Aku ingin mencurahkan, segala bentuk kekesalan.
Bukan pada sang dewa, manusia lain, alam, atau kosmos-kosmos lain.
Tapi pada diri ini, aku tahu aku manusia.
Wajibku mencintai mereka segalanya samahalnya seperti aku mencintai diriku sendiri.
Kenyataannya, aku mengkhianati aku.
Bagaimana aku yang cara cintanya pada jiwanya sendiri seperti ini ?
Kepada mereka tidak menutup kemungkinan aku menyimpang.
Laknat & segala bentuk kemarahan untukku, terbayang.
Bukan ku takut padamu duhai alam semesta.
Engkau terlalu ghaib untuk ditakuti.
Tapi, penguasamu, cahaya segala Cinta.
Realita sesungguhnya yang jiwa ini ada diotoritasNya.
Masih kuingat, simpul senyum lugu bercengkrama dulu.
Ketika dulu belum dibalut kepentingan masing-masing.
Tak terbayang kesalahan, tak terbayang pertentangan.
Harapan selalu ada, tapi tiada.
Sekarang, tanah air benar-benar menjadi tanah yang dilelehi air mata.
Seorang filsuf berkata kohesi alam semesta
Dosamu belum tentu hanya dosamu, sebaliknya pula.
Pahalamu belum tentu hanya pahalamu, sebaliknya pula.
Derita, hancur, terbelenggu, tak ada yang memahami.
Asal mula insan ke jalan yang sama, tolonglah mereka.
Bisa jadi aku, kamu, siapapun itu.
Maafku untuk aku, maafkan aku...
Pendosa menari-menari dalam jurangnya.
Pendosa berputar kebingunan mencari sucinya
Andai semuanya mengerti kondisi, nuansa, hal-hal seolah tak penting
Andai sesama yang mungkin berdosa tak mudah mendosai kembali pendosa
Pendosa bingung, air mata cukup untuk bayangan siksa Tuhannya
Tuhan, katanya dirimu begitu lembut dan penuh kasih..
Tuhan, katanya dirimu begitu tegas dan seolah keji..
DekatNya ke kita, jauhNya ke kita
Aku dan kamu sama-sama kacau
Pendosa tak menemukan alternatif jalan sekawan yang ramah
Tak punya solusi, terkadang benar, sedetik kemudian kembali ke hitamnya
Kasiannya pendosa, Tuhan pasti punya ukuran untuknya
Yakin usaha sampai, dosapun sampai.
Yakinlah dosa kita bukanlah realita paling menakutkan
Itu semua terkalahkan oleh wajahNya sumber harapan
Dosa bukan untuk neraka, tak ada yang berpikir demikian
Elegannya pahalapun bukan untuk Surga
Tapi untuk yang bukan sesuatu, diluar sesuatu.
Pemilik jiwa ini, hadir dijiwa ini.
Yang semestapun tak ada apa-apanya.
Rabu, 13 Juli 2016
Rabu, 29 Juni 2016
THINKING DIFFERENT
Malam larut adalah kehinangan dan kesunyian dimana keranjang-keranjang Tuhan diturunkan mulai dari pengampunan, rezeki, dan pengejewantahan-pengejewantahan dari keduanya seperti ilmu, nikmat, dan bentuk-bentuk cinta kasih & sayang Tuhan lainnya. Bila satu perkara hanya dipandang dalam satu perspektif atau sudut pandang maka hilanglah hukum relatifitas, maka yang terjadi adalah monopoli dokrtrin akan sesuatu hal yang seharusnya bisa didiskusikan, bisa diadakannya dialog antar pemahaman agar akhirnya menemukan bentuk final dari sebuah kesimpulan perkara dan secara sifat lebih demokratis dan menyenangkan semua pihak.
Terjadinya huru hara akibat dengan bermunculannya pendapat bahwa demokrasi itu hanya membawa kemakaran karena pada kenyataan faktualnya banyak menimbulkan keruwetan dalam sistem sosial ataupun politik. Padahal secara kontekstual demokrasi tidak bisa disalahkan karena tidak ada ideologi yang bisa disalahkan yang ada apakah akomodatif apa tidak dengan keadaan sosial terkini. Selanjutnya, setelah dipastikan secara konsep bahwa ideologi itu sesuai dan cocok untuk diterapkan adalah bagaimana cara penerapannya yang akan jadi masalah bukanlah harus untuk mencabut akar dasarnya tadi, sehingga menimbulkan masalah-masalah baru yang justru bukan menjadi solusi yang solutif.
Itu untuk mukadimah saja. Indah untuk sebuah negeri yang dengan berbagai musim apapun kondisi bahan pangan yang sedikitpun orang-orang akan tetap sejahtera dan dapat tidur dengan nyenyak walau berbantalkan kayu berselimutkan debu dan beratapkan langit. Walau makan dengan singkong rebus yang hanya dibumbui garam itu sudah lebih dari cukup dibanding saudara-saudara kita dibelahan dunia lain yang terkadang merasa teramat sangat dingin dan susahnya mencari panganan atau seteguk air untuk hanya mempertahankan hidup.
Bahagianya ayam dengan caranya sendiri, cacing dengan caranya sendiri, pohon kelapa dengan caranya sendiri, masing-masing punya ukuran subjektif yang kadang tak bisa dipaksakan untuk yang lain. Ayam bahagia dengan hanya berjalan-berjalan dan makan beras, cacing bahagia dengan lumpur basah yang kotor, begitupun kelapa dan lainnya. Tidak bisa kita paksakan cacing untuk keluar dari lumpur basah kotornya untuk kita (manusia) mandikan dan bersihkan dengan air dan dikeringkan dengan sebuah kipas angin atau hair dryer agar mereka tidak kotor dan tidak kedinginan, karena itu semua bahagia dia nikmat Tuhan yang diberikan pada cacing yang dimekanisme sedemikian rupa agar menjadi makhluk yang memiliki nikmat dan karunia dariNya dengan kekhususannya.
Pada awalnya nikmat Tuhan pasti sama, outputnya sama, tapi hanya bentuk-bentuk butiran dan tebarannya saja yang berbeda-beda sesuai dengan tugas-tugas makhluknya dibumi atau lebih jauh alam semesta, sesuai dengan hakikat apa yang diberikan Tuhan pada makhluknya.
Spesifik untuk manusia, yang Tuhan berikan jalan untuk memilih tidak seperti makhluk Tuhan lainnya. Jalan memilih tersebut menjadi faktor dimana manusia bisa berpikir dan itu jadi sebab muasabab kenapa manusia berbeda-beda, berbeda-beda bukan berpecah-pecah karena kalau manusia dituduh memecah-mecahkan diri bagaimana dengan sifat kealamian seperti yang ditimbulkan ras, suku, bahasa, yang mekanismenya bukan manusia yang dengan sengaja ingin berbeda-beda tentang warna kulit, struktur tubuh, dan lain sebagainya. Alam semesta sebagai komposisi yang bersentuhan dengan makhluk memiliki peranan juga, selayaknya cuaca, keadaan geografis yang secara biologis dapat mempengaruhi struktur tubuh manusia, psikis manusia, mental-mentalnya, gaya berpikirnya dan itu merupakan rahmat, ikhtilafi min umatin rahmatun kalau kata Rasulullah SAW.
Orang-orang yang masih berjuang, Indonesia sebagai sumber ekuilibrium sejati dalam hal keadaan geografis, cuaca, atau singkatnya keadaan alam haruslah berani menemukan titik dimana bangsa dan rakyat kita dapat berkobar-kobar berapi-api kembali menghadapi sebuah tantangan karena terjadi disekuilibrium atau ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan bukan untuk kita memicu untuk membuat sebuah musuh agar rakyat Indonesia tergerak jiwanya seperti ala Hitler pada rakyatnya. Tapi maksudnya itulah kesempatan kita, ketika saudara kita dibelahan dunia lain yang tidak mendapatkan keseimbangan secara alam karena itu plot ujian dari Tuhannya, maka bangsa Indonesia sudah sejak lama akan tergugah untuk bermimpi dan bercita-cita dengan tekanan-tekanan sosial, seperti dulu ketika kita dijajah. Jadi ujian kita bukan terletak pada kondisi alam, tapi terletak pada permasalahan-permasalahan sosial, ekonomi, politik, yang carut marut.
Dahulu kala orang-orang Yunani kuno, rata-rata adalah seorang petani zaitun yang proses menuju panennya tidak butuh kerja yang banyak karena zaitun punya sistem proses mandiri dalam pertumbuhan dan produksinya. Sehingga, kawan-kawan Yunani dulu banyak yang cukup dengan rezekinya, cukup dengan harta bendanya dan efeknya mereka banyak bekerja untuk merenung dalam kesehariannya, maka tidak aneh jika bermunculan filsuf-filsuf terkenal dari negara para dewa tersebut. Itulah yang dimaksudkan, mengambil peluang dari keadaan, dari apa yang kita punya, bukan dari apa yang belum kita punya. Kadang kita tidak harus mencontoh cara makan orang Eropa untuk menjadi sehat, tapi cukup saja mencontoh kedisiplinan mereka dalam memprioritaskan kesehatan.
Tak peduli jadi kontroversi selagi kita bisa menjadi contoh dan penstimulus bagi bangkitnya gerakan-gerakan sosial yang tanpa disadari akan membawa dampak positif bagi masyarakat itu sendiri keluar dari kemandekan, jumud, dan kolot. Kontroversi merupakan gerakan orang-orang kreatif yang belum bisa dipahami orang banyak, setelah terpahami akan muncul kreatif-kreatif lainnya entah untuk mematikan yang sebelumnya atau membuat yang baru atau bahkan mendukung dan menguatkan yang sebelumnya.
Kita harus paham bahwa untuk menjadi besar tidak bisa untuk menjadi seorang yang dibenar-benarkan orang selalu. Oleh karena itu perlu kita ketahui bahwa Muhyiddin Ibn Arabi seorang sufi dulu, para pengagumnya menyebut dia sang sufi (mistikus) terbesar sepanjang sejarah, dialah sang“al Syeikh al Akbar” (guru terbesar) dan “al Kibrit al Ahmar” (sumber api). Tidak ada pemilik gelar seperti ini di kalangan ulama, pemikir Islam dan mistikus sepanjang zaman, kecuali dia. Pengaruhnya demikian besar dan menyebar keseluruh pelosok bumi manusia. Hanya sedikit tokoh intelektual Islam yang memiliki pengaruh demikian besar dan meluas selama berabad-abad seperti orang ini. Kajian-kajian sufisme tidak pernah lupa, sedikit atau banyak menyebutkan namanya. Ibnu Arabi adalah seorang visioner yang sangat cerdas dan brilian. Tetapi para pembencinya menyebut dia seorang bid’ah, kafir, zindiq, dungu, orang gila, dan musyrik. Jadi, orang besar tidak akan dipandang dengan satu sudut pandang, sungguhpun semua orang demikian tapi yang dimaksudkan adalah sudut pandang yang sifatnya radikal antara yang positif ataupun negatif.
Tapi untuk menjadi orang besar agar lebih terasa sempurna perlu adanya diasupi sebuah paham yang nantinya akan tetap bersifat inklusif, memandang dunia secara holistik. Thinking different berpikir diantara, dimana mengambil poin-poin kebaikan dari setiap perkara, benda, kejadian, dan hal-hal lainnya yang bersifat materialis ataupun mistis. Orang yang menyimpelkan-nyimpelkan hidupnya adalah orang yang paling ribet dan ruwet dalam kehidupan, karena bagi sang pencari cahaya menjadi gundah gelisah demi sebuah pelajaran adalah keadaan santai yang hakiki.
Iblis menjadi pembeda dan pembatas, agar manusia dapat menggunakan akalnya untuk memilih. Bisa jadi Iblis hanyalah bias yang diciptakan Tuhan, karena kita yakin percaya bahwa tidak ada makhluk yang berani melawan sang puncak Tuhan. Prasangka-prasangka, praduga-praduga, memang tidak bisa dibenarkan, tapi memang iblis dan antek-anteknyalah musuh yang nyata, dan kenyataannya dalam aliran tubuh ini menghubungkan dengan pola tingkah manusia terdapat iblis yang lebih berbahaya daripada apa yang digambarkan setan berbentuk menyeramkan, tingkah kita, ujian kita, nafsu dan syahwat kita lebih menyeramkan daripada wujud-wujud itu, dan mereka telah bersekutu dengan antek-antek Iblis sebagai pengurai hitam dan putih.
Adakah sisi positif dari Iblis ? Jika jawabannya iya jangan khawatir kita akan menjadi makhluk laknatullah dan dicap sebagai simpatisan Iblis, salahkah kita berkasih sayang dengan pencuri tapi jiwa dan perilaku kita bukan pencuri ? Dan mencari sisi positif dari negatif bukan memaksa yang negatif agar positif tapi ada kejadian apa didalamnya sehingga ada pelajaran yang bisa diambil karena adanya negatif tersebut. Nurcholish Madjid pernah berkata Iblis sebagai pelopor Tauhid murni, dan berada diSurga tertinggi dikemudian nanti. Saya mempelajarinya adalah, bahwa itu bisa jadi acuan dan rujukan kita sebagai bahan pembelajaran dari berbagai referensi sejarah awal mula manusia ketika Adam terbentuk yaitu kita jangan seperti Iblis, atau akan ada manusia yang kelakuannya sama seperti Iblis seolah-olah menjadikan Tauhid semurni-murninya, seolah menjadi yang benar dan pembela kebenaran terbaik, tapi pada akhirnya tergelincir.
Malam Lailatul qodr menjadi harapan bagi kaum muslim yang beritikaf ataupun yang tidak beritikaf. Tapi yang pasti semuanya mendapat kegilaan akan malam itu, malam fenomenal, malam yang pasti semua orang mengalaminya tapi tidak semua orang merasakannya. Adakah orang-orang yang tersesat masih punya peluang untuk mendapatkannya ? Wallahualam. Orang-orang tersesat adalah orang yang mencari jalan kebenaran tapi dia sedang tersesat jadi tak harus represi menanggung tuduhan sesat selama jiwa & itikad kita condong akan kebenaran.
“Apakah sedemikian buruknya untuk disalahpahami? Pythagoras pernah disalahpahami, demikian pula Socrates, Yesus, Luther, Copernicus, Galileo, Newton, dan setiap spirit murni dan bijak yang berdaging. Untuk menjadi agung adalah untuk disalahpahami,” tulis pemikir Amerika Ralph Waldo Emerson.
"Seperti burung terbang di udara tidak meninggalkan jejak, ikan berenang di laut tidak meninggalkan bekas, demikian halnya dengan perbuatan baik. perbuatan baik tidak perlu meninggalkan jejak yg bisa dilihat siapa pun"Kata Mahabrata.
Hanya seniman hati yang dapat merasakan kelembutan-kelembutan kasih dalam perjalanan kehidupan, bisajadi ulama, pendeta, ahli syair, bahkan seorang pendosapun. Bisa jadi Tere Liye novelis terkenal dengan kata-kata nan indahnya itu tersayat-sayat dahulu dulunya untuk mendapatkan sebuah karya-karya yang sangat menginspirasi untuk orang-orang luas, tanpa label agama, golongan, dia dapat berdikari diatas semua golongan jiwa-jiwa yang kesepian dan ingin mendengarkan gemiricik teriakan-teriakan hati dan jiwa makhluk yang lemah dan gundah gulana itu.
Terjadinya huru hara akibat dengan bermunculannya pendapat bahwa demokrasi itu hanya membawa kemakaran karena pada kenyataan faktualnya banyak menimbulkan keruwetan dalam sistem sosial ataupun politik. Padahal secara kontekstual demokrasi tidak bisa disalahkan karena tidak ada ideologi yang bisa disalahkan yang ada apakah akomodatif apa tidak dengan keadaan sosial terkini. Selanjutnya, setelah dipastikan secara konsep bahwa ideologi itu sesuai dan cocok untuk diterapkan adalah bagaimana cara penerapannya yang akan jadi masalah bukanlah harus untuk mencabut akar dasarnya tadi, sehingga menimbulkan masalah-masalah baru yang justru bukan menjadi solusi yang solutif.
Itu untuk mukadimah saja. Indah untuk sebuah negeri yang dengan berbagai musim apapun kondisi bahan pangan yang sedikitpun orang-orang akan tetap sejahtera dan dapat tidur dengan nyenyak walau berbantalkan kayu berselimutkan debu dan beratapkan langit. Walau makan dengan singkong rebus yang hanya dibumbui garam itu sudah lebih dari cukup dibanding saudara-saudara kita dibelahan dunia lain yang terkadang merasa teramat sangat dingin dan susahnya mencari panganan atau seteguk air untuk hanya mempertahankan hidup.
