Kamis, 11 Agustus 2016
Senin, 08 Agustus 2016
SEBAB INDONESIA MERDEKA TAK BOLEH DISALAHKAN
Masih terngiang ditelinga tuli ini lagu-lagu kebangsaan; Indonesia tanah air beta salah satu lagu yang lirik-liriknya, nada-nadanya, menjadi seolah suluk pelembut hati ini. Bagaimana egoisme terbuang dalam nurani ini untuk melebur menjadi wahdatul wujud, manunggal dengan orang-orang kita terdahulu, pahlawan-pahlawan kita. Kita harus tahu, tanah yang kita injak ini tidak dengan mudah untuk kita injak, maksudnya bisa saja hari ini, waktu ini, kaki kita tiada untuk menginjak bumi pertiwi ini bila saja dahulu tak ada yang memperjuangkan kita, tak ada ridho Tuhan untuk kita; sebagaimana tertulis dalam pembukaan UUD 45.
Darah pejuang itu haram; haram untuk tidak dikenang, haram untuk tidak sama sekali penghargaan. Tapi, bukan hanya dengan ratapan, bukan hanya dengan renungan, dengan hari-hari pahlawan, dengan sekadar mengetahui, sekadar membicarakan, atau hanya sekadar menikmati hasil-hasil kemerdekaan sekarang, bahkan mungkin bukan hanya sekadar malah merusak cita-cita luhur dari bangsa Indonesia, merusak Indonesia. Kegiatan-kegiatan legal-formalistik yang telah ditetapkan pemerintah untuk bagaimana menjadi salah satu jalan mengenang para jasa pahlawan; seperti hari-hari besar pahlawan hanyalah sebatas kulit syariat, thoriqoh, jalan-jalan menuju the inner truth kegiatan-kegiatan yang benar-benar mengandung semangat juang pahlawan didalamnya, mengandung kesedihan-kesedihan yang sama dirasakan pahlawan dulu tatkala melihat gejala-gejala, peristiwa-peristiwa, yang menghina akal sehat, menghina kemanusiaan, menghina peradaban dunia, menghina bangsa Indonesia.
Bulan ini; Agustus, adalah bulan dimana dulu tahun 45 ghirah Nusantara sedang dalam tahap-tahap menuju puncak momen terindah, momen-momen harapan mengharu biru untuk hari kemudian, untuk kita orang ini generasi selanjutnya. Sekeras-keras prinsip yang dipegang, ideologi, kekuatan-kekuatan kelompok dahulu, tapi tetap mereka rela bersatu demi bangsa ini, demi kita ini. Paling menyentuh adalah bagaimana kita dijajah oleh negeri orang sekitar hampir 350 tahun dan 3,5 tahun sebelum mencapai kemerdekaan. Dan, itu bukanlah penghalang bagi Indonesia dengan arif dan bijaknya, dengan rasa rendah hatinya, untuk mencantumkan kalimat maka penjajahan dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan. Indonesia tidak memikirkan diri sendiri, kepentingan bangsa saja, tidak ashobiyah, unshelfish, think of humanity, prioritize the interests of the world. Jika kita pelajari dari kalimat itu, kita akan menemukan bentuk-bentuk dimana yang biasa terjadi dalam film-film pahlawan yang memiliki kerendahaan hati, kebijaksanaan tingkat dewa, maqam ma'rifat; oleh karena bila tokoh dahulu berpandangan bahwa penjajahan dimuka bumi tak selayaknya dilakukan, maka kita harus pikir bahwa tak ada dendam, tak ada pilih-pilih, dimana negeri yang dahulunya menjajah kitapun Indonesia lindungi dengan UUD 45-nya. Jadi bila suatu saat negeri Belanda ikut dijajah, maka seharusnya tak satu orang dibumi pertiwipun yang diperbolehkan untuk tidak mengutuk penjajahan tersebut, bahkan bisa jadi ikut dalam barisan, ikut serta dalam ketertiban dunia menumpas segala bentuk perbudakaan manusia terhadap manusia.
Hari ini kita sedang dilanda cedera, kebanggaan akan negeri dipoles sedemikian rupa pemuda-pemuda dewasa ini hanya untuk ranah-ranah dimana merasuk dalam semangatnya saja, bangkit hanya ketika timbul ancaman dan redup kembali ketika nyaman. Bukan salah Indonesia, bukan salah falsafahnya, tapi salah kita orang sendiri, yang tak mampu menahan pedihnya hidup, retaknya jiwa, interaksi budaya, saudara yang hilang jadi tak biasa, menjadi tak Indonesia. Kita tertinggal bukan 50 tahun, 100 tahun tapi lebih dari pada itu, bukan untuk mengejar ketertinggalan tapi mengejar kemajuan, bukan kemandulan, bukan malah kehancuran yang didapat.
Sebenarnya memang tak ada yang patut dipersalahkan, bagaimanapun Indonesia tetap Indonesia kita; pahit, manis, asin, apapun itu kita lihat yang buat. Tak perlu menentang untuk menentang, dewasa ini perang sebangsa makin marak dimana-mana, paling mengerikan memperdebatkan masalah pemikiran, bahkan keagamaan, sampai lupa bagaimana cita-cita keadilan, dimana keadilah akurasinya hanya untuk tameng bagi kepentingan kelompoknya masing-masing. Remaja perang saudara, tawuran jadi kebanggaan, bertemu orang luar negeri seolah melempem jadi kaum puritan. Ada peristiwa-peristiwa yang tidak bisa divonis menjadi kesalahan mutlak dari aktor-aktor antagonis didalamnya, perlu ada pengkajian, pendalaman, diskusi-diskusi untuk menemukan kambing hitam sebenarnya, karena terkadang setiap kesalahanpun tidak tahu kenapa dirinya bersalah. Pejuang-pejuang the tiny creative minority yang akan menyelesaikan permaslahan yang terjadi dengan tidak mengorbankan hak-hak saudaranya, atau bahkan rivalnya, karena kemanusiaan. karena ke-Indonesiaan. Tidak berbangga buta dengan Indonesia, bukan fanatik buta, karena perjuangan tidak harus menjadi pohon yang tumbuh pesat tinggi, berprestasi, tapi tidak menaungi orang-orang yang ingin berteduh dibawahnya; Biarlah pohon yang rendah tapi ranting-ranting daunnya yang lebar bisa lebih bermanfaat bagi orang-orang yang ingin berteduh dibawahnya, yang terpenting bisa memanfaatkan yang ada, tapi tidak seadanya. Berlanjut rekonstruksi, rethinking, pembangunan-pembangunan yang esensial dengan mengacu pada keadaan-keadaan dan juga kemampuan-kemampuan, dimana bukan hanya pemerintah yang bisa melakukannya tapi individu-individu, kelompok, organisasi, komunitas, yang ada dalam cakupan wilayah negara Indonesia juga harus bisa melakukannya. Maksudnya, terus jangan pernah berhenti belajar, memperbaiki diri, menyesuaikan keadaan, mengejar mimpi, menambah wawasan, keilmuwan, karya-karya, percobaan-percobaan laboratorium, teknologi, interaksi-interaksi tabayyun antar sesama anak bangsa.
Tidak boleh merendah, dalam arti merendahkan harga diri dihadapan bangsa lain, jangan hanya jadi preman dinegeri sendiri; buktikan dengan berani menuju luar negeri, kancah internasional bersaing, berkompetisi secara sehat, karena kompetisi secara sehat adalah bentuk interaksi kerjasama yang terbaik dan seharusnya tidak merugikan salah satu pihak, hidup ini kerjasama dan kerjamassa. Kerjamassa tidak harus kita bersama dalam satu ruang & waktu bersamaan karena pada hakikatnya seorang pemuda yang merantau ke tempat jauh tentulah untuk sanak saudara yang ditinggalkan pada akhirnya. Intinya bukan tentang dekat secara fisik, tapi kedekatan emosional yang membuat kita kuat, kebersamaan emosional yang membuat kita kuat. Tidak harus dengan menciptakan musuh kita bisa berjuang, tidak dengan membenci manusia lain yang berbeda kita harus berjuang, bukan manusia yang kita benci, tapi gejala-gejala yang ditimbulkan produk implikasi dari interaksi manusia dengan manusia yang merugikan dan bersifat negatif.
Tulisan ini juga hendaknya memang menuliskan sejarah agar kita bisa membaca dan belajar dari sejarah untuk masa depan, tapi sudah terlalu banyak yang menceritakan sejarah, dan sudah saatnya membuat perubahannya hasil belajar dari sejarah itu. Bahkan dengan hanya membersihkan lantai, mencuci piring, membantu orang tua dirumah, memperbaiki pribadi diri, sambil dengan sedikit demi sedikit menularkan hal-hal postif dilingkungan, bila gagal, terus perbaiki dan lanjutkan. Masalah itu biasa, dan ada saat-saat dimana kita harus merenungi sejarah kita dan pikirkan sejarah macam apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita kelak nanti, mau pahit ataupun manis, tapi haruslah ada kebaikan yang bisa diambil untuk generasi selanjutnya.
Angin, air, api, tanah, segala unsur dalam bentuk-bentuk lebih banyak; unsur kimia adalah bagian kita dan itu merupakan microchip kita yang akan merekam setiap langkah dan jalan perjuangan kita. Setiap unsur, zat, yang seolah mati dan hanya kita yang hidup ini sebenarnya adalah saksi-saksi seberapa banyak kebaikan yang kita buang sembarang tanpa melihat siapa objeknya. Bagaimana Indonesia menjadi negeri yang penuh dengan berjuta-juta pelajaran hidup, dan hanya ada di Indonesia-tanpa ada maksud meremehkan yang lain. Oleh karena inilah kekhususan kita yang ditakdirkan, kita berbeda dengan Arab, dan Arab jangan kita-kitakan. Kita unik, Indonesia unik, dirimu unik, karena banyak dari generasi kita, pemuda kita yang sekarang sedang berjuang memperbaiki dirinya sendiri, yang sedang memikirkan bangsanya, memikirkan orang lain, atau malah sedang melakukan pekerjaan kebaikan yang sedang dalam jalurnya, jalur yang akan menghantarkan ke hilir dan samudera kebahagiaan ketika melihat orang lain menangis bangga karenanya. Tidak ada yang tida berguna, semua anak bangsa berguna, tak ada yang putus harapan, laki-laki, perempuan, wahai anak bangsa, tak ada pintu untuk kita berputus asa, kalaupun kita merasa Tuhan telah menghancurkan kita, itu adalah bentuk cinta kasihNya dalam bentuk lain.
Rakyat Indonesia adalah yang paling berkuasa, yang berhak mendapatkan otoritas kekuasaannya. Tidak dengan diberi emas, migas, atau harta kekayaan yang hanya bersifat materialistis saja. Sungguhpun sebenarnya yang paling optimal adalah berikan rakyat kewajiban sesungguhnya untuk merasakan bahwa mereka penguasa sebenarnya tanpa harus dipuja-puja, dimanja-manja. Tak ada yang perlu marah disaat optimalisasi proses kebaikannya pada seseorang, atau contoh-pemerinta terhadap rakyatnya diabaikan rakyatnya dengan bentuk rakyat kurang responsif dan seolah tak ada timbal balik karena tak seharusnya seorang orang tua menuntut bayinya mengucapkan kalimat terimakasih atas air asi yang sudah diberikannya.
Tak ada kupu-kupu malam; seharusnya, karena beberapa diantaranya mungkin kekurangan makan, atau terlanjur demikian disebabkan konteks historis kehidupannya yang menuntutnya untuk mengaktualisasi hidupnya diranah yang kurang bagus dikehidupannya, tapi itu adalah warna, warna kehidupan. Apa yang salah dengan kupu-kupu malam ? Salahnya adalah didalam sanubari kita, kalimat tersebut telah dikonsesus menjadi kalimat yang sifatnya negatif padahal tidak ada kenegatifan dalam idematik kalimatnya, sebenarnya. Perempuan adalah gambaran keindahan, pancaran cahaya, perlu dihormati, bukan dieksploitasi, atau dibiarkan mengeksploitasi dirinya sendiri, minimal ada rasa iba dihati kita tatkala melihat peristiwa kehidupan demikian. Perempuan adalah tonggak utama berlanjut tidaknya peradaban manusia dibumi, sehingga masa depan Indonesia salah satunya berada ditangannya, kalau perempuan tidak dihargai, kita sudah menghina segala karya-karya yang sumber aslinya berada dalam rahim perempuan. Perempuan bentuk keindahan sehingga perlu dihargai, laki-laki bentuk kekuatan sehingga harus melindungi, saling melengkapi dengan perbedaan itu sudah menjadi takdir yang merupakan karunia yang tidak bisa dipisahkan, tidak bisa dihancurkan, tidak bisa dipersalahkan, karena hidup adalah hidup, jangan biarkan saudara kita mati dikehidupannya.
Sebuah peristiwa bisa jadi renungan, sebuah buku bisa jadi senjata sekawan, dan hati serta pikiran menjadi lautan rencana masa depan. Pengamalan, pelaksanaan dari itu semua menjadi hak-hak setiap orang, asalkan jujur dan bertanggung jawab untuk setiap apa yang diperjuangkan. Kita jangan pernah berhenti belajar, untuk masa depan dunia, khususnya Indonesia tercinta !!! Selamat merenungi kembali kemerdekaan !!!
Darah pejuang itu haram; haram untuk tidak dikenang, haram untuk tidak sama sekali penghargaan. Tapi, bukan hanya dengan ratapan, bukan hanya dengan renungan, dengan hari-hari pahlawan, dengan sekadar mengetahui, sekadar membicarakan, atau hanya sekadar menikmati hasil-hasil kemerdekaan sekarang, bahkan mungkin bukan hanya sekadar malah merusak cita-cita luhur dari bangsa Indonesia, merusak Indonesia. Kegiatan-kegiatan legal-formalistik yang telah ditetapkan pemerintah untuk bagaimana menjadi salah satu jalan mengenang para jasa pahlawan; seperti hari-hari besar pahlawan hanyalah sebatas kulit syariat, thoriqoh, jalan-jalan menuju the inner truth kegiatan-kegiatan yang benar-benar mengandung semangat juang pahlawan didalamnya, mengandung kesedihan-kesedihan yang sama dirasakan pahlawan dulu tatkala melihat gejala-gejala, peristiwa-peristiwa, yang menghina akal sehat, menghina kemanusiaan, menghina peradaban dunia, menghina bangsa Indonesia.
