Selasa, 04 September 2018

MANUSIA "NGAJI" KERJA

MANUSIA “NGAJI” KERJA

Kehidupan manusia berkembang dengan berbagai macam rumus dari hasil tafsir penelitian manusia-manusia yang ingin tahu akan asal mula nenek moyangnya. Ada yang mengatakan manusia berasal dari makhluk sejenis Kera lewat Darwinisme, Ubur-ubur, Batu, dsb. Semuanya adalah sintesa dari usaha penelitian manusia-manusia yang penasaran dengan siapa dirinya secara utuh. Keutuhan yang manusia anggap akan benar-benar dipahami secara komprehensif apabila hal-hal mengenai apa yang diluar dirinya terkhusus historis peradaban asal mula manusia dapat dia ketahui; yang selama berabad-abad lamanya sebelum masehi ketika para filsuf Yunani Kuno mencoba menemukan kesimpulan akan itu semua Socrates, Plato, Aristoteles, sampai para filsuf yang dianggap modern semacam Descartes tidak pernah benar-benar ditemukan satu kemutlakan yang bisa memuaskan dahaga manusia akan rasa penasarannya tentang hakikat dirinya. Sehingga kemudian yang terjadi adalah dengan sangat disayangkan beberapa diantaranya berhenti dan menentukan pilihan kebenaran yang dia anggap sejati. Hasilnya adalah pergesekan antara satu manusia dengan manusia lainnya, rasa curiga dengan dalih pilihan kebenaran yang disejatikan atau dimutlakan. Dalam kondisi tertentu itu, dahaga atau syahwat penasaran untuk belajar “ngaji” akan hakikat kemanusiaan berhenti dibeberapa bagian dan terlupakan, yang ada adalah bukan keyakinan tapi teks-teks literatur yang dengan sangat ajaib menjadi doktrin bahkan dogma didalam cara berkehidupan manusia yang menyerap informasi dari teks tersebut dan tidak mencoba mencari secara terus menerus selama keduniaannya. Oleh karenanya, didalam filosofi jawa dan sunda dikatakan bahwa yang dinamakan ilmu itu bukan pada bagian teks; baik berbentuk buku, kitab, kertas, dll tetapi justru “laku” atau dalam bahasa bisa jadi kerja, etika, tingkah, tingkah laku, dan seterusnya.

Era mileneal kekinian sekarang, personalitas kerja dikonotasikan kepada buruh yang mobilisasinya biasa dipabrik-pabrik, industri-industri, yang dibayar dengan patokan gaji. Kerja yang dimaksud adalah mencari nominal uang untuk memenuhi kebutuhan; primer, sekunder, sampai tersier. Dan dalam kehidupan secara universal banyak yang menentang praktek-praktek sistem yang menjadi “gen” dalam pengelolaan dan manajemen di rumah-rumah indsutri tersebut. Banyak analisis yang menjadi alasan kenapa beberapa aktivis tidak setuju dengan sistem pasar industri yang biasa dipakai sekarang. Korelasinya adalah dengan nasib para pekerja yang berada dalam lingkup dunia industri tersebut, yang beberapa analisisnya mengatakan kaum pekerja atau buruh dipakai hanya untuk mengurangi beban biaya produksi, maka dibayarlah dengan upah murah melalui jalur-jalur birokrasi, hukum positif, strategi pasar, branding social, sampai masuk ke wilayah lembaga pendidikan, maka munculah istilah kapitalisasi atau komersialisasi pendidikan.

Secara tidak langsung munculnya perlawanan-perlawanan ini membuat konstelasi politik negara seimbang, karena akan terus muncul masukan, kritikan, gagasan, dan ide-ide baru, selain terdapat yang selalu setuju. Tapi dilain pihak ternyata gerakan-gerakan dibawah tersebut terkadang memunculkan konflik horizontal yang baru. Maka pentingnya untuk satu sama lain saling mengklarifikasi, mengaji diri, untuk mengantisipasi embrio yang jika lahir akan membuat cerita sejarah yang tidak di harapkan oleh siapapun semacam pertumpahan darah yang bisa diartikan justru sifatnya cenderung  destruktif lebih banyak mudharat dan jauh dari sandaran utama seharusnya gerakan-gerakan tersebut dimanapun yaitu kemanusiaan. 

Gus Dur yang menyandarkan kemanusiaan sangat tinggi dalam “laku” kehidupannya, karena menyadari bahwa manusia adalah manifestasi titipan Tuhan untuk supaya manusia satu sama lain saling pengertian dan dimotivasi lewat fastabiqulkhairat bukan tentang berlomba-lomba menjadi paling baik tetapi berlomba-lomba untuk menjadi paling pengertian, memahami, menjadikan outputnya kebaikan dan keindahan dalam interaksi dengan manusia lain, meskipun yang menjadi objeknya adalah seorang yang tidak dia suka. Itulah objektifitas, independensi, kemerdekaan, liberte, humanis yang dimaksud, sedangkan kebenaran letaknya akan berada didalam bahan atau input. Dan semua itu penulis percaya tidak akan pernah sampai pada titik kesempurnaan, karena manusia hanya “ngaji” untuk menuju dan pragmatis-aplikatifnya berjuang, berusaha, belajar terus menerus.

Untuk bertahan hidup manusia harus makan, selain tadi hanya berjuang untuk menuju. Teknis didalam realitanya bisa bertani, berdagang, jasa, dan seterusnya. Semua itu bisa memiliki kemungkinan terdapat ketidakadilan didalam sistem yang mengikatnya. Selain berjuang untuk melawannya, kembali kepemilikan kesadaran seperti apa yang R.A Kartini katakan yang intinya adalah suatu hal yang benar-benar bisa menghancurkan kita adalah diri kita sendiri menjadi sangat vital, untuk supaya tidak melupakan nilai-nilai kemanusiaan didalam apa yang kita anggap perjuangan bagaimanapun bentuknya.

