakanlah objek yang aku cari yang dimemoriku pernah mengasihiku, merindukanku, memberikan sentuhan tangannya dipipiku saat aku terjatuh dan air mata tak tertahankan jatuh mengalir romantis dipipiku seraya mereka berkata "Hai jatuhkanlah sebanyak mungkin, aku dan yang lainnya sudah pengap didalam kantong mata seseorang yang tidak berguna !!"
Tetes demi tetes... aku terus berlari menyusuri padang rumput luas yang tak terlihat ujungnya, hanya berlari terus berlari, ku buang semua air mataku yang bahkan tak menginginkan berada pada diriku, bersama kenangan dan getaran rindu yang aku pikir aku buang. Ternyata bukan. Itu semua bukan cara untuk menghapuskan ketakutan dan semua harapan yang tidak jelas dipikiranku, justru itu menambah semua kerinduan yang tak kutahu untuk siapa ini sebenarnya, dan kemana aku harus menyalurkannya.
Sang takdir berbisik bahwa aku harus menjadi seorang yang sendiri dan tidak ada siapapun didunia ini yang berhak dan wajib memberikan kebaikannya untukku, karena takdirku hanya untuk aku dan dia yang kucari. Walau dibeberapa kesempatan walau aku merasa tersiksa dan menderita menanggung rindu ini, tak bisa dipungkiri ada perasaan bahagia dan manis melebihi madu dihati ini ketika berjuang dan berusaha mengingatimu, melafalkanmu, mencarimu, meski aku tak tahu dan tidak bisa melafalkanmu, yang aku rasa hanya keindahan dan cinta yang pasti ada didirimu, senyum simpul manismu, apakah dirimu seorang perempuan ? Tak tahu, begitu banyak perempuan cantik disetiap sisi jejak kehidupanku, dan kurasa kau bukan itu, bukan juga laki-laki, Siapakah dirimu ? atau siapakah aku ?
Kau terlalu cantik untuk disebut seorang perempuan, karena kerinduanku melebihi rinduku pada seseorang peremupan. Juga kau begitu kuat untuk dikatakan seorang laki-laki, karena kesulitanku untuk menemukanmu karena mungkin begitu kuatnya dirimu, misteriusnya kamu, o wahai keindahan.
Ini begitu realistis untuk dikatakan mimpi, terlalu tidak rasional untuk dikatakan realistis. Cinta menolak disakiti, tapi bagi para pejuang ini begitu menyakiti.
Senin, 20 Maret 2017
Kamis, 22 Desember 2016
Tadabur Diri 1
Salam sejahtera untuk kita semua.
Tanggal 22 Desember 2016 merupakan hari kamis yang dengan sangat luar biasa bertepatan dengan hari Ibu. Semoga Ibunda kita masing-masing selalu diberi kemudahan, kesehatan, panjang umur, atau mungkin bagi yang sudah tiada semoga selalu berada dilindungan, ridho, dan sisi-Nya. Amin.
Inilah sepenggal kisah.
Merenungkan wajah, ucapan, wejangan, perlindungan, pelukan, ciuman, kekhawatiran, dan segala bentuk-bentuk cinta kasih ibu membuat hati ini teriris mengingat dengan umur, kesalahan-kesalahan, dan apa manfaat aku hari ini bagi lingkungan, masyarakat, keluarga, dan lain sebagainya. Jika dibandingkan perjuanganmu bu... untuk aku... mungkin sudah selayaknya aku menjadi manusia terpelajar yang proaktif disetiap wadah aktualisasi yang aku jumpai, tapi faktanya sedari dulu aku tetap memble.. Ingatanku akan gelapnya masa lalu menjadi trauma akut yang tak berkesudahan mengganggu psikologisku sehingga implikasinya menyentuh kehidupan sosialku.
Aku adalah seorang laki-laki satu-satunya dikeluargaku, umurku 19 tahun, dan ayahku telah tiada ketika dulu aku sekolah menengah atas. Sudah tentu aku yang diharapkan keluargaku, kakak-kakakku, untuk menjadi sosok pengganti ayah dikeluarga, meski ku rasa aku belum sanggup, bahkan untuk sekedar menjadi pengganti memenuhi kewajiban sosial dimasyarkat sebagai pengganti ayah, tanpa perlu menafkahi, dan memang bukan nafkah yang diharapkan ibunda dan keluargaku.
Ke-introvertan diriku ini menyiksaku, bagaimana tidak disaat lingkungan yang masih homogen dengan karakteristik kebudayaan yang masih kental, aku pemuda pemalu yang individualistik berada tanpa efek ada ataupun tiada bagi sebagian mereka. Perjalanan hidupku sesungguhnya secara lahiriah mungkin orang-orang akan menganggap aku bahagia, nyatanya tidak. Kontemplasi yang aku lakukan mencoba terus pahami dan berhusnuzhon disetiap kejadian, meskipun tanpa dipungkiri terkadang disaat tertentu saat aku masih bersekolah menengah aku memaki diriku, wajahku, badanku, pada pantulan dicermin, itu menyakitkan, sekali waktu dibumbui dengan adegan-adegan dramatis khas film-film dimana aku menyakiti diriku sendiri secara fisik karena ketidakmampuanku memahami nikmat ilahi dikejadian yang aku alami.
Kata 'bunuh diri' seolah bukan hal asing, tapi hampir menjadi produksi yang tak terlupakan oleh proses pikiran diotak hampir dikeseharian, bisa disebut kata yang menjelma menjadi sahabat sejati. Itu seperti obat penahan rasa sakit, tidak menyembuhkan, tapi lumayan untuk sesaat mengusir kegilaanku-untuk tidak mengatakan stres kronisku. Ibundaku pernah atau sering menangis karena kelakuanku, keadaanku, suatu waktu dia berkata "dosa apa ibu dulu, sehingga nasibmu begini" itu sedikit bisa menghiburku walau gelap hatiku berkata kalimat ibu itu berarti menyesal melahirkanku, setelahnya perang saudara terjadi didalam batin.
Kelam karena sebenarnya hal-hal yang membuat seperti itu sangat meluas faktornya sehingga jika terucap satu persatu akan menyelesaikan bait perbait yang memakan tinta dan kertas yang tak terhitung serta jika terucap semuanya seolah mengumbar aib-aib dan juga keluh kesah yang dirasa tak patut untuk dibagikan, tapi hendak berkata apalagi ketika jiwa ini sudah tak tahan menampung perasaan yang ingin terucap tapi tak sanggup mengutarakan, aku harap Tuhan tersenyum ketika aku melukiskan perasaan ini bukan murka-Nya yang datang juga kepada sedulur-sedulurku yang sama memiliki sandungan yang bersemayam telah lama dijiwanya.
Aku memandang dengan hanya satu mata, bukan karena buta tapi ambliopia, entah benar atau salah penulisannya tak peduli, toh bukan kata yang indah untuk didendangkan. Ambliopia adalah nama penyakit atau kelainan dimana mata yang normal hanya satu yang satunya diabaikan oleh otak untuk bagaimana hanya fokus dipancaran gambar disalah satu mata sehingga efek fisiknya adalah mata lelah atau mata malas disalah satu mata dan terkadang menjadi terlihat juling. Nah, itulah salah satu penyebabnya, sebenarnya bukan karena itu aku tak terima tapi sudah pasti tanggapan teman sebaya dulu, komunikasi sosial, kehidupan sosial, menjadi banyak terhambat, pendidikan, pembelajaran, berkarya, menjadi susah karena terlalu minder dan takut dengan ejekan orang-orang, atau salah pahamnya orang-orang, yang radikalnya ketika berhadapan dengan perempuan, sungguh sebuah ujian yang mungkin bagi yang membaca biasa saja. Tapi, bayangkan proses tekanan yang terjadi sedari kecil berkelanjutan sampai sekolah, sehingga aku mengecap diri ini tak berguna, tak bermanfaat, dan penilaian-penilaian lain yang menambah benar gambaran itu aku dikeadaan realistiknya.
Lagu, musik, galau, sunyi, senyap, sepi adalah sahabat-sahabat terbaik. Aku bukan orang yang pandai berkata dan bercerita jadi maaf bila tulisan ini begitu abstrak dan sulit diinterpretasi, aku hanya bisa mengucap semoga cerita-cerita ini, pengalaman ini, tak terjadi pada siapapun lagi khususnya orang-orang disekelilingku. Ejekan takut menjadi nyata, bangkitku kadang kembali menuju keterpurukan, aku butuh sesuatu, sesuatu yang menjadi stimulus energi kehidupan untuk tetap semangat melakukan keseharian bagi diriku sendiri sampai setelahnya harapnya bermanfaat bagi orang lain. Amin.
Tuhan menitipkan kekurangan itu karena dia tahu akulah yang mampu memegang amanah ini. Semua orang diciptakan secara sempurna, jadi walaupun dilahirkan tanpa tangan misalkan berarti itu kadar kesempurnaan yang diberikan Tuhan pada orang itu karena kita tidak pernah tahu dibalik itu semua yang ada dibalik tirai rahasia yang diberikan-Nya.