Bulan ini; Agustus, adalah bulan dimana dulu tahun 45 ghirah Nusantara sedang dalam tahap-tahap menuju puncak momen terindah, momen-momen harapan mengharu biru untuk hari kemudian, untuk kita orang ini generasi selanjutnya. Sekeras-keras prinsip yang dipegang, ideologi, kekuatan-kekuatan kelompok dahulu, tapi tetap mereka rela bersatu demi bangsa ini, demi kita ini. Paling menyentuh adalah bagaimana kita dijajah oleh negeri orang sekitar hampir 350 tahun dan 3,5 tahun sebelum mencapai kemerdekaan. Dan, itu bukanlah penghalang bagi Indonesia dengan arif dan bijaknya, dengan rasa rendah hatinya, untuk mencantumkan kalimat maka penjajahan dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan. Indonesia tidak memikirkan diri sendiri, kepentingan bangsa saja, tidak ashobiyah, unshelfish, think of humanity, prioritize the interests of the world. Jika kita pelajari dari kalimat itu, kita akan menemukan bentuk-bentuk dimana yang biasa terjadi dalam film-film pahlawan yang memiliki kerendahaan hati, kebijaksanaan tingkat dewa, maqam ma'rifat; oleh karena bila tokoh dahulu berpandangan bahwa penjajahan dimuka bumi tak selayaknya dilakukan, maka kita harus pikir bahwa tak ada dendam, tak ada pilih-pilih, dimana negeri yang dahulunya menjajah kitapun Indonesia lindungi dengan UUD 45-nya. Jadi bila suatu saat negeri Belanda ikut dijajah, maka seharusnya tak satu orang dibumi pertiwipun yang diperbolehkan untuk tidak mengutuk penjajahan tersebut, bahkan bisa jadi ikut dalam barisan, ikut serta dalam ketertiban dunia menumpas segala bentuk perbudakaan manusia terhadap manusia.
Hari ini kita sedang dilanda cedera, kebanggaan akan negeri dipoles sedemikian rupa pemuda-pemuda dewasa ini hanya untuk ranah-ranah dimana merasuk dalam semangatnya saja, bangkit hanya ketika timbul ancaman dan redup kembali ketika nyaman. Bukan salah Indonesia, bukan salah falsafahnya, tapi salah kita orang sendiri, yang tak mampu menahan pedihnya hidup, retaknya jiwa, interaksi budaya, saudara yang hilang jadi tak biasa, menjadi tak Indonesia. Kita tertinggal bukan 50 tahun, 100 tahun tapi lebih dari pada itu, bukan untuk mengejar ketertinggalan tapi mengejar kemajuan, bukan kemandulan, bukan malah kehancuran yang didapat.
Sebenarnya memang tak ada yang patut dipersalahkan, bagaimanapun Indonesia tetap Indonesia kita; pahit, manis, asin, apapun itu kita lihat yang buat. Tak perlu menentang untuk menentang, dewasa ini perang sebangsa makin marak dimana-mana, paling mengerikan memperdebatkan masalah pemikiran, bahkan keagamaan, sampai lupa bagaimana cita-cita keadilan, dimana keadilah akurasinya hanya untuk tameng bagi kepentingan kelompoknya masing-masing. Remaja perang saudara, tawuran jadi kebanggaan, bertemu orang luar negeri seolah melempem jadi kaum puritan. Ada peristiwa-peristiwa yang tidak bisa divonis menjadi kesalahan mutlak dari aktor-aktor antagonis didalamnya, perlu ada pengkajian, pendalaman, diskusi-diskusi untuk menemukan kambing hitam sebenarnya, karena terkadang setiap kesalahanpun tidak tahu kenapa dirinya bersalah. Pejuang-pejuang the tiny creative minority yang akan menyelesaikan permaslahan yang terjadi dengan tidak mengorbankan hak-hak saudaranya, atau bahkan rivalnya, karena kemanusiaan. karena ke-Indonesiaan. Tidak berbangga buta dengan Indonesia, bukan fanatik buta, karena perjuangan tidak harus menjadi pohon yang tumbuh pesat tinggi, berprestasi, tapi tidak menaungi orang-orang yang ingin berteduh dibawahnya; Biarlah pohon yang rendah tapi ranting-ranting daunnya yang lebar bisa lebih bermanfaat bagi orang-orang yang ingin berteduh dibawahnya, yang terpenting bisa memanfaatkan yang ada, tapi tidak seadanya. Berlanjut rekonstruksi, rethinking, pembangunan-pembangunan yang esensial dengan mengacu pada keadaan-keadaan dan juga kemampuan-kemampuan, dimana bukan hanya pemerintah yang bisa melakukannya tapi individu-individu, kelompok, organisasi, komunitas, yang ada dalam cakupan wilayah negara Indonesia juga harus bisa melakukannya. Maksudnya, terus jangan pernah berhenti belajar, memperbaiki diri, menyesuaikan keadaan, mengejar mimpi, menambah wawasan, keilmuwan, karya-karya, percobaan-percobaan laboratorium, teknologi, interaksi-interaksi tabayyun antar sesama anak bangsa.
Tidak boleh merendah, dalam arti merendahkan harga diri dihadapan bangsa lain, jangan hanya jadi preman dinegeri sendiri; buktikan dengan berani menuju luar negeri, kancah internasional bersaing, berkompetisi secara sehat, karena kompetisi secara sehat adalah bentuk interaksi kerjasama yang terbaik dan seharusnya tidak merugikan salah satu pihak, hidup ini kerjasama dan kerjamassa. Kerjamassa tidak harus kita bersama dalam satu ruang & waktu bersamaan karena pada hakikatnya seorang pemuda yang merantau ke tempat jauh tentulah untuk sanak saudara yang ditinggalkan pada akhirnya. Intinya bukan tentang dekat secara fisik, tapi kedekatan emosional yang membuat kita kuat, kebersamaan emosional yang membuat kita kuat. Tidak harus dengan menciptakan musuh kita bisa berjuang, tidak dengan membenci manusia lain yang berbeda kita harus berjuang, bukan manusia yang kita benci, tapi gejala-gejala yang ditimbulkan produk implikasi dari interaksi manusia dengan manusia yang merugikan dan bersifat negatif.
Tulisan ini juga hendaknya memang menuliskan sejarah agar kita bisa membaca dan belajar dari sejarah untuk masa depan, tapi sudah terlalu banyak yang menceritakan sejarah, dan sudah saatnya membuat perubahannya hasil belajar dari sejarah itu. Bahkan dengan hanya membersihkan lantai, mencuci piring, membantu orang tua dirumah, memperbaiki pribadi diri, sambil dengan sedikit demi sedikit menularkan hal-hal postif dilingkungan, bila gagal, terus perbaiki dan lanjutkan. Masalah itu biasa, dan ada saat-saat dimana kita harus merenungi sejarah kita dan pikirkan sejarah macam apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita kelak nanti, mau pahit ataupun manis, tapi haruslah ada kebaikan yang bisa diambil untuk generasi selanjutnya.
Angin, air, api, tanah, segala unsur dalam bentuk-bentuk lebih banyak; unsur kimia adalah bagian kita dan itu merupakan microchip kita yang akan merekam setiap langkah dan jalan perjuangan kita. Setiap unsur, zat, yang seolah mati dan hanya kita yang hidup ini sebenarnya adalah saksi-saksi seberapa banyak kebaikan yang kita buang sembarang tanpa melihat siapa objeknya. Bagaimana Indonesia menjadi negeri yang penuh dengan berjuta-juta pelajaran hidup, dan hanya ada di Indonesia-tanpa ada maksud meremehkan yang lain. Oleh karena inilah kekhususan kita yang ditakdirkan, kita berbeda dengan Arab, dan Arab jangan kita-kitakan. Kita unik, Indonesia unik, dirimu unik, karena banyak dari generasi kita, pemuda kita yang sekarang sedang berjuang memperbaiki dirinya sendiri, yang sedang memikirkan bangsanya, memikirkan orang lain, atau malah sedang melakukan pekerjaan kebaikan yang sedang dalam jalurnya, jalur yang akan menghantarkan ke hilir dan samudera kebahagiaan ketika melihat orang lain menangis bangga karenanya. Tidak ada yang tida berguna, semua anak bangsa berguna, tak ada yang putus harapan, laki-laki, perempuan, wahai anak bangsa, tak ada pintu untuk kita berputus asa, kalaupun kita merasa Tuhan telah menghancurkan kita, itu adalah bentuk cinta kasihNya dalam bentuk lain.
Rakyat Indonesia adalah yang paling berkuasa, yang berhak mendapatkan otoritas kekuasaannya. Tidak dengan diberi emas, migas, atau harta kekayaan yang hanya bersifat materialistis saja. Sungguhpun sebenarnya yang paling optimal adalah berikan rakyat kewajiban sesungguhnya untuk merasakan bahwa mereka penguasa sebenarnya tanpa harus dipuja-puja, dimanja-manja. Tak ada yang perlu marah disaat optimalisasi proses kebaikannya pada seseorang, atau contoh-pemerinta terhadap rakyatnya diabaikan rakyatnya dengan bentuk rakyat kurang responsif dan seolah tak ada timbal balik karena tak seharusnya seorang orang tua menuntut bayinya mengucapkan kalimat terimakasih atas air asi yang sudah diberikannya.
Tak ada kupu-kupu malam; seharusnya, karena beberapa diantaranya mungkin kekurangan makan, atau terlanjur demikian disebabkan konteks historis kehidupannya yang menuntutnya untuk mengaktualisasi hidupnya diranah yang kurang bagus dikehidupannya, tapi itu adalah warna, warna kehidupan. Apa yang salah dengan kupu-kupu malam ? Salahnya adalah didalam sanubari kita, kalimat tersebut telah dikonsesus menjadi kalimat yang sifatnya negatif padahal tidak ada kenegatifan dalam idematik kalimatnya, sebenarnya. Perempuan adalah gambaran keindahan, pancaran cahaya, perlu dihormati, bukan dieksploitasi, atau dibiarkan mengeksploitasi dirinya sendiri, minimal ada rasa iba dihati kita tatkala melihat peristiwa kehidupan demikian. Perempuan adalah tonggak utama berlanjut tidaknya peradaban manusia dibumi, sehingga masa depan Indonesia salah satunya berada ditangannya, kalau perempuan tidak dihargai, kita sudah menghina segala karya-karya yang sumber aslinya berada dalam rahim perempuan. Perempuan bentuk keindahan sehingga perlu dihargai, laki-laki bentuk kekuatan sehingga harus melindungi, saling melengkapi dengan perbedaan itu sudah menjadi takdir yang merupakan karunia yang tidak bisa dipisahkan, tidak bisa dihancurkan, tidak bisa dipersalahkan, karena hidup adalah hidup, jangan biarkan saudara kita mati dikehidupannya.
Sebuah peristiwa bisa jadi renungan, sebuah buku bisa jadi senjata sekawan, dan hati serta pikiran menjadi lautan rencana masa depan. Pengamalan, pelaksanaan dari itu semua menjadi hak-hak setiap orang, asalkan jujur dan bertanggung jawab untuk setiap apa yang diperjuangkan. Kita jangan pernah berhenti belajar, untuk masa depan dunia, khususnya Indonesia tercinta !!! Selamat merenungi kembali kemerdekaan !!!
Senin, 01 Agustus 2016
CINTA UNTUK SEMUA II
Hari itu seorang pemuda telah dimabuk asmara terhadap seorang wanita yang cantik jelita. Pemuda polos yang sebelum-sebelumnya merupakan pemuda yang kurang-tidak tahu menahu dunia luar terlalu banyak. Dunia yang penuh dengan keunikan; dimana ada yang hitam ternyata putih dan yang putih ternyata hitam padahal kenyataannya itu fluktuatif dan wajar karena kalau hidup tanpa statistik seperti nada musik tanpa gelombang frekuensi. Pemuda itu merasa bahwa siwanita merupakan perwujudan yang sempurna yang diciptakan oleh TuhanNya sebagai cinta sejatinya. Tapi karena sifat karakter pemuda ini pemalu dan minderan dia sangat sulit-bahkan hanya untuk bercengkrama ataupun saling sapa menyapa, jadinya sipemuda terkadang dicap seperti angkuh dan sombong karenda sifatnya itu. Harus tahu bahwa karakter sifat itu bisa jadi mengikuti teori genetika dimana sifat-sifat itu memang dibawa sejak lahir, atau mungkin saja sesuai dengan karakter bintang yang lahir dibulannya, itukan faktor. Selain faktor-faktor tersebut, yang paling rasional adalah faktor lingkungan; baik lingkungan keluarga, masyarakat, atau bahkan pendidikan formalnya atau sekolah bahkan mungkin dibalik bilik pondok pesantren. Banyak hal didunia ini yang boleh kita kenang, bernostalgia, asal jangan sampai terngiang-ngiang dan jadi gila.
Mabuk cinta pemuda sudah mencapai puncak ekstase, dirinya liar, dirinya bukan dirinya lagi. Pemuda merasa adanya berkah Tuhan ketika sang wanita bermanuver terlebih dahulu untuk berorientasi dengannya. Bunga bertebaran diimajinya, jiwanya berlumuran dengan coklat manis yang siap dikolaborasikan dengan strawberry manis siwanita pujaan hatinya-menurutnya. Wanita manis tak kalah riang akan cara manuver overtake-nya pada sipemuda polos ruang & waktu. Waktu demi waktu, sang awan mulai menampakan mendungnya untuk cerita mereka berdua ini, taman bunga romantis lahan mereka bercengkrama yang awalnya bak surga yang tak pernah ada pertentangan, penentangan, perlawanan, apalagi perselisihan, ternyata fatamorgana. Jika untuk berkata surga tidak ada itu naif; karena pada pada hakikatnya mereka berdua belum masuk fase tersebut, asumsi dasar untuk bagaimana tahu bahwa surga atau lawannya neraka itu ada; adalah dengan pemuda atau siwanita meninggal, baru mereka akan tahu kebenaran hakiki, baik ada atau tiada.
Perselisihan; konfrontasi atau konflik yang terjadi antara pasangan sejoli biasanya disebut bumbu penyedap yang akan semakin mengeratkan atau menyedapkan alur kehidupan hubungan keduanya. Pernyataan-pernyataan demikian adalah opini, bisa jadi benar atau bisa jadi salah atau bisa jadi abu-abu atau kopi susu-atau bahkan kopi susu itu benar dan mungkin salah. Kekurangpahaman sosial kultural pemuda digeografisnya sendiri menjadi penyulutnya pula. Pengalaman siwanita akan kondisi-kondisi sosial bahkan keadaan putih bahkan hitam menjadi penyulutnya pula, menjadi faktor juga. Malaikat dilangit mungkin saja menangis tragis melihat kondisi keadaan hubungan yang katanya indah pada umumnya antara dua sejoli ini. Panggung pernikahan seolah menjauh darinya karena puing-puing itu seharusnya menjadi pertanda bahwa proses hubungan yang diikat cinta kudus ini tak harus dilanjutkan karena berbahaya bagi keduanya, prediksinya buram. Tangis adalah tinggal tangis keduanya tetap teguh mempertahankan kredo (prinsip) janji suci ala remaja zaman modern kekinian, hubunganpun dilanjutkan.