Senin, 20 Maret 2017

ABNORMAL

Siang ini, aku melihat hubungan, ikatan, antara waktu dan tempat. Dan aku sadar aku hanyalah seorang pemimpi yang penuh pengharapan, tapi untuk disebut ambisiku melebihi kemampuanku aku tak mau. Saat ini aku cukup sulit untuk mengatakan sedang berada dimana. Entah dimensi mana pada diriku mengatakan bahwa aku sedang mencari, entah itu mencari seseorang atau sesuatu atau mungkin suatu tempat, aku tak tahu. Dan, aku tak ingin tetap tidak tahu. Langkahnya yang ada dipikiranku siapapun itu, selalu menjauh, dan terus menjauh, sedang kakiku kaku atau dikakukan oleh diriku sendiri untuk tidak mengejarnya. Bahkan "nya" yang aku sebut masih abstrak, tak bisa divisualisasikan, hanya bisa dirasakan, getaran, kasih, kelembutan, cinta, serta harapan.

Hanya ada beberapa alasan aku tetap dijalanku, yang menjadi pilihanku adalah alasan dimana aku tidak bisa membuang begitu saja, tidak mengingat begitu saja seseorang atau sesuatu, katakanlah objek yang aku cari  yang dimemoriku pernah mengasihiku, merindukanku, memberikan sentuhan tangannya dipipiku saat aku terjatuh dan air mata tak tertahankan jatuh mengalir romantis dipipiku seraya mereka berkata "Hai jatuhkanlah sebanyak mungkin, aku dan yang lainnya sudah pengap didalam kantong mata seseorang yang tidak berguna !!"

Tetes demi tetes... aku terus berlari menyusuri padang rumput luas yang tak terlihat ujungnya, hanya berlari terus berlari, ku buang semua air mataku yang bahkan tak menginginkan berada pada diriku, bersama kenangan dan getaran rindu  yang aku pikir aku buang. Ternyata bukan. Itu semua bukan cara untuk menghapuskan ketakutan dan semua harapan yang tidak jelas dipikiranku, justru itu menambah semua kerinduan yang tak kutahu untuk siapa ini sebenarnya, dan kemana aku harus menyalurkannya.

Sang takdir berbisik bahwa aku harus menjadi seorang yang sendiri dan tidak ada siapapun didunia ini yang berhak dan wajib memberikan kebaikannya untukku, karena takdirku hanya untuk aku dan dia yang kucari. Walau dibeberapa kesempatan walau aku merasa tersiksa dan menderita menanggung rindu ini, tak bisa dipungkiri ada perasaan bahagia dan manis melebihi madu dihati ini ketika berjuang dan berusaha mengingatimu, melafalkanmu, mencarimu, meski aku tak tahu dan tidak bisa melafalkanmu, yang aku rasa hanya keindahan dan cinta yang pasti ada didirimu, senyum simpul manismu, apakah dirimu seorang perempuan ? Tak tahu, begitu banyak perempuan cantik disetiap sisi jejak kehidupanku, dan kurasa kau bukan itu, bukan juga laki-laki, Siapakah dirimu ? atau siapakah aku ?

Kau terlalu cantik untuk disebut seorang perempuan, karena kerinduanku melebihi rinduku pada seseorang peremupan. Juga kau begitu kuat untuk dikatakan seorang laki-laki, karena kesulitanku untuk menemukanmu karena mungkin begitu kuatnya dirimu, misteriusnya kamu, o wahai keindahan.

Ini begitu realistis untuk dikatakan mimpi, terlalu tidak rasional untuk dikatakan realistis. Cinta menolak disakiti, tapi bagi para pejuang ini begitu menyakiti.

Kamis, 22 Desember 2016

Tadabur Diri 1

Salam sejahtera untuk kita semua.
Tanggal 22 Desember 2016 merupakan hari kamis yang dengan sangat luar biasa bertepatan dengan hari Ibu. Semoga Ibunda kita masing-masing selalu diberi kemudahan, kesehatan, panjang umur, atau mungkin bagi yang sudah tiada semoga selalu berada dilindungan, ridho, dan sisi-Nya. Amin.

Inilah sepenggal kisah.

Merenungkan wajah, ucapan, wejangan, perlindungan, pelukan, ciuman, kekhawatiran, dan segala bentuk-bentuk cinta kasih ibu membuat hati ini teriris mengingat dengan umur, kesalahan-kesalahan, dan apa manfaat aku hari ini bagi lingkungan, masyarakat, keluarga, dan lain sebagainya. Jika dibandingkan perjuanganmu bu... untuk aku... mungkin sudah selayaknya aku menjadi manusia terpelajar yang proaktif disetiap wadah aktualisasi yang aku jumpai, tapi faktanya sedari dulu aku tetap memble.. Ingatanku akan gelapnya masa lalu menjadi trauma akut yang tak berkesudahan mengganggu psikologisku sehingga implikasinya menyentuh kehidupan sosialku.

Aku adalah seorang laki-laki satu-satunya dikeluargaku, umurku 19 tahun, dan ayahku telah tiada ketika dulu aku sekolah menengah atas. Sudah tentu aku yang diharapkan keluargaku, kakak-kakakku, untuk menjadi sosok pengganti ayah dikeluarga, meski ku rasa aku belum sanggup, bahkan untuk sekedar menjadi pengganti memenuhi kewajiban sosial dimasyarkat sebagai pengganti ayah, tanpa perlu menafkahi, dan memang bukan nafkah yang diharapkan ibunda dan keluargaku.