Penderitaan adalah bisa jadi ujian, dan menurutku penderitaan itu diperlukan oleh setiap insan yang berekonstruksi, berkembang, demi grows, karir, serta pemahaman hidup yang nantinya boleh dikata matang. Ada yang lebih mengerikan daripada ujian berbentuk penderitaan, yaitu ujian yang berbentuk anugerah, kelebihan, yang terkadang sulit untuk menyadari bahwa itu adalah ujian dan cobaan, sangat tipis sekali dengan nikmat atau itu kenikmatan yang dibeberapa sisi bisa jadi ujian ketika tidak bisa mengoptimalisasikan itu untuk kebaikan bagi sesama.
Tidak ada yang namanya cacat fisik yang ada itu ialah cacat hati.
Terimakasih
Tanggal 22 Desember 2016 merupakan hari kamis yang dengan sangat luar biasa bertepatan dengan hari Ibu. Semoga Ibunda kita masing-masing selalu diberi kemudahan, kesehatan, panjang umur, atau mungkin bagi yang sudah tiada semoga selalu berada dilindungan, ridho, dan sisi-Nya. Amin.
Inilah sepenggal kisah.
Merenungkan wajah, ucapan, wejangan, perlindungan, pelukan, ciuman, kekhawatiran, dan segala bentuk-bentuk cinta kasih ibu membuat hati ini teriris mengingat dengan umur, kesalahan-kesalahan, dan apa manfaat aku hari ini bagi lingkungan, masyarakat, keluarga, dan lain sebagainya. Jika dibandingkan perjuanganmu bu... untuk aku... mungkin sudah selayaknya aku menjadi manusia terpelajar yang proaktif disetiap wadah aktualisasi yang aku jumpai, tapi faktanya sedari dulu aku tetap memble.. Ingatanku akan gelapnya masa lalu menjadi trauma akut yang tak berkesudahan mengganggu psikologisku sehingga implikasinya menyentuh kehidupan sosialku.
Aku adalah seorang laki-laki satu-satunya dikeluargaku, umurku 19 tahun, dan ayahku telah tiada ketika dulu aku sekolah menengah atas. Sudah tentu aku yang diharapkan keluargaku, kakak-kakakku, untuk menjadi sosok pengganti ayah dikeluarga, meski ku rasa aku belum sanggup, bahkan untuk sekedar menjadi pengganti memenuhi kewajiban sosial dimasyarkat sebagai pengganti ayah, tanpa perlu menafkahi, dan memang bukan nafkah yang diharapkan ibunda dan keluargaku.
Ke-introvertan diriku ini menyiksaku, bagaimana tidak disaat lingkungan yang masih homogen dengan karakteristik kebudayaan yang masih kental, aku pemuda pemalu yang individualistik berada tanpa efek ada ataupun tiada bagi sebagian mereka. Perjalanan hidupku sesungguhnya secara lahiriah mungkin orang-orang akan menganggap aku bahagia, nyatanya tidak. Kontemplasi yang aku lakukan mencoba terus pahami dan berhusnuzhon disetiap kejadian, meskipun tanpa dipungkiri terkadang disaat tertentu saat aku masih bersekolah menengah aku memaki diriku, wajahku, badanku, pada pantulan dicermin, itu menyakitkan, sekali waktu dibumbui dengan adegan-adegan dramatis khas film-film dimana aku menyakiti diriku sendiri secara fisik karena ketidakmampuanku memahami nikmat ilahi dikejadian yang aku alami.
Kata 'bunuh diri' seolah bukan hal asing, tapi hampir menjadi produksi yang tak terlupakan oleh proses pikiran diotak hampir dikeseharian, bisa disebut kata yang menjelma menjadi sahabat sejati. Itu seperti obat penahan rasa sakit, tidak menyembuhkan, tapi lumayan untuk sesaat mengusir kegilaanku-untuk tidak mengatakan stres kronisku. Ibundaku pernah atau sering menangis karena kelakuanku, keadaanku, suatu waktu dia berkata "dosa apa ibu dulu, sehingga nasibmu begini" itu sedikit bisa menghiburku walau gelap hatiku berkata kalimat ibu itu berarti menyesal melahirkanku, setelahnya perang saudara terjadi didalam batin.
Kelam karena sebenarnya hal-hal yang membuat seperti itu sangat meluas faktornya sehingga jika terucap satu persatu akan menyelesaikan bait perbait yang memakan tinta dan kertas yang tak terhitung serta jika terucap semuanya seolah mengumbar aib-aib dan juga keluh kesah yang dirasa tak patut untuk dibagikan, tapi hendak berkata apalagi ketika jiwa ini sudah tak tahan menampung perasaan yang ingin terucap tapi tak sanggup mengutarakan, aku harap Tuhan tersenyum ketika aku melukiskan perasaan ini bukan murka-Nya yang datang juga kepada sedulur-sedulurku yang sama memiliki sandungan yang bersemayam telah lama dijiwanya.
Aku memandang dengan hanya satu mata, bukan karena buta tapi ambliopia, entah benar atau salah penulisannya tak peduli, toh bukan kata yang indah untuk didendangkan. Ambliopia adalah nama penyakit atau kelainan dimana mata yang normal hanya satu yang satunya diabaikan oleh otak untuk bagaimana hanya fokus dipancaran gambar disalah satu mata sehingga efek fisiknya adalah mata lelah atau mata malas disalah satu mata dan terkadang menjadi terlihat juling. Nah, itulah salah satu penyebabnya, sebenarnya bukan karena itu aku tak terima tapi sudah pasti tanggapan teman sebaya dulu, komunikasi sosial, kehidupan sosial, menjadi banyak terhambat, pendidikan, pembelajaran, berkarya, menjadi susah karena terlalu minder dan takut dengan ejekan orang-orang, atau salah pahamnya orang-orang, yang radikalnya ketika berhadapan dengan perempuan, sungguh sebuah ujian yang mungkin bagi yang membaca biasa saja. Tapi, bayangkan proses tekanan yang terjadi sedari kecil berkelanjutan sampai sekolah, sehingga aku mengecap diri ini tak berguna, tak bermanfaat, dan penilaian-penilaian lain yang menambah benar gambaran itu aku dikeadaan realistiknya.
Lagu, musik, galau, sunyi, senyap, sepi adalah sahabat-sahabat terbaik. Aku bukan orang yang pandai berkata dan bercerita jadi maaf bila tulisan ini begitu abstrak dan sulit diinterpretasi, aku hanya bisa mengucap semoga cerita-cerita ini, pengalaman ini, tak terjadi pada siapapun lagi khususnya orang-orang disekelilingku. Ejekan takut menjadi nyata, bangkitku kadang kembali menuju keterpurukan, aku butuh sesuatu, sesuatu yang menjadi stimulus energi kehidupan untuk tetap semangat melakukan keseharian bagi diriku sendiri sampai setelahnya harapnya bermanfaat bagi orang lain. Amin.
Tuhan menitipkan kekurangan itu karena dia tahu akulah yang mampu memegang amanah ini. Semua orang diciptakan secara sempurna, jadi walaupun dilahirkan tanpa tangan misalkan berarti itu kadar kesempurnaan yang diberikan Tuhan pada orang itu karena kita tidak pernah tahu dibalik itu semua yang ada dibalik tirai rahasia yang diberikan-Nya.
Penderitaan adalah bisa jadi ujian, dan menurutku penderitaan itu diperlukan oleh setiap insan yang berekonstruksi, berkembang, demi grows, karir, serta pemahaman hidup yang nantinya boleh dikata matang. Ada yang lebih mengerikan daripada ujian berbentuk penderitaan, yaitu ujian yang berbentuk anugerah, kelebihan, yang terkadang sulit untuk menyadari bahwa itu adalah ujian dan cobaan, sangat tipis sekali dengan nikmat atau itu kenikmatan yang dibeberapa sisi bisa jadi ujian ketika tidak bisa mengoptimalisasikan itu untuk kebaikan bagi sesama.
Tidak ada yang namanya cacat fisik yang ada itu ialah cacat hati.
Terimakasih
Rabu, 30 November 2016
Yang disembunyikan...
Aku rasa bohong itu keindahan
Takdir pasti keindahan adalah semuanya indah
Curang bila saat terik panas
Kau sebut itu bukan keindahan
Pekat lampau telah terbenam membatin
Aku sembunyikan sampai entah waktu mana
Raungan pemberontakannya ingin dibagikan
Entah pada makhluk indah mana ku muncratkan
Raut wajah lugu senyum simpul manis
Cukup buatku bersyukur haru
Karena terdapat yang lebih dari indahnya tangis
Aku coba tatap dan langkah hidup baru
Terlupakan dilupakan bukan aku rasakan
Tapi cahayaku terlupakan oleh aku
Ingin ku sayangi semua yang merasa sentuhan
Sulit ungkapkan hati yang terlanjur banyak terlubangi
Aku tidak berbicara soal kebenaran
Bicaraku berusaha tidak mempersoalkan
Karyaku sengaja tidak sengaja aku tahan
Menunggu energi baru terkandung bertahta dijiwa
Pembelaku aku sakiti dengan keji
Walau kenyataannya dia tak akan tersakiti
Pikirku aku pula selalu disakiti
Ternyata bukan alunan kedamaian terasa
Malah rasa hina dan aniaya merasuk sukma
Peduliku pada yang bersandar diluasnya bumi
Arogan dan egoisku adalah satu
Berikan telingamu menjadi pendengar terbaik
Maka akan ku berikan lebih dari itu
Sayang sayangilah semuanya
Bisa dengan tangis bahkan tawa
Cintailah sukma dengan saling berbagi lara
Dengan tak lupa berbagi suka cita
Minggu, 06 November 2016
TAHAN HATI KARENA CINTA DINEGERI INDONESIA
Assalamualaikum.