Masa-masa pasangan sejoli ini adalah masa dimana gelap telah dijadikan bintang yang dicita-citakan tapi tidak diinginkan hadirnya. Sejarah mereka berlanjut, kehidupan cinta berjalan normal mengikuti arus globalisasi. Keduanya tidak tahu bahaya diatas, dibawah, dibelakang, didepan, dikiri, dikanan, yang jadi musuh nyata. Tepatnya bukan tidak mengetahui, tapi justru terlalu berani-merasa cinta mereka berdua memiliki power mengalahkan musuh-musuh nyata yang lama kelamaan juga bertambah kekuatannya. Sedangkan yang terjadi kekuatan yang katanya cinta sejoli ini kian hari terus melemah digantikan rasa ingin tahu berlebihan menuju arah kegelapan. Syahdu menjadi syahdu. Daging manusia ini tersiram bau busuk perbuatan sendiri yang dilakukan berulang kali. Tuhan tidak marah. Tuhan hanya kecewa dan cemburu karena nikmat luasnya terhadap mereka berdua digantikan nikmat sempit berdua tanpa memperdulikan lainnya, bahkan Tuhannya. Inilah pentingnya Cinta Untuk Semua.
Penyesalahan akan ada diakhir, tapi akhir tidak selalu penyesalan. Akhir bukanlah akhir, karena akhir yang kita anggap hanya awal bangkit dari kesalahan yang disediakan wahana, fasilitas, dan persiapan-persiapannya oleh Tuhan untuk mereka berdua. Entah nantinya mereka berpisah karena Tuhan... atau tetap bersatu karena Tuhan... Tuhan yang menentukan dengan kasih dan sayang, dengan ketetapan dan ketegasannya, karena ketika Dia mengirim hujan dia tak pandang anak kecil atau orang dewasa, hewan apa tumbuhan, hanya yang takut keluar- tetap ingin berada dalam lindungan atap rumah saja yang tak terguyur hujannya. Sama dengan hidayah, rahmat, berkah, atau pintu taubatnya hanya orang yang ingin saja yang mendapatkannya, yang berusaha saja, yang statis dalam naungan belenggu duniawi saja yang jika tidak merubahnya maka tidak akan mendapatkannya. Inallaha laa yu ghoiyiru maa bi qaumin hattta maa bi anfusihim. Sekelas Tuhanpun tidak akan merubah kita sebelum kita ingin dan berusaha merubahnya.
Pemuda tinggal pemuda, wanita tinggal wanita, semoga pintu Cinta sesungguhnya tercurah untuk keduanya, sehingga keduanya bisa berdo'a kembali untuk semuanya. Saya mengerti sekarang kenapa bentuk kesalahan kecil selalu disebut fasad filardh. Contoh saja, disaat kita melakukan satu kali kebohongan maka akan berlanjut kebohongan-kebohongan lainnya. Konektifitas kesalahan ini memang sangat eksplisit, sama seperti implikasi kemewahan pejabat terhadap kemiskinan rakyat hingga berlanjut pada hal yang seolah-olah pure kesalahan rakyat semacam perampokan, perzinahan, datang kekuburan-kuburan (sering dituduh syirik), dan deviasi atau penyimpangan-penyimpangan lain sebagainya.
Membahas parsial pasti komprehensif, lokal pasti global, bahkan relasinya bisa sampai menuju konstalasi internasional, konspirasi internasional. Konstalasi-konstalasi ini sangat rumit dan unik. Kekeringan didaerah pedalaman Indonesia bisa jadi ada korelasinya dengan rapat kerja gedung putih Amerika. Perampokan dibuat rakyat lebih kecil skalanya; tapi seolah lebih besar hinanya karena pelaku tidak memakai baju berjas, berdasi, dan bersepatu pantopel. Perzinahan dilakukan rakyat karena mereka tidak punya biaya nikah atau karena tidak adanya ketegasan hukum atau peraturan tentang hal-hal yang seolah kemajuan semacam teknologi ternyata terdapat embrio daya sifat penghancur moralitas-atau karena keadaan dari luar atau dari dalam diri. Ulama yang selalu menuduh syirik rakyat yang meminta-minta ke kuburan; padahal kesyirikan dalam paket lebih modern sedang terjadi disistem kebirokrasian dibalut dengan gaya perlente kaum aristokrat, artis-artis, tokoh-tokoh, dan lain-lain. Dan, kesalahan-kesalahan lainnya yang sebetulnya siklus dari faktor menuju faktor yang tidak diketahui sumber aslinya.
Saya tidak maksud membela kesalahan, karena kesalahan tetaplah kesalahan. Dan, tidak semua pejabat itu penjahat dan tidak semua rakyat itu baik. Bagi negeri ini, bagi para kaum kita yang mulai ingin berhijrah lebih baik, tumbuhkan benih-benih cinta kita untuk kita, simpelnya untuk semua. Mengakui kesalahan itu boleh yang tidak boleh itu putus asa. Alam ya'lamu annallahaa huwayaqbalu taubata 'an ibadih. Tidak kah mereka ketahui Allah menerima taubat hamba-hambaNya ?. Jangan putus asa !
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
Sejelek-jeleknya ulat suatu saat dia bakal jadi kupu-kupu. Sekasar-kasarnya buah durian didalamnya terdapat buah yang manis dan sedap. Sesial-sialnya pertemuan pasti ada pelajaran. Semenyedihkan-menyedihkannya keadaan pasti ada yang bisa diusahakan. Cinta kita untuk semua, bagi muslim mungkin cinta Rasulullah SAW sebagai penyambung lidah kita menuju Tuhan kita karena dia kekasihNya.
Pemuda dan siwanita tadi merupakan perumpamaan suci dimana banyak hikmah dibalik orang-orang bagi sebagian orang menjijikan. Cinta itu tak akan terbatas ruang & waktu bahkan objek yang dicinta. Kita suka karena cinta, kita benci karena cinta, kita peduli dan tak peduli karena cinta. Sehingga hati dan pikiran cinta pasti akan berusaha bertutur kata cinta. Maksudnya berusaha meminimalisir hal-hal yang bakal membuat rasa lebih unggul dari yang lainnya, menyakiti, egois, kepentingan sendiri-sendiri, dll.
Jalan suluk, jalan pengalaman, jalan pengamalan, jalan pengheningan, jalan penginspirasian, jalan pengorbanan, apapun itu apa yang kita bisa dan coba hindari konfrontasi horizontal. Kalaupun ada konflik, selesaikan dengan sebijak-bijaknya karena itulah yang membuat kita dewasa, membuat kita mengamalkan itikad ingin memperbaiki diri dan berharap hadirnya Cinta sejati, Cinta sesungguhnya.
Malam ini mengingatmu, sama dengan mengingat cahaya, mengingat cahaya terkadang lupa mengingatmu karena mengingat cahaya sudah mencakup mengingatmu. Berbalut asap dan sedikit tegukan air kenikmatan hitam, padahal hitam tapi bisa jadi sumber untuk hadirnya putih. Detik ini kumohon hadirkan Cinta Untuk Semua karena kesedihan kita karena praduga dan praktek yang salah oleh kata "Cinta". Terlalu banyak tangis, pahit, pedih, kekacauan, kesusahan, kerusakan, kesalahpahaman karena "Cinta" padahal kita ada dijalan penuh asap yang kita rasa itu bentuk nikmat memabukan "Cinta" padahal asap menuju tersesatnya kita sekarang, sekarang, sekarang...
Mabuk cinta pemuda sudah mencapai puncak ekstase, dirinya liar, dirinya bukan dirinya lagi. Pemuda merasa adanya berkah Tuhan ketika sang wanita bermanuver terlebih dahulu untuk berorientasi dengannya. Bunga bertebaran diimajinya, jiwanya berlumuran dengan coklat manis yang siap dikolaborasikan dengan strawberry manis siwanita pujaan hatinya-menurutnya. Wanita manis tak kalah riang akan cara manuver overtake-nya pada sipemuda polos ruang & waktu. Waktu demi waktu, sang awan mulai menampakan mendungnya untuk cerita mereka berdua ini, taman bunga romantis lahan mereka bercengkrama yang awalnya bak surga yang tak pernah ada pertentangan, penentangan, perlawanan, apalagi perselisihan, ternyata fatamorgana. Jika untuk berkata surga tidak ada itu naif; karena pada pada hakikatnya mereka berdua belum masuk fase tersebut, asumsi dasar untuk bagaimana tahu bahwa surga atau lawannya neraka itu ada; adalah dengan pemuda atau siwanita meninggal, baru mereka akan tahu kebenaran hakiki, baik ada atau tiada.
Perselisihan; konfrontasi atau konflik yang terjadi antara pasangan sejoli biasanya disebut bumbu penyedap yang akan semakin mengeratkan atau menyedapkan alur kehidupan hubungan keduanya. Pernyataan-pernyataan demikian adalah opini, bisa jadi benar atau bisa jadi salah atau bisa jadi abu-abu atau kopi susu-atau bahkan kopi susu itu benar dan mungkin salah. Kekurangpahaman sosial kultural pemuda digeografisnya sendiri menjadi penyulutnya pula. Pengalaman siwanita akan kondisi-kondisi sosial bahkan keadaan putih bahkan hitam menjadi penyulutnya pula, menjadi faktor juga. Malaikat dilangit mungkin saja menangis tragis melihat kondisi keadaan hubungan yang katanya indah pada umumnya antara dua sejoli ini. Panggung pernikahan seolah menjauh darinya karena puing-puing itu seharusnya menjadi pertanda bahwa proses hubungan yang diikat cinta kudus ini tak harus dilanjutkan karena berbahaya bagi keduanya, prediksinya buram. Tangis adalah tinggal tangis keduanya tetap teguh mempertahankan kredo (prinsip) janji suci ala remaja zaman modern kekinian, hubunganpun dilanjutkan.
Masa-masa pasangan sejoli ini adalah masa dimana gelap telah dijadikan bintang yang dicita-citakan tapi tidak diinginkan hadirnya. Sejarah mereka berlanjut, kehidupan cinta berjalan normal mengikuti arus globalisasi. Keduanya tidak tahu bahaya diatas, dibawah, dibelakang, didepan, dikiri, dikanan, yang jadi musuh nyata. Tepatnya bukan tidak mengetahui, tapi justru terlalu berani-merasa cinta mereka berdua memiliki power mengalahkan musuh-musuh nyata yang lama kelamaan juga bertambah kekuatannya. Sedangkan yang terjadi kekuatan yang katanya cinta sejoli ini kian hari terus melemah digantikan rasa ingin tahu berlebihan menuju arah kegelapan. Syahdu menjadi syahdu. Daging manusia ini tersiram bau busuk perbuatan sendiri yang dilakukan berulang kali. Tuhan tidak marah. Tuhan hanya kecewa dan cemburu karena nikmat luasnya terhadap mereka berdua digantikan nikmat sempit berdua tanpa memperdulikan lainnya, bahkan Tuhannya. Inilah pentingnya Cinta Untuk Semua.
Penyesalahan akan ada diakhir, tapi akhir tidak selalu penyesalan. Akhir bukanlah akhir, karena akhir yang kita anggap hanya awal bangkit dari kesalahan yang disediakan wahana, fasilitas, dan persiapan-persiapannya oleh Tuhan untuk mereka berdua. Entah nantinya mereka berpisah karena Tuhan... atau tetap bersatu karena Tuhan... Tuhan yang menentukan dengan kasih dan sayang, dengan ketetapan dan ketegasannya, karena ketika Dia mengirim hujan dia tak pandang anak kecil atau orang dewasa, hewan apa tumbuhan, hanya yang takut keluar- tetap ingin berada dalam lindungan atap rumah saja yang tak terguyur hujannya. Sama dengan hidayah, rahmat, berkah, atau pintu taubatnya hanya orang yang ingin saja yang mendapatkannya, yang berusaha saja, yang statis dalam naungan belenggu duniawi saja yang jika tidak merubahnya maka tidak akan mendapatkannya. Inallaha laa yu ghoiyiru maa bi qaumin hattta maa bi anfusihim. Sekelas Tuhanpun tidak akan merubah kita sebelum kita ingin dan berusaha merubahnya.
Pemuda tinggal pemuda, wanita tinggal wanita, semoga pintu Cinta sesungguhnya tercurah untuk keduanya, sehingga keduanya bisa berdo'a kembali untuk semuanya. Saya mengerti sekarang kenapa bentuk kesalahan kecil selalu disebut fasad filardh. Contoh saja, disaat kita melakukan satu kali kebohongan maka akan berlanjut kebohongan-kebohongan lainnya. Konektifitas kesalahan ini memang sangat eksplisit, sama seperti implikasi kemewahan pejabat terhadap kemiskinan rakyat hingga berlanjut pada hal yang seolah-olah pure kesalahan rakyat semacam perampokan, perzinahan, datang kekuburan-kuburan (sering dituduh syirik), dan deviasi atau penyimpangan-penyimpangan lain sebagainya.
Membahas parsial pasti komprehensif, lokal pasti global, bahkan relasinya bisa sampai menuju konstalasi internasional, konspirasi internasional. Konstalasi-konstalasi ini sangat rumit dan unik. Kekeringan didaerah pedalaman Indonesia bisa jadi ada korelasinya dengan rapat kerja gedung putih Amerika. Perampokan dibuat rakyat lebih kecil skalanya; tapi seolah lebih besar hinanya karena pelaku tidak memakai baju berjas, berdasi, dan bersepatu pantopel. Perzinahan dilakukan rakyat karena mereka tidak punya biaya nikah atau karena tidak adanya ketegasan hukum atau peraturan tentang hal-hal yang seolah kemajuan semacam teknologi ternyata terdapat embrio daya sifat penghancur moralitas-atau karena keadaan dari luar atau dari dalam diri. Ulama yang selalu menuduh syirik rakyat yang meminta-minta ke kuburan; padahal kesyirikan dalam paket lebih modern sedang terjadi disistem kebirokrasian dibalut dengan gaya perlente kaum aristokrat, artis-artis, tokoh-tokoh, dan lain-lain. Dan, kesalahan-kesalahan lainnya yang sebetulnya siklus dari faktor menuju faktor yang tidak diketahui sumber aslinya.
Saya tidak maksud membela kesalahan, karena kesalahan tetaplah kesalahan. Dan, tidak semua pejabat itu penjahat dan tidak semua rakyat itu baik. Bagi negeri ini, bagi para kaum kita yang mulai ingin berhijrah lebih baik, tumbuhkan benih-benih cinta kita untuk kita, simpelnya untuk semua. Mengakui kesalahan itu boleh yang tidak boleh itu putus asa. Alam ya'lamu annallahaa huwayaqbalu taubata 'an ibadih. Tidak kah mereka ketahui Allah menerima taubat hamba-hambaNya ?. Jangan putus asa !