Bahagianya ayam dengan caranya sendiri, cacing dengan caranya sendiri, pohon kelapa dengan caranya sendiri, masing-masing punya ukuran subjektif yang kadang tak bisa dipaksakan untuk yang lain. Ayam bahagia dengan hanya berjalan-berjalan dan makan beras, cacing bahagia dengan lumpur basah yang kotor, begitupun kelapa dan lainnya. Tidak bisa kita paksakan cacing untuk keluar dari lumpur basah kotornya untuk kita (manusia) mandikan dan bersihkan dengan air dan dikeringkan dengan sebuah kipas angin atau hair dryer agar mereka tidak kotor dan tidak kedinginan, karena itu semua bahagia dia nikmat Tuhan yang diberikan pada cacing yang dimekanisme sedemikian rupa agar menjadi makhluk yang memiliki nikmat dan karunia dariNya dengan kekhususannya.
Pada awalnya nikmat Tuhan pasti sama, outputnya sama, tapi hanya bentuk-bentuk butiran dan tebarannya saja yang berbeda-beda sesuai dengan tugas-tugas makhluknya dibumi atau lebih jauh alam semesta, sesuai dengan hakikat apa yang diberikan Tuhan pada makhluknya.
Spesifik untuk manusia, yang Tuhan berikan jalan untuk memilih tidak seperti makhluk Tuhan lainnya. Jalan memilih tersebut menjadi faktor dimana manusia bisa berpikir dan itu jadi sebab muasabab kenapa manusia berbeda-beda, berbeda-beda bukan berpecah-pecah karena kalau manusia dituduh memecah-mecahkan diri bagaimana dengan sifat kealamian seperti yang ditimbulkan ras, suku, bahasa, yang mekanismenya bukan manusia yang dengan sengaja ingin berbeda-beda tentang warna kulit, struktur tubuh, dan lain sebagainya. Alam semesta sebagai komposisi yang bersentuhan dengan makhluk memiliki peranan juga, selayaknya cuaca, keadaan geografis yang secara biologis dapat mempengaruhi struktur tubuh manusia, psikis manusia, mental-mentalnya, gaya berpikirnya dan itu merupakan rahmat, ikhtilafi min umatin rahmatun kalau kata Rasulullah SAW.
Orang-orang yang masih berjuang, Indonesia sebagai sumber ekuilibrium sejati dalam hal keadaan geografis, cuaca, atau singkatnya keadaan alam haruslah berani menemukan titik dimana bangsa dan rakyat kita dapat berkobar-kobar berapi-api kembali menghadapi sebuah tantangan karena terjadi disekuilibrium atau ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan bukan untuk kita memicu untuk membuat sebuah musuh agar rakyat Indonesia tergerak jiwanya seperti ala Hitler pada rakyatnya. Tapi maksudnya itulah kesempatan kita, ketika saudara kita dibelahan dunia lain yang tidak mendapatkan keseimbangan secara alam karena itu plot ujian dari Tuhannya, maka bangsa Indonesia sudah sejak lama akan tergugah untuk bermimpi dan bercita-cita dengan tekanan-tekanan sosial, seperti dulu ketika kita dijajah. Jadi ujian kita bukan terletak pada kondisi alam, tapi terletak pada permasalahan-permasalahan sosial, ekonomi, politik, yang carut marut.
Dahulu kala orang-orang Yunani kuno, rata-rata adalah seorang petani zaitun yang proses menuju panennya tidak butuh kerja yang banyak karena zaitun punya sistem proses mandiri dalam pertumbuhan dan produksinya. Sehingga, kawan-kawan Yunani dulu banyak yang cukup dengan rezekinya, cukup dengan harta bendanya dan efeknya mereka banyak bekerja untuk merenung dalam kesehariannya, maka tidak aneh jika bermunculan filsuf-filsuf terkenal dari negara para dewa tersebut. Itulah yang dimaksudkan, mengambil peluang dari keadaan, dari apa yang kita punya, bukan dari apa yang belum kita punya. Kadang kita tidak harus mencontoh cara makan orang Eropa untuk menjadi sehat, tapi cukup saja mencontoh kedisiplinan mereka dalam memprioritaskan kesehatan.
Tak peduli jadi kontroversi selagi kita bisa menjadi contoh dan penstimulus bagi bangkitnya gerakan-gerakan sosial yang tanpa disadari akan membawa dampak positif bagi masyarakat itu sendiri keluar dari kemandekan, jumud, dan kolot. Kontroversi merupakan gerakan orang-orang kreatif yang belum bisa dipahami orang banyak, setelah terpahami akan muncul kreatif-kreatif lainnya entah untuk mematikan yang sebelumnya atau membuat yang baru atau bahkan mendukung dan menguatkan yang sebelumnya.
Kita harus paham bahwa untuk menjadi besar tidak bisa untuk menjadi seorang yang dibenar-benarkan orang selalu. Oleh karena itu perlu kita ketahui bahwa Muhyiddin Ibn Arabi seorang sufi dulu, para pengagumnya menyebut dia sang sufi (mistikus) terbesar sepanjang sejarah, dialah sang“al Syeikh al Akbar” (guru terbesar) dan “al Kibrit al Ahmar” (sumber api). Tidak ada pemilik gelar seperti ini di kalangan ulama, pemikir Islam dan mistikus sepanjang zaman, kecuali dia. Pengaruhnya demikian besar dan menyebar keseluruh pelosok bumi manusia. Hanya sedikit tokoh intelektual Islam yang memiliki pengaruh demikian besar dan meluas selama berabad-abad seperti orang ini. Kajian-kajian sufisme tidak pernah lupa, sedikit atau banyak menyebutkan namanya. Ibnu Arabi adalah seorang visioner yang sangat cerdas dan brilian. Tetapi para pembencinya menyebut dia seorang bid’ah, kafir, zindiq, dungu, orang gila, dan musyrik. Jadi, orang besar tidak akan dipandang dengan satu sudut pandang, sungguhpun semua orang demikian tapi yang dimaksudkan adalah sudut pandang yang sifatnya radikal antara yang positif ataupun negatif.
Tapi untuk menjadi orang besar agar lebih terasa sempurna perlu adanya diasupi sebuah paham yang nantinya akan tetap bersifat inklusif, memandang dunia secara holistik. Thinking different berpikir diantara, dimana mengambil poin-poin kebaikan dari setiap perkara, benda, kejadian, dan hal-hal lainnya yang bersifat materialis ataupun mistis. Orang yang menyimpelkan-nyimpelkan hidupnya adalah orang yang paling ribet dan ruwet dalam kehidupan, karena bagi sang pencari cahaya menjadi gundah gelisah demi sebuah pelajaran adalah keadaan santai yang hakiki.
Iblis menjadi pembeda dan pembatas, agar manusia dapat menggunakan akalnya untuk memilih. Bisa jadi Iblis hanyalah bias yang diciptakan Tuhan, karena kita yakin percaya bahwa tidak ada makhluk yang berani melawan sang puncak Tuhan. Prasangka-prasangka, praduga-praduga, memang tidak bisa dibenarkan, tapi memang iblis dan antek-anteknyalah musuh yang nyata, dan kenyataannya dalam aliran tubuh ini menghubungkan dengan pola tingkah manusia terdapat iblis yang lebih berbahaya daripada apa yang digambarkan setan berbentuk menyeramkan, tingkah kita, ujian kita, nafsu dan syahwat kita lebih menyeramkan daripada wujud-wujud itu, dan mereka telah bersekutu dengan antek-antek Iblis sebagai pengurai hitam dan putih.
Adakah sisi positif dari Iblis ? Jika jawabannya iya jangan khawatir kita akan menjadi makhluk laknatullah dan dicap sebagai simpatisan Iblis, salahkah kita berkasih sayang dengan pencuri tapi jiwa dan perilaku kita bukan pencuri ? Dan mencari sisi positif dari negatif bukan memaksa yang negatif agar positif tapi ada kejadian apa didalamnya sehingga ada pelajaran yang bisa diambil karena adanya negatif tersebut. Nurcholish Madjid pernah berkata Iblis sebagai pelopor Tauhid murni, dan berada diSurga tertinggi dikemudian nanti. Saya mempelajarinya adalah, bahwa itu bisa jadi acuan dan rujukan kita sebagai bahan pembelajaran dari berbagai referensi sejarah awal mula manusia ketika Adam terbentuk yaitu kita jangan seperti Iblis, atau akan ada manusia yang kelakuannya sama seperti Iblis seolah-olah menjadikan Tauhid semurni-murninya, seolah menjadi yang benar dan pembela kebenaran terbaik, tapi pada akhirnya tergelincir.
Malam Lailatul qodr menjadi harapan bagi kaum muslim yang beritikaf ataupun yang tidak beritikaf. Tapi yang pasti semuanya mendapat kegilaan akan malam itu, malam fenomenal, malam yang pasti semua orang mengalaminya tapi tidak semua orang merasakannya. Adakah orang-orang yang tersesat masih punya peluang untuk mendapatkannya ? Wallahualam. Orang-orang tersesat adalah orang yang mencari jalan kebenaran tapi dia sedang tersesat jadi tak harus represi menanggung tuduhan sesat selama jiwa & itikad kita condong akan kebenaran.
“Apakah sedemikian buruknya untuk disalahpahami? Pythagoras pernah disalahpahami, demikian pula Socrates, Yesus, Luther, Copernicus, Galileo, Newton, dan setiap spirit murni dan bijak yang berdaging. Untuk menjadi agung adalah untuk disalahpahami,” tulis pemikir Amerika Ralph Waldo Emerson.
"Seperti burung terbang di udara tidak meninggalkan jejak, ikan berenang di laut tidak meninggalkan bekas, demikian halnya dengan perbuatan baik. perbuatan baik tidak perlu meninggalkan jejak yg bisa dilihat siapa pun"Kata Mahabrata.
Hanya seniman hati yang dapat merasakan kelembutan-kelembutan kasih dalam perjalanan kehidupan, bisajadi ulama, pendeta, ahli syair, bahkan seorang pendosapun. Bisa jadi Tere Liye novelis terkenal dengan kata-kata nan indahnya itu tersayat-sayat dahulu dulunya untuk mendapatkan sebuah karya-karya yang sangat menginspirasi untuk orang-orang luas, tanpa label agama, golongan, dia dapat berdikari diatas semua golongan jiwa-jiwa yang kesepian dan ingin mendengarkan gemiricik teriakan-teriakan hati dan jiwa makhluk yang lemah dan gundah gulana itu.
Selasa, 28 Juni 2016
TIDAK SEMUA KEBENARAN ITU BENAR
Peradaban demi peradaban silih berganti. Berbagai peristiwa besar, perkara, kejadian, semuanya telah terjadi. Tanpa pernah diketahui kapan berhenti, rethinking of world terus terjadi menyegarkan dan memudakan pemikiran tanpa pernah memudakan usia dunia dan seisinya, tak akan mungkin.
Tokoh-tokoh bermunculan, antagonis, protagonis, hitam-putih, kelam kelabu, bahkan yang fiktifpun bisa jadi nyata dan yang nyata bisa jadi fiktif atau seolah-olah fiktif. Alur peradaban yang terdokumentasi baik oleh memori manusiawi (otak) ataupun terpendam dan tercatat pada sebuah batu, daun, atau aset-aset arkeologi lainnya sehingga menghasilkan apa yang dinamakan history, sejarah yang lampau karena yang nanti belum bisa lolos verifikasi dan boleh dikatakan sejarah.
Sejuk hati dan damai ketika kita mendengar sebuah lantunan nada-nada karena pada hakikatnya kitapun nada-nada yang dimainkan suatu sistem yang jika hanya logika saja yang digunakan untuk menebak dirasa tak akan pernah mencapai kulminasi pemahamannya akan sistem itu.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات : 13
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S Al-Hujarat 13)
Kutipan ayat Al-qur'an diatas merupakan ayat yang Bung Karno kutip dalam sebuah pertemuan internasional menjadi salah satu dan yang satu-satunya kepala negara yang mengutip ayat suci Al-qur'an bahkan sekelas negara-negara Islampun saat itu tersalip oleh Bung Karno yang jelas-jelas Indonesia bukanlah negara Islam.
Kita tahu secara heurmeunatik (harfiah) pasti sudah ada bayang-bayang dilogika tentang maksud dan tujuannya dari Tuhan, sungguhpun kita tak boleh mengesampingkan untuk bertanya pada orang-orang ahlinya, dalam hal ini ulama ahli tafsir. Asbabul Nuzul dari ayat ini sungguhlah sangat bernilai pluralis, karena tidak semua yang pluralis haruslah itu pluralisme. Dengan demikian, kita ketahui bahwa kita Indonesia dengan mayoritas beragama Islam dan dengan perbedaan dan kanekaragaman suku bangsa, budaya, dan bahasa, hanya dengan satu perspektif agama saja yang mayoritas di Indonesia memang sudah sewajarnya negeri ini menjadi negeri yang damai dan toleran, sehingga tak jadi salah dan keanehan ketika kita Indonesia dapat bertahan walaupun dengan kebhinekaannya.
Ketika meilhat youtube baru-baru ini saya meilihat sebuah video social experiment di Amerika tentang bagaimana respon dan reaksi warga Amerika Serikat yang terkenal heterogen juga melihat seorang wanita berhijab diganggu oleh pria amerika dengan kata-kata dan perilaku rasis. Hasil video yang aksinya dilakukan dijalan-jalan, tempat-tempat umum, seperti taman dan lainnya ini mengejutkan karena 80% warga disana merespon positif, maksudnya berani melindungi siwanita berhijab oleh pria bahkan disalah satu cuplikan terlihat pria berbadan besar yang mencoba melakukan tindakan agresif untuk proteksinya itu
Ini menandakan alkisah bahwa sebenarnya hati nurani manusia tidak pernah mati, bahkan untuk beberapa orang yang dinegeri kita mereka dihujat-hujat atau kebanyakan kita berpikir mereka menghinakan, merendahkan, mencemoohkan kaum-kaum Muslim selayaknya kita. Ini merupakan dampak dan efek serta konsekuensi dari sebuah era dan arus globalisasi, modernisasi, yang cepat. Maksudnya sebagaimana halnya media yang sekarang mendominasi asupan gizi primer dari infromasi kita, bukan dari masalah benar-salah atau valid atau tidak, tapi seberapa sering organ pendengaran kita bersentuhan dengan informasi itu yang bisa jadi memiliki skenario konspirasi atas produksinya, produksi informasinya. Bukan memprovokasi untuk bagaimana kita bertindak ofensive terhadap media massa tapi ini hanyalah sebuah counter-attack karena apakah hanya media saja yang boleh berhipotesa yang cenderung provokasi-untuk tidak menyebut fitnah yang disengajakan agar meningkatkan nilai jual. Tidak untuk menyalahkan kawan-kawan media karena bisa jadi saya, anda, atau kita jikalau masuk dalam ruang & waktu tersebut samahalnya demikian, karena ini bukan terpusat pada individu tapi kolektifitas dan konektifitas yang memang cenderung ditekan untuk melakukan segala cara untuk memanfaatkan peluang kebebasan pers.
Mari kita kembali kepada kemanusaiaan tadi, atau humanity. Salah satu tokoh kemanusiaan yang saya kagumi adalah Mahatma Gandhi tokoh asal dunia yang menggebrak seluruh dunia dengan pemikiran-pemikiran intelektualnya tentang kemanusiaan, tokoh asal India ini telah banyak menginspirasi tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin, para cendekiawan diseluruh pelosok dunia dengan pemikiran dan track record Gandhi. Seperti pada kutipannya You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean, if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty kurang lebih Gandhi ingin mengatakan Anda tidak harus kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan. Kemanusiaan adalah sebuah lautan; jika sedikit bagiannya kotor, lautan tidak akan menjadi kotor.. Sangat tinggi rasa Gandhi, nuansa-nuansa nuraninya menyentuh alam nilai pemikiran dan formasi keintelektualannya sehingga dia menjadi aktivis kemanusiaan yang terkenal dan terkenang.
Kemanusiaan itu cinta, dan setiap manusia memilikinya. Jika Sujiwo Tejo pernah berkata Tuhan itu bukanlah raja yang memiliki kasih sayang, tapi kasih sayang yang telah meraja sungguh luar biasa bukan berarti kita sedang menginterpretasi Tuhan dengan seenak kita, tapi toh bukankah Tuhan menyukai hambanya yang mencrinya dengan jalan apapun tapi benar-benar memiliki itikad mencari kebenaran ? Saya sebut penjawab yang tak terjawab.