Ke-introvertan diriku ini menyiksaku, bagaimana tidak disaat lingkungan yang masih homogen dengan karakteristik kebudayaan yang masih kental, aku pemuda pemalu yang individualistik berada tanpa efek ada ataupun tiada bagi sebagian mereka. Perjalanan hidupku sesungguhnya secara lahiriah mungkin orang-orang akan menganggap aku bahagia, nyatanya tidak. Kontemplasi yang aku lakukan mencoba terus pahami dan berhusnuzhon disetiap kejadian, meskipun tanpa dipungkiri terkadang disaat tertentu saat aku masih bersekolah menengah aku memaki diriku, wajahku, badanku, pada pantulan dicermin, itu menyakitkan, sekali waktu dibumbui dengan adegan-adegan dramatis khas film-film dimana aku menyakiti diriku sendiri secara fisik karena ketidakmampuanku memahami nikmat ilahi dikejadian yang aku alami.

Kata 'bunuh diri' seolah bukan hal asing, tapi hampir menjadi produksi yang tak terlupakan oleh proses pikiran diotak hampir dikeseharian, bisa disebut kata yang menjelma menjadi sahabat sejati. Itu seperti obat penahan rasa sakit, tidak menyembuhkan, tapi lumayan untuk sesaat mengusir kegilaanku-untuk tidak mengatakan stres kronisku. Ibundaku pernah atau sering menangis karena kelakuanku, keadaanku, suatu waktu dia berkata "dosa apa ibu dulu, sehingga nasibmu begini" itu sedikit bisa menghiburku walau gelap hatiku berkata kalimat ibu itu berarti menyesal melahirkanku, setelahnya perang saudara terjadi didalam batin.

Kelam karena sebenarnya hal-hal yang membuat seperti itu sangat meluas faktornya sehingga jika terucap satu persatu akan menyelesaikan bait perbait yang memakan tinta dan kertas yang tak terhitung serta jika terucap semuanya seolah mengumbar aib-aib dan juga keluh kesah yang dirasa tak patut untuk dibagikan, tapi hendak berkata apalagi ketika jiwa ini sudah tak tahan menampung perasaan yang ingin terucap tapi tak sanggup mengutarakan, aku harap Tuhan tersenyum ketika aku melukiskan perasaan ini bukan murka-Nya yang datang juga kepada sedulur-sedulurku yang sama memiliki sandungan yang bersemayam telah lama dijiwanya.

Aku memandang dengan hanya satu mata, bukan karena buta tapi ambliopia, entah benar atau salah penulisannya tak peduli, toh bukan kata yang indah untuk didendangkan. Ambliopia adalah nama penyakit atau kelainan dimana mata yang normal hanya satu yang satunya diabaikan oleh otak untuk bagaimana hanya fokus dipancaran gambar disalah satu mata sehingga efek fisiknya adalah mata lelah atau mata malas disalah satu mata dan terkadang menjadi terlihat juling. Nah, itulah salah satu penyebabnya, sebenarnya bukan karena itu aku tak terima tapi sudah pasti tanggapan teman sebaya dulu, komunikasi sosial, kehidupan sosial, menjadi banyak terhambat, pendidikan, pembelajaran, berkarya, menjadi susah karena terlalu minder dan takut dengan ejekan orang-orang, atau salah pahamnya orang-orang, yang radikalnya ketika berhadapan dengan perempuan, sungguh sebuah ujian yang mungkin bagi yang membaca biasa saja. Tapi, bayangkan proses tekanan yang terjadi sedari kecil berkelanjutan sampai sekolah, sehingga  aku mengecap diri ini tak berguna, tak bermanfaat, dan penilaian-penilaian lain yang menambah benar gambaran itu aku dikeadaan realistiknya.

Lagu, musik, galau, sunyi, senyap, sepi adalah sahabat-sahabat terbaik. Aku bukan orang yang pandai berkata dan bercerita jadi maaf bila tulisan ini begitu abstrak dan sulit diinterpretasi, aku hanya bisa mengucap semoga cerita-cerita ini, pengalaman ini, tak terjadi pada siapapun lagi khususnya orang-orang disekelilingku. Ejekan takut menjadi nyata, bangkitku kadang kembali menuju keterpurukan, aku butuh sesuatu, sesuatu yang menjadi stimulus energi kehidupan untuk tetap semangat melakukan keseharian bagi diriku sendiri sampai setelahnya harapnya bermanfaat bagi orang lain. Amin.

Tuhan menitipkan kekurangan itu karena dia tahu akulah yang mampu memegang amanah ini. Semua orang diciptakan secara sempurna, jadi walaupun dilahirkan tanpa tangan misalkan berarti itu kadar kesempurnaan yang diberikan Tuhan pada orang itu karena kita tidak pernah tahu dibalik itu semua yang ada dibalik tirai rahasia yang diberikan-Nya.

Penderitaan adalah bisa jadi ujian, dan menurutku penderitaan itu diperlukan oleh setiap insan yang berekonstruksi, berkembang, demi grows, karir, serta pemahaman hidup yang nantinya boleh dikata matang. Ada yang lebih mengerikan daripada ujian berbentuk penderitaan, yaitu ujian yang berbentuk anugerah, kelebihan, yang terkadang sulit untuk menyadari bahwa itu adalah ujian dan cobaan, sangat tipis sekali dengan nikmat atau itu kenikmatan yang dibeberapa sisi bisa jadi ujian ketika tidak bisa mengoptimalisasikan itu untuk kebaikan bagi sesama.

Tidak ada yang namanya cacat fisik yang ada itu ialah cacat hati.
Terimakasih

Rabu, 30 November 2016

Yang disembunyikan...