Bismillah. Saya berharap satu atau dua orang akan jadi pemimpin digenerasi kita yang itu berani dan tahan hati. Dalam ilmu pengetahuan, mengamalkan ilmunya lebih baik daripada hanya membicarakannya, tapi transformasinya untuk meneruskan warisan ilmu mau bagaimanapun harus menggunakan metoda komunikasi yang itu berkonstelasi dengan yang namanya suara, salah satu yang lazim digunakan manusia, organ yang digunakan adalah mulut untuk berbicara yang nantinya memiliki tata kelola serta nada yang menghasilkan produk suara yang dapat dimengerti manusia lainnya yang memiliki sistem program yang telah terlegitimasi untuk dapat mengerti kode atau rumus-rumus yang dihasilkan berbentuk suara penyebabnya adalah bicara. Betul nggak ? Jadi intinya, blablabla semuanya punya penafsiran dan interpretasi masing-masing yang unik bahkan diranah pengaplikasian, pengimplementasian, pemanifestasian dari pernyataan diatas yang itu merdeka bagi setiap-setiap individu.
Sunyi itu penting, bersuara "serius" juga penting, marilah walau wajah-wajah kita Indonesia ramah tamah serta kocak-kocak untuk dibalik itu semua ada sesuatu hal yang sangat sensitif serius sifatnya yang diperjuangkan, yang menjadi tujuan, menjadi target, atas semua hal yang telah kita buang, atas kesalahan-kesalahan, kekeliruan-kekeliruan, hutang-hutang, yang sampai sekarang mungkin beberapa kita termasuk saya belum menemukan sebenarnya kepada siapa ketidakmudahan-ketidakmudahan ini harus dimudahkan atau kepada siapa kita membayar hutang. Dunia hutang kepada siapa ? Toh segala hal telah dipersiapkan, segala hal telah ada, hanya saja kita orang manusia yang meruwet-ruwetkan pada awalnya. Dan, itu tidak bisa dan tidak boleh dirubah seradikal mungkin menjadi awal dimana dunia belum hutang pada siapa-siapa. Tapi ada syarat, pola, tuntunan yang dapat meringankan serta bahkan melepaskan beban-beban yang selama ini menindih kita serta mengusik keseimbangan kita. Lebih jauh, kalau serius kita dapat mendapat bonus-bonus yang lebih dari itu sesuatu atas ketekunan kita, kesabaran kita, akan terus melakukan syarat-syarat yang walau seperti dongeng-tapi dapat memudahkan, oleh karena terkadang terjebaknya kita karena ditengah, awal, atau yang paling mematikan diakhir menjadikan syarat, pola, rumus, atau metoda tadi target padahal sangat jauh, itu hanyalah jalan dan wasilah. Contoh minum kopi itu bukan tujuan, tapi ketenangan setelah meminum kopi sesuai fungsi kopi tadilah yang jadi tujuan, yang menjadi hakikat. Sekarangkan syarat atau syariatnyakan jalan dan wasilah karena ingin bukan karena melanjutkan perjalanan. hehe jadi pusing saya.
Ekstra waspada bukan berarti kaku untuk berbuat apa-apa, sangat mudah berbuat baik diIndonesia. Jangan harap perbuatan baik kita perlu dilegitimasi dulu oleh pemangku kebijakan baru kita melakukan, legitimasi itu hanya aspirasi, perbuatan baik itu dilakukan dari sesuatu hal yang kita orang Indonesia mampu dari titik terkecil, bahkan mencuci piring membantu orang tua, atau meringankan beban istri, atau bentuk berbakti terhadap suami, telah menyentuh esensi daripada pemikiran-pemikiran besar, kata dan suara yang diomongkan besar. Negeri dengan sejuta derita tapi rakyatnya masih dapat tertawa hanya dengan merokok kretek, atau ibu-ibu sambil menumbuk kopi, dan panen palawija. Siapa SDMnya yang lebih maju kalau begitu ? Indonesia tidak butuh nominal untuk bahagia, sebenarnya, jangan geer merasa membela saudaranya misalkan rakyat, bukan membela, itu hanya tuntunan untuk saling mengerti antar sesama karena tidak ada kelas pada hakikatnya hanya saja karena dibeberapa aspek ada yang lebih mampu dan ada yang tidak, maka bantulah yang tidak. Itu hanya tuntunan. Bukan membela, masa tuntunan dibela ? Nanti kita bisa terjatuh. wkwk.
Merambah kemana-mana, jangan lupakan nama-nama semacam Sunan Kudus, Sunan Ampel, dll.. yang telah bahkan sampai sekarang penawar rindu bagi rakyat-rakyat jelata, bukan untuk beberapa ummat semua ummat beragama, oleh karena banyak hal disejarah Sunan Kudus tentang toleransi yang sebenarnya dibanding gaya toleransi zaman yang katanya modern ini sejarah Sunan Kudus lebih efektif, atau mungkin modern itu bukan kata dan bahasa yang tata kelola definisi dari realitanya semakin efektif ? Sebaliknya materialis dan kurang efektif, atau lebih parah semakin tidak efektif itu disebut semakin modern? Maksudnya dari berbagai perspektif, tingkat kebutuhan, keadaan, kemampuan, dll dll dll ukuran-ukuran semacam inilah yang harus dikuatkan untuk mengalahkan propaganda-propaganda yang fungsi dan awal tujuannya sebagai konspirasi bagi beberapa pihak yang ingin mencari keuntungan dan atau kepentingan golongan, kelompok.
Tugas-tugas suci yang langsung bersentuhan dengan orang lain yang itu membutuhkan bantuan dari aksi nyata kita melakukan perbaikan-perbaikan dari hal-hal terkecil tanpa perlu mengingat puzzle perbaikan lain ketika melakukan aktivitas perbaikan disektor tertentu, cita-cita dan gambaran secara komprehensif serta universalnya ditunda dulu saat detik penghayatan, penikmatan, karena amal usaha kita orang yang sedikit mampu dibeberapa bidang bagi saudara-saudara kita. Contoh misal disektor pendidikan dengan meningkatkan produktifitas siswa diluar sekolah yang dibantu pemuda atau mahasiswa yang mampu dan mau melakukannya, misal. Ingat, tukang ngaduk tidak pernah membayangkan dia ada ditempat pasang-pasang kramik ketika kerja, tapi ketika melihat sketsa bangunan dan susunan pasti secara keseluruhan..
Jauh spesifik, misal pelatihan-pelatihan public speaking dan atau penampilan-penampilan tradisional menyesuaikan dan akomodatif akan tempat, lebih radikal bahkan sesuai individu, itu dalam kategori penanganan-penanganan yang lebih ekstrem sampai ke titik individu, yang mau bagaimanapun potensi itu istimewa, dan terkadang harus diistimewakan. Nantinya akan ada yang istimewa tanpa merasa istimewa dan ada juga yang tidak diistimewakan tapi istimewa. Bukan mngistimewa-istimewakan. Coba kawan-kawan bayangkan berjuta-juta orang dari awal mula satu, dua, tiga orang yang bisa berbicara atau dasar bicaranya karena kita, betapa bahagianya, karena kita tanpa berharap disebut karena kita oleh karena itupun bukan karena kita secara keseleruhuhan sempurna. Maha sempurna. Menemukan idiom-idiom komunikasi itu penting, entah dengan benda apapun, coba dan terus mencoba, sambil terus bertanya-tanya berbagai sumber kepada orang yang dianggap bisa, sehingga nantinya muncul Ibrahim-Ibrahim baru, dengan gaya dan zaman baru. Asseekkkk.
Entah kenapa jiwa ini akhir-akhir ini bahagia, bukan membahagiakan diatas penderitaan saudara-saudara kita, justru kita bisa terisak tersedu mereka masih jauh lebih kuat dengan penderitaan yang jika dibandingkan dengan kita masih jauh lebih parah tapi kita masih tetap tidak bersyukur, bersabar, tahan hati. Identitas itu seruan, amal usaha bukan kesempatan mencari kesempatan, belajarlah dari Vicky Prasetyo yang bangkit dari keterpurukan karena tipu daya sendiri, sing penting yang postifnya saja. Bersinarlah Badiuzaman, Badiuzaman, baru, keajaiban zaman keajaiban zaman baru, seperti Syeikh Badiuzaman Said Nursi, kekasih Allah SWT. Tuhan semesta alam. Sekarang ditakutkan telah senja, kekasih-kekasih Tuhan mulai redup akan tutup usia, bukan Tuhan khawatir, tapi apakah kita tidak mau ? Dengan Cinta sesama merasakan balutan kasih sayang kecilNya lewat kita. Siapapun itu. Amin.