Budayawan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib pernah menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan kita agar benar-benar menjadi manusia sejati, insan sejati, Islam sejati. Pertama, kita sebagai makhluk Tuhan sama dengan yang lainnya hewan, tumbuhan, jin, dll. Kedua, kita sebagai insan atau manusia yang memiliki akal dan diberi gelombang khusus oleh Tuhan agar memiliki pilihan hitam-putih. Ketiga, kita sebagai abdullah atau hamba Allah yang benar-benar telah memiliki Iman akan Tuhan. Terakhir keempat, kita sebagai Khalifatullah filardh, wakil/pemimpin Allah dibumi yang diberi tanggung jawab untuk menjaga bumi dan seisinya. Runtutan dan penjelasan diatas walaupun aga sedikit saja tafsir secara pribadi, tapi inshaAllah tidak menghilangkan daripada esensinya. Sekarang kita tahu bahwa sebelum kita menghamba, sebelum kita menjadi khalifah haruslah dari dasar dulu kita mengetahui bahwa sebenar-benarnya diri kita adalah manusia, sebelum kita over confident untuk merasa telah membela kepentingan Tuhan belajar dan sadari dululah kita manusia atau insan dan tidak hanya sekedar makhluk. Agar tidak ada kasus kemanusiaan karena membela ras, agama, golongan, dll.
Tokoh-tokoh bermunculan, antagonis, protagonis, hitam-putih, kelam kelabu, bahkan yang fiktifpun bisa jadi nyata dan yang nyata bisa jadi fiktif atau seolah-olah fiktif. Alur peradaban yang terdokumentasi baik oleh memori manusiawi (otak) ataupun terpendam dan tercatat pada sebuah batu, daun, atau aset-aset arkeologi lainnya sehingga menghasilkan apa yang dinamakan history, sejarah yang lampau karena yang nanti belum bisa lolos verifikasi dan boleh dikatakan sejarah.
Sejuk hati dan damai ketika kita mendengar sebuah lantunan nada-nada karena pada hakikatnya kitapun nada-nada yang dimainkan suatu sistem yang jika hanya logika saja yang digunakan untuk menebak dirasa tak akan pernah mencapai kulminasi pemahamannya akan sistem itu.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات : 13
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S Al-Hujarat 13)
Kutipan ayat Al-qur'an diatas merupakan ayat yang Bung Karno kutip dalam sebuah pertemuan internasional menjadi salah satu dan yang satu-satunya kepala negara yang mengutip ayat suci Al-qur'an bahkan sekelas negara-negara Islampun saat itu tersalip oleh Bung Karno yang jelas-jelas Indonesia bukanlah negara Islam.
Kita tahu secara heurmeunatik (harfiah) pasti sudah ada bayang-bayang dilogika tentang maksud dan tujuannya dari Tuhan, sungguhpun kita tak boleh mengesampingkan untuk bertanya pada orang-orang ahlinya, dalam hal ini ulama ahli tafsir. Asbabul Nuzul dari ayat ini sungguhlah sangat bernilai pluralis, karena tidak semua yang pluralis haruslah itu pluralisme. Dengan demikian, kita ketahui bahwa kita Indonesia dengan mayoritas beragama Islam dan dengan perbedaan dan kanekaragaman suku bangsa, budaya, dan bahasa, hanya dengan satu perspektif agama saja yang mayoritas di Indonesia memang sudah sewajarnya negeri ini menjadi negeri yang damai dan toleran, sehingga tak jadi salah dan keanehan ketika kita Indonesia dapat bertahan walaupun dengan kebhinekaannya.
Ketika meilhat youtube baru-baru ini saya meilihat sebuah video social experiment di Amerika tentang bagaimana respon dan reaksi warga Amerika Serikat yang terkenal heterogen juga melihat seorang wanita berhijab diganggu oleh pria amerika dengan kata-kata dan perilaku rasis. Hasil video yang aksinya dilakukan dijalan-jalan, tempat-tempat umum, seperti taman dan lainnya ini mengejutkan karena 80% warga disana merespon positif, maksudnya berani melindungi siwanita berhijab oleh pria bahkan disalah satu cuplikan terlihat pria berbadan besar yang mencoba melakukan tindakan agresif untuk proteksinya itu
Ini menandakan alkisah bahwa sebenarnya hati nurani manusia tidak pernah mati, bahkan untuk beberapa orang yang dinegeri kita mereka dihujat-hujat atau kebanyakan kita berpikir mereka menghinakan, merendahkan, mencemoohkan kaum-kaum Muslim selayaknya kita. Ini merupakan dampak dan efek serta konsekuensi dari sebuah era dan arus globalisasi, modernisasi, yang cepat. Maksudnya sebagaimana halnya media yang sekarang mendominasi asupan gizi primer dari infromasi kita, bukan dari masalah benar-salah atau valid atau tidak, tapi seberapa sering organ pendengaran kita bersentuhan dengan informasi itu yang bisa jadi memiliki skenario konspirasi atas produksinya, produksi informasinya. Bukan memprovokasi untuk bagaimana kita bertindak ofensive terhadap media massa tapi ini hanyalah sebuah counter-attack karena apakah hanya media saja yang boleh berhipotesa yang cenderung provokasi-untuk tidak menyebut fitnah yang disengajakan agar meningkatkan nilai jual. Tidak untuk menyalahkan kawan-kawan media karena bisa jadi saya, anda, atau kita jikalau masuk dalam ruang & waktu tersebut samahalnya demikian, karena ini bukan terpusat pada individu tapi kolektifitas dan konektifitas yang memang cenderung ditekan untuk melakukan segala cara untuk memanfaatkan peluang kebebasan pers.
Mari kita kembali kepada kemanusaiaan tadi, atau humanity. Salah satu tokoh kemanusiaan yang saya kagumi adalah Mahatma Gandhi tokoh asal dunia yang menggebrak seluruh dunia dengan pemikiran-pemikiran intelektualnya tentang kemanusiaan, tokoh asal India ini telah banyak menginspirasi tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin, para cendekiawan diseluruh pelosok dunia dengan pemikiran dan track record Gandhi. Seperti pada kutipannya You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean, if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty kurang lebih Gandhi ingin mengatakan Anda tidak harus kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan. Kemanusiaan adalah sebuah lautan; jika sedikit bagiannya kotor, lautan tidak akan menjadi kotor.. Sangat tinggi rasa Gandhi, nuansa-nuansa nuraninya menyentuh alam nilai pemikiran dan formasi keintelektualannya sehingga dia menjadi aktivis kemanusiaan yang terkenal dan terkenang.
Kemanusiaan itu cinta, dan setiap manusia memilikinya. Jika Sujiwo Tejo pernah berkata Tuhan itu bukanlah raja yang memiliki kasih sayang, tapi kasih sayang yang telah meraja sungguh luar biasa bukan berarti kita sedang menginterpretasi Tuhan dengan seenak kita, tapi toh bukankah Tuhan menyukai hambanya yang mencrinya dengan jalan apapun tapi benar-benar memiliki itikad mencari kebenaran ? Saya sebut penjawab yang tak terjawab.
Budayawan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib pernah menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan kita agar benar-benar menjadi manusia sejati, insan sejati, Islam sejati. Pertama, kita sebagai makhluk Tuhan sama dengan yang lainnya hewan, tumbuhan, jin, dll. Kedua, kita sebagai insan atau manusia yang memiliki akal dan diberi gelombang khusus oleh Tuhan agar memiliki pilihan hitam-putih. Ketiga, kita sebagai abdullah atau hamba Allah yang benar-benar telah memiliki Iman akan Tuhan. Terakhir keempat, kita sebagai Khalifatullah filardh, wakil/pemimpin Allah dibumi yang diberi tanggung jawab untuk menjaga bumi dan seisinya. Runtutan dan penjelasan diatas walaupun aga sedikit saja tafsir secara pribadi, tapi inshaAllah tidak menghilangkan daripada esensinya. Sekarang kita tahu bahwa sebelum kita menghamba, sebelum kita menjadi khalifah haruslah dari dasar dulu kita mengetahui bahwa sebenar-benarnya diri kita adalah manusia, sebelum kita over confident untuk merasa telah membela kepentingan Tuhan belajar dan sadari dululah kita manusia atau insan dan tidak hanya sekedar makhluk. Agar tidak ada kasus kemanusiaan karena membela ras, agama, golongan, dll.
Hadis riwayat Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra.:
Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia?. (Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia?. (Shahih Muslim)
Ini merupakan kisah Rasulullah yang membuktikan bahwa gerakan Islam tidak sektetarian, golongan, kelompok, atau ras. Islam itu universal, lihat bagaimana Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia? Bukankah sangat humanity, humanitarian, kita ini ? diperkuat dengan dasar negara kita Pancasila hasil kontemplasi Bung Karno dan dilanjutkan konsensus bersama founding father kita yang memiliki cita-cita dan nilai yang sama.
Kita terlalu takut, terlalu mengkhawatirkan masa depan, bahkan beberapa dari kita kepada orang-orang moderat yang toleran sebagai antek Amerika, antek Yahudi, dll. Selain itu mereka menghubung-hubungkan theosofi yang dulu banyak dianut tokoh kita founding father kita sebagai konsepan yahudi, apakah setiap karya Yahudi benar-benar tak memiliki faedah ? Teknologi yang sekarang dominan kita pegang rata-rata merupakan produk mereka (yahudi), kalaupun benar banyak mudharat, apakah itu pure kesalahan mereka ? Sekarang kalau kita punya hipotesa bahwa segala hasil cipta rasa karya orang yahudi memiliki misi dan daya sifat fasad fil ardhi, apakah kita hibrida miskin produk yang smpai sekarang menjadi kaum yang mayoritas berada pada skala bawah segitiga sosial. Semuanya punya peran masing-masing yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, dimekanisme olehNya, skenario-Nya, kalau kita ingin lari dari takdirNya bisa saja, tapi lari dari takdirNya menuju takdirNya. Selow, kita diberi sangat luas untuk mengeksplorasi kebebasan kita bahkan jika suatu saat jiwa kita kering maka ingatlah setiap polarisasi alam semesta bahkan sifat reaksi dzat adalah kembali ke pusat, kembali pada titik hakikat, kembalilah padaNya.
Tingkatan Cinta, jangan salah engkau menilai Cinta ! Ketertarikan saya membahas ini adalah karena hanya ada ini dialam semesta ini, dihati ini. Untuk semakin mengkuatkan dan membuktikan bahwa kehidupan ini soal rasa atau soal nada dimana kalau sayur asem tidak akan lebih baik dengan pizza sebaliknya juga demikian karena struktur dan konstruksi keduanya berbeda, outputnyapun berbeda. Pohon kelapa tidak lebih tinggi dari jagung karena memang kelapa ditakdirkan untuk begitu dan jagung untuk begitu, tidak bisa diperbandingkan. Dalam civil society haruslah ada yang berperan sebagai gula, ada yang sebagai teh, ada sebagai airnya, saling melengkapi dan membawa pada arus mikro yang unik dan pasti itu sistematikanya. Bahkan yang kita anggap jahat, ya memang jahat tapi bagaimana kita mengambil sisi positif dari kejahatannya, kita tidak boleh benci dia karena kita tak tahu faktor apa yang mendorong dia menjadi demikian. Seorang penyair, novelis, abad 19 asal Inggris Oscar Wilde pernah mengatakan setiap orang belum tentu baik, tetapi selalu ada kebaikan pada setiap
orang. Jangan terlalu cepat menilai seseorang, karena setiap orang suci
pasti punya masa lalu, dan setiap pendosa masih punya masa depan. Orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang didalam hatinya ada Tuhan atau dia ada dihati Tuhan, apapun itu tidak ada masalah bagi Tuhan terlepas akan ada dibenak-benak kita yang akan melirik aneh karena dia tidak seimanlah, apalah, dan judge serta klaim-klaim lain yang menurut saya tidak berdasar untuk kita yang menilai, contoh misal kafir, murtad, pendosa, itu merupakan ukuran dan tolak ukur Tuhan, janji Tuhan jangan dijanjikan manusia. Semisal kalaupun harus dituntut mengungkapkan untuk jadi katalisator mana yang baik mana yang buruk atau penilaian benar-salah, maka haruslah berhati-hati sekali karena mereka punya perasaan dan seharusnya kita yang berucappun menjadi bagian yang seharusnya diukur dan dinilai untuk itu. Letak-letak demikian sukar untuk diuraikan karena bentuknya software bukan hardware letaknya state of mind, halus sekali dan bukan wilayah kita manusia untuk menjangkaunya.
Cinta tak bisa kita pahami hanya dengan gaya berpikir yang akademisi kognitif, karena isi liriknya, lantunannya harus sesuai dengan nada agar terasa indah sejuk frekuensinya. Kalaupun terkadang darah menjadi jaminan Cinta, mungkin itulah artikulasi nada kerasnya, kalaupun harus tak dipandang seperti halnya lagu yang memiliki ingredient yang tak selamanya bersuara ada sisi-sisi dimana ada kesunyian, dinamakan titik sunyi, walau hanya sebentar tapi memiliki peran penting didalamnya, itulah Cinta yang seolah tak dipandang tapi sebenarnya terpandang, hanya saja kita jarang memeditasi diri kita mendengar suara sunyi senyap agar sinyal kita terhubung dan nantinya memiliki relasi, sehingga itulah yang disebut kesempurnaan lagu, kesempurnaan nada, kesempurnaan sensibilitas kepekaan kita. Jelas berarti seni sebagai wasilah Cinta tak bisa diabaikan, karena unsur kimiapun bereaksi dengan seni. Terlepas bagaimana jalan-jalan kehususannya, itukan keunikan.
Mohon dibaca seksama. Pertama, Cinta yang masih melihat wujud, wajah, kulit, label, merk, branded, dll sifatnya sangat egois karena masing-masing akan mengeksploitasi sebesar-besarnya dari objek cintanya untuk dirinya. Kedua, Cinta yang mulai melihat wujud relatif yang mulai berbagi, bukanlah sekedar ekslpoitasi tapi bagaimana berbagi antara siaku dan sidia, saling membalas apa yang diberi satu sama lain. Ketiga, Cinta yang sudah tidak memperdulikan wujud, bukan berarti tak berwujud tapi ada kontrol hawa-nafsu atau syahwat yang mencapai tingkat kulminasi, cinta yang seperti ini sudah tak memperdulikan lagi dibalas atau tidak, terus berkorban, terus inginnya memberi, melindungi, dan lainnya tanpa pernah berpikir meminta balas dari objek cintanya. Seperti itu kurang lebih penjelasan tingkatan Cinta yang saya interpretasi dari reformasi sufistik Jalaludin Rakhmat.
Hidup itu akting, jadi bagaimana kita menjadi aktor yang baik, tak peduli apa yang dikatakan orang. Hidup itu harmoni sebenarnya walau mata lahir kita memandang begitu banyak paradoks terjadi. Selayaknya ketika Ulama Muhammadiyah Prof.Dr. Buya Hamka dipenjarakan pemerintahan Ir.Soekarno sejarah mencatat demikian, dan ketika itu seolah-olah Soekarno menjadi tokoh antagonis dengan sikapnya yang memenjarakan tanpa alasan Buya Hamka, tapi hikmah nya Buya Hamka bisa lebih fokus menyelesaikan dan merampungkan buku/kitab tafsir Al-azharnya didalam penjara, dan kalau ketika selalu positive thinking sudah pastilah Buya Hamka akan melihat sisi baik dari segala bentuk kelakuan dari sang putra fajar Bung Karno, ada hikmah dibalik itu semua, sampai-sampai dijenazah Bung Karnopun dishalatkan oleh Buya Hamka, ini suatu skenario peran yang sangat melankolis-filantropi dan memiliki daya aura romantika dalam mekanisme kehidupan mereka berdua. Pastinya, dari perjalanan historis keduanya ada campur tangan-intervensi Tuhan didalamnya itu sudah pasti dan hakiki, apapun yang terjadi, kembali tadi itu kita lari dari takdir menuju takdir lainnya. Begitupun ada saat-saat Buya Hamka menjadi tokoh antagonis, ketika dahulu Hamka menjadi salah satu ulama yang sangat bertentangan dengan ulama-ulama tradisional, tapi ketika menjelas usia tuanya Hamka justru menjadi lebih lentur, fleksibel, bahkan dia datang ke acara-acara yang dulu dia tentang dan kata-katanya yang menginspirasi adalah dulu saya baru baca satu kitab, sekarang sudah baca seribu kitab begitu luar biasa seorang pencari kebenaran bukanlah yang berhenti dan mengklaim diri benar tapi sampai kapanpun terus mencari bahkan juga untuk hal-hal yang bertentangan dengannya. Itulah sisi dimana kita bisajadi malaikat sedetik kemudian menjadi iblis, atau rentetan kehidupan kita yang demikian. Lebih jauh, haruslah kita berpikir untuk tidak hanya dunia ini, maksudnya senang dan indah sekali imaji kita membayangkan konsepsi kehidupan kita 1000 tahun atau dalam keabadian, dan sangat lucu kalau kita memprediksi kita hanya 50-80 tahun hidup kita ini, untuk jasad bisa jadi demikian, karena yang hidup bukan jasad, maka dari itu yang sangat layak dicintai bukan sekedar jasad jasmani, tapi jiwa yang berarti.