Aku rasa bohong itu keindahan 
Takdir pasti keindahan adalah semuanya indah
Curang bila saat terik panas
Kau sebut itu bukan keindahan

Pekat lampau telah terbenam membatin
Aku sembunyikan sampai entah waktu mana
Raungan pemberontakannya ingin dibagikan
Entah pada makhluk indah mana ku muncratkan

 Raut wajah lugu senyum simpul manis
Cukup buatku bersyukur haru
Karena terdapat yang lebih dari indahnya tangis 
Aku coba tatap dan langkah hidup baru 

Terlupakan dilupakan bukan aku rasakan
Tapi cahayaku terlupakan oleh aku
Ingin ku sayangi semua yang merasa sentuhan
Sulit ungkapkan hati yang terlanjur banyak terlubangi

Aku tidak berbicara soal kebenaran
Bicaraku berusaha tidak mempersoalkan
Karyaku sengaja tidak sengaja aku tahan
Menunggu energi baru terkandung bertahta dijiwa

Pembelaku aku sakiti dengan keji
Walau kenyataannya dia tak akan tersakiti
Pikirku aku pula selalu disakiti
Ternyata bukan alunan kedamaian terasa
Malah rasa hina dan aniaya merasuk sukma

Peduliku pada yang bersandar diluasnya bumi
Arogan dan egoisku adalah satu
Berikan telingamu menjadi pendengar terbaik
Maka akan ku berikan lebih dari itu 

Sayang sayangilah semuanya
Bisa dengan tangis bahkan tawa
Cintailah sukma dengan saling berbagi lara
Dengan tak lupa berbagi suka cita

Minggu, 06 November 2016

TAHAN HATI KARENA CINTA DINEGERI INDONESIA

Assalamualaikum.
Bismillah. Saya berharap satu atau dua orang  akan jadi pemimpin digenerasi kita yang itu berani dan tahan hati. Dalam ilmu pengetahuan, mengamalkan ilmunya lebih baik daripada hanya membicarakannya, tapi transformasinya untuk meneruskan warisan ilmu mau bagaimanapun harus menggunakan metoda komunikasi yang itu berkonstelasi dengan yang namanya suara, salah satu yang lazim digunakan manusia, organ yang digunakan adalah mulut untuk berbicara yang nantinya memiliki tata kelola serta nada yang menghasilkan produk suara yang dapat dimengerti manusia lainnya yang memiliki sistem program yang telah terlegitimasi untuk dapat mengerti kode atau rumus-rumus yang dihasilkan berbentuk suara penyebabnya adalah bicara. Betul nggak ? Jadi intinya, blablabla semuanya punya penafsiran dan interpretasi masing-masing yang unik bahkan diranah pengaplikasian, pengimplementasian, pemanifestasian dari pernyataan diatas yang itu merdeka bagi setiap-setiap individu.

Sunyi itu penting, bersuara "serius" juga penting, marilah walau wajah-wajah kita Indonesia ramah tamah serta kocak-kocak untuk dibalik itu semua ada sesuatu hal yang sangat sensitif serius sifatnya yang diperjuangkan, yang menjadi tujuan, menjadi target, atas semua hal yang telah kita buang, atas kesalahan-kesalahan, kekeliruan-kekeliruan, hutang-hutang, yang sampai sekarang mungkin beberapa kita termasuk saya belum menemukan sebenarnya kepada siapa ketidakmudahan-ketidakmudahan ini harus dimudahkan atau kepada siapa kita membayar hutang. Dunia hutang kepada siapa ? Toh segala hal telah dipersiapkan, segala hal telah ada, hanya saja kita orang manusia yang meruwet-ruwetkan pada awalnya. Dan, itu tidak bisa dan tidak boleh dirubah seradikal mungkin menjadi awal dimana dunia belum hutang pada siapa-siapa. Tapi ada syarat, pola, tuntunan yang dapat meringankan serta bahkan melepaskan beban-beban yang selama ini menindih kita serta mengusik keseimbangan kita. Lebih jauh, kalau serius kita dapat mendapat bonus-bonus yang lebih dari itu sesuatu atas ketekunan kita, kesabaran kita, akan terus melakukan syarat-syarat yang walau seperti dongeng-tapi dapat memudahkan, oleh karena terkadang terjebaknya kita karena ditengah, awal, atau yang paling mematikan diakhir menjadikan syarat, pola, rumus, atau metoda tadi target padahal sangat jauh, itu hanyalah jalan dan wasilah. Contoh minum kopi itu bukan tujuan, tapi ketenangan setelah meminum kopi sesuai fungsi kopi tadilah yang jadi tujuan, yang menjadi hakikat. Sekarangkan syarat atau syariatnyakan jalan dan wasilah karena ingin bukan karena melanjutkan perjalanan. hehe jadi pusing saya.

Ekstra waspada bukan berarti kaku untuk berbuat apa-apa, sangat mudah berbuat baik diIndonesia. Jangan harap perbuatan baik kita perlu dilegitimasi dulu oleh pemangku kebijakan baru kita melakukan, legitimasi itu hanya aspirasi, perbuatan baik itu dilakukan dari sesuatu hal yang kita orang Indonesia mampu dari titik terkecil, bahkan mencuci piring membantu orang tua, atau meringankan beban istri, atau bentuk berbakti terhadap suami, telah menyentuh esensi daripada pemikiran-pemikiran besar, kata dan suara yang diomongkan besar. Negeri dengan sejuta derita tapi rakyatnya masih dapat tertawa hanya dengan merokok kretek, atau ibu-ibu sambil menumbuk kopi, dan panen palawija. Siapa SDMnya yang lebih maju kalau begitu ? Indonesia tidak butuh nominal untuk bahagia, sebenarnya, jangan geer merasa membela saudaranya misalkan rakyat, bukan membela, itu hanya tuntunan untuk saling mengerti antar sesama karena tidak ada kelas pada hakikatnya hanya saja karena dibeberapa aspek ada yang lebih mampu dan ada yang tidak, maka bantulah yang tidak. Itu hanya tuntunan. Bukan membela, masa tuntunan dibela ? Nanti kita bisa terjatuh. wkwk.