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
Sejelek-jeleknya ulat suatu saat dia bakal jadi kupu-kupu. Sekasar-kasarnya buah durian didalamnya terdapat buah yang manis dan sedap. Sesial-sialnya pertemuan pasti ada pelajaran. Semenyedihkan-menyedihkannya keadaan pasti ada yang bisa diusahakan. Cinta kita untuk semua, bagi muslim mungkin cinta Rasulullah SAW sebagai penyambung lidah kita menuju Tuhan kita karena dia kekasihNya.
Pemuda dan siwanita tadi merupakan perumpamaan suci dimana banyak hikmah dibalik orang-orang bagi sebagian orang menjijikan. Cinta itu tak akan terbatas ruang & waktu bahkan objek yang dicinta. Kita suka karena cinta, kita benci karena cinta, kita peduli dan tak peduli karena cinta. Sehingga hati dan pikiran cinta pasti akan berusaha bertutur kata cinta. Maksudnya berusaha meminimalisir hal-hal yang bakal membuat rasa lebih unggul dari yang lainnya, menyakiti, egois, kepentingan sendiri-sendiri, dll.
Jalan suluk, jalan pengalaman, jalan pengamalan, jalan pengheningan, jalan penginspirasian, jalan pengorbanan, apapun itu apa yang kita bisa dan coba hindari konfrontasi horizontal. Kalaupun ada konflik, selesaikan dengan sebijak-bijaknya karena itulah yang membuat kita dewasa, membuat kita mengamalkan itikad ingin memperbaiki diri dan berharap hadirnya Cinta sejati, Cinta sesungguhnya.
Malam ini mengingatmu, sama dengan mengingat cahaya, mengingat cahaya terkadang lupa mengingatmu karena mengingat cahaya sudah mencakup mengingatmu. Berbalut asap dan sedikit tegukan air kenikmatan hitam, padahal hitam tapi bisa jadi sumber untuk hadirnya putih. Detik ini kumohon hadirkan Cinta Untuk Semua karena kesedihan kita karena praduga dan praktek yang salah oleh kata "Cinta". Terlalu banyak tangis, pahit, pedih, kekacauan, kesusahan, kerusakan, kesalahpahaman karena "Cinta" padahal kita ada dijalan penuh asap yang kita rasa itu bentuk nikmat memabukan "Cinta" padahal asap menuju tersesatnya kita sekarang, sekarang, sekarang...
Jumat, 29 Juli 2016
CINTA UNTUK SEMUA
Seorang bijak berkata "Kesalahan tidaklah salah, hingga jika tidak memperbaikinya"
Biarlah nuansa hatimu berkata, bukan harfiah tapi bukan pula membenci harfiah, karena buah tanpa kulit itu tak akan pernah sempurna susunan kompilasinya. Sebenarnya semuanya malu, seharusnya malu dengana keadaan kita ini. Jiwa dan raga telah dipasrahkan bukan pada tempatnya. Bukan matahari, alam semesta, berhala-berhala, ataupun bulan tapi justru diserahkan, dipasrahkan pada yang lebih rendah dari itu-untuk tidak menyebutkan lebih hina. Bukan untuk bicara kau, kau, kau,... atau dia, dia, dia... Tapi semuanya, seluruh yang menghamba, yang dicipta, dan tercipta. Sebuah kesalahan bukan untuk para kaum proletariat saja, bahkan seorang yang sucipun tak menutup kemungkinan-kemungkinan salah.
Ketika jiwamu dikutuk untuk tidak bisa mencinta didunia, itu merupakan siksa yang lebih berat daripada siksa api neraka. Bahkan karena seorang pecinta akan bisa bahagia kalaupun itu harus dineraka. Saya ingat dengan kata-kata sufi perempuan Rabiatul Adawiyah.
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku didalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu,
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Sungguh bila rasionalitas akal dan kandungan hati manusia bisa sinkron dengan tingkah laku akan terbentuk sintesa etos alur kehidupan yang melahirkan karya-karya yang indah contoh salah satunya adalah sufi perempuan Rabiatul Adawiyah ini, yang banyak melahirkan puisi-puisi yang bagi sebagian orang akan menimbulkan kontoversi.
Ahli-ahli Tasawuf harus kita bedakan antara orang yang paham tentang historis dan praktek-prakteknya dengan orang yang benar-benar beraktifitas dan mengalaminya. Inilah yang disebut ada hal-hal yang tidak bisa cukup kita ketahui saja untuk menumbuhkan fakta empiris parsial khusus dalam diri individu, tapi perlu untuk benar-benar mengalami sendiri prosesnya. Intinya, seorang akademisi yang berada dijurusan Tasawuf belum tentu orang yang paham betul secara esensial Tasawuf itu sendiri.
Kita harus perjelas isi-isi makna dari literatur ini, maksudnya adakah orang mengetahui makna asli Cinta ? Okeh, senang menganalogikan Cinta sebagai sebuah cahaya dan sama dengan apa yang ducapkan Albert Enstein bahwa gelap itu tidak ada dan yang ada itu ketiadaan Cahaya, sama dengan Cinta, tidak pernah tidak ada Cinta. Pernahkah kita melakukan kesalahan atau dosa ? Ya pasti setiap manusia pernah melakukannya, termasuk saya. Manusia yang belum pernah melakukan subversif belum sempurna secara alamiah sebagai manusia, karena toh seorang bayi yang dikata bersih pasti pernah terjatuh dan secara alamiah itu penyimpangan dan kesalahan atau kegagalan karena kesalahan. Tapi yang jadi hikmah atau sophia adalah setelah itu bayi terus belajar sampai dia bisa berdiri, berjalan, dan seterusnya.
Rasional, suprarasional, tidak ada yang irrasional sebenarnya hanya saja terbatas itu warisan kita, otak kita, akal yang telah diamanahi oleh Tuhan untuk digunakan sebaik-baiknya. Tuhan ingin dikenal, dia ciptakan jagat raya, dia ciptakan aktifitas-aktifitasnya dibumi sebagai tempat tinggal manusia. Untuk itu kita jangan berpikir tentang wujud Tuhan yang rasio kita terbatas untuk membayang visualisasi atau personifikasiNya, karena jika ada pengetahuan atau konklusi mutlak kebenaran akan Tuhan maka bagaimana dikata lagi, apakah masih layak Tuhan dikata maha sempurna ?
Dunia Cinta itu tentang rasa bukan tentang bagaimana memilih rasa, atau bagaimana menghasilkan rasa, atau rasa mana yang terbaik. Cinta adalah tentang mengalami rasa, menikmati rasa, hasil daripada kontemplatif dan perjuangan yang tidak mudah, hasil dari riwayat hidup, atau faktor-faktor lain yang menjadi pendukung kita untuk mengalami rasa, bukan sekedar mengetahui jalan menuju rasa, dan hanya terjebak dalam Cinta yang meninabobokan dan menggelapkan jiwa.
Pernah terbayang bahwa ketika sedang berusaha meningkatkan titik akurasi fokus kekhusyuan dalam berhadapan denganNya, justru yang terpersonifikasi dalam imaji ini adalah laknatNya, sungguh mengerikan ketika kita sedang berhadapan denganNya ternyata disetiap step gestur ritus kita ternyata berbarengan dengan laknatNya, na'udzubillah..Mungkin karena dosa atau kesalahan yang mengingatkan akan hal-hal itu, sama seperti mitologi-mitologi Yunani kuno atau Dewa-dewa pagan yang sangat kejam dan menakutkan serta "pemarah". Tapi aku percaya Tuhan kita arrahman arrahim dan itu bukan hanya sekedar ayat kosong, tapi benar adanya. Pandangan filsuf akan Tuhan tidak pernah sempurna, karena bukan akal rasio kita yang maha sempurna tapi Tuhannya, kalaupun akal sempurna tetap saja inikan sedang memikirkan yang maha sempurna, jadi kita harus terus belajar.
Banyak orang merasa hina, rendah, atau santai-santai saja akan kesalahannya. Melihat kondisi sosial dewasa ini sangat memungkinkan justru kebaikanpun dimonopoli, dan kesalahan seolah dilimpahkan pada satu pihak yang justru memiliki rasa ingin kembali berhijrah atau kembali ke fitrah untuk merekonstruksi puzzle yang terhempas oleh kesalahannya, baik pecahan-pecahan puzzle dalam dirinya sendiri ataupun pengaruhnya terhadap lingkungan. Bagaimanapun ketika muncul sesuatu secara parsial pasti implikasinya akan komprehensif baik efek skala rendah atau besar. Itu sama dengan berbicara tentang lokal yang berimplikasi atau berkolerasi dengan sesuatu yang global.
Orang-orang yang merasa dirinya tidak berguna, banyak dosa, itu harus dimotivasi kembali oleh orang-orang yang berkesempatan untuk menempuh tiang-tiang pendidikan penjaga moralnya, bukan malah menyerang orang-orang yang dirasa olehnya berdosa. Beda zaman, beda cara harus likulimakan wa likulizaman, harap kita tahu banyak keadaan ditatanan atas dimana secara eksplisit ternyata keadaan itu lebih berbahaya, lebih berdosa daripada yang dilakukan orang-orang biasa.
Beberapa Aforisme Al Hikam karangan Syaikh Ibn 'Athaillah yang menyentuh contohnya Ma'ashiyatun awratsat dzullan wahtiqaran khayrun min tha'atin awratsat 'izzan wastikbaran. Maksiat yang menumbuhkan rasa hina dan rendah diri lebih baik daripada taat yang menumbuhkan rasa unggul dan tinggi hati. Poin-poin seperti ini yang dibutuhkan mereka orang-orang pendosa yang ingin konversi akhlak menuju arah lebih baik, bukanlah ayat-ayat mengerikan yang mesti diiumbar, terkecuali bagi orang-orang yang masih dalam keadaan normatif atau dalam hal ini belum terjerumus dalam lubang maksiat dan kesalahan.
Kita jangan berjalan masing-masing, yang kaya dengan yang kaya, miskin dengan yang miskin, ulama dengan kepentingannya masing-masing, kita harus bersama, gotong royong. Jangan buat saudara kita kehilangan kepercayaan dirinya, dikala ada sela peluang untuk membantu mereka dan posisi kita bisa untuk mengulurkan tangan kita untuk bisa sedikit menolong ataupun membantu maka kita lakukan, kalaupun hanya dengan memindahkan krikil dijalan agar tak ada yang terhempas dan terluka saudara kita karenanya. Bukan masalah ras, suku, atau agama, tapi kemanusiaan, Tuhan tidak akan marah bila kita tidak sengaja menginjak kitabNya, tapi Tuhan akan marah bila kita sesama saudara tidak pernah minimal ada rasa untuk saling merekonstruksi kesalahan-kesalahan kita. Oleh karena Cinta milik semua orang dan punya semua orang laa yu'minu ahadukum hatta yuhibbu li akhiihi maa yuhibbu lnafsihi tidaklah seseorang sempurna imannya, sampai ia mencintai saudaranya sendirinya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.
BERSAMBUNG...
Biarlah nuansa hatimu berkata, bukan harfiah tapi bukan pula membenci harfiah, karena buah tanpa kulit itu tak akan pernah sempurna susunan kompilasinya. Sebenarnya semuanya malu, seharusnya malu dengana keadaan kita ini. Jiwa dan raga telah dipasrahkan bukan pada tempatnya. Bukan matahari, alam semesta, berhala-berhala, ataupun bulan tapi justru diserahkan, dipasrahkan pada yang lebih rendah dari itu-untuk tidak menyebutkan lebih hina. Bukan untuk bicara kau, kau, kau,... atau dia, dia, dia... Tapi semuanya, seluruh yang menghamba, yang dicipta, dan tercipta. Sebuah kesalahan bukan untuk para kaum proletariat saja, bahkan seorang yang sucipun tak menutup kemungkinan-kemungkinan salah.
Ketika jiwamu dikutuk untuk tidak bisa mencinta didunia, itu merupakan siksa yang lebih berat daripada siksa api neraka. Bahkan karena seorang pecinta akan bisa bahagia kalaupun itu harus dineraka. Saya ingat dengan kata-kata sufi perempuan Rabiatul Adawiyah.
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku didalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu,
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Sungguh bila rasionalitas akal dan kandungan hati manusia bisa sinkron dengan tingkah laku akan terbentuk sintesa etos alur kehidupan yang melahirkan karya-karya yang indah contoh salah satunya adalah sufi perempuan Rabiatul Adawiyah ini, yang banyak melahirkan puisi-puisi yang bagi sebagian orang akan menimbulkan kontoversi.
Ahli-ahli Tasawuf harus kita bedakan antara orang yang paham tentang historis dan praktek-prakteknya dengan orang yang benar-benar beraktifitas dan mengalaminya. Inilah yang disebut ada hal-hal yang tidak bisa cukup kita ketahui saja untuk menumbuhkan fakta empiris parsial khusus dalam diri individu, tapi perlu untuk benar-benar mengalami sendiri prosesnya. Intinya, seorang akademisi yang berada dijurusan Tasawuf belum tentu orang yang paham betul secara esensial Tasawuf itu sendiri.
Kita harus perjelas isi-isi makna dari literatur ini, maksudnya adakah orang mengetahui makna asli Cinta ? Okeh, senang menganalogikan Cinta sebagai sebuah cahaya dan sama dengan apa yang ducapkan Albert Enstein bahwa gelap itu tidak ada dan yang ada itu ketiadaan Cahaya, sama dengan Cinta, tidak pernah tidak ada Cinta. Pernahkah kita melakukan kesalahan atau dosa ? Ya pasti setiap manusia pernah melakukannya, termasuk saya. Manusia yang belum pernah melakukan subversif belum sempurna secara alamiah sebagai manusia, karena toh seorang bayi yang dikata bersih pasti pernah terjatuh dan secara alamiah itu penyimpangan dan kesalahan atau kegagalan karena kesalahan. Tapi yang jadi hikmah atau sophia adalah setelah itu bayi terus belajar sampai dia bisa berdiri, berjalan, dan seterusnya.
Rasional, suprarasional, tidak ada yang irrasional sebenarnya hanya saja terbatas itu warisan kita, otak kita, akal yang telah diamanahi oleh Tuhan untuk digunakan sebaik-baiknya. Tuhan ingin dikenal, dia ciptakan jagat raya, dia ciptakan aktifitas-aktifitasnya dibumi sebagai tempat tinggal manusia. Untuk itu kita jangan berpikir tentang wujud Tuhan yang rasio kita terbatas untuk membayang visualisasi atau personifikasiNya, karena jika ada pengetahuan atau konklusi mutlak kebenaran akan Tuhan maka bagaimana dikata lagi, apakah masih layak Tuhan dikata maha sempurna ?
Dunia Cinta itu tentang rasa bukan tentang bagaimana memilih rasa, atau bagaimana menghasilkan rasa, atau rasa mana yang terbaik. Cinta adalah tentang mengalami rasa, menikmati rasa, hasil daripada kontemplatif dan perjuangan yang tidak mudah, hasil dari riwayat hidup, atau faktor-faktor lain yang menjadi pendukung kita untuk mengalami rasa, bukan sekedar mengetahui jalan menuju rasa, dan hanya terjebak dalam Cinta yang meninabobokan dan menggelapkan jiwa.