Intinya semuanya baik, hanya berbeda ukuran ranah nilai objek kebaikannya. Misalnya yang korupsi mungkin objek kebaikannya adalah untuk diri sendiri, keluarga, golongannya, belum universal, belum holistik ranah karya objeknya. Dan, tingkatan-tingkatannya seterusnya sampai menuju puncak kebaikan dan puncak itu bukan kita makhluk yang mengetahui dan berhak menilai. Menurut Gramsci, untuk menambal kewajiban-kewajiban negara yang tidak terpenuhi adalah kita sebagai warga negaranya yang mampu dari segi tenaga, intelektual, bahkan materi. Jadi, untuk mengevolusi kedepan lebih baik tunaikan saja dulu kewajiban kita semaksimalnya tuntutlah hak kita kepada Tuhan.
Dalam adat Jawa kuno ada istilah kata-kata adalah sampah seusai terurai dari yang mengungkapkannya, agar dia tidak menjadi sampah maka pembaca-pembacalah yang memiliki tanggung jawab agar kata itu bisa didefinisi masing-masing dialam sanubarinya sehingga kata ini tidak hanya menjadi formalitas isi tapi benar-benar menjadi fathasyhur fil ardhi bertebaran dimuka bumi dan menjadi hal atau molekul-molekul kehidupan penggerak evolusi sebelum revolusi menuju yang lebih baik, walau tanpa disadari dicerna dimakan dan menjadi formasi keintelektualan kawan-kawan, rekan-rekan pembaca dekemudian hari, walau hanya setitik. Terimakasih. Wasalamualaikum Wr Wb
Rabu, 25 Mei 2016
ASSALAMUALAIKUM NON FORMAL UNTIRTA
Dimensi realitas sudah sejak lama menjadi perdebatan, ataupun boleh dikatakan dikomparasikan dengan setiap opini-opini tokoh ataupun manusia-manusia yang memang berusaha menerjemahkan, menginterpretasikan setiap apa yang dilihat secara lahiriah dan dipadukan dengan kekuatan rasionalitas akal dan menjadi perpaduan sintesa yang menarik untuk dijadikan bagian dari referensi ilmu yang tergabung bahkan bisa jadi disfusi menjadi beberapa cabang humaniora baru. Ekuilibrium dalam internal jiwa ruhaniyah insan yang terjadi menjadikan keseimbangan yang justru kurang melahirkan dan memproduksi daya kreatifitas inovasi jiwa yang terstimulus oleh motivasi karena keadaan yang tertekan dan pressure tinggi dilingkungannya. Wejangan Tan Malaka adalah terbentur terbentur terbentur, terbentuk merupakan satu dari sekian ribu atau juta kata yang terkadang sulit untuk diimplementasikan dan menjadikan barang yang faktual dan bersifat empiris.
Alhamdulillahnya, dinegeri kita tercinta ini Indonesia sudah sejak masa lampau dulu memiliki dinamika yang unik telah memberikan kita gambaran bahwa negeri yang penuh dinamika bukan berarti negeri yang salah dan tidak diberkahi rahmat oleh Tuhannya. Filosofi Kopi yang beberapa saat lalu menjadi hal yang menarik diperbincangan seakan telah membuka mata hati kita bahwa begitu kayanya seni Nusantara ini. Kata tokoh agama Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Reformasi Sufisme salah satu sesuatu yang lucu diIndonesia-untuk tidak menyebut itu masalah, adalah adanya "aturan air kopi" yang terjadi hampir disetiap sektor kemasyarakatan dan kebirokrasian. Adanya "aturan air kopi" yaitu ketika kopi terasa enak maka orang akan mengatakan "kopi ini enak" intinya mendapat pujian. Bila dirasa kurang enak, orang berkata, "Gulanya kurang". Justru gulanya yang disalahkan bukan kopinya kembali. Bukan bermaksud menyalahkan kebiasaan aturan main kopi, tapi lebih kepada kita menjadikan itu acuan akan penggambaran yang terjadi dalam keadaan ruang & waktu masyarakat dinusantara sesuai realita sekarang. Jadi maksudnya, adanya lempar-lemparan tanggung jawab oleh pemangku tanggung jawab.
Lebih spesifik, sebenarnya yang ingin saya maksud dalam tulisan ini adalah lebih kepada getaran jiwa setelah analisis sedalam mungkin, sehati-hati mungkin, mencoba fusi antara jiwa dan akal. Saya mungkin akan lebih tertarik dengan objek spesifik dalam skala mikro yang langsung bersentuhan dengan kesadaran saya pribadi atau mungkin yang sedang jadi barang atau ruang dimana saya beraktualisasi dan sudah seharusnya saya ikut merasa bertanggung jawab akan kelemahan-kelemahan yang sekarang terjadi tanpa memungkiri perkembangannya. Dalam hal ini, jurusan saya Pendidikan Luar Sekolah. Ya, itulah jurusan disalah satu perguruan tinggi yang memang memiliki historis yang membingungkan tentang asbabul nuzul nya. Bahkan sadar saya pernah berdialog dengan bagian sadar yang lain dihati dan pikiran saya tentang jurusan ini yang menghasilkan konsesus bahwa jurusan saya bukanlah humaniora, bukanlah ilmu yang benar-benar ilmu yang disepakati ilmuwan dunia yang telah pas dijadikan jurusan spesialisasi dipendidikan dunia. Pikir saya karena sebuah jurusan haruslah bisa menembus verifikasi sebagai humaniora bukan sebatas program, beda humaniora dan program. Ini untuk perenungan bersama saja, bahwa yang dinamakan program itu adalah satu bentuk paket konsepsi maupun pra-konsepsi yang instrumen didalamnya lahir daripada ilmu ilmu sainstek atau soshum atas wasilah orang-orang yang belajar akan ilmu itu. Dan, dirasa setelah berdendang dengan teman seangkatan, senior-senior, atau bahkan adik tingkat dapat disimpulkan PLS(Pendidikan Luar Sekolah) memiliki indikator-indikator yang tepat untuk dimasukan sebagai hanya program dan bukan jurusan.
Terjadi sebagai realita yang faktual adalah mahasiswa-mahasiswa yang kebingungan akan kemana mereka, atau bahkan pengekspresian akan jurusannya yang menurut saya kurang tepat. Contoh, menyempitkan pemahaman akan PLS yang sering dikatakan Non Formal Education yang justru seharusnya memang benar-benar luas secara ekspansi, secara wawasan, secara praktek sebagai praktisi. Terlalu bermain akan politik praktis dalam konstelasi politik dikampus yang memperebutkan jabatan intra kampus, itu merupakan kerugian selain daripada keindahan yang perlu diaspiratif. Disfungsional ini terjadi karena faktor sikap ekslusif yang membuat gagasan-gagasan baru dianggap tabu dan sulit masuk, justru ketika gagasan tersebut dikemukakan benar-benar diniatkan membantu perubahan berkemajuan dalam tubuh internal jurusan, secara general bukan hanya untuk organisasi internalnya tapi masyarakat mahasiswa PLS umumnya. Ini sudah kronis, miris, dan krisis untuk bagaimana mendandakan ada sistem yang salah meskipun tanpa legal-formal tertulis tapi secara kultural telah mengakar dan menjadi budaya yang dibudidayakan.
Sebagai perumpamaan saja, ketika kita kecil kita begitu bangga dan mengerti akan Pancasila akan pelajaran moral, etik, kemanusiaan dan lain-lain yang jelas-jelas telah dikonsepkan oleh founding father bangsa kita dulu menjadi bagian daripada instrumen dasar negara, yaitu Pancasila. Pancasila yang abadi, amin. Tapi justru sekarang setelah melewati teori kedewasaan tahu akan ilmu dan pengalaman baru, dalam prosesnya dilapangan, dikampus, dalam bertindak, bersifat, sikap menyikapi, seolah-olah kita lupa akan nilai-nilai dasar kemanusiaan bahkan kebangsaan itu sendiri. Perpeloncoan, kita yang menentang imprealisme atau kolonialisme tapi justru cara edukasi kita dengan cara yang sama, penghinaan nama, martabat, dan berikan pesimisme pada adik-adik mahasiswanya. Ya, apa mungkin mereka pengidola tokoh Schopenhauer ? sebagai pelopor ajaran pesimisme. Lupa nilai dasar, padahal tak ada bangunan tanpa pondasi yang dalam analogi ini pondasi sebagai nilai dasar tadi, rasa kemanusiaan, kebangsaan, dll. Luntur terhina dinakan dekandensi moral yang makar terjadi dikalangan pelajar pejuang pemikir yang biasa kita sebut mahasiswa sudah menjadi akut, sekali lagi saya katakan akut bahkan kronis. Kalau anda pembaca ingin hal yang kongkret sesuai kenyataan, bayangkan saja ketika pemilu pasti akan ada keadaan-keadaan dimana kemanusiaan dilupakan, pondasi tadi dilupakan, nilai dasar tadi terlupakan. Itulah yang efek yang pasti terjadi ketika berpolitik praktis. Musuh dijatuhkan dengan cara apapun, bagaimana permainan diinternal pemilihan, dsb. Wallahualam.
Bismillah. Bukankah Tuhan pernah berkata "Carilah aku ditengah-tengah orang yang hancur hatinya"? Ya resapi saja, ingat analisis ini saya lakukan seobjektif mungkin dari berbagai referensi manusia, teori, komparasi dengan realita-realita lain dijurusan lain, dipenjuru dunia lain, dan lain sebagainya. Ikhtiar yang masih kurang dirasa. Ingat juga rekan-rekan sekalian pembeda antara analisis dan berteori !!! Kurang elegan rasanya kita berikan gelar-gelar buruk atau sentimentil bagi rekan kita yang sering memberikan gagasannya, mereka tidak banyak bicara, mereka hanya ingin berkontribusi, buktinya ketika hari biasa apakah mulutnya sering berbusa untuk berbicara hal-hal sampah? disini kritik otokritik saja.
Kaum-kaum dinusantara saja memang telah ditakdirkan untuk sebuah kebhinekaan, jadi seharusnya jangan tabu dengan kebhinekaan didekat tempat kita. Baik berbeda ras, suku, budaya, agama, pemikiran, pendapat, dan lain sebagainya. 1+4=5 sama halnya 2+3=5, disini secara tematis bisa kita belajar darinya untuk saling menghargai perbedaan karena pada intinya tujuannya sama, tinggal mana yang terbaik dan termudah tinggal didiskusikan tanpa adanya paksaan, harus demokratis. Demokrasi itu laa roibafiih. Tidak ada keraguan didalamnya. Kita terlalu berfantasi dengan utopia yang pada akhirnya menimbulkan euforia yang hanya memperjuangkan kulit-kulit epidermis daripada nilai-nilai substansial esensial dalam jurusan kita, Pendidikan Luar Sekolah, karena walau bagaimanapun saya berkeyakinan dan optimis masih ada celah dimana jurusan ini dapat bertahan dengan segala kekontroversialannya. Asalkan mau berdiskusi, membaca, mengkaji, menelaah, dll. Kita selalu ingin redaksi "Pendidikan non formal" selalu terpampang disetiap program, yang justru menurut saya kita masih bisa melakukan lebih daripada itu, ada nilai yang masih bisa diusahakan walau agresif-eksploitatif bentuknya bisa menghasilkan hal yang lebih besar kemanfaatannya. Kita kaji saja, ketika kita mengadakan program yang redaksinya "non formal" pasti masyarakat mahasiswa secara luas kurang berminat dan kurang menarik akan pembahasannya, walau katanya non formal itu luas. Tapi ketika program tidak dilabeli redaksi "non formal" jadi lebih membahas isu yang nyata dan menyentuh kesadaran masyarakat akademisi ataupun yang lainnya secara luas, pasti yang akan datang tidak hanya dari jurusan PLS sesuai apa yang kita yakini angle of education harus jadi malaikat, harus jadi penerang bagi seluruh masyarakat, bukan untuk memprogrami atau mengajari main bola kepada pemain bola. Saya maksudkan, kalau kita membuat acara misal Seminar yang peluangnya luas justru harus yang datangnya masyarakat PLS dengan pembahasan PLS juga, merugi rasanya, kembali lagi seolah-olah mengajarkan bebek berenang.
Intinya bukan bermaksud untuk bagaimana menghilangkan, melepaskan, difusi hal-hal yang berbau PLS/Pendidikan non formal dari program-program jurusan. Tapi saya maksudkan ekspansi kita harus luas, harus nyata, tidak memutar-mutar statis disatu tempat saja. Harus ingat perjuangan pendidikan luar sekolah tidak harus dengan label pendidikan luar sekolah, yang terpenting nilai-nilai dan cita-cita luhur pendidikan luar sekolah dapat diperjuangkan bahkan didapatkan. Saya pikir objeknya bukan hanya orang-orang PLS untuk memperjuangkan PLS, untuk membuktikan dan pembuktian bahwa PLS itu luas dan korelasinya menyangkut hajat hidup orang banyak, generasi selanjutnya. Khawatirnya saya.. akan ada suatu masa nantinya dimana PLS hanya diperjuangkan label-labelnya saja, wadah-wadahnya saja, kulit-kulitnya saja, oleh generasi penerusnya. Dan, poros perhatian akan perjuangan didalam mindshetnya hanya berkenaan tentang raganya atau bagaimana dirinya nanti kerja, dan dapat hidup dari PLS. Padahal PLS itu adalah orang-orang yang memang dengan ikhlas melepaskan poros perhatiannya akan dirinya sendiri untuk memperhatikan orang lain, untuk masyarakat.
Lailahailallah. Tidak ada Tuhan selain daripada Tuhan itu sendiri, kalimat Tauhid yang coba dimodifikasi Nurcholish Madjid ini bisa jadi renungan kita bahwa walau nama Ilallah Allah azza wa jalla tidak dia kutip lagi dari terjemahan secara subjektif dia tapi sebenarnya tek mengurangi sejengkalpun esensi didalamnya, Nurcholis atau Cak Nur dalam hal ini hanya mencoba mensyiarkan dengan cara berbeda supaya diterima semua manusia secara keseluruhan karena pada hakikatnya kita manusia punya Tuhan yang sama.
Sebagai penutup mungkin saya akan menguti kata-kata Gus Dur "Jika kamu berbuat baik, orang lain tidak akan tanya agamamu" saya modifikasi untuk rekan-rekan PLS "Jika kamu berbuat baik, orang tidak akan tanya jurusanmu". Terimakasi sebelumnya kurangnya saya mohon maaf, lebihnya semoga bermanfaat.
Wallahulmuafiq ila aqwa mitoriq
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Alhamdulillahnya, dinegeri kita tercinta ini Indonesia sudah sejak masa lampau dulu memiliki dinamika yang unik telah memberikan kita gambaran bahwa negeri yang penuh dinamika bukan berarti negeri yang salah dan tidak diberkahi rahmat oleh Tuhannya. Filosofi Kopi yang beberapa saat lalu menjadi hal yang menarik diperbincangan seakan telah membuka mata hati kita bahwa begitu kayanya seni Nusantara ini. Kata tokoh agama Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Reformasi Sufisme salah satu sesuatu yang lucu diIndonesia-untuk tidak menyebut itu masalah, adalah adanya "aturan air kopi" yang terjadi hampir disetiap sektor kemasyarakatan dan kebirokrasian. Adanya "aturan air kopi" yaitu ketika kopi terasa enak maka orang akan mengatakan "kopi ini enak" intinya mendapat pujian. Bila dirasa kurang enak, orang berkata, "Gulanya kurang". Justru gulanya yang disalahkan bukan kopinya kembali. Bukan bermaksud menyalahkan kebiasaan aturan main kopi, tapi lebih kepada kita menjadikan itu acuan akan penggambaran yang terjadi dalam keadaan ruang & waktu masyarakat dinusantara sesuai realita sekarang. Jadi maksudnya, adanya lempar-lemparan tanggung jawab oleh pemangku tanggung jawab.
Lebih spesifik, sebenarnya yang ingin saya maksud dalam tulisan ini adalah lebih kepada getaran jiwa setelah analisis sedalam mungkin, sehati-hati mungkin, mencoba fusi antara jiwa dan akal. Saya mungkin akan lebih tertarik dengan objek spesifik dalam skala mikro yang langsung bersentuhan dengan kesadaran saya pribadi atau mungkin yang sedang jadi barang atau ruang dimana saya beraktualisasi dan sudah seharusnya saya ikut merasa bertanggung jawab akan kelemahan-kelemahan yang sekarang terjadi tanpa memungkiri perkembangannya. Dalam hal ini, jurusan saya Pendidikan Luar Sekolah. Ya, itulah jurusan disalah satu perguruan tinggi yang memang memiliki historis yang membingungkan tentang asbabul nuzul nya. Bahkan sadar saya pernah berdialog dengan bagian sadar yang lain dihati dan pikiran saya tentang jurusan ini yang menghasilkan konsesus bahwa jurusan saya bukanlah humaniora, bukanlah ilmu yang benar-benar ilmu yang disepakati ilmuwan dunia yang telah pas dijadikan jurusan spesialisasi dipendidikan dunia. Pikir saya karena sebuah jurusan haruslah bisa menembus verifikasi sebagai humaniora bukan sebatas program, beda humaniora dan program. Ini untuk perenungan bersama saja, bahwa yang dinamakan program itu adalah satu bentuk paket konsepsi maupun pra-konsepsi yang instrumen didalamnya lahir daripada ilmu ilmu sainstek atau soshum atas wasilah orang-orang yang belajar akan ilmu itu. Dan, dirasa setelah berdendang dengan teman seangkatan, senior-senior, atau bahkan adik tingkat dapat disimpulkan PLS(Pendidikan Luar Sekolah) memiliki indikator-indikator yang tepat untuk dimasukan sebagai hanya program dan bukan jurusan.