Merambah kemana-mana, jangan lupakan nama-nama semacam Sunan Kudus, Sunan Ampel, dll.. yang telah bahkan sampai sekarang penawar rindu bagi rakyat-rakyat jelata, bukan untuk beberapa ummat semua ummat beragama, oleh karena banyak hal disejarah Sunan Kudus tentang toleransi yang sebenarnya dibanding gaya toleransi zaman yang katanya modern ini sejarah Sunan Kudus lebih efektif, atau mungkin modern itu bukan kata dan bahasa yang tata kelola definisi dari realitanya semakin efektif ? Sebaliknya materialis dan kurang efektif, atau lebih parah semakin tidak efektif itu disebut semakin modern? Maksudnya dari berbagai perspektif, tingkat kebutuhan, keadaan, kemampuan, dll dll dll ukuran-ukuran semacam inilah yang harus dikuatkan untuk mengalahkan propaganda-propaganda yang fungsi dan awal tujuannya sebagai konspirasi bagi beberapa pihak yang ingin mencari keuntungan dan atau kepentingan golongan, kelompok.

Tugas-tugas suci yang langsung bersentuhan dengan orang lain yang itu membutuhkan bantuan dari aksi nyata kita melakukan perbaikan-perbaikan dari hal-hal terkecil tanpa perlu mengingat puzzle perbaikan lain ketika melakukan aktivitas perbaikan disektor tertentu, cita-cita dan gambaran secara komprehensif serta universalnya ditunda dulu saat detik penghayatan, penikmatan, karena amal usaha kita orang yang sedikit mampu dibeberapa bidang bagi saudara-saudara kita. Contoh misal disektor pendidikan dengan meningkatkan produktifitas siswa diluar sekolah yang dibantu pemuda atau mahasiswa yang mampu dan mau melakukannya, misal. Ingat, tukang ngaduk tidak pernah membayangkan dia ada ditempat pasang-pasang kramik ketika kerja, tapi ketika melihat sketsa bangunan dan susunan pasti secara keseluruhan..

Jauh spesifik, misal pelatihan-pelatihan public speaking dan atau penampilan-penampilan tradisional menyesuaikan dan akomodatif akan tempat, lebih radikal bahkan sesuai individu, itu dalam kategori penanganan-penanganan yang lebih ekstrem sampai ke titik individu, yang mau bagaimanapun potensi itu istimewa, dan terkadang harus diistimewakan. Nantinya akan ada yang istimewa tanpa merasa istimewa dan ada juga yang tidak diistimewakan tapi istimewa. Bukan mngistimewa-istimewakan. Coba kawan-kawan bayangkan berjuta-juta orang dari awal mula satu, dua, tiga orang yang bisa berbicara atau dasar bicaranya karena kita, betapa bahagianya, karena kita tanpa berharap disebut karena kita oleh karena itupun bukan karena kita secara keseleruhuhan sempurna. Maha sempurna. Menemukan idiom-idiom komunikasi itu penting, entah dengan benda apapun, coba dan terus mencoba, sambil terus bertanya-tanya berbagai sumber kepada orang yang dianggap bisa, sehingga nantinya muncul Ibrahim-Ibrahim baru, dengan gaya dan zaman baru. Asseekkkk.

Entah kenapa jiwa ini akhir-akhir ini bahagia, bukan membahagiakan diatas penderitaan saudara-saudara kita, justru kita bisa terisak tersedu mereka masih jauh lebih kuat dengan penderitaan yang jika dibandingkan dengan kita masih jauh lebih parah tapi kita masih tetap tidak bersyukur, bersabar, tahan hati. Identitas itu seruan, amal usaha bukan kesempatan mencari kesempatan, belajarlah dari Vicky Prasetyo yang bangkit dari keterpurukan karena tipu daya sendiri, sing penting yang postifnya saja. Bersinarlah Badiuzaman, Badiuzaman, baru, keajaiban zaman keajaiban zaman baru, seperti Syeikh Badiuzaman Said Nursi, kekasih Allah SWT. Tuhan semesta alam. Sekarang ditakutkan telah senja, kekasih-kekasih Tuhan mulai redup akan tutup usia, bukan Tuhan khawatir, tapi apakah kita tidak mau ? Dengan Cinta sesama merasakan balutan kasih sayang kecilNya lewat kita. Siapapun itu. Amin.

Minggu, 02 Oktober 2016

PACARAN KENIKMATAN ABAD 21

Bila akhir-akhir ini terasa bahagia, ya alhamdulillah...hehe
Saat ini mungkin sedang ada yang shalawatan, ngaji, diskusi, meneliti, membaca, menulis, berkarya, ngerjain tugas, tidur mungkin. First, yang gua tahu nikmat itu ya nikmat, kita hidup dituntut memahami mana yang baik mana yang buruk terus puzzling deh diantara keduanya. Punya pacar gaul, gak punya pacar ngenes..Itu asumsi-asumsi dan puzzling yang tidak bermutu. Maksudnya, segala yang terjadi dihidup kita itu pasti terikat dengan yang namanya ruang dan waktu yang mendalamnya harus dipahami substansi dan esensi, katanya.. Pemikiran-pemikiran kita khususnya generasi muda kaya kita-kita ini sudah banyak terpengaruh dan dibatasi oleh yang namanya media, film-film, novel, berita, dll dll dll . Terkadang gua sendiri gak tahu seberapa persenkah gua mengetahui kebenaran dan keotentikan sumber-sumber referensi tersebut (termasuk buku pelajaran) tidak ada rumus yang bisa menghasilkan jaminan bahwa segala sesuatu yang selalu gua konsumsi film, berita, pelajaran, dan lain sebagainya adalah kebenaran, minimal beritiqad pada kebenaran.