Pernah terbayang bahwa ketika sedang berusaha meningkatkan titik akurasi fokus kekhusyuan dalam berhadapan denganNya, justru yang terpersonifikasi dalam imaji ini adalah laknatNya, sungguh mengerikan ketika kita sedang berhadapan denganNya ternyata disetiap step gestur ritus kita ternyata berbarengan dengan laknatNya, na'udzubillah..Mungkin karena dosa atau kesalahan yang mengingatkan akan hal-hal itu, sama seperti mitologi-mitologi Yunani kuno atau Dewa-dewa pagan yang sangat kejam dan menakutkan serta "pemarah". Tapi aku percaya Tuhan kita arrahman arrahim dan itu bukan hanya sekedar ayat kosong, tapi benar adanya. Pandangan filsuf akan Tuhan tidak pernah sempurna, karena bukan akal rasio kita yang maha sempurna tapi Tuhannya, kalaupun akal sempurna tetap saja inikan sedang memikirkan yang maha sempurna, jadi kita harus terus belajar.
Banyak orang merasa hina, rendah, atau santai-santai saja akan kesalahannya. Melihat kondisi sosial dewasa ini sangat memungkinkan justru kebaikanpun dimonopoli, dan kesalahan seolah dilimpahkan pada satu pihak yang justru memiliki rasa ingin kembali berhijrah atau kembali ke fitrah untuk merekonstruksi puzzle yang terhempas oleh kesalahannya, baik pecahan-pecahan puzzle dalam dirinya sendiri ataupun pengaruhnya terhadap lingkungan. Bagaimanapun ketika muncul sesuatu secara parsial pasti implikasinya akan komprehensif baik efek skala rendah atau besar. Itu sama dengan berbicara tentang lokal yang berimplikasi atau berkolerasi dengan sesuatu yang global.
Orang-orang yang merasa dirinya tidak berguna, banyak dosa, itu harus dimotivasi kembali oleh orang-orang yang berkesempatan untuk menempuh tiang-tiang pendidikan penjaga moralnya, bukan malah menyerang orang-orang yang dirasa olehnya berdosa. Beda zaman, beda cara harus likulimakan wa likulizaman, harap kita tahu banyak keadaan ditatanan atas dimana secara eksplisit ternyata keadaan itu lebih berbahaya, lebih berdosa daripada yang dilakukan orang-orang biasa.
Beberapa Aforisme Al Hikam karangan Syaikh Ibn 'Athaillah yang menyentuh contohnya Ma'ashiyatun awratsat dzullan wahtiqaran khayrun min tha'atin awratsat 'izzan wastikbaran. Maksiat yang menumbuhkan rasa hina dan rendah diri lebih baik daripada taat yang menumbuhkan rasa unggul dan tinggi hati. Poin-poin seperti ini yang dibutuhkan mereka orang-orang pendosa yang ingin konversi akhlak menuju arah lebih baik, bukanlah ayat-ayat mengerikan yang mesti diiumbar, terkecuali bagi orang-orang yang masih dalam keadaan normatif atau dalam hal ini belum terjerumus dalam lubang maksiat dan kesalahan.
Kita jangan berjalan masing-masing, yang kaya dengan yang kaya, miskin dengan yang miskin, ulama dengan kepentingannya masing-masing, kita harus bersama, gotong royong. Jangan buat saudara kita kehilangan kepercayaan dirinya, dikala ada sela peluang untuk membantu mereka dan posisi kita bisa untuk mengulurkan tangan kita untuk bisa sedikit menolong ataupun membantu maka kita lakukan, kalaupun hanya dengan memindahkan krikil dijalan agar tak ada yang terhempas dan terluka saudara kita karenanya. Bukan masalah ras, suku, atau agama, tapi kemanusiaan, Tuhan tidak akan marah bila kita tidak sengaja menginjak kitabNya, tapi Tuhan akan marah bila kita sesama saudara tidak pernah minimal ada rasa untuk saling merekonstruksi kesalahan-kesalahan kita. Oleh karena Cinta milik semua orang dan punya semua orang laa yu'minu ahadukum hatta yuhibbu li akhiihi maa yuhibbu lnafsihi tidaklah seseorang sempurna imannya, sampai ia mencintai saudaranya sendirinya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.
BERSAMBUNG...
Rabu, 13 Juli 2016
PUISI GERILYA DOSA RAKYAT SI "AKU"
Aku ingin mencurahkan, segala bentuk kekesalan.
Bukan pada sang dewa, manusia lain, alam, atau kosmos-kosmos lain.
Tapi pada diri ini, aku tahu aku manusia.
Wajibku mencintai mereka segalanya samahalnya seperti aku mencintai diriku sendiri.
Kenyataannya, aku mengkhianati aku.
Bagaimana aku yang cara cintanya pada jiwanya sendiri seperti ini ?
Kepada mereka tidak menutup kemungkinan aku menyimpang.
Laknat & segala bentuk kemarahan untukku, terbayang.
Bukan ku takut padamu duhai alam semesta.
Engkau terlalu ghaib untuk ditakuti.
Tapi, penguasamu, cahaya segala Cinta.
Realita sesungguhnya yang jiwa ini ada diotoritasNya.
Masih kuingat, simpul senyum lugu bercengkrama dulu.
Ketika dulu belum dibalut kepentingan masing-masing.
Tak terbayang kesalahan, tak terbayang pertentangan.
Harapan selalu ada, tapi tiada.
Sekarang, tanah air benar-benar menjadi tanah yang dilelehi air mata.
Seorang filsuf berkata kohesi alam semesta
Dosamu belum tentu hanya dosamu, sebaliknya pula.
Pahalamu belum tentu hanya pahalamu, sebaliknya pula.
Derita, hancur, terbelenggu, tak ada yang memahami.
Asal mula insan ke jalan yang sama, tolonglah mereka.
Bisa jadi aku, kamu, siapapun itu.
Maafku untuk aku, maafkan aku...
Pendosa menari-menari dalam jurangnya.
Pendosa berputar kebingunan mencari sucinya
Andai semuanya mengerti kondisi, nuansa, hal-hal seolah tak penting
Andai sesama yang mungkin berdosa tak mudah mendosai kembali pendosa
Pendosa bingung, air mata cukup untuk bayangan siksa Tuhannya
Tuhan, katanya dirimu begitu lembut dan penuh kasih..
Tuhan, katanya dirimu begitu tegas dan seolah keji..
DekatNya ke kita, jauhNya ke kita
Aku dan kamu sama-sama kacau
Pendosa tak menemukan alternatif jalan sekawan yang ramah
Tak punya solusi, terkadang benar, sedetik kemudian kembali ke hitamnya
Kasiannya pendosa, Tuhan pasti punya ukuran untuknya
Yakin usaha sampai, dosapun sampai.
Yakinlah dosa kita bukanlah realita paling menakutkan
Itu semua terkalahkan oleh wajahNya sumber harapan
Dosa bukan untuk neraka, tak ada yang berpikir demikian
Elegannya pahalapun bukan untuk Surga
Tapi untuk yang bukan sesuatu, diluar sesuatu.
Pemilik jiwa ini, hadir dijiwa ini.
Yang semestapun tak ada apa-apanya.
Bukan pada sang dewa, manusia lain, alam, atau kosmos-kosmos lain.
Tapi pada diri ini, aku tahu aku manusia.
Wajibku mencintai mereka segalanya samahalnya seperti aku mencintai diriku sendiri.
Kenyataannya, aku mengkhianati aku.
Bagaimana aku yang cara cintanya pada jiwanya sendiri seperti ini ?
Kepada mereka tidak menutup kemungkinan aku menyimpang.
Laknat & segala bentuk kemarahan untukku, terbayang.
Bukan ku takut padamu duhai alam semesta.
Engkau terlalu ghaib untuk ditakuti.
Tapi, penguasamu, cahaya segala Cinta.
Realita sesungguhnya yang jiwa ini ada diotoritasNya.
Masih kuingat, simpul senyum lugu bercengkrama dulu.
Ketika dulu belum dibalut kepentingan masing-masing.
Tak terbayang kesalahan, tak terbayang pertentangan.
Harapan selalu ada, tapi tiada.
Sekarang, tanah air benar-benar menjadi tanah yang dilelehi air mata.
Seorang filsuf berkata kohesi alam semesta
Dosamu belum tentu hanya dosamu, sebaliknya pula.
Pahalamu belum tentu hanya pahalamu, sebaliknya pula.
Derita, hancur, terbelenggu, tak ada yang memahami.
Asal mula insan ke jalan yang sama, tolonglah mereka.
Bisa jadi aku, kamu, siapapun itu.
Maafku untuk aku, maafkan aku...
Pendosa menari-menari dalam jurangnya.
Pendosa berputar kebingunan mencari sucinya
Andai semuanya mengerti kondisi, nuansa, hal-hal seolah tak penting
Andai sesama yang mungkin berdosa tak mudah mendosai kembali pendosa
Pendosa bingung, air mata cukup untuk bayangan siksa Tuhannya
Tuhan, katanya dirimu begitu lembut dan penuh kasih..
Tuhan, katanya dirimu begitu tegas dan seolah keji..
DekatNya ke kita, jauhNya ke kita
Aku dan kamu sama-sama kacau
Pendosa tak menemukan alternatif jalan sekawan yang ramah
Tak punya solusi, terkadang benar, sedetik kemudian kembali ke hitamnya
Kasiannya pendosa, Tuhan pasti punya ukuran untuknya
Yakin usaha sampai, dosapun sampai.
Yakinlah dosa kita bukanlah realita paling menakutkan
Itu semua terkalahkan oleh wajahNya sumber harapan
Dosa bukan untuk neraka, tak ada yang berpikir demikian
Elegannya pahalapun bukan untuk Surga
Tapi untuk yang bukan sesuatu, diluar sesuatu.
Pemilik jiwa ini, hadir dijiwa ini.
Yang semestapun tak ada apa-apanya.
Rabu, 29 Juni 2016
THINKING DIFFERENT
Malam larut adalah kehinangan dan kesunyian dimana keranjang-keranjang Tuhan diturunkan mulai dari pengampunan, rezeki, dan pengejewantahan-pengejewantahan dari keduanya seperti ilmu, nikmat, dan bentuk-bentuk cinta kasih & sayang Tuhan lainnya. Bila satu perkara hanya dipandang dalam satu perspektif atau sudut pandang maka hilanglah hukum relatifitas, maka yang terjadi adalah monopoli dokrtrin akan sesuatu hal yang seharusnya bisa didiskusikan, bisa diadakannya dialog antar pemahaman agar akhirnya menemukan bentuk final dari sebuah kesimpulan perkara dan secara sifat lebih demokratis dan menyenangkan semua pihak.
Terjadinya huru hara akibat dengan bermunculannya pendapat bahwa demokrasi itu hanya membawa kemakaran karena pada kenyataan faktualnya banyak menimbulkan keruwetan dalam sistem sosial ataupun politik. Padahal secara kontekstual demokrasi tidak bisa disalahkan karena tidak ada ideologi yang bisa disalahkan yang ada apakah akomodatif apa tidak dengan keadaan sosial terkini. Selanjutnya, setelah dipastikan secara konsep bahwa ideologi itu sesuai dan cocok untuk diterapkan adalah bagaimana cara penerapannya yang akan jadi masalah bukanlah harus untuk mencabut akar dasarnya tadi, sehingga menimbulkan masalah-masalah baru yang justru bukan menjadi solusi yang solutif.
Itu untuk mukadimah saja. Indah untuk sebuah negeri yang dengan berbagai musim apapun kondisi bahan pangan yang sedikitpun orang-orang akan tetap sejahtera dan dapat tidur dengan nyenyak walau berbantalkan kayu berselimutkan debu dan beratapkan langit. Walau makan dengan singkong rebus yang hanya dibumbui garam itu sudah lebih dari cukup dibanding saudara-saudara kita dibelahan dunia lain yang terkadang merasa teramat sangat dingin dan susahnya mencari panganan atau seteguk air untuk hanya mempertahankan hidup.
Bahagianya ayam dengan caranya sendiri, cacing dengan caranya sendiri, pohon kelapa dengan caranya sendiri, masing-masing punya ukuran subjektif yang kadang tak bisa dipaksakan untuk yang lain. Ayam bahagia dengan hanya berjalan-berjalan dan makan beras, cacing bahagia dengan lumpur basah yang kotor, begitupun kelapa dan lainnya. Tidak bisa kita paksakan cacing untuk keluar dari lumpur basah kotornya untuk kita (manusia) mandikan dan bersihkan dengan air dan dikeringkan dengan sebuah kipas angin atau hair dryer agar mereka tidak kotor dan tidak kedinginan, karena itu semua bahagia dia nikmat Tuhan yang diberikan pada cacing yang dimekanisme sedemikian rupa agar menjadi makhluk yang memiliki nikmat dan karunia dariNya dengan kekhususannya.
Pada awalnya nikmat Tuhan pasti sama, outputnya sama, tapi hanya bentuk-bentuk butiran dan tebarannya saja yang berbeda-beda sesuai dengan tugas-tugas makhluknya dibumi atau lebih jauh alam semesta, sesuai dengan hakikat apa yang diberikan Tuhan pada makhluknya.
Spesifik untuk manusia, yang Tuhan berikan jalan untuk memilih tidak seperti makhluk Tuhan lainnya. Jalan memilih tersebut menjadi faktor dimana manusia bisa berpikir dan itu jadi sebab muasabab kenapa manusia berbeda-beda, berbeda-beda bukan berpecah-pecah karena kalau manusia dituduh memecah-mecahkan diri bagaimana dengan sifat kealamian seperti yang ditimbulkan ras, suku, bahasa, yang mekanismenya bukan manusia yang dengan sengaja ingin berbeda-beda tentang warna kulit, struktur tubuh, dan lain sebagainya. Alam semesta sebagai komposisi yang bersentuhan dengan makhluk memiliki peranan juga, selayaknya cuaca, keadaan geografis yang secara biologis dapat mempengaruhi struktur tubuh manusia, psikis manusia, mental-mentalnya, gaya berpikirnya dan itu merupakan rahmat, ikhtilafi min umatin rahmatun kalau kata Rasulullah SAW.