Terjadi sebagai realita yang faktual adalah mahasiswa-mahasiswa yang kebingungan akan kemana mereka, atau bahkan pengekspresian akan jurusannya yang menurut saya kurang tepat. Contoh, menyempitkan pemahaman akan PLS yang sering dikatakan Non Formal Education yang justru seharusnya memang benar-benar luas secara ekspansi, secara wawasan, secara praktek sebagai praktisi. Terlalu bermain akan politik praktis dalam konstelasi politik dikampus yang memperebutkan jabatan intra kampus, itu merupakan kerugian selain daripada keindahan yang perlu diaspiratif. Disfungsional ini terjadi karena faktor sikap ekslusif yang membuat gagasan-gagasan baru dianggap tabu dan sulit masuk, justru ketika gagasan tersebut dikemukakan benar-benar diniatkan membantu perubahan berkemajuan dalam tubuh internal jurusan, secara general bukan hanya untuk organisasi internalnya tapi masyarakat mahasiswa PLS umumnya. Ini sudah kronis, miris, dan krisis untuk bagaimana mendandakan ada sistem yang salah meskipun tanpa legal-formal tertulis tapi secara kultural telah mengakar dan menjadi budaya yang dibudidayakan.
Sebagai perumpamaan saja, ketika kita kecil kita begitu bangga dan mengerti akan Pancasila akan pelajaran moral, etik, kemanusiaan dan lain-lain yang jelas-jelas telah dikonsepkan oleh founding father bangsa kita dulu menjadi bagian daripada instrumen dasar negara, yaitu Pancasila. Pancasila yang abadi, amin. Tapi justru sekarang setelah melewati teori kedewasaan tahu akan ilmu dan pengalaman baru, dalam prosesnya dilapangan, dikampus, dalam bertindak, bersifat, sikap menyikapi, seolah-olah kita lupa akan nilai-nilai dasar kemanusiaan bahkan kebangsaan itu sendiri. Perpeloncoan, kita yang menentang imprealisme atau kolonialisme tapi justru cara edukasi kita dengan cara yang sama, penghinaan nama, martabat, dan berikan pesimisme pada adik-adik mahasiswanya. Ya, apa mungkin mereka pengidola tokoh Schopenhauer ? sebagai pelopor ajaran pesimisme. Lupa nilai dasar, padahal tak ada bangunan tanpa pondasi yang dalam analogi ini pondasi sebagai nilai dasar tadi, rasa kemanusiaan, kebangsaan, dll. Luntur terhina dinakan dekandensi moral yang makar terjadi dikalangan pelajar pejuang pemikir yang biasa kita sebut mahasiswa sudah menjadi akut, sekali lagi saya katakan akut bahkan kronis. Kalau anda pembaca ingin hal yang kongkret sesuai kenyataan, bayangkan saja ketika pemilu pasti akan ada keadaan-keadaan dimana kemanusiaan dilupakan, pondasi tadi dilupakan, nilai dasar tadi terlupakan. Itulah yang efek yang pasti terjadi ketika berpolitik praktis. Musuh dijatuhkan dengan cara apapun, bagaimana permainan diinternal pemilihan, dsb. Wallahualam.
Bismillah. Bukankah Tuhan pernah berkata "Carilah aku ditengah-tengah orang yang hancur hatinya"? Ya resapi saja, ingat analisis ini saya lakukan seobjektif mungkin dari berbagai referensi manusia, teori, komparasi dengan realita-realita lain dijurusan lain, dipenjuru dunia lain, dan lain sebagainya. Ikhtiar yang masih kurang dirasa. Ingat juga rekan-rekan sekalian pembeda antara analisis dan berteori !!! Kurang elegan rasanya kita berikan gelar-gelar buruk atau sentimentil bagi rekan kita yang sering memberikan gagasannya, mereka tidak banyak bicara, mereka hanya ingin berkontribusi, buktinya ketika hari biasa apakah mulutnya sering berbusa untuk berbicara hal-hal sampah? disini kritik otokritik saja.
Kaum-kaum dinusantara saja memang telah ditakdirkan untuk sebuah kebhinekaan, jadi seharusnya jangan tabu dengan kebhinekaan didekat tempat kita. Baik berbeda ras, suku, budaya, agama, pemikiran, pendapat, dan lain sebagainya. 1+4=5 sama halnya 2+3=5, disini secara tematis bisa kita belajar darinya untuk saling menghargai perbedaan karena pada intinya tujuannya sama, tinggal mana yang terbaik dan termudah tinggal didiskusikan tanpa adanya paksaan, harus demokratis. Demokrasi itu laa roibafiih. Tidak ada keraguan didalamnya. Kita terlalu berfantasi dengan utopia yang pada akhirnya menimbulkan euforia yang hanya memperjuangkan kulit-kulit epidermis daripada nilai-nilai substansial esensial dalam jurusan kita, Pendidikan Luar Sekolah, karena walau bagaimanapun saya berkeyakinan dan optimis masih ada celah dimana jurusan ini dapat bertahan dengan segala kekontroversialannya. Asalkan mau berdiskusi, membaca, mengkaji, menelaah, dll. Kita selalu ingin redaksi "Pendidikan non formal" selalu terpampang disetiap program, yang justru menurut saya kita masih bisa melakukan lebih daripada itu, ada nilai yang masih bisa diusahakan walau agresif-eksploitatif bentuknya bisa menghasilkan hal yang lebih besar kemanfaatannya. Kita kaji saja, ketika kita mengadakan program yang redaksinya "non formal" pasti masyarakat mahasiswa secara luas kurang berminat dan kurang menarik akan pembahasannya, walau katanya non formal itu luas. Tapi ketika program tidak dilabeli redaksi "non formal" jadi lebih membahas isu yang nyata dan menyentuh kesadaran masyarakat akademisi ataupun yang lainnya secara luas, pasti yang akan datang tidak hanya dari jurusan PLS sesuai apa yang kita yakini angle of education harus jadi malaikat, harus jadi penerang bagi seluruh masyarakat, bukan untuk memprogrami atau mengajari main bola kepada pemain bola. Saya maksudkan, kalau kita membuat acara misal Seminar yang peluangnya luas justru harus yang datangnya masyarakat PLS dengan pembahasan PLS juga, merugi rasanya, kembali lagi seolah-olah mengajarkan bebek berenang.
Intinya bukan bermaksud untuk bagaimana menghilangkan, melepaskan, difusi hal-hal yang berbau PLS/Pendidikan non formal dari program-program jurusan. Tapi saya maksudkan ekspansi kita harus luas, harus nyata, tidak memutar-mutar statis disatu tempat saja. Harus ingat perjuangan pendidikan luar sekolah tidak harus dengan label pendidikan luar sekolah, yang terpenting nilai-nilai dan cita-cita luhur pendidikan luar sekolah dapat diperjuangkan bahkan didapatkan. Saya pikir objeknya bukan hanya orang-orang PLS untuk memperjuangkan PLS, untuk membuktikan dan pembuktian bahwa PLS itu luas dan korelasinya menyangkut hajat hidup orang banyak, generasi selanjutnya. Khawatirnya saya.. akan ada suatu masa nantinya dimana PLS hanya diperjuangkan label-labelnya saja, wadah-wadahnya saja, kulit-kulitnya saja, oleh generasi penerusnya. Dan, poros perhatian akan perjuangan didalam mindshetnya hanya berkenaan tentang raganya atau bagaimana dirinya nanti kerja, dan dapat hidup dari PLS. Padahal PLS itu adalah orang-orang yang memang dengan ikhlas melepaskan poros perhatiannya akan dirinya sendiri untuk memperhatikan orang lain, untuk masyarakat.
Lailahailallah. Tidak ada Tuhan selain daripada Tuhan itu sendiri, kalimat Tauhid yang coba dimodifikasi Nurcholish Madjid ini bisa jadi renungan kita bahwa walau nama Ilallah Allah azza wa jalla tidak dia kutip lagi dari terjemahan secara subjektif dia tapi sebenarnya tek mengurangi sejengkalpun esensi didalamnya, Nurcholis atau Cak Nur dalam hal ini hanya mencoba mensyiarkan dengan cara berbeda supaya diterima semua manusia secara keseluruhan karena pada hakikatnya kita manusia punya Tuhan yang sama.
Sebagai penutup mungkin saya akan menguti kata-kata Gus Dur "Jika kamu berbuat baik, orang lain tidak akan tanya agamamu" saya modifikasi untuk rekan-rekan PLS "Jika kamu berbuat baik, orang tidak akan tanya jurusanmu". Terimakasi sebelumnya kurangnya saya mohon maaf, lebihnya semoga bermanfaat.
Wallahulmuafiq ila aqwa mitoriq
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Senin, 18 April 2016
PERAN AKTIVIS AKAN PENDIDIKAN UNTUK TIDAK HANYA PEMBEDAKAN
Kata sekolah berasal dari bahasa Yunani
yaitu skho·le´ yang berarti "waktu terluang". Namun dapat
juga diartikan menggunakan waktu luang untuk kegiatan belajar. Belakangan kata
ini digunakan untuk menunjukkan tempat diselenggarakan kegiatan belajar. Memang
pada masa awal kegiatan belajar di tempat khusus seperti ini hanya bisa
dinikmati oleh golongan kaya di Yunani. Demikian juga pada zaman dahulu di
negeri-negeri lainnya, kegiatan belajar di sekolah hanya bisa dinikmati oleh
golongan elit saja.
Terlepas sejarahnya bagaimana, tapi jika kita fokuskan pada defenisi secara bahasa diatas skho-le yang berarti "waktu terluang", kita analisis dengan kondisi sekolah dewasa ini yang memang sekolah seolah sudah menjadi barang dan aktivitas yang sifatnya prioritas paling utama dalam dimensi pendidikan. Dan, dominasi waktu kegiatan peserta didik hampir dihabiskan disekolah, terkhusus kita memandang pendidikan yang ada di Indonesia. Konsepsi pendidikan Indonesia yang didasari oleh UU No 23 tahun 2003 tentang pemetaan antara non formal, informal, dan formal belum mencapai titik kohesi yang sinergitasnya dapat menunjang output daripada yang diinginkan pendidikan Indonesia.
Saya sebagai mahasiswa merasakan adanya ketimpangan dan kesenjangan yang akhirnya menimbulkan sebuah gap antara kehidupan diinstansi pendidikan sebagai peserta didik dan civil society sebagai individu yang bermasyarakat. Ini menurut saya sudah urgent untuk dibahas sebagai salah satu topik issue permasalahan pendidikan Indonesia dewasa ini lebih spesifik dipendidikan instansi formal yaitu sekolah. Sekolah formal yang pada hakikatnya memiliki tujuan untuk memproduksi peserta didik yang dapat menunjang dan menjadi individu yang produktif yang berguna bagi bangsa, negara, maupun agama tentunya. Hal-hal tersebut haruslah melalui jalan atau jalur yang pastinya bakal berinteraksi dengan kehidupan bermasyarakat yang nyata, sedangkan faktanya sekolah justru seolah-olah kegiatannya dikotomis dengan kegiatan aktivitas nyata masyarakat. Itu menyebabkan, peserta didik sebagai objek pendidikan kadang memiliki masalah dengan masyarakatnya sendiri akibat dari korelasinya dengan sekolah.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk bagaimana peserta didik secara luas untuk tidak bersekolah, tulisan saya ini justru bermaksud mengajak peserta didik memiliki kepekaan akan cara sikap menyikapinya hasil dari sekolah itu sendiri. Data fakta kongkret lainnya yang menurut saya jadi salah satu hal sabab-muasab terjadinya masalah adalah waktu masuk kegiatan belajar mengajar yang terlalu dini, terlalu panjang atau lama, dll. Misal, waktu KBM yang terlalu awal itu membuat peserta didik tidak memiliki waktu yang panjang untuk berolahraga dipagi hari. Hal-hal kecil semacam ini yang sering kali tidak diperhatikan, padahal memiliki efek yang sangat luas.
Kooptasi disekolah oleh beberapa guru atau pendidik kepada para peserta didik menimbulkan daya inovasi kreatifitas mereka yang tidak tereksplor, bahkan yang lebih berbahaya ketika peserta didik sudah tidak dapat dibendung kehausan akan ekspresi kreatifitasnya yang terpendam membuat jalur atau jalan yang ditempuh berujung pada hal-hal subversif. Tidak serta merta hanya sebuah kalimat, tapi data atau fakta dilapangan dapat kita tinjau ulang untuk analisi, hal-hal subversif yang dilakukan peserta didik seperti tawuran, perkaliahan, tawuran massal antar sekolah, sex bebas, dan masih banyak lagi, itu merupakan bentuk cermin ekspresi mereka yang tidak terwadahi oleh hal positif sehingga kebanyakan yang dipublis oleh mereka tendensinya negatif. Saya juga menyadari tidak hanya semua yang negatif saja disekolah, banyak peserta didik berprestasi, lomba-lomba positif, dan lain sebagainya hanya saja saya ingin lebih mendalami sisi kekurangan agar kita semua dapat benar-benar mengontemplasi hasil-hasil sekolah untuk dievaluasi bersama berkelanjutan dan berkemajuan.
Tidak ingin terlalu banyak untuk terus meng'ghibah'i pendidikan sekolah formal siIndonesia, bukan karena apa-apa, bukan takut juga, tapi tidak akan selesai dalam 1 tahun saya untuk dapat menuliskan perkara-perkara yang perlu adanya resolusi dan juga reinterpretasi kembali akan makna dasar dan tujuan sebenarnya diadakannya sekolah.
Tokoh-tokoh besar dunia dan dapat merubah dunia justru beberapa diantaranya yang tidak bersekolah formal malah memiliki peranan strategis dalam perubahan dunia. Entah itu didimensi pendidikan, ideologi, pemikiran, bahkan science-technology mereka berkarya. Selain daripada tokoh klasik seperti Thomas Alva Edison, Abraham Lincoln, Socrates, bahkan ulama-ulama muslim klasik bukanlah hasil dari produksi metabolisme pendidikan formal persekolahan. Tokoh-tokoh sukses yang tidak bersekolah dan hanya mengecap pendidikan non formal modern ini diantaranya Walt Disney, Mark Zuckerberg, Bill Gates, meski beberapa orang ini pernah berkuliah tapi substansinya tokoh ini sukses oleh peran eskternal dalam diri mereka yang barang tentu berhulu dari pendidikan-pendidikan non formal baik berwadah ataupun otodidak.
Kearifan lokal kita dengan wadah-wadah pendidikan yang sangat meluas banyak, baik yang modern bahkan tradisional merupakan warisan pendidikan yang luar biasa dengan sudah menghasilkan berpuluh-puluh, beratus-ratus, bahkan berjuta-juta tokoh Indonesia atau orang Indonesia yang memiliki bakat dan etos kerja serta potensi yang termaksimalkan eksploitasinya diberbagai bidang dan sektor. Negara Indonesia yang saat ini mulai menapaki masa-masa yang maju dari segi pembangunan, tapi masih subhat atau ambigu apa darimana siapa yang melatar belakangi serta motif apa sehingga pembangunan di Indonesia seolah-olah harus cepat, dalam hal ini adalah infrastruktur. Sedangkan SDM atau kualitas individu manusia Indonesia yang belum merata antara Sabang sampai Merauke tidak diprioritaskan, kembali dalam hal ini pendidikan. Segala bentuk pembangunan yang memiliki titik pusat polarisasi sebagai ordinat sudah barang tentu adalah Pendidikan, bagaimana bentuk pendidikannya skala mana yang diprioritaskan untuk dimajukan dan dikembangkan merupakan perkara atau hal yang harus menjadi bentuk perumusan bersama sebagai konsepsi Indonesia yang mengedepankan nasionalisasi bukan sektarian, primordial, dan dimensi sempit lainnya.