Banyak hal yang kita tidak tahu, banyak kenikmatan yang tersembunyi dan terasa kaku bila dituangkan secara logis, banyak juga kenikmatan yang menghasilkan kemelaratan. Bumi bola, kotak, datar, atmosfer kesemuanya abstrak. Kesulitan-kesulitan yang menimbulkan kesalahan itu kemudian harusnya disesali, setelahnya bencilah kesalahan tersebut sebagai kesalahan, tapi sebagai sejarah dan hikmah jadikanlah pelajaran. Right ? Kanan ? bukan tapi 'benar', tapi kanan, apapun itu... Memang kanan selalu terkonotasi pada hal yang benar atau baik dan itu bukan jadi permasalahan tapi maksud gua disini ini sebuah keunikan, sebuah anugerah dan kearifan dari Tuhan yang gua yakini sebagai tanda-tanda kebesaranNya. Kenapa ? 'Right' dalam hal ini adalah kata dalam bahasa Inggris dan yo pastinya berasal dari hasil cipta rasa kebudayaan negeri elizabeth. So mungkin kawan-kawan bisa merenunginyalah atau bahkan mengkaji kenapa ternyata ada kemiripan-kemiripan dari berbagai sumber tanpa harus terlebih dahulu membawa ego kepentingan golongan, ras, suku, budaya, agama, dll dll dll yang justru biasanya pada pengkajian dan penelitian ilmu pengetahuan bisa membuat proses kurang maksimal karena ada sifat subjektif dan su'uzdhon terlebih dahulu kalau bahasanya 'ustadz'.

Penekanannya disini sebenarnya yang ingin gua bahas adalah generasi muda itu sendiri sebagai pemuda-pemuda yang haus dan frustasi dengan kejombloan. Aseekk. Efek-efek pengaruh sinetron-sinetron yang gak bermutu ini yang mestinya harus direduksi secepatnya mungkin, tapi bukan hanya dengan tuntutan tapi kesadaran dan gerakan dari kitanya. Jangan berharap kegiatan-kegiatan positif kita mesti dibuat kebijakannya, RUU, oleh pemerintah itu namanya lucu... Oleh karena kalau loe-loe pada sudah sadar, mari dari awal kembali kita rekonstruksi pemuda-pemuda yang kegiatan-kegiatannya relevan dan ideal serta produktif untuk prospek kedepannya, masa depan kita. Tidak usah mikir hidup gua atau siapapun itu sudah tak berarti, misal karena ada masa lalu yang membuat terpuruk, itumah biasa yang jadi lebih luar biasa jika kita bisa bangkit dari semua itu, dari hal-hal yang membuat berkurangnya pilihan hidup kita dimasa depan. Dan, selalu ada satu pilihan besar. Itulah perubahan ke arah lebih baik, perubahan kepada cahaya hati yang lebih mudah empati atas kekurangan-kekurangan saudara-saudara kita yang lainnya, betul gak ?

Selamanya hidup kita gak akan pernah jomblo broo, soalnya bukankah kita selalu dituntut untuk mencintai kawan-kawan, teman-teman, guru-guru, orang tua kita sendiri...Dan itu bukanlah jomblo, justru jomblo adalah ketika kita membatasi ruang gerak kreatifitas dan mencari ilmu kita dengan pilihan-pilihan yang tidak menguntungkan dan menimbulkan tembok-tembok baru dalam kehidupan, contoh pacaran. Okelah bagi yang udah terlanjur pacaran, anggap pacaran ya pertemanan special, kalau bisa tidak harus dengan buaian kata 'cinta' atau 'sayang' 'mamah' 'papah' atau lain-lain, justru karena cinta tak harus dilabeli dengan kata saja, apalagi dimasa-masa dimana kita seharusnya belum harus memprioritaskan terlalu untuk mengungkapkan cinta dengan kata, khususnya pada lawan jenis. Kan ngeri liat anak SMP, SMA udah bisa nembak cewe dijalan raya yang pastinya ditonton publik, mau jadi apa generasi berikutnya, mau jadi orang-orang yang dalam genggaman mind control ? Karena generasi mudapun bagian dari rakyat yang harus diberikan hal-haknya dalam pengetahuan-pengetahuan, wawasan-wawasan yang luas, yang membuka cakrawala berpikir mereka agar nantinya tidak jadi Gayus Gayus baru.. Bukankah mereka yang akan meneruskan perjuangan ? Sumber Daya Manusia ? Nantinya mereka tahu bahwa ada sistem-sistem yang ternyata merugikan rakyat, merugikan orang tuanya ternyata dulu itu, jadi kalau ada yang jadi pemangku kebijakan gak sekonyong-konyong maen gusur aja tanah orang, kalaupun itu secara administratif memang harus digusur. Ada analisis-analisis sosial yang lebih mendalam lagi, dari generasi muda, yang lomba silat ya biarkan lomba silat, yang sedang praktek-praktek sains ya biarkan terus praktek, tapi dibeberapa kesempatan harus selalu ada pendiskusian-pendiskusian, pertemuan-pertemuan diantara mereka yang meningkatkan gairah kompetitif dan produktifitas masa muda mereka sehingga nantinya akan banyak terdapat kegiatan-kegiatan yang sumbernya berasal dari peningkatan kepekaan sosial dari generasi muda itu sendiri entah apapun itu bentuknya, generasi muda berelaborasi satu sama lainnya dengan berbagai background serta disiplin ilmu, minat bakat, yang berbeda-beda.

Jadi kalau gua sendiri ya cuman gini-gini aja, nulis-nulis hasil daripada raksasa-raksasa, tokoh-tokoh hebat terdahulu yang gejala-gejala ataupun peristiwa-peristiwanya serta karyanya gua coba kontekstualisasikan dengan keadaan sekarang ini khususnya generasi muda Indonesia yang hari demi hari mulai terlihat kebangkitannya juga terlihat sektor-sektor yang lemahnya dimana dan sebabnya apa.