Bismillah. Saya berharap satu atau dua orang akan jadi pemimpin digenerasi kita yang itu berani dan tahan hati. Dalam ilmu pengetahuan, mengamalkan ilmunya lebih baik daripada hanya membicarakannya, tapi transformasinya untuk meneruskan warisan ilmu mau bagaimanapun harus menggunakan metoda komunikasi yang itu berkonstelasi dengan yang namanya suara, salah satu yang lazim digunakan manusia, organ yang digunakan adalah mulut untuk berbicara yang nantinya memiliki tata kelola serta nada yang menghasilkan produk suara yang dapat dimengerti manusia lainnya yang memiliki sistem program yang telah terlegitimasi untuk dapat mengerti kode atau rumus-rumus yang dihasilkan berbentuk suara penyebabnya adalah bicara. Betul nggak ? Jadi intinya, blablabla semuanya punya penafsiran dan interpretasi masing-masing yang unik bahkan diranah pengaplikasian, pengimplementasian, pemanifestasian dari pernyataan diatas yang itu merdeka bagi setiap-setiap individu.
Sunyi itu penting, bersuara "serius" juga penting, marilah walau wajah-wajah kita Indonesia ramah tamah serta kocak-kocak untuk dibalik itu semua ada sesuatu hal yang sangat sensitif serius sifatnya yang diperjuangkan, yang menjadi tujuan, menjadi target, atas semua hal yang telah kita buang, atas kesalahan-kesalahan, kekeliruan-kekeliruan, hutang-hutang, yang sampai sekarang mungkin beberapa kita termasuk saya belum menemukan sebenarnya kepada siapa ketidakmudahan-ketidakmudahan ini harus dimudahkan atau kepada siapa kita membayar hutang. Dunia hutang kepada siapa ? Toh segala hal telah dipersiapkan, segala hal telah ada, hanya saja kita orang manusia yang meruwet-ruwetkan pada awalnya. Dan, itu tidak bisa dan tidak boleh dirubah seradikal mungkin menjadi awal dimana dunia belum hutang pada siapa-siapa. Tapi ada syarat, pola, tuntunan yang dapat meringankan serta bahkan melepaskan beban-beban yang selama ini menindih kita serta mengusik keseimbangan kita. Lebih jauh, kalau serius kita dapat mendapat bonus-bonus yang lebih dari itu sesuatu atas ketekunan kita, kesabaran kita, akan terus melakukan syarat-syarat yang walau seperti dongeng-tapi dapat memudahkan, oleh karena terkadang terjebaknya kita karena ditengah, awal, atau yang paling mematikan diakhir menjadikan syarat, pola, rumus, atau metoda tadi target padahal sangat jauh, itu hanyalah jalan dan wasilah. Contoh minum kopi itu bukan tujuan, tapi ketenangan setelah meminum kopi sesuai fungsi kopi tadilah yang jadi tujuan, yang menjadi hakikat. Sekarangkan syarat atau syariatnyakan jalan dan wasilah karena ingin bukan karena melanjutkan perjalanan. hehe jadi pusing saya.
Ekstra waspada bukan berarti kaku untuk berbuat apa-apa, sangat mudah berbuat baik diIndonesia. Jangan harap perbuatan baik kita perlu dilegitimasi dulu oleh pemangku kebijakan baru kita melakukan, legitimasi itu hanya aspirasi, perbuatan baik itu dilakukan dari sesuatu hal yang kita orang Indonesia mampu dari titik terkecil, bahkan mencuci piring membantu orang tua, atau meringankan beban istri, atau bentuk berbakti terhadap suami, telah menyentuh esensi daripada pemikiran-pemikiran besar, kata dan suara yang diomongkan besar. Negeri dengan sejuta derita tapi rakyatnya masih dapat tertawa hanya dengan merokok kretek, atau ibu-ibu sambil menumbuk kopi, dan panen palawija. Siapa SDMnya yang lebih maju kalau begitu ? Indonesia tidak butuh nominal untuk bahagia, sebenarnya, jangan geer merasa membela saudaranya misalkan rakyat, bukan membela, itu hanya tuntunan untuk saling mengerti antar sesama karena tidak ada kelas pada hakikatnya hanya saja karena dibeberapa aspek ada yang lebih mampu dan ada yang tidak, maka bantulah yang tidak. Itu hanya tuntunan. Bukan membela, masa tuntunan dibela ? Nanti kita bisa terjatuh. wkwk.
Merambah kemana-mana, jangan lupakan nama-nama semacam Sunan Kudus, Sunan Ampel, dll.. yang telah bahkan sampai sekarang penawar rindu bagi rakyat-rakyat jelata, bukan untuk beberapa ummat semua ummat beragama, oleh karena banyak hal disejarah Sunan Kudus tentang toleransi yang sebenarnya dibanding gaya toleransi zaman yang katanya modern ini sejarah Sunan Kudus lebih efektif, atau mungkin modern itu bukan kata dan bahasa yang tata kelola definisi dari realitanya semakin efektif ? Sebaliknya materialis dan kurang efektif, atau lebih parah semakin tidak efektif itu disebut semakin modern? Maksudnya dari berbagai perspektif, tingkat kebutuhan, keadaan, kemampuan, dll dll dll ukuran-ukuran semacam inilah yang harus dikuatkan untuk mengalahkan propaganda-propaganda yang fungsi dan awal tujuannya sebagai konspirasi bagi beberapa pihak yang ingin mencari keuntungan dan atau kepentingan golongan, kelompok.
Tugas-tugas suci yang langsung bersentuhan dengan orang lain yang itu membutuhkan bantuan dari aksi nyata kita melakukan perbaikan-perbaikan dari hal-hal terkecil tanpa perlu mengingat puzzle perbaikan lain ketika melakukan aktivitas perbaikan disektor tertentu, cita-cita dan gambaran secara komprehensif serta universalnya ditunda dulu saat detik penghayatan, penikmatan, karena amal usaha kita orang yang sedikit mampu dibeberapa bidang bagi saudara-saudara kita. Contoh misal disektor pendidikan dengan meningkatkan produktifitas siswa diluar sekolah yang dibantu pemuda atau mahasiswa yang mampu dan mau melakukannya, misal. Ingat, tukang ngaduk tidak pernah membayangkan dia ada ditempat pasang-pasang kramik ketika kerja, tapi ketika melihat sketsa bangunan dan susunan pasti secara keseluruhan..
Jauh spesifik, misal pelatihan-pelatihan public speaking dan atau penampilan-penampilan tradisional menyesuaikan dan akomodatif akan tempat, lebih radikal bahkan sesuai individu, itu dalam kategori penanganan-penanganan yang lebih ekstrem sampai ke titik individu, yang mau bagaimanapun potensi itu istimewa, dan terkadang harus diistimewakan. Nantinya akan ada yang istimewa tanpa merasa istimewa dan ada juga yang tidak diistimewakan tapi istimewa. Bukan mngistimewa-istimewakan. Coba kawan-kawan bayangkan berjuta-juta orang dari awal mula satu, dua, tiga orang yang bisa berbicara atau dasar bicaranya karena kita, betapa bahagianya, karena kita tanpa berharap disebut karena kita oleh karena itupun bukan karena kita secara keseleruhuhan sempurna. Maha sempurna. Menemukan idiom-idiom komunikasi itu penting, entah dengan benda apapun, coba dan terus mencoba, sambil terus bertanya-tanya berbagai sumber kepada orang yang dianggap bisa, sehingga nantinya muncul Ibrahim-Ibrahim baru, dengan gaya dan zaman baru. Asseekkkk.
Entah kenapa jiwa ini akhir-akhir ini bahagia, bukan membahagiakan diatas penderitaan saudara-saudara kita, justru kita bisa terisak tersedu mereka masih jauh lebih kuat dengan penderitaan yang jika dibandingkan dengan kita masih jauh lebih parah tapi kita masih tetap tidak bersyukur, bersabar, tahan hati. Identitas itu seruan, amal usaha bukan kesempatan mencari kesempatan, belajarlah dari Vicky Prasetyo yang bangkit dari keterpurukan karena tipu daya sendiri, sing penting yang postifnya saja. Bersinarlah Badiuzaman, Badiuzaman, baru, keajaiban zaman keajaiban zaman baru, seperti Syeikh Badiuzaman Said Nursi, kekasih Allah SWT. Tuhan semesta alam. Sekarang ditakutkan telah senja, kekasih-kekasih Tuhan mulai redup akan tutup usia, bukan Tuhan khawatir, tapi apakah kita tidak mau ? Dengan Cinta sesama merasakan balutan kasih sayang kecilNya lewat kita. Siapapun itu. Amin.
Minggu, 02 Oktober 2016
PACARAN KENIKMATAN ABAD 21
Bila akhir-akhir ini terasa bahagia, ya alhamdulillah...hehe
Saat ini mungkin sedang ada yang shalawatan, ngaji, diskusi, meneliti, membaca, menulis, berkarya, ngerjain tugas, tidur mungkin. First, yang gua tahu nikmat itu ya nikmat, kita hidup dituntut memahami mana yang baik mana yang buruk terus puzzling deh diantara keduanya. Punya pacar gaul, gak punya pacar ngenes..Itu asumsi-asumsi dan puzzling yang tidak bermutu. Maksudnya, segala yang terjadi dihidup kita itu pasti terikat dengan yang namanya ruang dan waktu yang mendalamnya harus dipahami substansi dan esensi, katanya.. Pemikiran-pemikiran kita khususnya generasi muda kaya kita-kita ini sudah banyak terpengaruh dan dibatasi oleh yang namanya media, film-film, novel, berita, dll dll dll . Terkadang gua sendiri gak tahu seberapa persenkah gua mengetahui kebenaran dan keotentikan sumber-sumber referensi tersebut (termasuk buku pelajaran) tidak ada rumus yang bisa menghasilkan jaminan bahwa segala sesuatu yang selalu gua konsumsi film, berita, pelajaran, dan lain sebagainya adalah kebenaran, minimal beritiqad pada kebenaran.