Skala tonggak bahan kenapa saya selalu menulis pendidikan yang harus dikedepankan baik itu modern ataupun tradisional bahkan fusi diantara keduanya dikarenakan faktor dimana pendidikan merupakan ordinat dan bukanlah sebuah sub-ordinat. Dan, order yang saya berikan tentang pendidikan itu terkhusus bagi kalangan aktivis mahasiswa sebagai komponen masyarakat yang harus benar-benar serus dalam mengabdikan dalam memproposisi fungsi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah jadikan diri ini, organisasi-organisasi kemahasiswaan baik internal ataupun eksternal sebagai 'kepompong' yang nantinya melahirkan kupu-kupu indah sebagai bagian dari orientalis seharusnya dari Tri Darma Perguruan Tinggi. Impian-impian dan harapan-harapan yang sifatnya utopis dan mengilusi dikalangan mahasiswa hendaknya tidak justru menjadikan represi. Tapi, hal yang mengutopis itu perlu supaya tiap regenerasi dari aktivis-aktivis akan tetap movement dalam upaya pembebasan rakyat, pembebasan dari penjajagan modernis sekarang, dan hal lain sebagainya. Selain daripada, kitapun harus diajak berpikir realistis, rasional, serta melakukan kegiatan kongkret dilapangan baik kecil ataupun besar tapi tidak mereduksi substansi dan esensi ruang waktu akan output suci didalamnya.
Pendidikan selain daripada hal yang tematis diatas, mahasiswa haruslah memperhatikan apakah tuntutannya harus juga mencapai titik spesifikasi tuntutan dan gerakan sampai pada skala prioritas apa yang akan didahulukan dalam pengembangan peserta didik. Apakah kognitifnya ? afektifnya ? bahkan pula psikomotoriknya ? dan apakah akan diakomodasikan dengan keadaan sosio-kultural, sosio-geografis, dan lain-lain. Tapi harapannya tidak sampai disitu, karena tentulah bukan mahasiswa orang yang menjadi ahlinya, kita serahkan pada ahli-ahlinya, setelah terlaksananya reformasi baik secara fisik maupun lebih halus. Reformasi yang dimaksud tidaklah harus dengan pertumpahan darah atau perketidakmanusiaan antar manusia nantinya, tapi lebih kepada perjuangan-perjuangan yang positif tentunya. Saya maksudkan adalah selain daripada kita berjuang ke atas yang bagi beberapa kalangan aktivis mahasiswa yang sampai berani ngejudge bahwa negara kita adalah setengah jajahan setengah feodal dan dikuasai kaum imprealis dan kapitalis kita pula harus bisa mengakomodir diri untuk terus berupaya gesture tubuh kita sebagai movement yang bermanfaat yang langsung dirasakan manfaatnya ke masyarakat, susah jika harus terus berteriak mengharap birokrat, toh kita percaya Tuhan tidak tuli untuk dapat mendengar dan melihat setiap pengharapan dan kondisi masyarakat Nusantara yang mulai ternodai dan sekarang yang ditakutkan siap menodai bahkan diri mereka sendiri.
Pembahasan literer yang melebar-lebar ini bukan berarti tidak terfokusnya sebuah tulisan, tapi lebih kepada daya seni pertubrukan keadaan dengan keadaan lain antara objek, subjek, dan problem. Jika bersedih dan merasa keing kerontang jiwa ini melihat keadaan negeri yang seolah diambang kehancuran terkadang bagi beberapa orang sempat-sempatnya berpikir seolah apa yang dinamakan Tuhan itu tidak ada, dimanakah perannya ? Tapi seorang beragama menjawab bahwa Tuhan berada dihati orang-orang seperti mereka-mereka ini yang merasa getir dan bergetar jiwanya melihat penindasan. Titik beratnya jika kita tahu akan diri kita sendiri, 50% kemenangan sudah ada didepan, dan jika kita mengetahui musuh kita, 50% kemenangan ada didepan pula, sebagai peluang jika berpikir tematis maka penyatuan diantara keduanya membuat peluang kemenangan 100% didepan kita, ini untuk perjuangan kebenaran tentunya.
Suatu saat mercusuar dunia kata Ir Soekarno bagi Indonesia dan gambaran Indonesia bisa menjadi kenyataan. Mentalitas bangsa Indonesia self confident bangsa, dalam hal ini rakyat merupakan modal yang sangat besar selain daripada Intelegensi manusia Indonesia. Dan, demikian halnya penunjang itu semua tidak bisa kita sandarkan nasibnya pada pendidikan yang mengedepankan sekolah formal, peran orang tua informal, dan tentunya non formal yang dominan yang selalu bersentuhan objek peserta didik sebagai regenerasi para pejuang bangsa dan dunia serta alam semesta artefak seni terbaik ciptaan sang maha memenuhi Tuhan yang maha esa. Dan harapannya lagi, Indonesia bukan jadi halnya negara penghasil kertas sertifikat dan ijazah hehe...
Budaya komentar sebagai budaya saling membangun diharapkan akan tulisan yang masih banyak kekurangan ini, terimakasih :)
Terlepas sejarahnya bagaimana, tapi jika kita fokuskan pada defenisi secara bahasa diatas skho-le yang berarti "waktu terluang", kita analisis dengan kondisi sekolah dewasa ini yang memang sekolah seolah sudah menjadi barang dan aktivitas yang sifatnya prioritas paling utama dalam dimensi pendidikan. Dan, dominasi waktu kegiatan peserta didik hampir dihabiskan disekolah, terkhusus kita memandang pendidikan yang ada di Indonesia. Konsepsi pendidikan Indonesia yang didasari oleh UU No 23 tahun 2003 tentang pemetaan antara non formal, informal, dan formal belum mencapai titik kohesi yang sinergitasnya dapat menunjang output daripada yang diinginkan pendidikan Indonesia.
Saya sebagai mahasiswa merasakan adanya ketimpangan dan kesenjangan yang akhirnya menimbulkan sebuah gap antara kehidupan diinstansi pendidikan sebagai peserta didik dan civil society sebagai individu yang bermasyarakat. Ini menurut saya sudah urgent untuk dibahas sebagai salah satu topik issue permasalahan pendidikan Indonesia dewasa ini lebih spesifik dipendidikan instansi formal yaitu sekolah. Sekolah formal yang pada hakikatnya memiliki tujuan untuk memproduksi peserta didik yang dapat menunjang dan menjadi individu yang produktif yang berguna bagi bangsa, negara, maupun agama tentunya. Hal-hal tersebut haruslah melalui jalan atau jalur yang pastinya bakal berinteraksi dengan kehidupan bermasyarakat yang nyata, sedangkan faktanya sekolah justru seolah-olah kegiatannya dikotomis dengan kegiatan aktivitas nyata masyarakat. Itu menyebabkan, peserta didik sebagai objek pendidikan kadang memiliki masalah dengan masyarakatnya sendiri akibat dari korelasinya dengan sekolah.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk bagaimana peserta didik secara luas untuk tidak bersekolah, tulisan saya ini justru bermaksud mengajak peserta didik memiliki kepekaan akan cara sikap menyikapinya hasil dari sekolah itu sendiri. Data fakta kongkret lainnya yang menurut saya jadi salah satu hal sabab-muasab terjadinya masalah adalah waktu masuk kegiatan belajar mengajar yang terlalu dini, terlalu panjang atau lama, dll. Misal, waktu KBM yang terlalu awal itu membuat peserta didik tidak memiliki waktu yang panjang untuk berolahraga dipagi hari. Hal-hal kecil semacam ini yang sering kali tidak diperhatikan, padahal memiliki efek yang sangat luas.
Kooptasi disekolah oleh beberapa guru atau pendidik kepada para peserta didik menimbulkan daya inovasi kreatifitas mereka yang tidak tereksplor, bahkan yang lebih berbahaya ketika peserta didik sudah tidak dapat dibendung kehausan akan ekspresi kreatifitasnya yang terpendam membuat jalur atau jalan yang ditempuh berujung pada hal-hal subversif. Tidak serta merta hanya sebuah kalimat, tapi data atau fakta dilapangan dapat kita tinjau ulang untuk analisi, hal-hal subversif yang dilakukan peserta didik seperti tawuran, perkaliahan, tawuran massal antar sekolah, sex bebas, dan masih banyak lagi, itu merupakan bentuk cermin ekspresi mereka yang tidak terwadahi oleh hal positif sehingga kebanyakan yang dipublis oleh mereka tendensinya negatif. Saya juga menyadari tidak hanya semua yang negatif saja disekolah, banyak peserta didik berprestasi, lomba-lomba positif, dan lain sebagainya hanya saja saya ingin lebih mendalami sisi kekurangan agar kita semua dapat benar-benar mengontemplasi hasil-hasil sekolah untuk dievaluasi bersama berkelanjutan dan berkemajuan.
Tidak ingin terlalu banyak untuk terus meng'ghibah'i pendidikan sekolah formal siIndonesia, bukan karena apa-apa, bukan takut juga, tapi tidak akan selesai dalam 1 tahun saya untuk dapat menuliskan perkara-perkara yang perlu adanya resolusi dan juga reinterpretasi kembali akan makna dasar dan tujuan sebenarnya diadakannya sekolah.
Tokoh-tokoh besar dunia dan dapat merubah dunia justru beberapa diantaranya yang tidak bersekolah formal malah memiliki peranan strategis dalam perubahan dunia. Entah itu didimensi pendidikan, ideologi, pemikiran, bahkan science-technology mereka berkarya. Selain daripada tokoh klasik seperti Thomas Alva Edison, Abraham Lincoln, Socrates, bahkan ulama-ulama muslim klasik bukanlah hasil dari produksi metabolisme pendidikan formal persekolahan. Tokoh-tokoh sukses yang tidak bersekolah dan hanya mengecap pendidikan non formal modern ini diantaranya Walt Disney, Mark Zuckerberg, Bill Gates, meski beberapa orang ini pernah berkuliah tapi substansinya tokoh ini sukses oleh peran eskternal dalam diri mereka yang barang tentu berhulu dari pendidikan-pendidikan non formal baik berwadah ataupun otodidak.
Kearifan lokal kita dengan wadah-wadah pendidikan yang sangat meluas banyak, baik yang modern bahkan tradisional merupakan warisan pendidikan yang luar biasa dengan sudah menghasilkan berpuluh-puluh, beratus-ratus, bahkan berjuta-juta tokoh Indonesia atau orang Indonesia yang memiliki bakat dan etos kerja serta potensi yang termaksimalkan eksploitasinya diberbagai bidang dan sektor. Negara Indonesia yang saat ini mulai menapaki masa-masa yang maju dari segi pembangunan, tapi masih subhat atau ambigu apa darimana siapa yang melatar belakangi serta motif apa sehingga pembangunan di Indonesia seolah-olah harus cepat, dalam hal ini adalah infrastruktur. Sedangkan SDM atau kualitas individu manusia Indonesia yang belum merata antara Sabang sampai Merauke tidak diprioritaskan, kembali dalam hal ini pendidikan. Segala bentuk pembangunan yang memiliki titik pusat polarisasi sebagai ordinat sudah barang tentu adalah Pendidikan, bagaimana bentuk pendidikannya skala mana yang diprioritaskan untuk dimajukan dan dikembangkan merupakan perkara atau hal yang harus menjadi bentuk perumusan bersama sebagai konsepsi Indonesia yang mengedepankan nasionalisasi bukan sektarian, primordial, dan dimensi sempit lainnya.
Skala tonggak bahan kenapa saya selalu menulis pendidikan yang harus dikedepankan baik itu modern ataupun tradisional bahkan fusi diantara keduanya dikarenakan faktor dimana pendidikan merupakan ordinat dan bukanlah sebuah sub-ordinat. Dan, order yang saya berikan tentang pendidikan itu terkhusus bagi kalangan aktivis mahasiswa sebagai komponen masyarakat yang harus benar-benar serus dalam mengabdikan dalam memproposisi fungsi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah jadikan diri ini, organisasi-organisasi kemahasiswaan baik internal ataupun eksternal sebagai 'kepompong' yang nantinya melahirkan kupu-kupu indah sebagai bagian dari orientalis seharusnya dari Tri Darma Perguruan Tinggi. Impian-impian dan harapan-harapan yang sifatnya utopis dan mengilusi dikalangan mahasiswa hendaknya tidak justru menjadikan represi. Tapi, hal yang mengutopis itu perlu supaya tiap regenerasi dari aktivis-aktivis akan tetap movement dalam upaya pembebasan rakyat, pembebasan dari penjajagan modernis sekarang, dan hal lain sebagainya. Selain daripada, kitapun harus diajak berpikir realistis, rasional, serta melakukan kegiatan kongkret dilapangan baik kecil ataupun besar tapi tidak mereduksi substansi dan esensi ruang waktu akan output suci didalamnya.
Pendidikan selain daripada hal yang tematis diatas, mahasiswa haruslah memperhatikan apakah tuntutannya harus juga mencapai titik spesifikasi tuntutan dan gerakan sampai pada skala prioritas apa yang akan didahulukan dalam pengembangan peserta didik. Apakah kognitifnya ? afektifnya ? bahkan pula psikomotoriknya ? dan apakah akan diakomodasikan dengan keadaan sosio-kultural, sosio-geografis, dan lain-lain. Tapi harapannya tidak sampai disitu, karena tentulah bukan mahasiswa orang yang menjadi ahlinya, kita serahkan pada ahli-ahlinya, setelah terlaksananya reformasi baik secara fisik maupun lebih halus. Reformasi yang dimaksud tidaklah harus dengan pertumpahan darah atau perketidakmanusiaan antar manusia nantinya, tapi lebih kepada perjuangan-perjuangan yang positif tentunya. Saya maksudkan adalah selain daripada kita berjuang ke atas yang bagi beberapa kalangan aktivis mahasiswa yang sampai berani ngejudge bahwa negara kita adalah setengah jajahan setengah feodal dan dikuasai kaum imprealis dan kapitalis kita pula harus bisa mengakomodir diri untuk terus berupaya gesture tubuh kita sebagai movement yang bermanfaat yang langsung dirasakan manfaatnya ke masyarakat, susah jika harus terus berteriak mengharap birokrat, toh kita percaya Tuhan tidak tuli untuk dapat mendengar dan melihat setiap pengharapan dan kondisi masyarakat Nusantara yang mulai ternodai dan sekarang yang ditakutkan siap menodai bahkan diri mereka sendiri.
Pembahasan literer yang melebar-lebar ini bukan berarti tidak terfokusnya sebuah tulisan, tapi lebih kepada daya seni pertubrukan keadaan dengan keadaan lain antara objek, subjek, dan problem. Jika bersedih dan merasa keing kerontang jiwa ini melihat keadaan negeri yang seolah diambang kehancuran terkadang bagi beberapa orang sempat-sempatnya berpikir seolah apa yang dinamakan Tuhan itu tidak ada, dimanakah perannya ? Tapi seorang beragama menjawab bahwa Tuhan berada dihati orang-orang seperti mereka-mereka ini yang merasa getir dan bergetar jiwanya melihat penindasan. Titik beratnya jika kita tahu akan diri kita sendiri, 50% kemenangan sudah ada didepan, dan jika kita mengetahui musuh kita, 50% kemenangan ada didepan pula, sebagai peluang jika berpikir tematis maka penyatuan diantara keduanya membuat peluang kemenangan 100% didepan kita, ini untuk perjuangan kebenaran tentunya.
Suatu saat mercusuar dunia kata Ir Soekarno bagi Indonesia dan gambaran Indonesia bisa menjadi kenyataan. Mentalitas bangsa Indonesia self confident bangsa, dalam hal ini rakyat merupakan modal yang sangat besar selain daripada Intelegensi manusia Indonesia. Dan, demikian halnya penunjang itu semua tidak bisa kita sandarkan nasibnya pada pendidikan yang mengedepankan sekolah formal, peran orang tua informal, dan tentunya non formal yang dominan yang selalu bersentuhan objek peserta didik sebagai regenerasi para pejuang bangsa dan dunia serta alam semesta artefak seni terbaik ciptaan sang maha memenuhi Tuhan yang maha esa. Dan harapannya lagi, Indonesia bukan jadi halnya negara penghasil kertas sertifikat dan ijazah hehe...
Budaya komentar sebagai budaya saling membangun diharapkan akan tulisan yang masih banyak kekurangan ini, terimakasih :)
Minggu, 03 April 2016
TIADA MATERI, BUMI, BAHKAN DIRI INI KARENA HANYA ADA CINTA
Sedikit yang saya tahu tentang makna arti Cinta, berbagai pandangan, perspektif, pendapat, literasi, dan defenisi-defenisi lain dari zaman ke zaman. Jika saya anda dan kita lihat, mencoba berkontemplasi dengan apa yang sering disebut Cinta dalam konteks historis, Cinta yang dianggap "racun" dewasa ini sudah ada sejak zaman bahkan tatkala manusia belum terbentuk tubuhnya, belum tercipta jiwanya, sang Maha Ada huwa awalu wal akhiru sudah menyebarkan sudah mensyiarkan membudayakan indah-indahnya nyaman-nyamannya kasih-kasihnya rasa sayang menyayangi, dan lain sebagainya. Itu terjadi dengan nuansa dan kondisi yang jika harus logika saja yang digunakan untuk merasakan dan mencari-cari asbabul nujub nya saya kira sampai saya mati tidak akan ada yang bisa menggambarkan, merangkaikan, sampai dititik ditemukannya konsep atau definisi Cinta yang konkret dan disepakati oleh insan diseluruh dunia, dan itu bersifat demokratis dan egaliter dengan tentunya makhluk hidup lainnya tumbuhan, hewan, dan lain sebagainya.