Orang-orang yang masih berjuang, Indonesia sebagai sumber ekuilibrium sejati dalam hal keadaan geografis, cuaca, atau singkatnya keadaan alam haruslah berani menemukan titik dimana bangsa dan rakyat kita dapat berkobar-kobar berapi-api kembali menghadapi sebuah tantangan karena terjadi disekuilibrium atau ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan bukan untuk kita memicu untuk membuat sebuah musuh agar rakyat Indonesia tergerak jiwanya seperti ala Hitler pada rakyatnya. Tapi maksudnya itulah kesempatan kita, ketika saudara kita dibelahan dunia lain yang tidak mendapatkan keseimbangan secara alam karena itu plot ujian dari Tuhannya, maka bangsa Indonesia sudah sejak lama akan tergugah untuk bermimpi dan bercita-cita dengan tekanan-tekanan sosial, seperti dulu ketika kita dijajah. Jadi ujian kita bukan terletak pada kondisi alam, tapi terletak pada permasalahan-permasalahan sosial, ekonomi, politik, yang carut marut.
Dahulu kala orang-orang Yunani kuno, rata-rata adalah seorang petani zaitun yang proses menuju panennya tidak butuh kerja yang banyak karena zaitun punya sistem proses mandiri dalam pertumbuhan dan produksinya. Sehingga, kawan-kawan Yunani dulu banyak yang cukup dengan rezekinya, cukup dengan harta bendanya dan efeknya mereka banyak bekerja untuk merenung dalam kesehariannya, maka tidak aneh jika bermunculan filsuf-filsuf terkenal dari negara para dewa tersebut. Itulah yang dimaksudkan, mengambil peluang dari keadaan, dari apa yang kita punya, bukan dari apa yang belum kita punya. Kadang kita tidak harus mencontoh cara makan orang Eropa untuk menjadi sehat, tapi cukup saja mencontoh kedisiplinan mereka dalam memprioritaskan kesehatan.
Tak peduli jadi kontroversi selagi kita bisa menjadi contoh dan penstimulus bagi bangkitnya gerakan-gerakan sosial yang tanpa disadari akan membawa dampak positif bagi masyarakat itu sendiri keluar dari kemandekan, jumud, dan kolot. Kontroversi merupakan gerakan orang-orang kreatif yang belum bisa dipahami orang banyak, setelah terpahami akan muncul kreatif-kreatif lainnya entah untuk mematikan yang sebelumnya atau membuat yang baru atau bahkan mendukung dan menguatkan yang sebelumnya.
Kita harus paham bahwa untuk menjadi besar tidak bisa untuk menjadi seorang yang dibenar-benarkan orang selalu. Oleh karena itu perlu kita ketahui bahwa Muhyiddin Ibn Arabi seorang sufi dulu, para pengagumnya menyebut dia sang sufi (mistikus) terbesar sepanjang sejarah, dialah sang“al Syeikh al Akbar” (guru terbesar) dan “al Kibrit al Ahmar” (sumber api). Tidak ada pemilik gelar seperti ini di kalangan ulama, pemikir Islam dan mistikus sepanjang zaman, kecuali dia. Pengaruhnya demikian besar dan menyebar keseluruh pelosok bumi manusia. Hanya sedikit tokoh intelektual Islam yang memiliki pengaruh demikian besar dan meluas selama berabad-abad seperti orang ini. Kajian-kajian sufisme tidak pernah lupa, sedikit atau banyak menyebutkan namanya. Ibnu Arabi adalah seorang visioner yang sangat cerdas dan brilian. Tetapi para pembencinya menyebut dia seorang bid’ah, kafir, zindiq, dungu, orang gila, dan musyrik. Jadi, orang besar tidak akan dipandang dengan satu sudut pandang, sungguhpun semua orang demikian tapi yang dimaksudkan adalah sudut pandang yang sifatnya radikal antara yang positif ataupun negatif.
Tapi untuk menjadi orang besar agar lebih terasa sempurna perlu adanya diasupi sebuah paham yang nantinya akan tetap bersifat inklusif, memandang dunia secara holistik. Thinking different berpikir diantara, dimana mengambil poin-poin kebaikan dari setiap perkara, benda, kejadian, dan hal-hal lainnya yang bersifat materialis ataupun mistis. Orang yang menyimpelkan-nyimpelkan hidupnya adalah orang yang paling ribet dan ruwet dalam kehidupan, karena bagi sang pencari cahaya menjadi gundah gelisah demi sebuah pelajaran adalah keadaan santai yang hakiki.
Iblis menjadi pembeda dan pembatas, agar manusia dapat menggunakan akalnya untuk memilih. Bisa jadi Iblis hanyalah bias yang diciptakan Tuhan, karena kita yakin percaya bahwa tidak ada makhluk yang berani melawan sang puncak Tuhan. Prasangka-prasangka, praduga-praduga, memang tidak bisa dibenarkan, tapi memang iblis dan antek-anteknyalah musuh yang nyata, dan kenyataannya dalam aliran tubuh ini menghubungkan dengan pola tingkah manusia terdapat iblis yang lebih berbahaya daripada apa yang digambarkan setan berbentuk menyeramkan, tingkah kita, ujian kita, nafsu dan syahwat kita lebih menyeramkan daripada wujud-wujud itu, dan mereka telah bersekutu dengan antek-antek Iblis sebagai pengurai hitam dan putih.
Adakah sisi positif dari Iblis ? Jika jawabannya iya jangan khawatir kita akan menjadi makhluk laknatullah dan dicap sebagai simpatisan Iblis, salahkah kita berkasih sayang dengan pencuri tapi jiwa dan perilaku kita bukan pencuri ? Dan mencari sisi positif dari negatif bukan memaksa yang negatif agar positif tapi ada kejadian apa didalamnya sehingga ada pelajaran yang bisa diambil karena adanya negatif tersebut. Nurcholish Madjid pernah berkata Iblis sebagai pelopor Tauhid murni, dan berada diSurga tertinggi dikemudian nanti. Saya mempelajarinya adalah, bahwa itu bisa jadi acuan dan rujukan kita sebagai bahan pembelajaran dari berbagai referensi sejarah awal mula manusia ketika Adam terbentuk yaitu kita jangan seperti Iblis, atau akan ada manusia yang kelakuannya sama seperti Iblis seolah-olah menjadikan Tauhid semurni-murninya, seolah menjadi yang benar dan pembela kebenaran terbaik, tapi pada akhirnya tergelincir.
Malam Lailatul qodr menjadi harapan bagi kaum muslim yang beritikaf ataupun yang tidak beritikaf. Tapi yang pasti semuanya mendapat kegilaan akan malam itu, malam fenomenal, malam yang pasti semua orang mengalaminya tapi tidak semua orang merasakannya. Adakah orang-orang yang tersesat masih punya peluang untuk mendapatkannya ? Wallahualam. Orang-orang tersesat adalah orang yang mencari jalan kebenaran tapi dia sedang tersesat jadi tak harus represi menanggung tuduhan sesat selama jiwa & itikad kita condong akan kebenaran.
“Apakah sedemikian buruknya untuk disalahpahami? Pythagoras pernah disalahpahami, demikian pula Socrates, Yesus, Luther, Copernicus, Galileo, Newton, dan setiap spirit murni dan bijak yang berdaging. Untuk menjadi agung adalah untuk disalahpahami,” tulis pemikir Amerika Ralph Waldo Emerson.
"Seperti burung terbang di udara tidak meninggalkan jejak, ikan berenang di laut tidak meninggalkan bekas, demikian halnya dengan perbuatan baik. perbuatan baik tidak perlu meninggalkan jejak yg bisa dilihat siapa pun"Kata Mahabrata.
Hanya seniman hati yang dapat merasakan kelembutan-kelembutan kasih dalam perjalanan kehidupan, bisajadi ulama, pendeta, ahli syair, bahkan seorang pendosapun. Bisa jadi Tere Liye novelis terkenal dengan kata-kata nan indahnya itu tersayat-sayat dahulu dulunya untuk mendapatkan sebuah karya-karya yang sangat menginspirasi untuk orang-orang luas, tanpa label agama, golongan, dia dapat berdikari diatas semua golongan jiwa-jiwa yang kesepian dan ingin mendengarkan gemiricik teriakan-teriakan hati dan jiwa makhluk yang lemah dan gundah gulana itu.
Terjadinya huru hara akibat dengan bermunculannya pendapat bahwa demokrasi itu hanya membawa kemakaran karena pada kenyataan faktualnya banyak menimbulkan keruwetan dalam sistem sosial ataupun politik. Padahal secara kontekstual demokrasi tidak bisa disalahkan karena tidak ada ideologi yang bisa disalahkan yang ada apakah akomodatif apa tidak dengan keadaan sosial terkini. Selanjutnya, setelah dipastikan secara konsep bahwa ideologi itu sesuai dan cocok untuk diterapkan adalah bagaimana cara penerapannya yang akan jadi masalah bukanlah harus untuk mencabut akar dasarnya tadi, sehingga menimbulkan masalah-masalah baru yang justru bukan menjadi solusi yang solutif.
Itu untuk mukadimah saja. Indah untuk sebuah negeri yang dengan berbagai musim apapun kondisi bahan pangan yang sedikitpun orang-orang akan tetap sejahtera dan dapat tidur dengan nyenyak walau berbantalkan kayu berselimutkan debu dan beratapkan langit. Walau makan dengan singkong rebus yang hanya dibumbui garam itu sudah lebih dari cukup dibanding saudara-saudara kita dibelahan dunia lain yang terkadang merasa teramat sangat dingin dan susahnya mencari panganan atau seteguk air untuk hanya mempertahankan hidup.
Bahagianya ayam dengan caranya sendiri, cacing dengan caranya sendiri, pohon kelapa dengan caranya sendiri, masing-masing punya ukuran subjektif yang kadang tak bisa dipaksakan untuk yang lain. Ayam bahagia dengan hanya berjalan-berjalan dan makan beras, cacing bahagia dengan lumpur basah yang kotor, begitupun kelapa dan lainnya. Tidak bisa kita paksakan cacing untuk keluar dari lumpur basah kotornya untuk kita (manusia) mandikan dan bersihkan dengan air dan dikeringkan dengan sebuah kipas angin atau hair dryer agar mereka tidak kotor dan tidak kedinginan, karena itu semua bahagia dia nikmat Tuhan yang diberikan pada cacing yang dimekanisme sedemikian rupa agar menjadi makhluk yang memiliki nikmat dan karunia dariNya dengan kekhususannya.
Pada awalnya nikmat Tuhan pasti sama, outputnya sama, tapi hanya bentuk-bentuk butiran dan tebarannya saja yang berbeda-beda sesuai dengan tugas-tugas makhluknya dibumi atau lebih jauh alam semesta, sesuai dengan hakikat apa yang diberikan Tuhan pada makhluknya.
Spesifik untuk manusia, yang Tuhan berikan jalan untuk memilih tidak seperti makhluk Tuhan lainnya. Jalan memilih tersebut menjadi faktor dimana manusia bisa berpikir dan itu jadi sebab muasabab kenapa manusia berbeda-beda, berbeda-beda bukan berpecah-pecah karena kalau manusia dituduh memecah-mecahkan diri bagaimana dengan sifat kealamian seperti yang ditimbulkan ras, suku, bahasa, yang mekanismenya bukan manusia yang dengan sengaja ingin berbeda-beda tentang warna kulit, struktur tubuh, dan lain sebagainya. Alam semesta sebagai komposisi yang bersentuhan dengan makhluk memiliki peranan juga, selayaknya cuaca, keadaan geografis yang secara biologis dapat mempengaruhi struktur tubuh manusia, psikis manusia, mental-mentalnya, gaya berpikirnya dan itu merupakan rahmat, ikhtilafi min umatin rahmatun kalau kata Rasulullah SAW.
Orang-orang yang masih berjuang, Indonesia sebagai sumber ekuilibrium sejati dalam hal keadaan geografis, cuaca, atau singkatnya keadaan alam haruslah berani menemukan titik dimana bangsa dan rakyat kita dapat berkobar-kobar berapi-api kembali menghadapi sebuah tantangan karena terjadi disekuilibrium atau ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan bukan untuk kita memicu untuk membuat sebuah musuh agar rakyat Indonesia tergerak jiwanya seperti ala Hitler pada rakyatnya. Tapi maksudnya itulah kesempatan kita, ketika saudara kita dibelahan dunia lain yang tidak mendapatkan keseimbangan secara alam karena itu plot ujian dari Tuhannya, maka bangsa Indonesia sudah sejak lama akan tergugah untuk bermimpi dan bercita-cita dengan tekanan-tekanan sosial, seperti dulu ketika kita dijajah. Jadi ujian kita bukan terletak pada kondisi alam, tapi terletak pada permasalahan-permasalahan sosial, ekonomi, politik, yang carut marut.
Dahulu kala orang-orang Yunani kuno, rata-rata adalah seorang petani zaitun yang proses menuju panennya tidak butuh kerja yang banyak karena zaitun punya sistem proses mandiri dalam pertumbuhan dan produksinya. Sehingga, kawan-kawan Yunani dulu banyak yang cukup dengan rezekinya, cukup dengan harta bendanya dan efeknya mereka banyak bekerja untuk merenung dalam kesehariannya, maka tidak aneh jika bermunculan filsuf-filsuf terkenal dari negara para dewa tersebut. Itulah yang dimaksudkan, mengambil peluang dari keadaan, dari apa yang kita punya, bukan dari apa yang belum kita punya. Kadang kita tidak harus mencontoh cara makan orang Eropa untuk menjadi sehat, tapi cukup saja mencontoh kedisiplinan mereka dalam memprioritaskan kesehatan.
Tak peduli jadi kontroversi selagi kita bisa menjadi contoh dan penstimulus bagi bangkitnya gerakan-gerakan sosial yang tanpa disadari akan membawa dampak positif bagi masyarakat itu sendiri keluar dari kemandekan, jumud, dan kolot. Kontroversi merupakan gerakan orang-orang kreatif yang belum bisa dipahami orang banyak, setelah terpahami akan muncul kreatif-kreatif lainnya entah untuk mematikan yang sebelumnya atau membuat yang baru atau bahkan mendukung dan menguatkan yang sebelumnya.
Kita harus paham bahwa untuk menjadi besar tidak bisa untuk menjadi seorang yang dibenar-benarkan orang selalu. Oleh karena itu perlu kita ketahui bahwa Muhyiddin Ibn Arabi seorang sufi dulu, para pengagumnya menyebut dia sang sufi (mistikus) terbesar sepanjang sejarah, dialah sang“al Syeikh al Akbar” (guru terbesar) dan “al Kibrit al Ahmar” (sumber api). Tidak ada pemilik gelar seperti ini di kalangan ulama, pemikir Islam dan mistikus sepanjang zaman, kecuali dia. Pengaruhnya demikian besar dan menyebar keseluruh pelosok bumi manusia. Hanya sedikit tokoh intelektual Islam yang memiliki pengaruh demikian besar dan meluas selama berabad-abad seperti orang ini. Kajian-kajian sufisme tidak pernah lupa, sedikit atau banyak menyebutkan namanya. Ibnu Arabi adalah seorang visioner yang sangat cerdas dan brilian. Tetapi para pembencinya menyebut dia seorang bid’ah, kafir, zindiq, dungu, orang gila, dan musyrik. Jadi, orang besar tidak akan dipandang dengan satu sudut pandang, sungguhpun semua orang demikian tapi yang dimaksudkan adalah sudut pandang yang sifatnya radikal antara yang positif ataupun negatif.