Banyak hal yang kita tidak tahu, banyak kenikmatan yang tersembunyi dan terasa kaku bila dituangkan secara logis, banyak juga kenikmatan yang menghasilkan kemelaratan. Bumi bola, kotak, datar, atmosfer kesemuanya abstrak. Kesulitan-kesulitan yang menimbulkan kesalahan itu kemudian harusnya disesali, setelahnya bencilah kesalahan tersebut sebagai kesalahan, tapi sebagai sejarah dan hikmah jadikanlah pelajaran. Right ? Kanan ? bukan tapi 'benar', tapi kanan, apapun itu... Memang kanan selalu terkonotasi pada hal yang benar atau baik dan itu bukan jadi permasalahan tapi maksud gua disini ini sebuah keunikan, sebuah anugerah dan kearifan dari Tuhan yang gua yakini sebagai tanda-tanda kebesaranNya. Kenapa ? 'Right' dalam hal ini adalah kata dalam bahasa Inggris dan yo pastinya berasal dari hasil cipta rasa kebudayaan negeri elizabeth. So mungkin kawan-kawan bisa merenunginyalah atau bahkan mengkaji kenapa ternyata ada kemiripan-kemiripan dari berbagai sumber tanpa harus terlebih dahulu membawa ego kepentingan golongan, ras, suku, budaya, agama, dll dll dll yang justru biasanya pada pengkajian dan penelitian ilmu pengetahuan bisa membuat proses kurang maksimal karena ada sifat subjektif dan su'uzdhon terlebih dahulu kalau bahasanya 'ustadz'.
Penekanannya disini sebenarnya yang ingin gua bahas adalah generasi muda itu sendiri sebagai pemuda-pemuda yang haus dan frustasi dengan kejombloan. Aseekk. Efek-efek pengaruh sinetron-sinetron yang gak bermutu ini yang mestinya harus direduksi secepatnya mungkin, tapi bukan hanya dengan tuntutan tapi kesadaran dan gerakan dari kitanya. Jangan berharap kegiatan-kegiatan positif kita mesti dibuat kebijakannya, RUU, oleh pemerintah itu namanya lucu... Oleh karena kalau loe-loe pada sudah sadar, mari dari awal kembali kita rekonstruksi pemuda-pemuda yang kegiatan-kegiatannya relevan dan ideal serta produktif untuk prospek kedepannya, masa depan kita. Tidak usah mikir hidup gua atau siapapun itu sudah tak berarti, misal karena ada masa lalu yang membuat terpuruk, itumah biasa yang jadi lebih luar biasa jika kita bisa bangkit dari semua itu, dari hal-hal yang membuat berkurangnya pilihan hidup kita dimasa depan. Dan, selalu ada satu pilihan besar. Itulah perubahan ke arah lebih baik, perubahan kepada cahaya hati yang lebih mudah empati atas kekurangan-kekurangan saudara-saudara kita yang lainnya, betul gak ?
Selamanya hidup kita gak akan pernah jomblo broo, soalnya bukankah kita selalu dituntut untuk mencintai kawan-kawan, teman-teman, guru-guru, orang tua kita sendiri...Dan itu bukanlah jomblo, justru jomblo adalah ketika kita membatasi ruang gerak kreatifitas dan mencari ilmu kita dengan pilihan-pilihan yang tidak menguntungkan dan menimbulkan tembok-tembok baru dalam kehidupan, contoh pacaran. Okelah bagi yang udah terlanjur pacaran, anggap pacaran ya pertemanan special, kalau bisa tidak harus dengan buaian kata 'cinta' atau 'sayang' 'mamah' 'papah' atau lain-lain, justru karena cinta tak harus dilabeli dengan kata saja, apalagi dimasa-masa dimana kita seharusnya belum harus memprioritaskan terlalu untuk mengungkapkan cinta dengan kata, khususnya pada lawan jenis. Kan ngeri liat anak SMP, SMA udah bisa nembak cewe dijalan raya yang pastinya ditonton publik, mau jadi apa generasi berikutnya, mau jadi orang-orang yang dalam genggaman mind control ? Karena generasi mudapun bagian dari rakyat yang harus diberikan hal-haknya dalam pengetahuan-pengetahuan, wawasan-wawasan yang luas, yang membuka cakrawala berpikir mereka agar nantinya tidak jadi Gayus Gayus baru.. Bukankah mereka yang akan meneruskan perjuangan ? Sumber Daya Manusia ? Nantinya mereka tahu bahwa ada sistem-sistem yang ternyata merugikan rakyat, merugikan orang tuanya ternyata dulu itu, jadi kalau ada yang jadi pemangku kebijakan gak sekonyong-konyong maen gusur aja tanah orang, kalaupun itu secara administratif memang harus digusur. Ada analisis-analisis sosial yang lebih mendalam lagi, dari generasi muda, yang lomba silat ya biarkan lomba silat, yang sedang praktek-praktek sains ya biarkan terus praktek, tapi dibeberapa kesempatan harus selalu ada pendiskusian-pendiskusian, pertemuan-pertemuan diantara mereka yang meningkatkan gairah kompetitif dan produktifitas masa muda mereka sehingga nantinya akan banyak terdapat kegiatan-kegiatan yang sumbernya berasal dari peningkatan kepekaan sosial dari generasi muda itu sendiri entah apapun itu bentuknya, generasi muda berelaborasi satu sama lainnya dengan berbagai background serta disiplin ilmu, minat bakat, yang berbeda-beda.
Jadi kalau gua sendiri ya cuman gini-gini aja, nulis-nulis hasil daripada raksasa-raksasa, tokoh-tokoh hebat terdahulu yang gejala-gejala ataupun peristiwa-peristiwanya serta karyanya gua coba kontekstualisasikan dengan keadaan sekarang ini khususnya generasi muda Indonesia yang hari demi hari mulai terlihat kebangkitannya juga terlihat sektor-sektor yang lemahnya dimana dan sebabnya apa.
Percaya dan optimis, kita bisa bangkit, nggak pada tiduran mulu dikasur tapi terus beraktivitas entah itu otaknya, fisiknya. Pacaran itu bukanlah pacaran, anggap saja gua atau kita punya prasyarat sendiri atas pilihan pasangan hidup kita kelak dan yang sekarang dengan kita kalau bisa tidah harus disebut 'pacar' tapi 'calon prioritas' dan semoga dengan itu bentuk-bentuk ranah nilainyapun tidak teridentikan dengan pacaran secara negatif, ya kalau bisa ya kuat buat tidak pacaran, tapi bukan berarti kita sombong terhadap lawan jenis, ini yang sering salah kaprah. Tidak pacaran bukan berarti memutuskan urat syaraf kebaikan dari hati kita, menjaga bukan seperti itu bentuknya, bukan berarti kita menganggap sumber kesalahan adanya diluar diri. Justru, manfaatkanlah potensi-potensi orang luar baik secara langsung ataupun tidak langsung sebagai bahan renungan, bahan penambah wawasan dan lain-lain. Sebelum selesai tulisan ini, gua ingin curhat kemarin-kemarin gua lihat perempuan-perempuan dari negeri-negeri eropa timur, kalau gak salah kemarin itu Cyprus nah disitu gua liat saudara-saudara kita yang bershalawat dengan wajah khas eropa, dan itu jadi motivasi, ternyata masih ada saudara-saudara kita disana, ya motivasinya sih mungkin supaya kita jangan berpecah-pecah. Minimal ada rasa emosional ketika melihat hal-hal demikian, khusus untuk gua sih termotivasi kali aja salah satu dari mereka ditakdirkan buat jadi jodoh gua tapi karena bahasanya rumit sedangkan bahasa Inggris aja belum lancar, maka dari itu justru menambah semangat dan giat gua buat belajar dan terus berkembang haha...
Literatur kagak jelas ini semoga bisa ada yang membaca meskipun tidak rapi dan sulit dipahami, hehe namanya juga belajar, terimakasih wassalamualaikum..^_^
Saat ini mungkin sedang ada yang shalawatan, ngaji, diskusi, meneliti, membaca, menulis, berkarya, ngerjain tugas, tidur mungkin. First, yang gua tahu nikmat itu ya nikmat, kita hidup dituntut memahami mana yang baik mana yang buruk terus puzzling deh diantara keduanya. Punya pacar gaul, gak punya pacar ngenes..Itu asumsi-asumsi dan puzzling yang tidak bermutu. Maksudnya, segala yang terjadi dihidup kita itu pasti terikat dengan yang namanya ruang dan waktu yang mendalamnya harus dipahami substansi dan esensi, katanya.. Pemikiran-pemikiran kita khususnya generasi muda kaya kita-kita ini sudah banyak terpengaruh dan dibatasi oleh yang namanya media, film-film, novel, berita, dll dll dll . Terkadang gua sendiri gak tahu seberapa persenkah gua mengetahui kebenaran dan keotentikan sumber-sumber referensi tersebut (termasuk buku pelajaran) tidak ada rumus yang bisa menghasilkan jaminan bahwa segala sesuatu yang selalu gua konsumsi film, berita, pelajaran, dan lain sebagainya adalah kebenaran, minimal beritiqad pada kebenaran.