Ini semua bukan untuk benar-benar kita mencari solusi dari itu semua, tapi lebih kepada "penggelisahan" kembali orang-orang yang akan membaca ini. Filsuf Socrates lewat muridnya Plato pernah berkata Aku tida bisa mengajar siapapun, apapun. Aku hanya bisa membuat mereka berpikir Sang filsuf melegenda ini terlepas bagaimana historis-biografis hidupnya bagaimana siabang Socrates ini merupakan orang yang telah banyak menyumbang terhadap kebudayaan Eropa bahkan dunia. Ketertarikan saya adalah adanya korelasi dengan konsep "penggelisahan" yang saya maksud diatas, yaitu mungkin bisa kita cross check kepada psikolog bahwa ketika insan gelisah maka otak dan akalnya itu akan terus maen dan disini keinginan Tuhan akan salah satu anugerahnya yang luar biasa harus disyukuri yaitu "akal" dapat digunakan dengan tetap tidak terlepas dari awal timbulnya kegelisahan afeksi insan. Bisa kegelisan itu terjadi karena kegagalan hidup mungkin kebanyakan hutang, ditolak lawan jenis, masalah rumah tangga, bahkan kalau sering dibullypun bisa jadi asbabul nujub timbulnya kegelisahan atau bahasa jawanya depression personality. Sampai dititik ini, mungkin kawan-kawan yang membaca akan terus memutar otaknya untuk berusaha menginterpretasi literatur ini sebenarnya kemana arah dan outputnya. Bisa jadi beberapa dari kawan-kawan telah berputus asa dan menganggap ini tidak penting, dan menurut saya memang tidak penting-penting amat...haha. Tapi ada kalimat motivasi yang mengataan bahwa teruslah berjuang jangan sampai putus asa, dan jika anda sampai berputus asa, maka berjuanglah walau sambil berputus asa.
Cinta yang urgent menurut pandangan subjektif kita khususnya anak muda gahoel zaman ini terkadang mengarah dan menjalur yang kurang memperhatikan skala prioritas yang mana yang harus didahulukan yang mana yang harus diakhirkan. Begitu sempit dan dangkalnya kita untuk memaknai dan memahami nada-nada sunyi Cinta yang pada akhirnya tidak dapat didefinisikan secara mutlak atau adanya relativitas tafsir dari setiap insan yang dipengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhinya bisa jadi keadaan sosio-kultural, sosio-geografis atau bahkan lebih dalam psikis-kondisional, kognitif-situasional, dll dll dll. Sekalipun 100, 1000, 10000, atau berjuta-juta orang dan insan yang terus berusaha memberi tahu bahwa Cinta itu tidak hanya tentang dwi insan saja pria-wanita atau yang berlebih-lebihan yang melampaui batas contohnya LGBT. Sudahlah saya tidak tertarik lagi membahas LGBT toh... menurut saya dari referensi beberapa kiyai, ulama, yang namanya amar ma'ruf nahi mungkar itu menurut simpulan mereka yang sudah terbiasa dan berusaha susah payah dengan cinta memahami pesan-pesan Tuhannya, Allahnya, baik lewat ayat-ayatnya atau peninggalan RasulNya yang mulia Shalallahwa'alaihiwassalam adalah mengikat individu insan, jadi amar ma'ruf nahi mungkar sangat-sangat mengikat insan sebagai manusia sebagai ciptaanNya. Oh iya.. lupa juga bahwa pesan-pesan dan perumpamaan Tuhan tidak hanya ada diayat, hadits saja, bahkan kejadian alam, baik alam terbuka ataupun alam bawah sadar sendiri, bahkan tandaNya kadang ada didalam riwayat kejadian hidup kita, bahkan maaf disebuah fesespun pasti Tuhan menginginkan agar manusia bisa untuk bagaimana mau mencari pelajaran-pelajaranNya.
Jadi simpelnya, disimpel-simpelkan saja tidak usah dibikin ruwet bahwa polarisasi kita, alam semesta atau mungkin seekor bebek yang sedang berenang adalah untuk menuju yang satu, yang ahad yang satu-satunya didunia ini, dialam semesta ini, dan siapa ? maka anak kecil atau orang awam seperti saya akan cepat-cepat menyimpulkan yaitu "Tuhan", tapi Tuhan yang mana ? dan, ketika sampai dititik ini beberapa orang mungkin akan berputus asa dan menjadi atheis berada pada situasi lailaha, tapi harapannya semoga Tuhan jikalau benar-benar ada akan menghargai atheis yang terus mencari kebenaran daripada yang hanya berdiam diri statis-parsial.
Kata Albert Enstein tidak ada yang namanya gelap, yang ada itu adalah ketiadaan cahaya dan untuk membedakan atau supaya bisa membedakan maka diberilah sebutan "gelap" untuk mensifati ketiadaan cahaya. Dalam ayat Qur'an tipis sekali yang namanya nur atau cahaya dengan naar yaitu api atau neraka, jadi terkadang dekat sekali yang namanya kegelapan dan terang benderang kadang penilaian kita bisa justru bersifat dikotomis dengan fakta dan realita akan suatu objek, atau diri pribadi kita sendiri. Gus Mus bilang Janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti, sadar ataupun tidak sadar disini saya rasa perlu adanya evaluasi yang berkelanjutan dan berkemajuan. Hidup manusia ini berarti tidak selamanya kafir, atau bahkan tidak selamanya muslim yang saya tahu atau yang kita semua tahu, you know ? .. bahwa kata kiyai kampung saya yang diitung itu disaat kita berada di akhiru kehidupan kita dan antum-antum..tapi yang jadi masalah, siapa yang tahu tentang akhirnya ? Waliyullah bisa ? wallahualam.
Ada kiyai berceramah dan menerangkan bahwa telah diturunkan nabi & rasul terakhir oleh Allah SWT, dan menerangkan dan meyakinkan jama'ahnya bahwa dialah yang terakhir maksudnya Rasul terakhir, seolah-olah Nabi Muhammad sang Maestro Cinta Ilahi ini baru turun atau diangkat menjadi Nabi & Rasul kemarin sore, hehe...tapi tidak ada masalah. Ya yang bermasalah orang-orang seperti saya ini yang bisa menilai seseorang tapi tidak tahu ukuran tentang dirinya sendiri, walaupun sekarang-sekarang inshaAllah mulai mau berubah, pastinya berubah dari yang baik menuju yang lebih baik sesuai konsep hijrah. Maestro-maestro Cinta selanjutnya Ibn Arabi, El Jalaludin Rumi, Syech Abdul Qadir Jaelani, Abu Hamid Al-Ghazali, Al Baghdadi, dll dll dll saya takzim saya cinta sekaligus iri dan saya mengajak semua orang untuk bagaimana iri terhadap mereka-mereka ini, dan semoga menjadi motivasi dikemudian hari, amin.
Pembaharu, penjaga sama saja akulturasi atau kolaborasi berkemajuan dan bernusantara dewasa ini menurut saya sudah mulai menuju puncak ketepatannya, ya semoga anda-anda tahu ... KH Hasyim Asy'ari & KH Ahmad Dahlan bersaudara semoga Allah memberi mereka tempat terbaik disana karena telah bermanfaat bagi umat insan, dan menjadi benar-benar penerang dan pengaplikasi Rahmatanlilalamin terbaik. Tak pernah berhenti untuk berkata saya berusaha Cinta pada mereka ini dan berusaha sekaligus iri pada mereka ini.
Berbagai perspektif yang bisa memberikan referensi akan interpretasi Cinta tidak akan selesai dalam kajian 1 hari, 10 hari, bahkan satu tahun sekalipun, dan walau bisa pasti akhirnya hanya akan menimbulkan kegelisahan, dan itu tidak menjadi masalah selagi kawan-kawan bisa untuk bagaimana bulir-bulir, poin-poin, berbagai pelajaran Cinta dari permasalahan atau jika kegelisahan yang mungkin terjadi di internal diri dianggap masalah, berpikirlah ! Sampai akhirnya maqam mahabah bisa mencapai kulminasi dari insan itu sendiri relatif dari keinginan dan perwayangan apa yang diinginkan Tuhan kita, atau yang tercatat dilauhulmahfuz kita, doalah yang tepat dan tajam dengan syarat-syaratnya.
Perlu diketahui Tuhan kita Allah kita, Tuhan bagi semua umat semua agama sebenarnya hanya satu, hanya saja ada beberapa umat yang salah sambung, salah memasukan kode nomor menuju Tuhannya. Manusia diajarkan lewat alfatihah dimana kita disuruh untuk mengucapkan alhamdulillah, arahmanirahim pujian-pujian terlebih dahulu sebelum iyakanabuduaiyakanasyta'in, ihdinasyiratalmustaqim sebagai kalimat doa, maknai saja sendiri !!! Cinta dan rasa tasyrikh pada Rasulullah shalalallahwa'alaihiwassalam itu juga penting, pujian-pujian, doa-doa sebagai rumus take-give dengan Rasul (kalau menurut Cak Nun), penting sebelum berdoa kepada Allah Subhanawata'ala.
Mari bersatu, mari beilmu, mari berevaluasi untuk maju.
Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan, budaya komentar baik tanggapan ataupun kritik-konstruktif sangat diharapkan sebagai budaya aplikasi gotong royong nyata !! :) terimakasih wassalamualaikum
Moh Yogi Mukti
Ini semua bukan untuk benar-benar kita mencari solusi dari itu semua, tapi lebih kepada "penggelisahan" kembali orang-orang yang akan membaca ini. Filsuf Socrates lewat muridnya Plato pernah berkata Aku tida bisa mengajar siapapun, apapun. Aku hanya bisa membuat mereka berpikir Sang filsuf melegenda ini terlepas bagaimana historis-biografis hidupnya bagaimana siabang Socrates ini merupakan orang yang telah banyak menyumbang terhadap kebudayaan Eropa bahkan dunia. Ketertarikan saya adalah adanya korelasi dengan konsep "penggelisahan" yang saya maksud diatas, yaitu mungkin bisa kita cross check kepada psikolog bahwa ketika insan gelisah maka otak dan akalnya itu akan terus maen dan disini keinginan Tuhan akan salah satu anugerahnya yang luar biasa harus disyukuri yaitu "akal" dapat digunakan dengan tetap tidak terlepas dari awal timbulnya kegelisahan afeksi insan. Bisa kegelisan itu terjadi karena kegagalan hidup mungkin kebanyakan hutang, ditolak lawan jenis, masalah rumah tangga, bahkan kalau sering dibullypun bisa jadi asbabul nujub timbulnya kegelisahan atau bahasa jawanya depression personality. Sampai dititik ini, mungkin kawan-kawan yang membaca akan terus memutar otaknya untuk berusaha menginterpretasi literatur ini sebenarnya kemana arah dan outputnya. Bisa jadi beberapa dari kawan-kawan telah berputus asa dan menganggap ini tidak penting, dan menurut saya memang tidak penting-penting amat...haha. Tapi ada kalimat motivasi yang mengataan bahwa teruslah berjuang jangan sampai putus asa, dan jika anda sampai berputus asa, maka berjuanglah walau sambil berputus asa.
Cinta yang urgent menurut pandangan subjektif kita khususnya anak muda gahoel zaman ini terkadang mengarah dan menjalur yang kurang memperhatikan skala prioritas yang mana yang harus didahulukan yang mana yang harus diakhirkan. Begitu sempit dan dangkalnya kita untuk memaknai dan memahami nada-nada sunyi Cinta yang pada akhirnya tidak dapat didefinisikan secara mutlak atau adanya relativitas tafsir dari setiap insan yang dipengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhinya bisa jadi keadaan sosio-kultural, sosio-geografis atau bahkan lebih dalam psikis-kondisional, kognitif-situasional, dll dll dll. Sekalipun 100, 1000, 10000, atau berjuta-juta orang dan insan yang terus berusaha memberi tahu bahwa Cinta itu tidak hanya tentang dwi insan saja pria-wanita atau yang berlebih-lebihan yang melampaui batas contohnya LGBT. Sudahlah saya tidak tertarik lagi membahas LGBT toh... menurut saya dari referensi beberapa kiyai, ulama, yang namanya amar ma'ruf nahi mungkar itu menurut simpulan mereka yang sudah terbiasa dan berusaha susah payah dengan cinta memahami pesan-pesan Tuhannya, Allahnya, baik lewat ayat-ayatnya atau peninggalan RasulNya yang mulia Shalallahwa'alaihiwassalam adalah mengikat individu insan, jadi amar ma'ruf nahi mungkar sangat-sangat mengikat insan sebagai manusia sebagai ciptaanNya. Oh iya.. lupa juga bahwa pesan-pesan dan perumpamaan Tuhan tidak hanya ada diayat, hadits saja, bahkan kejadian alam, baik alam terbuka ataupun alam bawah sadar sendiri, bahkan tandaNya kadang ada didalam riwayat kejadian hidup kita, bahkan maaf disebuah fesespun pasti Tuhan menginginkan agar manusia bisa untuk bagaimana mau mencari pelajaran-pelajaranNya.
Jadi simpelnya, disimpel-simpelkan saja tidak usah dibikin ruwet bahwa polarisasi kita, alam semesta atau mungkin seekor bebek yang sedang berenang adalah untuk menuju yang satu, yang ahad yang satu-satunya didunia ini, dialam semesta ini, dan siapa ? maka anak kecil atau orang awam seperti saya akan cepat-cepat menyimpulkan yaitu "Tuhan", tapi Tuhan yang mana ? dan, ketika sampai dititik ini beberapa orang mungkin akan berputus asa dan menjadi atheis berada pada situasi lailaha, tapi harapannya semoga Tuhan jikalau benar-benar ada akan menghargai atheis yang terus mencari kebenaran daripada yang hanya berdiam diri statis-parsial.
Kata Albert Enstein tidak ada yang namanya gelap, yang ada itu adalah ketiadaan cahaya dan untuk membedakan atau supaya bisa membedakan maka diberilah sebutan "gelap" untuk mensifati ketiadaan cahaya. Dalam ayat Qur'an tipis sekali yang namanya nur atau cahaya dengan naar yaitu api atau neraka, jadi terkadang dekat sekali yang namanya kegelapan dan terang benderang kadang penilaian kita bisa justru bersifat dikotomis dengan fakta dan realita akan suatu objek, atau diri pribadi kita sendiri. Gus Mus bilang Janganlah setan terang-terangan engkau laknati dan diam-diam engkau ikuti, sadar ataupun tidak sadar disini saya rasa perlu adanya evaluasi yang berkelanjutan dan berkemajuan. Hidup manusia ini berarti tidak selamanya kafir, atau bahkan tidak selamanya muslim yang saya tahu atau yang kita semua tahu, you know ? .. bahwa kata kiyai kampung saya yang diitung itu disaat kita berada di akhiru kehidupan kita dan antum-antum..tapi yang jadi masalah, siapa yang tahu tentang akhirnya ? Waliyullah bisa ? wallahualam.
Ada kiyai berceramah dan menerangkan bahwa telah diturunkan nabi & rasul terakhir oleh Allah SWT, dan menerangkan dan meyakinkan jama'ahnya bahwa dialah yang terakhir maksudnya Rasul terakhir, seolah-olah Nabi Muhammad sang Maestro Cinta Ilahi ini baru turun atau diangkat menjadi Nabi & Rasul kemarin sore, hehe...tapi tidak ada masalah. Ya yang bermasalah orang-orang seperti saya ini yang bisa menilai seseorang tapi tidak tahu ukuran tentang dirinya sendiri, walaupun sekarang-sekarang inshaAllah mulai mau berubah, pastinya berubah dari yang baik menuju yang lebih baik sesuai konsep hijrah. Maestro-maestro Cinta selanjutnya Ibn Arabi, El Jalaludin Rumi, Syech Abdul Qadir Jaelani, Abu Hamid Al-Ghazali, Al Baghdadi, dll dll dll saya takzim saya cinta sekaligus iri dan saya mengajak semua orang untuk bagaimana iri terhadap mereka-mereka ini, dan semoga menjadi motivasi dikemudian hari, amin.
Pembaharu, penjaga sama saja akulturasi atau kolaborasi berkemajuan dan bernusantara dewasa ini menurut saya sudah mulai menuju puncak ketepatannya, ya semoga anda-anda tahu ... KH Hasyim Asy'ari & KH Ahmad Dahlan bersaudara semoga Allah memberi mereka tempat terbaik disana karena telah bermanfaat bagi umat insan, dan menjadi benar-benar penerang dan pengaplikasi Rahmatanlilalamin terbaik. Tak pernah berhenti untuk berkata saya berusaha Cinta pada mereka ini dan berusaha sekaligus iri pada mereka ini.