Tapi untuk menjadi orang besar agar lebih terasa sempurna perlu adanya diasupi sebuah paham yang nantinya akan tetap bersifat inklusif, memandang dunia secara holistik. Thinking different berpikir diantara, dimana mengambil poin-poin kebaikan dari setiap perkara, benda, kejadian, dan hal-hal lainnya yang bersifat materialis ataupun mistis. Orang yang menyimpelkan-nyimpelkan hidupnya adalah orang yang paling ribet dan ruwet dalam kehidupan, karena bagi sang pencari cahaya menjadi gundah gelisah demi sebuah pelajaran adalah keadaan santai yang hakiki.
Iblis menjadi pembeda dan pembatas, agar manusia dapat menggunakan akalnya untuk memilih. Bisa jadi Iblis hanyalah bias yang diciptakan Tuhan, karena kita yakin percaya bahwa tidak ada makhluk yang berani melawan sang puncak Tuhan. Prasangka-prasangka, praduga-praduga, memang tidak bisa dibenarkan, tapi memang iblis dan antek-anteknyalah musuh yang nyata, dan kenyataannya dalam aliran tubuh ini menghubungkan dengan pola tingkah manusia terdapat iblis yang lebih berbahaya daripada apa yang digambarkan setan berbentuk menyeramkan, tingkah kita, ujian kita, nafsu dan syahwat kita lebih menyeramkan daripada wujud-wujud itu, dan mereka telah bersekutu dengan antek-antek Iblis sebagai pengurai hitam dan putih.
Adakah sisi positif dari Iblis ? Jika jawabannya iya jangan khawatir kita akan menjadi makhluk laknatullah dan dicap sebagai simpatisan Iblis, salahkah kita berkasih sayang dengan pencuri tapi jiwa dan perilaku kita bukan pencuri ? Dan mencari sisi positif dari negatif bukan memaksa yang negatif agar positif tapi ada kejadian apa didalamnya sehingga ada pelajaran yang bisa diambil karena adanya negatif tersebut. Nurcholish Madjid pernah berkata Iblis sebagai pelopor Tauhid murni, dan berada diSurga tertinggi dikemudian nanti. Saya mempelajarinya adalah, bahwa itu bisa jadi acuan dan rujukan kita sebagai bahan pembelajaran dari berbagai referensi sejarah awal mula manusia ketika Adam terbentuk yaitu kita jangan seperti Iblis, atau akan ada manusia yang kelakuannya sama seperti Iblis seolah-olah menjadikan Tauhid semurni-murninya, seolah menjadi yang benar dan pembela kebenaran terbaik, tapi pada akhirnya tergelincir.
Malam Lailatul qodr menjadi harapan bagi kaum muslim yang beritikaf ataupun yang tidak beritikaf. Tapi yang pasti semuanya mendapat kegilaan akan malam itu, malam fenomenal, malam yang pasti semua orang mengalaminya tapi tidak semua orang merasakannya. Adakah orang-orang yang tersesat masih punya peluang untuk mendapatkannya ? Wallahualam. Orang-orang tersesat adalah orang yang mencari jalan kebenaran tapi dia sedang tersesat jadi tak harus represi menanggung tuduhan sesat selama jiwa & itikad kita condong akan kebenaran.
“Apakah sedemikian buruknya untuk disalahpahami? Pythagoras pernah disalahpahami, demikian pula Socrates, Yesus, Luther, Copernicus, Galileo, Newton, dan setiap spirit murni dan bijak yang berdaging. Untuk menjadi agung adalah untuk disalahpahami,” tulis pemikir Amerika Ralph Waldo Emerson.
"Seperti burung terbang di udara tidak meninggalkan jejak, ikan berenang di laut tidak meninggalkan bekas, demikian halnya dengan perbuatan baik. perbuatan baik tidak perlu meninggalkan jejak yg bisa dilihat siapa pun"Kata Mahabrata.
Hanya seniman hati yang dapat merasakan kelembutan-kelembutan kasih dalam perjalanan kehidupan, bisajadi ulama, pendeta, ahli syair, bahkan seorang pendosapun. Bisa jadi Tere Liye novelis terkenal dengan kata-kata nan indahnya itu tersayat-sayat dahulu dulunya untuk mendapatkan sebuah karya-karya yang sangat menginspirasi untuk orang-orang luas, tanpa label agama, golongan, dia dapat berdikari diatas semua golongan jiwa-jiwa yang kesepian dan ingin mendengarkan gemiricik teriakan-teriakan hati dan jiwa makhluk yang lemah dan gundah gulana itu.
Selasa, 28 Juni 2016
TIDAK SEMUA KEBENARAN ITU BENAR
Peradaban demi peradaban silih berganti. Berbagai peristiwa besar, perkara, kejadian, semuanya telah terjadi. Tanpa pernah diketahui kapan berhenti, rethinking of world terus terjadi menyegarkan dan memudakan pemikiran tanpa pernah memudakan usia dunia dan seisinya, tak akan mungkin.
Tokoh-tokoh bermunculan, antagonis, protagonis, hitam-putih, kelam kelabu, bahkan yang fiktifpun bisa jadi nyata dan yang nyata bisa jadi fiktif atau seolah-olah fiktif. Alur peradaban yang terdokumentasi baik oleh memori manusiawi (otak) ataupun terpendam dan tercatat pada sebuah batu, daun, atau aset-aset arkeologi lainnya sehingga menghasilkan apa yang dinamakan history, sejarah yang lampau karena yang nanti belum bisa lolos verifikasi dan boleh dikatakan sejarah.
Sejuk hati dan damai ketika kita mendengar sebuah lantunan nada-nada karena pada hakikatnya kitapun nada-nada yang dimainkan suatu sistem yang jika hanya logika saja yang digunakan untuk menebak dirasa tak akan pernah mencapai kulminasi pemahamannya akan sistem itu.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات : 13
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S Al-Hujarat 13)
Kutipan ayat Al-qur'an diatas merupakan ayat yang Bung Karno kutip dalam sebuah pertemuan internasional menjadi salah satu dan yang satu-satunya kepala negara yang mengutip ayat suci Al-qur'an bahkan sekelas negara-negara Islampun saat itu tersalip oleh Bung Karno yang jelas-jelas Indonesia bukanlah negara Islam.
Kita tahu secara heurmeunatik (harfiah) pasti sudah ada bayang-bayang dilogika tentang maksud dan tujuannya dari Tuhan, sungguhpun kita tak boleh mengesampingkan untuk bertanya pada orang-orang ahlinya, dalam hal ini ulama ahli tafsir. Asbabul Nuzul dari ayat ini sungguhlah sangat bernilai pluralis, karena tidak semua yang pluralis haruslah itu pluralisme. Dengan demikian, kita ketahui bahwa kita Indonesia dengan mayoritas beragama Islam dan dengan perbedaan dan kanekaragaman suku bangsa, budaya, dan bahasa, hanya dengan satu perspektif agama saja yang mayoritas di Indonesia memang sudah sewajarnya negeri ini menjadi negeri yang damai dan toleran, sehingga tak jadi salah dan keanehan ketika kita Indonesia dapat bertahan walaupun dengan kebhinekaannya.
Ketika meilhat youtube baru-baru ini saya meilihat sebuah video social experiment di Amerika tentang bagaimana respon dan reaksi warga Amerika Serikat yang terkenal heterogen juga melihat seorang wanita berhijab diganggu oleh pria amerika dengan kata-kata dan perilaku rasis. Hasil video yang aksinya dilakukan dijalan-jalan, tempat-tempat umum, seperti taman dan lainnya ini mengejutkan karena 80% warga disana merespon positif, maksudnya berani melindungi siwanita berhijab oleh pria bahkan disalah satu cuplikan terlihat pria berbadan besar yang mencoba melakukan tindakan agresif untuk proteksinya itu
Ini menandakan alkisah bahwa sebenarnya hati nurani manusia tidak pernah mati, bahkan untuk beberapa orang yang dinegeri kita mereka dihujat-hujat atau kebanyakan kita berpikir mereka menghinakan, merendahkan, mencemoohkan kaum-kaum Muslim selayaknya kita. Ini merupakan dampak dan efek serta konsekuensi dari sebuah era dan arus globalisasi, modernisasi, yang cepat. Maksudnya sebagaimana halnya media yang sekarang mendominasi asupan gizi primer dari infromasi kita, bukan dari masalah benar-salah atau valid atau tidak, tapi seberapa sering organ pendengaran kita bersentuhan dengan informasi itu yang bisa jadi memiliki skenario konspirasi atas produksinya, produksi informasinya. Bukan memprovokasi untuk bagaimana kita bertindak ofensive terhadap media massa tapi ini hanyalah sebuah counter-attack karena apakah hanya media saja yang boleh berhipotesa yang cenderung provokasi-untuk tidak menyebut fitnah yang disengajakan agar meningkatkan nilai jual. Tidak untuk menyalahkan kawan-kawan media karena bisa jadi saya, anda, atau kita jikalau masuk dalam ruang & waktu tersebut samahalnya demikian, karena ini bukan terpusat pada individu tapi kolektifitas dan konektifitas yang memang cenderung ditekan untuk melakukan segala cara untuk memanfaatkan peluang kebebasan pers.
Mari kita kembali kepada kemanusaiaan tadi, atau humanity. Salah satu tokoh kemanusiaan yang saya kagumi adalah Mahatma Gandhi tokoh asal dunia yang menggebrak seluruh dunia dengan pemikiran-pemikiran intelektualnya tentang kemanusiaan, tokoh asal India ini telah banyak menginspirasi tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin, para cendekiawan diseluruh pelosok dunia dengan pemikiran dan track record Gandhi. Seperti pada kutipannya You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean, if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty kurang lebih Gandhi ingin mengatakan Anda tidak harus kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan. Kemanusiaan adalah sebuah lautan; jika sedikit bagiannya kotor, lautan tidak akan menjadi kotor.. Sangat tinggi rasa Gandhi, nuansa-nuansa nuraninya menyentuh alam nilai pemikiran dan formasi keintelektualannya sehingga dia menjadi aktivis kemanusiaan yang terkenal dan terkenang.
Kemanusiaan itu cinta, dan setiap manusia memilikinya. Jika Sujiwo Tejo pernah berkata Tuhan itu bukanlah raja yang memiliki kasih sayang, tapi kasih sayang yang telah meraja sungguh luar biasa bukan berarti kita sedang menginterpretasi Tuhan dengan seenak kita, tapi toh bukankah Tuhan menyukai hambanya yang mencrinya dengan jalan apapun tapi benar-benar memiliki itikad mencari kebenaran ? Saya sebut penjawab yang tak terjawab.
Budayawan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib pernah menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan kita agar benar-benar menjadi manusia sejati, insan sejati, Islam sejati. Pertama, kita sebagai makhluk Tuhan sama dengan yang lainnya hewan, tumbuhan, jin, dll. Kedua, kita sebagai insan atau manusia yang memiliki akal dan diberi gelombang khusus oleh Tuhan agar memiliki pilihan hitam-putih. Ketiga, kita sebagai abdullah atau hamba Allah yang benar-benar telah memiliki Iman akan Tuhan. Terakhir keempat, kita sebagai Khalifatullah filardh, wakil/pemimpin Allah dibumi yang diberi tanggung jawab untuk menjaga bumi dan seisinya. Runtutan dan penjelasan diatas walaupun aga sedikit saja tafsir secara pribadi, tapi inshaAllah tidak menghilangkan daripada esensinya. Sekarang kita tahu bahwa sebelum kita menghamba, sebelum kita menjadi khalifah haruslah dari dasar dulu kita mengetahui bahwa sebenar-benarnya diri kita adalah manusia, sebelum kita over confident untuk merasa telah membela kepentingan Tuhan belajar dan sadari dululah kita manusia atau insan dan tidak hanya sekedar makhluk. Agar tidak ada kasus kemanusiaan karena membela ras, agama, golongan, dll.
Tokoh-tokoh bermunculan, antagonis, protagonis, hitam-putih, kelam kelabu, bahkan yang fiktifpun bisa jadi nyata dan yang nyata bisa jadi fiktif atau seolah-olah fiktif. Alur peradaban yang terdokumentasi baik oleh memori manusiawi (otak) ataupun terpendam dan tercatat pada sebuah batu, daun, atau aset-aset arkeologi lainnya sehingga menghasilkan apa yang dinamakan history, sejarah yang lampau karena yang nanti belum bisa lolos verifikasi dan boleh dikatakan sejarah.
Sejuk hati dan damai ketika kita mendengar sebuah lantunan nada-nada karena pada hakikatnya kitapun nada-nada yang dimainkan suatu sistem yang jika hanya logika saja yang digunakan untuk menebak dirasa tak akan pernah mencapai kulminasi pemahamannya akan sistem itu.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات : 13
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S Al-Hujarat 13)
Kutipan ayat Al-qur'an diatas merupakan ayat yang Bung Karno kutip dalam sebuah pertemuan internasional menjadi salah satu dan yang satu-satunya kepala negara yang mengutip ayat suci Al-qur'an bahkan sekelas negara-negara Islampun saat itu tersalip oleh Bung Karno yang jelas-jelas Indonesia bukanlah negara Islam.
Kita tahu secara heurmeunatik (harfiah) pasti sudah ada bayang-bayang dilogika tentang maksud dan tujuannya dari Tuhan, sungguhpun kita tak boleh mengesampingkan untuk bertanya pada orang-orang ahlinya, dalam hal ini ulama ahli tafsir. Asbabul Nuzul dari ayat ini sungguhlah sangat bernilai pluralis, karena tidak semua yang pluralis haruslah itu pluralisme. Dengan demikian, kita ketahui bahwa kita Indonesia dengan mayoritas beragama Islam dan dengan perbedaan dan kanekaragaman suku bangsa, budaya, dan bahasa, hanya dengan satu perspektif agama saja yang mayoritas di Indonesia memang sudah sewajarnya negeri ini menjadi negeri yang damai dan toleran, sehingga tak jadi salah dan keanehan ketika kita Indonesia dapat bertahan walaupun dengan kebhinekaannya.