Banyak hal yang kita tidak tahu, banyak kenikmatan yang tersembunyi dan terasa kaku bila dituangkan secara logis, banyak juga kenikmatan yang menghasilkan kemelaratan. Bumi bola, kotak, datar, atmosfer kesemuanya abstrak. Kesulitan-kesulitan yang menimbulkan kesalahan itu kemudian harusnya disesali, setelahnya bencilah kesalahan tersebut sebagai kesalahan, tapi sebagai sejarah dan hikmah jadikanlah pelajaran. Right ? Kanan ? bukan tapi 'benar', tapi kanan, apapun itu... Memang kanan selalu terkonotasi pada hal yang benar atau baik dan itu bukan jadi permasalahan tapi maksud gua disini ini sebuah keunikan, sebuah anugerah dan kearifan dari Tuhan yang gua yakini sebagai tanda-tanda kebesaranNya. Kenapa ? 'Right' dalam hal ini adalah kata dalam bahasa Inggris dan yo pastinya berasal dari hasil cipta rasa kebudayaan negeri elizabeth. So mungkin kawan-kawan bisa merenunginyalah atau bahkan mengkaji kenapa ternyata ada kemiripan-kemiripan dari berbagai sumber tanpa harus terlebih dahulu membawa ego kepentingan golongan, ras, suku, budaya, agama, dll dll dll yang justru biasanya pada pengkajian dan penelitian ilmu pengetahuan bisa membuat proses kurang maksimal karena ada sifat subjektif dan su'uzdhon terlebih dahulu kalau bahasanya 'ustadz'.
Penekanannya disini sebenarnya yang ingin gua bahas adalah generasi muda itu sendiri sebagai pemuda-pemuda yang haus dan frustasi dengan kejombloan. Aseekk. Efek-efek pengaruh sinetron-sinetron yang gak bermutu ini yang mestinya harus direduksi secepatnya mungkin, tapi bukan hanya dengan tuntutan tapi kesadaran dan gerakan dari kitanya. Jangan berharap kegiatan-kegiatan positif kita mesti dibuat kebijakannya, RUU, oleh pemerintah itu namanya lucu... Oleh karena kalau loe-loe pada sudah sadar, mari dari awal kembali kita rekonstruksi pemuda-pemuda yang kegiatan-kegiatannya relevan dan ideal serta produktif untuk prospek kedepannya, masa depan kita. Tidak usah mikir hidup gua atau siapapun itu sudah tak berarti, misal karena ada masa lalu yang membuat terpuruk, itumah biasa yang jadi lebih luar biasa jika kita bisa bangkit dari semua itu, dari hal-hal yang membuat berkurangnya pilihan hidup kita dimasa depan. Dan, selalu ada satu pilihan besar. Itulah perubahan ke arah lebih baik, perubahan kepada cahaya hati yang lebih mudah empati atas kekurangan-kekurangan saudara-saudara kita yang lainnya, betul gak ?
Selamanya hidup kita gak akan pernah jomblo broo, soalnya bukankah kita selalu dituntut untuk mencintai kawan-kawan, teman-teman, guru-guru, orang tua kita sendiri...Dan itu bukanlah jomblo, justru jomblo adalah ketika kita membatasi ruang gerak kreatifitas dan mencari ilmu kita dengan pilihan-pilihan yang tidak menguntungkan dan menimbulkan tembok-tembok baru dalam kehidupan, contoh pacaran. Okelah bagi yang udah terlanjur pacaran, anggap pacaran ya pertemanan special, kalau bisa tidak harus dengan buaian kata 'cinta' atau 'sayang' 'mamah' 'papah' atau lain-lain, justru karena cinta tak harus dilabeli dengan kata saja, apalagi dimasa-masa dimana kita seharusnya belum harus memprioritaskan terlalu untuk mengungkapkan cinta dengan kata, khususnya pada lawan jenis. Kan ngeri liat anak SMP, SMA udah bisa nembak cewe dijalan raya yang pastinya ditonton publik, mau jadi apa generasi berikutnya, mau jadi orang-orang yang dalam genggaman mind control ? Karena generasi mudapun bagian dari rakyat yang harus diberikan hal-haknya dalam pengetahuan-pengetahuan, wawasan-wawasan yang luas, yang membuka cakrawala berpikir mereka agar nantinya tidak jadi Gayus Gayus baru.. Bukankah mereka yang akan meneruskan perjuangan ? Sumber Daya Manusia ? Nantinya mereka tahu bahwa ada sistem-sistem yang ternyata merugikan rakyat, merugikan orang tuanya ternyata dulu itu, jadi kalau ada yang jadi pemangku kebijakan gak sekonyong-konyong maen gusur aja tanah orang, kalaupun itu secara administratif memang harus digusur. Ada analisis-analisis sosial yang lebih mendalam lagi, dari generasi muda, yang lomba silat ya biarkan lomba silat, yang sedang praktek-praktek sains ya biarkan terus praktek, tapi dibeberapa kesempatan harus selalu ada pendiskusian-pendiskusian, pertemuan-pertemuan diantara mereka yang meningkatkan gairah kompetitif dan produktifitas masa muda mereka sehingga nantinya akan banyak terdapat kegiatan-kegiatan yang sumbernya berasal dari peningkatan kepekaan sosial dari generasi muda itu sendiri entah apapun itu bentuknya, generasi muda berelaborasi satu sama lainnya dengan berbagai background serta disiplin ilmu, minat bakat, yang berbeda-beda.
Jadi kalau gua sendiri ya cuman gini-gini aja, nulis-nulis hasil daripada raksasa-raksasa, tokoh-tokoh hebat terdahulu yang gejala-gejala ataupun peristiwa-peristiwanya serta karyanya gua coba kontekstualisasikan dengan keadaan sekarang ini khususnya generasi muda Indonesia yang hari demi hari mulai terlihat kebangkitannya juga terlihat sektor-sektor yang lemahnya dimana dan sebabnya apa.
Percaya dan optimis, kita bisa bangkit, nggak pada tiduran mulu dikasur tapi terus beraktivitas entah itu otaknya, fisiknya. Pacaran itu bukanlah pacaran, anggap saja gua atau kita punya prasyarat sendiri atas pilihan pasangan hidup kita kelak dan yang sekarang dengan kita kalau bisa tidah harus disebut 'pacar' tapi 'calon prioritas' dan semoga dengan itu bentuk-bentuk ranah nilainyapun tidak teridentikan dengan pacaran secara negatif, ya kalau bisa ya kuat buat tidak pacaran, tapi bukan berarti kita sombong terhadap lawan jenis, ini yang sering salah kaprah. Tidak pacaran bukan berarti memutuskan urat syaraf kebaikan dari hati kita, menjaga bukan seperti itu bentuknya, bukan berarti kita menganggap sumber kesalahan adanya diluar diri. Justru, manfaatkanlah potensi-potensi orang luar baik secara langsung ataupun tidak langsung sebagai bahan renungan, bahan penambah wawasan dan lain-lain. Sebelum selesai tulisan ini, gua ingin curhat kemarin-kemarin gua lihat perempuan-perempuan dari negeri-negeri eropa timur, kalau gak salah kemarin itu Cyprus nah disitu gua liat saudara-saudara kita yang bershalawat dengan wajah khas eropa, dan itu jadi motivasi, ternyata masih ada saudara-saudara kita disana, ya motivasinya sih mungkin supaya kita jangan berpecah-pecah. Minimal ada rasa emosional ketika melihat hal-hal demikian, khusus untuk gua sih termotivasi kali aja salah satu dari mereka ditakdirkan buat jadi jodoh gua tapi karena bahasanya rumit sedangkan bahasa Inggris aja belum lancar, maka dari itu justru menambah semangat dan giat gua buat belajar dan terus berkembang haha...
Literatur kagak jelas ini semoga bisa ada yang membaca meskipun tidak rapi dan sulit dipahami, hehe namanya juga belajar, terimakasih wassalamualaikum..^_^
Jumat, 26 Agustus 2016
INDONESIA NEGERI KEBANGSAAN BERJAMA’AH
Sekali lagi, diujung pena ini curahan
segenap bentuk usaha transformsasi cinta untuk sebuah negeri bernama Indonesia.
Tidak jadi masalah jikalau goresan ini sedikit atau bahkan tidak ada yang akan
melihatnya, yang jadi masalah adalah ketika tidak ada daya usaha mencurahkan
sama sekali goresan untuk Nusantara. Kata ‘ujung pena’ jangan terlalu
dipermasalahkan, memang itu hanya metafora karena pada faktanya untuk sekelas
zaman sekarang, jarang dan bahkan sudah tak ada lagi yang menulis langsung
dengan pena.