Berbagai perspektif yang bisa memberikan referensi akan interpretasi Cinta tidak akan selesai dalam kajian 1 hari, 10 hari, bahkan satu tahun sekalipun, dan walau bisa pasti akhirnya hanya akan menimbulkan kegelisahan, dan itu tidak menjadi masalah selagi kawan-kawan bisa untuk bagaimana bulir-bulir, poin-poin, berbagai pelajaran Cinta dari permasalahan atau jika kegelisahan yang mungkin terjadi di internal diri dianggap masalah, berpikirlah ! Sampai akhirnya maqam mahabah bisa mencapai kulminasi dari insan itu sendiri relatif dari keinginan dan perwayangan apa yang diinginkan Tuhan kita, atau yang tercatat dilauhulmahfuz kita, doalah yang tepat dan tajam dengan syarat-syaratnya.
Perlu diketahui Tuhan kita Allah kita, Tuhan bagi semua umat semua agama sebenarnya hanya satu, hanya saja ada beberapa umat yang salah sambung, salah memasukan kode nomor menuju Tuhannya. Manusia diajarkan lewat alfatihah dimana kita disuruh untuk mengucapkan alhamdulillah, arahmanirahim pujian-pujian terlebih dahulu sebelum iyakanabuduaiyakanasyta'in, ihdinasyiratalmustaqim sebagai kalimat doa, maknai saja sendiri !!! Cinta dan rasa tasyrikh pada Rasulullah shalalallahwa'alaihiwassalam itu juga penting, pujian-pujian, doa-doa sebagai rumus take-give dengan Rasul (kalau menurut Cak Nun), penting sebelum berdoa kepada Allah Subhanawata'ala.
Mari bersatu, mari beilmu, mari berevaluasi untuk maju.
Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan, budaya komentar baik tanggapan ataupun kritik-konstruktif sangat diharapkan sebagai budaya aplikasi gotong royong nyata !! :) terimakasih wassalamualaikum
Moh Yogi Mukti
Jumat, 01 April 2016
HARAPAN UNTUK NEGERIKU YANG TERKOTAKAN DEMOKRASI YANG TERABAIKAN, PANDEGLANGKU...
Hari kemarin jumat, tanggal 1 April 2016 merupakan hari bersejarah bagi rakyat diwilayah Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten karena merupakan HUT Pandeglang yang ke-142. Itu berarti Kabupaten Pandeglang atau adanya pemerintahan di Pandeglang lahir tanggal 1 April 1874 saat zaman kolonial Belanda. Hasil riset dari berbagai komponen dan lapisan masyarakat untuk meremukan dan menyimpulkan bahwa Pandeglang berdiri pada tanggal 1 April 1874 lebih
jelas lagi dalam Ordonansi 1887 No. 224 tentang batas-batas wilayah
Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam
tahun 1925 dengan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14
Agustus 1925 No. IX maka jelas Kabupaten telah berdiri sendiri tidak di
bawah penguasaan Keresidenan Banten.
Bertepatan dengan HUT Pandeglang itu juga, beberapa organisasi mahasiswa melakukan aksinya outputnya hanya untuk ikut berpartisipasi dalam acara dan memberikan konstribusi masukan dan kritik-konstrukstif pada kepengurusan sebelumnya, dan ingin kepengurusan pemerintahan Kabupaten Pandeglang yang sekarang baru terpilih bisa untuk bersedia mendengarkan mahasiswa sebagai kaum pemuda intelektual daerah yang juga termasuk komponen yang memiliki hak untuk berpendapat mengaspirasikan suaranya untuk memproposisikan diri mereka, seyogyanya mahasiswa agent of control, dan pergerakannya bisa menjadi komposisi yang lezat bagi proses pemerintahan yang ada. Beberapa organisasi tersebut adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Keluarga Mahasiswa Cibaliung. Tapi karena beberapa hambatan dari kepolisian yang membawa dan di back up oleh kaum Jawara yaitu Laskar Berkah untuk menghindari keributan dan bentrok Mahasiswapun mundur jadi mereka hanya bisa mengaspirasikan sedikit daripada masukan dan tuntutan buat saudara-saudara birokrat Pandeglang.
Kekuatan dan kemenangan mahasiswa serta pergerakan dan perjuangannya tidak hanya sebatas ceremony belaka hanya untuk formalitas program organisasi agar tidak ada reduksi kreatifitas anggota Organisasi mahasiswa, tapi lebih daripada itu lebih daripada hanya sekedar "gagah-gagahan" konotasinya murni karena ingin bergerak mengeksplor dan terus mengevaluasi serta mengontrol perkembangan bangsa & negara dengan pendapat dan persepsi-persepsi subjektif mereka masing-masing, dan... tidak ada masalah. Kebebasan pers yang selama ini disuarakan ketika aksi tersebut bisa disebut hanya takhayul, dilindungi UU hanya takhayul, seolah-olah oknum-oknum yang merasa bersalah terancam dan ketakutan, Lucunya... Kenapa harus ? Kenapa harus hidup sampeyan-sampeyan ini dibikin ruwet dan ribet wahai sang penguasa birokrasi, hukum, dan keamanan ? Padahal anggap saja pergerakan-pergerakan mahasiswa ini yang menimbulkan pergolakan selama kawan-kawan tidak anarkis anggap saja sebuah tampilan "seni" kehidupan dan implementasi percontohan dari bapak proklamator kita Bung Karno dengan orasi-orasinya. Soekarno sebagai orator ulung bisa mengajak secara persuasif-psikologis rakyat untuk tetap tertanam namanya nasionalisme didalam jiwa-jiwa rakyat. Terlepas adanya yang suka dan tidak suka pada sang proklamator, tapi titik temunya adalah dimana bangsa Indonesia ini tidak akan merdeka kalau tanpa Bung Karno. Pertunjukan seni mahasiswa yang dilakukan dengan orasi-orasinya dijalan, tempat terbuka, dimuka umum, merupakan manifestasi dari semangat juang kemerdekaan, semangat juang pahlawan-pahlawan dari berbagai macam lapisan kaum intelektual, budayawan, sastrawan, agamawan, ulama-ulama, dan lain-lain dari berbagai suku dan latar belakang bersatu demi terciptanya kemerdekaan yang sudah sejak lama dimimpikan diimpikan. Kamipun percaya, suatu saat benar adanya sebuah pernyataan kalimat Soekarno yang menyatakan bahwa suatu saat Indonesia bakal menjadi "mercusuar dunia". Kami masih menunggu itu, kami masih berusaha ikut terlibat memperjuangkan juga, sebagai alasan adalah Soekarno, Soekarno yang sangat menghargai pemuda potensinya, bakatnya, dan generasi pemudalah yang bakal merubah, mereformasi dari yang baik menuju yang lebih baik.
Harapannya pemerintah tidak hanya menjadi kipas angin yang memiliki dua fungsi, pertama untuk menghilangkan panas, contohnya pemerintah akan bilang "Hargailah tahap-tahap pembangunan.." ketika mereka terpojokan oleh suara kritik rakyat. Satu lagi, fungsi dimana kipas angin justru menjadi pelopor stimulus hawa panas itu sendiri sama halnya tukang sate yang memanggang bara apinya, beberapa dari mereka yang menggunakan cara-cara konvensional memakai kipas tradisional dan lainnya ada yang sudah memakai kipas angin, nah... contoh sikap pemerintahnya adalah saat pembangunan terasa kering dan masyarakat sudah mengindikasikan sikap-sikap yang apatis, mereka akan berkata "Mari bersama-sama ikut berkontribusi dan meningkatkan rasa memiliki akan pembanguan...". Meskipun fungsi kipas angin ini hanya sebagai analogi dari hasil analisi subjektif penulis tapi ini bisa jadi bahan kontemplasi positif-negatifnya.
Jadi intinya, dinamika yang terjadi terasa sangat indah dinegeri tercinta ini bagai pelangi dengan warna warninya tapi tetap disebut satu yaitu "pelangi" tak pernah yang lain, terkecuali hanya beda bahasa saja. Negeri ini dengan keunikan tipologinya, dan cabang-cabangnya juga dari tipologi itu seperti sektetarian, primordial, aliran-aliran keagamaan, bukanlah hal-hal yang tendensinya mengarah pada orientasi pengkotak-kotakan sebagaimana dikampus-kampus dengan berbagai organisasinya dengan beragam ideologinya, itulah bhineka tunggal ika itulah manifestasi nyatanya. Dewasa ini, berbagai dekadensi dinegeri Indonesia negerinya para cendekia muda Nusantara ini, wabilkhusus... didaerah Pandeglang sebagai spesifikasi pembahasan tulisan ini tidak serta merta mendekadensi semangat juang pemuda-pemudi Indonesia yang nyatanya walau harus tereduksi oleh budaya-budaya barat diserang dari berbagai arah untuk melemahkan kami para pemuda. Jadi analoginya pemuda mahasiswa sekarang seperti atmosfer yang lapisannya sudah banyak yang bocor tapi tetap dengan tekad dan itikad yang baik sesuai dengan fungsinya melindungi bumi dari radiasi matahari yang berlebihan.
Semoga kawan-kawan yang membaca akan tetap menjunjung tinggi NKRI, Pancasilanya, serta beragam hasil cipta rasa dan karya para pendahulu bangsa, boleh dengan berbagai referensi, boleh mengkomparasikan dengan berbagai ideologi, sejarah luar negeri, untuk terus mengeksplor, meningkatkan juga menambah wawasan generasi muda Indonesia untuk akhirnya kami akan sampai pada titik dimana usaha-usaha tersebut mencapai sebuah kalimat bahwa "Inilah Indonesiaku... bagaimanapun Indonesia tetaplah aku yang akan mempahit maniskannya aku, bukan yang lain.."
Semoga tulisannya bermanfaat, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan sebagai salah satu aplikasi budaya gotong royong bangsa kita!!! :)
Bertepatan dengan HUT Pandeglang itu juga, beberapa organisasi mahasiswa melakukan aksinya outputnya hanya untuk ikut berpartisipasi dalam acara dan memberikan konstribusi masukan dan kritik-konstrukstif pada kepengurusan sebelumnya, dan ingin kepengurusan pemerintahan Kabupaten Pandeglang yang sekarang baru terpilih bisa untuk bersedia mendengarkan mahasiswa sebagai kaum pemuda intelektual daerah yang juga termasuk komponen yang memiliki hak untuk berpendapat mengaspirasikan suaranya untuk memproposisikan diri mereka, seyogyanya mahasiswa agent of control, dan pergerakannya bisa menjadi komposisi yang lezat bagi proses pemerintahan yang ada. Beberapa organisasi tersebut adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Keluarga Mahasiswa Cibaliung. Tapi karena beberapa hambatan dari kepolisian yang membawa dan di back up oleh kaum Jawara yaitu Laskar Berkah untuk menghindari keributan dan bentrok Mahasiswapun mundur jadi mereka hanya bisa mengaspirasikan sedikit daripada masukan dan tuntutan buat saudara-saudara birokrat Pandeglang.
Kekuatan dan kemenangan mahasiswa serta pergerakan dan perjuangannya tidak hanya sebatas ceremony belaka hanya untuk formalitas program organisasi agar tidak ada reduksi kreatifitas anggota Organisasi mahasiswa, tapi lebih daripada itu lebih daripada hanya sekedar "gagah-gagahan" konotasinya murni karena ingin bergerak mengeksplor dan terus mengevaluasi serta mengontrol perkembangan bangsa & negara dengan pendapat dan persepsi-persepsi subjektif mereka masing-masing, dan... tidak ada masalah. Kebebasan pers yang selama ini disuarakan ketika aksi tersebut bisa disebut hanya takhayul, dilindungi UU hanya takhayul, seolah-olah oknum-oknum yang merasa bersalah terancam dan ketakutan, Lucunya... Kenapa harus ? Kenapa harus hidup sampeyan-sampeyan ini dibikin ruwet dan ribet wahai sang penguasa birokrasi, hukum, dan keamanan ? Padahal anggap saja pergerakan-pergerakan mahasiswa ini yang menimbulkan pergolakan selama kawan-kawan tidak anarkis anggap saja sebuah tampilan "seni" kehidupan dan implementasi percontohan dari bapak proklamator kita Bung Karno dengan orasi-orasinya. Soekarno sebagai orator ulung bisa mengajak secara persuasif-psikologis rakyat untuk tetap tertanam namanya nasionalisme didalam jiwa-jiwa rakyat. Terlepas adanya yang suka dan tidak suka pada sang proklamator, tapi titik temunya adalah dimana bangsa Indonesia ini tidak akan merdeka kalau tanpa Bung Karno. Pertunjukan seni mahasiswa yang dilakukan dengan orasi-orasinya dijalan, tempat terbuka, dimuka umum, merupakan manifestasi dari semangat juang kemerdekaan, semangat juang pahlawan-pahlawan dari berbagai macam lapisan kaum intelektual, budayawan, sastrawan, agamawan, ulama-ulama, dan lain-lain dari berbagai suku dan latar belakang bersatu demi terciptanya kemerdekaan yang sudah sejak lama dimimpikan diimpikan. Kamipun percaya, suatu saat benar adanya sebuah pernyataan kalimat Soekarno yang menyatakan bahwa suatu saat Indonesia bakal menjadi "mercusuar dunia". Kami masih menunggu itu, kami masih berusaha ikut terlibat memperjuangkan juga, sebagai alasan adalah Soekarno, Soekarno yang sangat menghargai pemuda potensinya, bakatnya, dan generasi pemudalah yang bakal merubah, mereformasi dari yang baik menuju yang lebih baik.
Harapannya pemerintah tidak hanya menjadi kipas angin yang memiliki dua fungsi, pertama untuk menghilangkan panas, contohnya pemerintah akan bilang "Hargailah tahap-tahap pembangunan.." ketika mereka terpojokan oleh suara kritik rakyat. Satu lagi, fungsi dimana kipas angin justru menjadi pelopor stimulus hawa panas itu sendiri sama halnya tukang sate yang memanggang bara apinya, beberapa dari mereka yang menggunakan cara-cara konvensional memakai kipas tradisional dan lainnya ada yang sudah memakai kipas angin, nah... contoh sikap pemerintahnya adalah saat pembangunan terasa kering dan masyarakat sudah mengindikasikan sikap-sikap yang apatis, mereka akan berkata "Mari bersama-sama ikut berkontribusi dan meningkatkan rasa memiliki akan pembanguan...". Meskipun fungsi kipas angin ini hanya sebagai analogi dari hasil analisi subjektif penulis tapi ini bisa jadi bahan kontemplasi positif-negatifnya.
Jadi intinya, dinamika yang terjadi terasa sangat indah dinegeri tercinta ini bagai pelangi dengan warna warninya tapi tetap disebut satu yaitu "pelangi" tak pernah yang lain, terkecuali hanya beda bahasa saja. Negeri ini dengan keunikan tipologinya, dan cabang-cabangnya juga dari tipologi itu seperti sektetarian, primordial, aliran-aliran keagamaan, bukanlah hal-hal yang tendensinya mengarah pada orientasi pengkotak-kotakan sebagaimana dikampus-kampus dengan berbagai organisasinya dengan beragam ideologinya, itulah bhineka tunggal ika itulah manifestasi nyatanya. Dewasa ini, berbagai dekadensi dinegeri Indonesia negerinya para cendekia muda Nusantara ini, wabilkhusus... didaerah Pandeglang sebagai spesifikasi pembahasan tulisan ini tidak serta merta mendekadensi semangat juang pemuda-pemudi Indonesia yang nyatanya walau harus tereduksi oleh budaya-budaya barat diserang dari berbagai arah untuk melemahkan kami para pemuda. Jadi analoginya pemuda mahasiswa sekarang seperti atmosfer yang lapisannya sudah banyak yang bocor tapi tetap dengan tekad dan itikad yang baik sesuai dengan fungsinya melindungi bumi dari radiasi matahari yang berlebihan.
Semoga kawan-kawan yang membaca akan tetap menjunjung tinggi NKRI, Pancasilanya, serta beragam hasil cipta rasa dan karya para pendahulu bangsa, boleh dengan berbagai referensi, boleh mengkomparasikan dengan berbagai ideologi, sejarah luar negeri, untuk terus mengeksplor, meningkatkan juga menambah wawasan generasi muda Indonesia untuk akhirnya kami akan sampai pada titik dimana usaha-usaha tersebut mencapai sebuah kalimat bahwa "Inilah Indonesiaku... bagaimanapun Indonesia tetaplah aku yang akan mempahit maniskannya aku, bukan yang lain.."
Semoga tulisannya bermanfaat, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan sebagai salah satu aplikasi budaya gotong royong bangsa kita!!! :)
Langganan:
Komentar (Atom)