Ketika meilhat youtube baru-baru ini saya meilihat sebuah video social experiment di Amerika tentang bagaimana respon dan reaksi warga Amerika Serikat yang terkenal heterogen juga melihat seorang wanita berhijab diganggu oleh pria amerika dengan kata-kata dan perilaku rasis. Hasil video yang aksinya dilakukan dijalan-jalan, tempat-tempat umum, seperti taman dan lainnya ini mengejutkan karena 80% warga disana merespon positif, maksudnya berani melindungi siwanita berhijab oleh pria bahkan disalah satu cuplikan terlihat pria berbadan besar yang mencoba melakukan tindakan agresif untuk proteksinya itu
Ini menandakan alkisah bahwa sebenarnya hati nurani manusia tidak pernah mati, bahkan untuk beberapa orang yang dinegeri kita mereka dihujat-hujat atau kebanyakan kita berpikir mereka menghinakan, merendahkan, mencemoohkan kaum-kaum Muslim selayaknya kita. Ini merupakan dampak dan efek serta konsekuensi dari sebuah era dan arus globalisasi, modernisasi, yang cepat. Maksudnya sebagaimana halnya media yang sekarang mendominasi asupan gizi primer dari infromasi kita, bukan dari masalah benar-salah atau valid atau tidak, tapi seberapa sering organ pendengaran kita bersentuhan dengan informasi itu yang bisa jadi memiliki skenario konspirasi atas produksinya, produksi informasinya. Bukan memprovokasi untuk bagaimana kita bertindak ofensive terhadap media massa tapi ini hanyalah sebuah counter-attack karena apakah hanya media saja yang boleh berhipotesa yang cenderung provokasi-untuk tidak menyebut fitnah yang disengajakan agar meningkatkan nilai jual. Tidak untuk menyalahkan kawan-kawan media karena bisa jadi saya, anda, atau kita jikalau masuk dalam ruang & waktu tersebut samahalnya demikian, karena ini bukan terpusat pada individu tapi kolektifitas dan konektifitas yang memang cenderung ditekan untuk melakukan segala cara untuk memanfaatkan peluang kebebasan pers.
Mari kita kembali kepada kemanusaiaan tadi, atau humanity. Salah satu tokoh kemanusiaan yang saya kagumi adalah Mahatma Gandhi tokoh asal dunia yang menggebrak seluruh dunia dengan pemikiran-pemikiran intelektualnya tentang kemanusiaan, tokoh asal India ini telah banyak menginspirasi tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin, para cendekiawan diseluruh pelosok dunia dengan pemikiran dan track record Gandhi. Seperti pada kutipannya You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean, if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty kurang lebih Gandhi ingin mengatakan Anda tidak harus kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan. Kemanusiaan adalah sebuah lautan; jika sedikit bagiannya kotor, lautan tidak akan menjadi kotor.. Sangat tinggi rasa Gandhi, nuansa-nuansa nuraninya menyentuh alam nilai pemikiran dan formasi keintelektualannya sehingga dia menjadi aktivis kemanusiaan yang terkenal dan terkenang.
Kemanusiaan itu cinta, dan setiap manusia memilikinya. Jika Sujiwo Tejo pernah berkata Tuhan itu bukanlah raja yang memiliki kasih sayang, tapi kasih sayang yang telah meraja sungguh luar biasa bukan berarti kita sedang menginterpretasi Tuhan dengan seenak kita, tapi toh bukankah Tuhan menyukai hambanya yang mencrinya dengan jalan apapun tapi benar-benar memiliki itikad mencari kebenaran ? Saya sebut penjawab yang tak terjawab.
Budayawan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib pernah menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan kita agar benar-benar menjadi manusia sejati, insan sejati, Islam sejati. Pertama, kita sebagai makhluk Tuhan sama dengan yang lainnya hewan, tumbuhan, jin, dll. Kedua, kita sebagai insan atau manusia yang memiliki akal dan diberi gelombang khusus oleh Tuhan agar memiliki pilihan hitam-putih. Ketiga, kita sebagai abdullah atau hamba Allah yang benar-benar telah memiliki Iman akan Tuhan. Terakhir keempat, kita sebagai Khalifatullah filardh, wakil/pemimpin Allah dibumi yang diberi tanggung jawab untuk menjaga bumi dan seisinya. Runtutan dan penjelasan diatas walaupun aga sedikit saja tafsir secara pribadi, tapi inshaAllah tidak menghilangkan daripada esensinya. Sekarang kita tahu bahwa sebelum kita menghamba, sebelum kita menjadi khalifah haruslah dari dasar dulu kita mengetahui bahwa sebenar-benarnya diri kita adalah manusia, sebelum kita over confident untuk merasa telah membela kepentingan Tuhan belajar dan sadari dululah kita manusia atau insan dan tidak hanya sekedar makhluk. Agar tidak ada kasus kemanusiaan karena membela ras, agama, golongan, dll.
Hadis riwayat Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra.:
Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia?. (Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia?. (Shahih Muslim)
Ini merupakan kisah Rasulullah yang membuktikan bahwa gerakan Islam tidak sektetarian, golongan, kelompok, atau ras. Islam itu universal, lihat bagaimana Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia? Bukankah sangat humanity, humanitarian, kita ini ? diperkuat dengan dasar negara kita Pancasila hasil kontemplasi Bung Karno dan dilanjutkan konsensus bersama founding father kita yang memiliki cita-cita dan nilai yang sama.
Kita terlalu takut, terlalu mengkhawatirkan masa depan, bahkan beberapa dari kita kepada orang-orang moderat yang toleran sebagai antek Amerika, antek Yahudi, dll. Selain itu mereka menghubung-hubungkan theosofi yang dulu banyak dianut tokoh kita founding father kita sebagai konsepan yahudi, apakah setiap karya Yahudi benar-benar tak memiliki faedah ? Teknologi yang sekarang dominan kita pegang rata-rata merupakan produk mereka (yahudi), kalaupun benar banyak mudharat, apakah itu pure kesalahan mereka ? Sekarang kalau kita punya hipotesa bahwa segala hasil cipta rasa karya orang yahudi memiliki misi dan daya sifat fasad fil ardhi, apakah kita hibrida miskin produk yang smpai sekarang menjadi kaum yang mayoritas berada pada skala bawah segitiga sosial. Semuanya punya peran masing-masing yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, dimekanisme olehNya, skenario-Nya, kalau kita ingin lari dari takdirNya bisa saja, tapi lari dari takdirNya menuju takdirNya. Selow, kita diberi sangat luas untuk mengeksplorasi kebebasan kita bahkan jika suatu saat jiwa kita kering maka ingatlah setiap polarisasi alam semesta bahkan sifat reaksi dzat adalah kembali ke pusat, kembali pada titik hakikat, kembalilah padaNya.
Tingkatan Cinta, jangan salah engkau menilai Cinta ! Ketertarikan saya membahas ini adalah karena hanya ada ini dialam semesta ini, dihati ini. Untuk semakin mengkuatkan dan membuktikan bahwa kehidupan ini soal rasa atau soal nada dimana kalau sayur asem tidak akan lebih baik dengan pizza sebaliknya juga demikian karena struktur dan konstruksi keduanya berbeda, outputnyapun berbeda. Pohon kelapa tidak lebih tinggi dari jagung karena memang kelapa ditakdirkan untuk begitu dan jagung untuk begitu, tidak bisa diperbandingkan. Dalam civil society haruslah ada yang berperan sebagai gula, ada yang sebagai teh, ada sebagai airnya, saling melengkapi dan membawa pada arus mikro yang unik dan pasti itu sistematikanya. Bahkan yang kita anggap jahat, ya memang jahat tapi bagaimana kita mengambil sisi positif dari kejahatannya, kita tidak boleh benci dia karena kita tak tahu faktor apa yang mendorong dia menjadi demikian. Seorang penyair, novelis, abad 19 asal Inggris Oscar Wilde pernah mengatakan setiap orang belum tentu baik, tetapi selalu ada kebaikan pada setiap
orang. Jangan terlalu cepat menilai seseorang, karena setiap orang suci
pasti punya masa lalu, dan setiap pendosa masih punya masa depan. Orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang didalam hatinya ada Tuhan atau dia ada dihati Tuhan, apapun itu tidak ada masalah bagi Tuhan terlepas akan ada dibenak-benak kita yang akan melirik aneh karena dia tidak seimanlah, apalah, dan judge serta klaim-klaim lain yang menurut saya tidak berdasar untuk kita yang menilai, contoh misal kafir, murtad, pendosa, itu merupakan ukuran dan tolak ukur Tuhan, janji Tuhan jangan dijanjikan manusia. Semisal kalaupun harus dituntut mengungkapkan untuk jadi katalisator mana yang baik mana yang buruk atau penilaian benar-salah, maka haruslah berhati-hati sekali karena mereka punya perasaan dan seharusnya kita yang berucappun menjadi bagian yang seharusnya diukur dan dinilai untuk itu. Letak-letak demikian sukar untuk diuraikan karena bentuknya software bukan hardware letaknya state of mind, halus sekali dan bukan wilayah kita manusia untuk menjangkaunya.
Cinta tak bisa kita pahami hanya dengan gaya berpikir yang akademisi kognitif, karena isi liriknya, lantunannya harus sesuai dengan nada agar terasa indah sejuk frekuensinya. Kalaupun terkadang darah menjadi jaminan Cinta, mungkin itulah artikulasi nada kerasnya, kalaupun harus tak dipandang seperti halnya lagu yang memiliki ingredient yang tak selamanya bersuara ada sisi-sisi dimana ada kesunyian, dinamakan titik sunyi, walau hanya sebentar tapi memiliki peran penting didalamnya, itulah Cinta yang seolah tak dipandang tapi sebenarnya terpandang, hanya saja kita jarang memeditasi diri kita mendengar suara sunyi senyap agar sinyal kita terhubung dan nantinya memiliki relasi, sehingga itulah yang disebut kesempurnaan lagu, kesempurnaan nada, kesempurnaan sensibilitas kepekaan kita. Jelas berarti seni sebagai wasilah Cinta tak bisa diabaikan, karena unsur kimiapun bereaksi dengan seni. Terlepas bagaimana jalan-jalan kehususannya, itukan keunikan.
Mohon dibaca seksama. Pertama, Cinta yang masih melihat wujud, wajah, kulit, label, merk, branded, dll sifatnya sangat egois karena masing-masing akan mengeksploitasi sebesar-besarnya dari objek cintanya untuk dirinya. Kedua, Cinta yang mulai melihat wujud relatif yang mulai berbagi, bukanlah sekedar ekslpoitasi tapi bagaimana berbagi antara siaku dan sidia, saling membalas apa yang diberi satu sama lain. Ketiga, Cinta yang sudah tidak memperdulikan wujud, bukan berarti tak berwujud tapi ada kontrol hawa-nafsu atau syahwat yang mencapai tingkat kulminasi, cinta yang seperti ini sudah tak memperdulikan lagi dibalas atau tidak, terus berkorban, terus inginnya memberi, melindungi, dan lainnya tanpa pernah berpikir meminta balas dari objek cintanya. Seperti itu kurang lebih penjelasan tingkatan Cinta yang saya interpretasi dari reformasi sufistik Jalaludin Rakhmat.
Hidup itu akting, jadi bagaimana kita menjadi aktor yang baik, tak peduli apa yang dikatakan orang. Hidup itu harmoni sebenarnya walau mata lahir kita memandang begitu banyak paradoks terjadi. Selayaknya ketika Ulama Muhammadiyah Prof.Dr. Buya Hamka dipenjarakan pemerintahan Ir.Soekarno sejarah mencatat demikian, dan ketika itu seolah-olah Soekarno menjadi tokoh antagonis dengan sikapnya yang memenjarakan tanpa alasan Buya Hamka, tapi hikmah nya Buya Hamka bisa lebih fokus menyelesaikan dan merampungkan buku/kitab tafsir Al-azharnya didalam penjara, dan kalau ketika selalu positive thinking sudah pastilah Buya Hamka akan melihat sisi baik dari segala bentuk kelakuan dari sang putra fajar Bung Karno, ada hikmah dibalik itu semua, sampai-sampai dijenazah Bung Karnopun dishalatkan oleh Buya Hamka, ini suatu skenario peran yang sangat melankolis-filantropi dan memiliki daya aura romantika dalam mekanisme kehidupan mereka berdua. Pastinya, dari perjalanan historis keduanya ada campur tangan-intervensi Tuhan didalamnya itu sudah pasti dan hakiki, apapun yang terjadi, kembali tadi itu kita lari dari takdir menuju takdir lainnya. Begitupun ada saat-saat Buya Hamka menjadi tokoh antagonis, ketika dahulu Hamka menjadi salah satu ulama yang sangat bertentangan dengan ulama-ulama tradisional, tapi ketika menjelas usia tuanya Hamka justru menjadi lebih lentur, fleksibel, bahkan dia datang ke acara-acara yang dulu dia tentang dan kata-katanya yang menginspirasi adalah dulu saya baru baca satu kitab, sekarang sudah baca seribu kitab begitu luar biasa seorang pencari kebenaran bukanlah yang berhenti dan mengklaim diri benar tapi sampai kapanpun terus mencari bahkan juga untuk hal-hal yang bertentangan dengannya. Itulah sisi dimana kita bisajadi malaikat sedetik kemudian menjadi iblis, atau rentetan kehidupan kita yang demikian. Lebih jauh, haruslah kita berpikir untuk tidak hanya dunia ini, maksudnya senang dan indah sekali imaji kita membayangkan konsepsi kehidupan kita 1000 tahun atau dalam keabadian, dan sangat lucu kalau kita memprediksi kita hanya 50-80 tahun hidup kita ini, untuk jasad bisa jadi demikian, karena yang hidup bukan jasad, maka dari itu yang sangat layak dicintai bukan sekedar jasad jasmani, tapi jiwa yang berarti.
Intinya semuanya baik, hanya berbeda ukuran ranah nilai objek kebaikannya. Misalnya yang korupsi mungkin objek kebaikannya adalah untuk diri sendiri, keluarga, golongannya, belum universal, belum holistik ranah karya objeknya. Dan, tingkatan-tingkatannya seterusnya sampai menuju puncak kebaikan dan puncak itu bukan kita makhluk yang mengetahui dan berhak menilai. Menurut Gramsci, untuk menambal kewajiban-kewajiban negara yang tidak terpenuhi adalah kita sebagai warga negaranya yang mampu dari segi tenaga, intelektual, bahkan materi. Jadi, untuk mengevolusi kedepan lebih baik tunaikan saja dulu kewajiban kita semaksimalnya tuntutlah hak kita kepada Tuhan.
Dalam adat Jawa kuno ada istilah kata-kata adalah sampah seusai terurai dari yang mengungkapkannya, agar dia tidak menjadi sampah maka pembaca-pembacalah yang memiliki tanggung jawab agar kata itu bisa didefinisi masing-masing dialam sanubarinya sehingga kata ini tidak hanya menjadi formalitas isi tapi benar-benar menjadi fathasyhur fil ardhi bertebaran dimuka bumi dan menjadi hal atau molekul-molekul kehidupan penggerak evolusi sebelum revolusi menuju yang lebih baik, walau tanpa disadari dicerna dimakan dan menjadi formasi keintelektualan kawan-kawan, rekan-rekan pembaca dekemudian hari, walau hanya setitik. Terimakasih. Wasalamualaikum Wr Wb
Langganan:
Komentar (Atom)