Negeri ini baru saja melakukan perayaan
ulang tahunnya yang ke-71 tepat ditanggal dimana dahulu Bung Karno membacakan
proklamasi kemerdekaan tanah dikebon belakang kita salah satunya. Uniknya,
tidak semeriah dan semerah dulu ketika kita masih lengoh. Mungkin hipotesa awal adalah bukan karena nasionalisme
mulai luntur, tapi karena semua orang Indonesia sudah merasa merdeka karena itu
merayakan kemerdekaan Indonesia saja mereka merasa merdeka untuk memilih ikut
atau tidak, atau bisa jadi hanya tentang metoda cara perayaannya saja yang
mulai kreatif-inovatif bentuknya baik secara bersama-sama, kelompok, dan
masing-masing individu. Harap semuanya tidak harus terlalu serius merespon itu,
karena pasti ujung-ujungnya perjuangan legal-formalistik yang paling
diperhatikan untuk menangani itu semua yang pada kenyataannya seketat-ketatnya
aturan yang dilegitimasi secara tekstual, khusus di Indonesia pasti bolong
juga, karena sebenarnya bukan itu inti permasalahannya, dan juga karena sebuah
nasionalisme tidak bisa digantikan dengan secarik tulisan yang dilegitimasi menjadi
sebuah aturan. Jujur itu jauh dari ‘sama dengan’.
Kemerdekaan
atau Independence Indonesia menurut
Bung Karno hanyalah sebagai pintu gerbang. Setelah itu tentang keadilan,
persamaan, dan demokrasi korelasinya tidak bisa dipaksakan dengan euforia
kejayaan sejarah dulu. Maksudnya, kalau kata sang proklamator kita orang
Indonesia ini terlampau lama hanya memanfaatkan kerak kemampuannya tidak
menyalakan apinya. Sekarang-sekarang sudah ada yang menyalakan apinya tapi
justru malah yang terbakar hutan-hutan disumatera dan kalimantan. Dan,
pelakunya bebas. Mari kita analisis bersama Indonesia setelah ‘pintu gerbang’ itu baik dengan
perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan jikalau ada relasi dengan subordinat
lainnya.
Bolehlah
kita apresiasi terlebih dahulu segala bentuk-bentuk kemajuan secara sosial
dinegeri ini dari kemerdekaan sampai pula sekarang ini. Dimana, humanity atau Hak Asasi Manusia telah
menjadi kalimat konsumsi masyarakat kita secara luas dengan memang tema besar
itu harus menjadi salah satu pokok dan syarat dari pada sebuah masyarakat
modern dunia. Tentu saja pro-kontra sudah menjadi alamiah (nature) dari individu manusia yang dilengkapi akal pikiran dan
indra sebagai alat pembaca keadaan sekitar. Indonesia punya potensi sebagai stick holder dari keadaan sosial yang
memiliki perbedaan yang sangat kaya untuk contoh masyarakat dunia. Kalau perlu
jujur pada hati nurani disetiap jiwa-jiwanya masyarakat Indonesia secara
komprehensif, mungkin saja kita bisa berkata no try to teach me about humanity ! Tidak peduli benar atau salah
ejaannya, wong Indonesia kok.
Sebagian
masyarakat pro HAM di Indonesia bisa dibagi menjadi beberapa kategori, mungkin
yang paling umum adalah pertama yang mengerti secara komprehensif HAM dan kedua
yang awam yang hanya memahami HAM menurut tafsiran dewek. Permasalahannya adalah apakah kita akan menerapkan HAM yang
arkitipe dengan yang ada dipola corak masyarakat barat khususnya Eropa ? Atau
akan ada adaptasi sosial dan budaya (nurture)
dengan pola corak masyarakat Nusantara ? Paling penting substansinya pokoknya
HAM, masalah bentuk-bentuk penerapan yang penting tidak dimonopoli untuk satu
kepentingan golongan.
Selain
itu zaman ini ada semacam fenomena marginalisasi peran generasi muda atau
marginalisasi generasi muda dari poros perhatian prioritas pembenahan baik
secara kebijakan birokrasi ataupun secara prioritas polarisasi sosial-kultural
kebanyakan masyarakat Indonesia, generasi muda menjadi hanya subordinat akurasi
bidang yang perlu diperhatikan, aktivis hanya bermain elitis dan kegiatannya
lebih berpihak kepada yang sifatnya jangka pendek karena memang itu yang
menguntungkan dan yang sifatnya jangka panjang perjuangannya lebih berat dan
terkadang sering dilupakan. Konstelasi kebudayaan internasional baik dari
barat, timur, tengah, bersintesa dalam peradaban manusia Indonesia dewasa ini,
khususnya generasi muda. Kelebihannya, nilai komersial-eksploitatif dan
industri pasar hiburan Indonesia meningkat pesat, baik ranah musik, tari, seni,
dan lain sebagainya. Hebatnya lagi sebagai masyarakat yang sangat memuliakan
tamu, di Indonesia barang luar seolah adalah yang pasti kualitasnya diatas
barang lokal, berbentuk apapun itu.
Kita
masyarakat yang mengerti sudah sedikit mulai aga priyayi sulit masuk kebawah, kalaupun kebawah hanya ranah jangka
pendek. Kalau dianalogikan, sudah terlampau banyak orang-orang akademisi,
praktisi, dan lainnya yang sudah menjadi pohon tinggi (berprestasi), maka perlu
adanya orang-orang yang hanya dengan pohon yang rendah tapi ranting dan
daun-daunnya dapat menaungi, meneduhi orang-orang dibawahnya. Sekarang sulit
membedakan pemuda kota atau pemuda desa, karena orientasinya mayoritas sama
karena kita telah dimekanisme dengan konsumsi publik yang membentuk
mental-mental jiwa orang Indonesia khususnya generasi muda untuk dibentuk ya
begitu, entah untuk jadi alat pembebasan atau penindasan kita tidak pernah tahu
dan tidak mau tahu, masing-masing kita kehilangan identitas diri.
Pendidikan
sebagai ordinat dari semua aspek perspektif haruslah jadi tonggak utama
pembenahan baik secara formal ataupun non formal. Saat ini sudah menjadi
rahasia umum bahwa banyak siswa-siswa yang belum pada umurnya sudah bisa
dijumpai ditempat-tempat umum merokok misal, dan kita tidak bisa berbuat
apa-apa selagi hanya duduk-duduk dan hanya ikut andil memaki mereka saja. Dan,
paling menghina logika sehat manusia adalah dimana peristiwa rokok
disekolah-sekolah seolah dilarang dan menjadi barang yang sangat berbahaya, hal
itu disosialisasikan oleh tenaga-tenaga pendidik hampir dominan. Sedangkan pada
faktanya rokok dijual secara meluas diseluruh Indonesia, apakah ada tanda-tanda
rokok sangat-sangatlah berbahaya ? Maksudnya carilah alternatif solusi untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang nantinya kompleks ini. Alangkah baiknya jika
objek ‘rokok’ dalam hal ini tidak dijadikan kambing hitam dalam pendidikan,
penjelasan-penjelasan oleh pendidik lebih menitikberatkan pada keadaan tidak
menyimpulkan ‘rokok’ tersebut boleh atau tidak boleh, tapi lebih kepada
penjelasan baik-buruk manfaat-mudharat setelah itu beri mereka kebebasan
memilih dengan tidak mengenyampingkan peraturan disekolah tidak boleh merokok
tentunya, realistis saja. Bukan hanya untuk masalah ‘rokok’ tapi gejala-gejala
yang lain. Metoda-metoda seperti ini memang tidak mutlak, bisa saja ada
modifikasi tapi ini hanya sedikit saran secara psikologis. Ini merupakan
personifikasi dimana terkadang dibeberapa sekolah, antara yang diberi disekolah
dengan sosial masyarakat secara luas tidak ilmiah, atau kurang sinkron.
Budaya-budaya
hedonis telah menjalar dengan hampir holistik diseluruh Indonesia karena
teknologi media sebagai penunjang penyebaran cepat tentunya. Kebahagiaan itu
diukur dengan seberapa banyak anda menang dalam kompetisi materalistis, mirip dengan
teori Kaptalisnya Weber. Menurut Anies Baswedan orang Indonesia yang masih
melihat kekayaan Indonesia itu lewat sumber daya alamnya, kemajuan
fasilitasnya, itu kalaupun menamengi diri membela kepentingan rakyat sebenarnya
itulah otak-otak kaptalis. Stephen R Covey adalah tokoh yang sangat cocok
teorinya untuk keadaan Indonesia hari ini, dimana kompetisi, interaksi antar
manusia adalah kerja sama dan hasilnya diusahakan win/win tidak ada yang dirugikan.
Generasi kita telah terjebak dengan mindshet ekonomi dimana uang itu
dihasilkan dari gaji hasil kerja entah jadi buruh, karyawan, dll. Dan, dengan
peningkatan ekonomi Indonesia yang katanya terus meningkat berapa persen tiap
tahun sehingga dipuji G-20 sedangkan masyarakat termasuk kita melohok bingung, iki opo rek. Kenyataannya kita lapar
tapi kita hidup, karena terlalu sering kita lapar, dan diberi makan secara
cuma-cuma dengan gratis entah itu bentuk BLT atau makhluk lainnya, kita jadi
manja.