Percaya dan optimis, kita bisa bangkit, nggak pada tiduran mulu dikasur tapi terus beraktivitas entah itu otaknya, fisiknya. Pacaran itu bukanlah pacaran, anggap saja gua atau kita punya prasyarat sendiri atas pilihan pasangan hidup kita kelak dan yang sekarang dengan kita kalau bisa tidah harus disebut 'pacar' tapi 'calon prioritas' dan semoga dengan itu bentuk-bentuk ranah nilainyapun tidak teridentikan dengan pacaran secara negatif, ya kalau bisa ya kuat buat tidak pacaran, tapi bukan berarti kita sombong terhadap lawan jenis, ini yang sering salah kaprah. Tidak pacaran bukan berarti memutuskan urat syaraf kebaikan dari hati kita, menjaga bukan seperti itu bentuknya, bukan berarti kita menganggap sumber kesalahan adanya diluar diri. Justru, manfaatkanlah potensi-potensi orang luar baik secara langsung ataupun tidak langsung sebagai bahan renungan, bahan penambah wawasan dan lain-lain. Sebelum selesai tulisan ini, gua ingin curhat kemarin-kemarin gua lihat perempuan-perempuan dari negeri-negeri eropa timur, kalau gak salah kemarin itu Cyprus nah disitu gua liat saudara-saudara kita yang bershalawat dengan wajah khas eropa, dan itu jadi motivasi, ternyata masih ada saudara-saudara kita disana, ya motivasinya sih mungkin supaya kita jangan berpecah-pecah. Minimal ada rasa emosional ketika melihat hal-hal demikian, khusus untuk gua sih termotivasi kali aja salah satu dari mereka ditakdirkan buat jadi jodoh gua tapi karena bahasanya rumit sedangkan bahasa Inggris aja belum lancar, maka dari itu justru menambah semangat dan giat gua buat belajar dan terus berkembang haha...

Literatur kagak jelas ini semoga bisa ada yang membaca meskipun tidak rapi dan sulit dipahami, hehe namanya juga belajar, terimakasih wassalamualaikum..^_^

Jumat, 26 Agustus 2016

INDONESIA NEGERI KEBANGSAAN BERJAMA’AH



Sekali lagi, diujung pena ini curahan segenap bentuk usaha transformsasi cinta untuk sebuah negeri bernama Indonesia. Tidak jadi masalah jikalau goresan ini sedikit atau bahkan tidak ada yang akan melihatnya, yang jadi masalah adalah ketika tidak ada daya usaha mencurahkan sama sekali goresan untuk Nusantara. Kata ‘ujung pena’ jangan terlalu dipermasalahkan, memang itu hanya metafora karena pada faktanya untuk sekelas zaman sekarang, jarang dan bahkan sudah tak ada lagi yang menulis langsung dengan pena. 

Negeri ini baru saja melakukan perayaan ulang tahunnya yang ke-71 tepat ditanggal dimana dahulu Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan tanah dikebon belakang kita salah satunya. Uniknya, tidak semeriah dan semerah dulu ketika kita masih lengoh. Mungkin hipotesa awal adalah bukan karena nasionalisme mulai luntur, tapi karena semua orang Indonesia sudah merasa merdeka karena itu merayakan kemerdekaan Indonesia saja mereka merasa merdeka untuk memilih ikut atau tidak, atau bisa jadi hanya tentang metoda cara perayaannya saja yang mulai kreatif-inovatif bentuknya baik secara bersama-sama, kelompok, dan masing-masing individu. Harap semuanya tidak harus terlalu serius merespon itu, karena pasti ujung-ujungnya perjuangan legal-formalistik yang paling diperhatikan untuk menangani itu semua yang pada kenyataannya seketat-ketatnya aturan yang dilegitimasi secara tekstual, khusus di Indonesia pasti bolong juga, karena sebenarnya bukan itu inti permasalahannya, dan juga karena sebuah nasionalisme tidak bisa digantikan dengan secarik tulisan yang dilegitimasi menjadi sebuah aturan. Jujur itu jauh dari ‘sama dengan’. 
         
   Kemerdekaan atau Independence Indonesia menurut Bung Karno hanyalah sebagai pintu gerbang. Setelah itu tentang keadilan, persamaan, dan demokrasi korelasinya tidak bisa dipaksakan dengan euforia kejayaan sejarah dulu. Maksudnya, kalau kata sang proklamator kita orang Indonesia ini terlampau lama hanya memanfaatkan kerak kemampuannya tidak menyalakan apinya. Sekarang-sekarang sudah ada yang menyalakan apinya tapi justru malah yang terbakar hutan-hutan disumatera dan kalimantan. Dan, pelakunya bebas. Mari kita analisis bersama Indonesia  setelah ‘pintu gerbang’ itu baik dengan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan jikalau ada relasi dengan subordinat lainnya.
           
 Bolehlah kita apresiasi terlebih dahulu segala bentuk-bentuk kemajuan secara sosial dinegeri ini dari kemerdekaan sampai pula sekarang ini. Dimana, humanity atau Hak Asasi Manusia telah menjadi kalimat konsumsi masyarakat kita secara luas dengan memang tema besar itu harus menjadi salah satu pokok dan syarat dari pada sebuah masyarakat modern dunia. Tentu saja pro-kontra sudah menjadi alamiah (nature) dari individu manusia yang dilengkapi akal pikiran dan indra sebagai alat pembaca keadaan sekitar. Indonesia punya potensi sebagai stick holder dari keadaan sosial yang memiliki perbedaan yang sangat kaya untuk contoh masyarakat dunia. Kalau perlu jujur pada hati nurani disetiap jiwa-jiwanya masyarakat Indonesia secara komprehensif, mungkin saja kita bisa berkata no try to teach me about humanity ! Tidak peduli benar atau salah ejaannya, wong Indonesia kok.
            Sebagian masyarakat pro HAM di Indonesia bisa dibagi menjadi beberapa kategori, mungkin yang paling umum adalah pertama yang mengerti secara komprehensif HAM dan kedua yang awam yang hanya memahami HAM menurut tafsiran dewek. Permasalahannya adalah apakah kita akan menerapkan HAM yang arkitipe dengan yang ada dipola corak masyarakat barat khususnya Eropa ? Atau akan ada adaptasi sosial dan budaya (nurture) dengan pola corak masyarakat Nusantara ? Paling penting substansinya pokoknya HAM, masalah bentuk-bentuk penerapan yang penting tidak dimonopoli untuk satu kepentingan golongan. 