Katanya akan ada suatu masa dimana
masyarakat dunia tidak ada yang mau menerima sadaqah , bisa jadi hal itu terjadi karena sistem tukar dengan uang
kertas memang jelas berbeda dengan sistem barter dulu yang keadaan terus
seimbang (beras ditukar gandum), atau dengan emas atau perak (yang secara nyata
bernilai). Sistem ini memungkinkan yang sebenarnya barang pokok kebutuhan hidup
semacam beras, gandum, jagung, akan lebih sedikit dari uang kertas yang
berputar. Jika kita analisis, dan kontekstualisasikan maka bisa jadi masa
diatas yang masyarakat dunia tidak ada lagi yang mau menerima sadaqah itu berhubungan dengan
kemungkinan dari sistem diatas, yang khusus di Indonesia mata uang kita terus
turun nilai tukarnya. Hubungannya adalah dengan mindshet pemuda sekarang yang menginginkan uang dari hasil kerja
sedangkan dia punya kemampuan mengeksploitasi lahan yang dipunya, misal kebun
singkong dan dengan pendidikan yang telah dia tuntut, bolehlah sedikit kreasi
dari produksi singkongnya bisa meningkatkan nilai marketnya. Anak ekonomi
mungkin akan lebih khatam, terkadang
poros perhatian kita selalu sesuatu yang belum tentu kita genggam sedangkan
yang kita punya tidak dimaksimalkan potensi-akurasinya.
Intinya pasca-kemerdekaan Indonesia
ranah sosial, budaya, ekonomi mengalami perkembangan. Perkembangan itu
tergantung dari sudut pandang mana diukurnya. Boleh jadi, bagi sebagian
kalangan ini (Indonesia) kondisi yang sudah baik, tapi untuk sebagian lainnya
mungkin saja buruk. Dalam perkembangannya life
of society Indonesia mengalami fluktuatif yang relatif seimbang, terkadang
terlalu menjadi ekstrim atau ruwet itu
hanyalah permainan media yang kita tidak tahu persenstase benar-salahnya dan
tidak pernah ada rumus untuk menghitungnya serta maksud dibalik publikasi
berita-berita tersebut. Jadi media punya potensi besar menjadi alat pengatur
hampir disetiap ide gagasan dan pola tingkah manusia Indonesia dalam
perkembangan disemua sektor. Lebih jelas yang kurang hanyalah justice, belum sama seperti social justice. Semua bahan yang
Indonesia miliki, baik kalangan yang konservatif ataupun yang mengatasnamakan
modern sudah cukup mampu membuat tatanan sosial yang baik, dengan
tradisi-tradisinya, segala hal bentuk ragam budaya yang sebenarnya menjadi
salah satu penunjang utama dalam pengembangan tatanan sosial yang diinginkan,
kembali yang kurang hanya tinggal justice
(keadilan) dari pemangku kebijakan. Oleh karena kebijakan akan berimplikasi
pada pola sifat karakter tatanan sosial dan juga percepatan tatanan sosial dan
budaya tersebut berakomodasi dengan zaman teknologi, sehingga tidak menimbulkan
disfusi antara tuntutan zaman dan keadaan sosial, juga karena kebijakan juga
berimplikasi pada ekonomi rakyat.
Semua aspek menjadi
terintegrasi-terinterkoneksi bisa berpisah tapi tidak bisa dipisah-pisahkan,
karena segala alurnya menuju muara dan output yang sama. Bisa jadi rumusnya
ekonomi-budaya-sosial, jadi maksudnya bukan untuk supaya masyarakat sejahtera
secara materalis tapi kebijakan-kebijakan yang bersentuhan langsung dengan
rakyat yang berhubungan dengan ekonomi diusahakan haruslah mencapai titik
maksimal kebijakan yang berkeadilan sehingga setelah itu terciptalah budaya,
pengamalan budaya, pelestarian budaya, yang perkembangannya tidak dikotomis
dengan zaman. Tatanan sosial adalah hasil dari kedua sektor tersebut,
sungguhpun bisa jadi ada pendapat lain.
Dalam al-kulliyyat al-khams (lima prinsip universal) perlindungan
terhadap keyakinan, terhadap hak hidup, hak berpikir dan mengekspresikannya, hak
reproduksi, dan hak perlindungan terhadap harta benda. Tak ada warga negara
nomor dua, tak ada yang namanya dzimmi ,
dalam hukum Indonesia semuanya sama. Jadi bila akhir-akhir ini negara ini mulai
digerogoti kembali oleh orang-orang baik yang ingin adanya formalisasi syar’iat
atau macam-macam hal, merupakan sesuatu yang miris. Sekarang kita sudah jauh
banyak terjebak dalam perdebatan-perdebatan yang tidak menguntungkan karena
hanya bergeliat disitu-situ saja, lupa akan kemajuan dunia, teknologi, sosial,
keilmuan, karya-karya, dan semacamnya. Sedangkan anak Indonesia yang orang
tuanya tidak bisa menyekolahkan anaknya, mereka hanya yang penting hari ini
masih bisa bernafas itu sudah mereka syukuri tanpa memperdulikan, memperhatikan,
bahkan mengerti apa yang kita perdebatkan, lebih parah apa yang kita
perdebatkan tidak seminimalnya berhubungan dengan apa yang mereka rasakan.
Berpikir maju, luas, ataupun expert dibeberapa
bidang boleh karena pada akhirnya demi kebaikan bersama think global and action local.
Semoga dikemudian hari demi hari
Indonesia akan tetap berkembang, perkembangan kita untuk Indonesia. Terus su’ubawwaqoba ila lita’arafu, saling
mengenal antar sesama anak bangsa, karakternya, segala bentuk konflik, debat,
sehingga membuat seolah negeri ini menjadi carut murut sungguh suatu yang harus
disyukuri, oleh karena bagaimanapun justru itulah yang menambah khazanah
keilmuwan kita, pergerakan kita. Tidak perlu iri dengan negeri-negeri seberang,
kemajuan mereka, pentingnya harus ada yang rela kotor-kotoran, terhinadinakan,
teraniaya, ataupun bersusah payah demi memperbaiki jalan-jalan tikus yang
menjadi tempat sebenarnya yang harus lebih diprioritaskan untuk dibenahi,
karena tidak boleh diabaikan seekor tikus bisa jadi koruptor, maka datangilah
sarangnya.
Semangat keberagaman dimulai saat
Ahlu-sunnah Wal Jama’ah muncul zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan sebagai
sebuah istilah semangat inklusivisme, persatuan, baik kalangan umawi, syi’ah,
khawarij, dll. Serta juga konsep tarbi’ (Abu
bakr, Umar, Utsman, Ali) yang sukses dikembangkan yang sebenarnya sebuah
kesepakatan dan bukan dogma seperti yang kita yakini hari ini. Sehingga muncul
slogan terkenal nahnu jama’atun wahidah
tahta rayati din Allah (kita semua adalah anggota jama’ah yang tunggal
dibawah bendera agama Allah). Jadi jika dinegeri yang Pancasilais ini kita yang
menamengi diri ASWAJA tapi pola pikirnya masih menunjukan tanda-tanda
ekslusivisme, maaf kita sampai kapanpun tidak akan jadi seperti Issac Newton.
Gak pake Kiyai Haji.
Masih banyak hal yang ingin dituliskan,
dirapikan dalam tulisan ini, tapi dirasa itu akan lebih baik jika nanti
respon-respon dibelakang akan membuat kajian semakin berkembang. Tapi kekurangan
dalam tulisan ini tetaplah kekurangan karena sedang menunggu pelengkapnya dari
kawan seperjuangan. Indonesia, TANAH AIR
KITA !!! Untuk itu saatnya kita semua berkata nahnu jama’atun wahidah tahta rayati indhonasia KITA ADALAH ANGGOTA
JAMA’AH YANG TUNGGAL DIBAWAH BENDERA INDONESIA !! :D
Kamis, 11 Agustus 2016
Puisi itulah "Aveno Shalom Alekhim"
Berita gembira selalu datang
Kitalah yang tak keluar rumah
Menjemput sejuknya kebersamaan
Walau kadang pahit itulah hadiah
Abu Nawas dengan syair dan lucunya
Ceritanya mengundang kemewahan dihati
Tapi maknanya menusuk pengakuan jiwa
Api pedih pembalasan seolah sedang menanti
Dan... kasih sayang seolah menjauhi
Kisah Imam bushiri menitikan air mata
Salam untuk sang pejuang baginda mulya
Cengengnya kita bentuk kreasi
Kreasi yang akan membunuh harapan semuanya
Kita belum rela untuk berbeda
Padahal kebersamaan rasanya indah
Jangan berkata saudara wakil yang maha esa !
Bila merasakan kepedihannya saja tidak pernah
Atau bahkan hanya menambah-nambah
Dialektika hanya untuk kepentingan kita
Padahal bayangkan ketakutan didada mereka
Seolah terancam dijiwa-jiwa saudara yang berbeda
Hingga timbul rasa benci dijiwa minoritas
Meskipun itu bukan masalah selagi kita tetap menyayangi
Tak peduli simbol apapun yang ada
Karena.. simbol tetaplah simbol
Bukan alasan untuk bermusuhan
Sekarang adanya berita sejahtera !!
Langganan:
Postingan (Atom)