            Selain itu zaman ini ada semacam fenomena marginalisasi peran generasi muda atau marginalisasi generasi muda dari poros perhatian prioritas pembenahan baik secara kebijakan birokrasi ataupun secara prioritas polarisasi sosial-kultural kebanyakan masyarakat Indonesia, generasi muda menjadi hanya subordinat akurasi bidang yang perlu diperhatikan, aktivis hanya bermain elitis dan kegiatannya lebih berpihak kepada yang sifatnya jangka pendek karena memang itu yang menguntungkan dan yang sifatnya jangka panjang perjuangannya lebih berat dan terkadang sering dilupakan. Konstelasi kebudayaan internasional baik dari barat, timur, tengah, bersintesa dalam peradaban manusia Indonesia dewasa ini, khususnya generasi muda. Kelebihannya, nilai komersial-eksploitatif dan industri pasar hiburan Indonesia meningkat pesat, baik ranah musik, tari, seni, dan lain sebagainya. Hebatnya lagi sebagai masyarakat yang sangat memuliakan tamu, di Indonesia barang luar seolah adalah yang pasti kualitasnya diatas barang lokal, berbentuk apapun itu. 

            Kita masyarakat yang mengerti sudah sedikit mulai aga priyayi sulit masuk kebawah, kalaupun kebawah hanya ranah jangka pendek. Kalau dianalogikan, sudah terlampau banyak orang-orang akademisi, praktisi, dan lainnya yang sudah menjadi pohon tinggi (berprestasi), maka perlu adanya orang-orang yang hanya dengan pohon yang rendah tapi ranting dan daun-daunnya dapat menaungi, meneduhi orang-orang dibawahnya. Sekarang sulit membedakan pemuda kota atau pemuda desa, karena orientasinya mayoritas sama karena kita telah dimekanisme dengan konsumsi publik yang membentuk mental-mental jiwa orang Indonesia khususnya generasi muda untuk dibentuk ya begitu, entah untuk jadi alat pembebasan atau penindasan kita tidak pernah tahu dan tidak mau tahu, masing-masing kita kehilangan identitas diri. 

            Pendidikan sebagai ordinat dari semua aspek perspektif haruslah jadi tonggak utama pembenahan baik secara formal ataupun non formal. Saat ini sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak siswa-siswa yang belum pada umurnya sudah bisa dijumpai ditempat-tempat umum merokok misal, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa selagi hanya duduk-duduk dan hanya ikut andil memaki mereka saja. Dan, paling menghina logika sehat manusia adalah dimana peristiwa rokok disekolah-sekolah seolah dilarang dan menjadi barang yang sangat berbahaya, hal itu disosialisasikan oleh tenaga-tenaga pendidik hampir dominan. Sedangkan pada faktanya rokok dijual secara meluas diseluruh Indonesia, apakah ada tanda-tanda rokok sangat-sangatlah berbahaya ? Maksudnya carilah alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang nantinya kompleks ini. Alangkah baiknya jika objek ‘rokok’ dalam hal ini tidak dijadikan kambing hitam dalam pendidikan, penjelasan-penjelasan oleh pendidik lebih menitikberatkan pada keadaan tidak menyimpulkan ‘rokok’ tersebut boleh atau tidak boleh, tapi lebih kepada penjelasan baik-buruk manfaat-mudharat setelah itu beri mereka kebebasan memilih dengan tidak mengenyampingkan peraturan disekolah tidak boleh merokok tentunya, realistis saja. Bukan hanya untuk masalah ‘rokok’ tapi gejala-gejala yang lain. Metoda-metoda seperti ini memang tidak mutlak, bisa saja ada modifikasi tapi ini hanya sedikit saran secara psikologis. Ini merupakan personifikasi dimana terkadang dibeberapa sekolah, antara yang diberi disekolah dengan sosial masyarakat secara luas tidak ilmiah, atau kurang sinkron.

            Budaya-budaya hedonis telah menjalar dengan hampir holistik diseluruh Indonesia karena teknologi media sebagai penunjang penyebaran cepat tentunya. Kebahagiaan itu diukur dengan seberapa banyak anda menang dalam kompetisi materalistis, mirip dengan teori Kaptalisnya Weber. Menurut Anies Baswedan orang Indonesia yang masih melihat kekayaan Indonesia itu lewat sumber daya alamnya, kemajuan fasilitasnya, itu kalaupun menamengi diri membela kepentingan rakyat sebenarnya itulah otak-otak kaptalis. Stephen R Covey adalah tokoh yang sangat cocok teorinya untuk keadaan Indonesia hari ini, dimana kompetisi, interaksi antar manusia adalah kerja sama dan hasilnya diusahakan win/win tidak ada yang dirugikan. 

Generasi kita telah terjebak dengan mindshet ekonomi dimana uang itu dihasilkan dari gaji hasil kerja entah jadi buruh, karyawan, dll. Dan, dengan peningkatan ekonomi Indonesia yang katanya terus meningkat berapa persen tiap tahun sehingga dipuji G-20 sedangkan masyarakat termasuk kita melohok bingung, iki opo rek. Kenyataannya kita lapar tapi kita hidup, karena terlalu sering kita lapar, dan diberi makan secara cuma-cuma dengan gratis entah itu bentuk BLT atau makhluk lainnya, kita jadi manja. 

Katanya akan ada suatu masa dimana masyarakat dunia tidak ada yang mau menerima sadaqah , bisa jadi hal itu terjadi karena sistem tukar dengan uang kertas memang jelas berbeda dengan sistem barter dulu yang keadaan terus seimbang (beras ditukar gandum), atau dengan emas atau perak (yang secara nyata bernilai). Sistem ini memungkinkan yang sebenarnya barang pokok kebutuhan hidup semacam beras, gandum, jagung, akan lebih sedikit dari uang kertas yang berputar. Jika kita analisis, dan kontekstualisasikan maka bisa jadi masa diatas yang masyarakat dunia tidak ada lagi yang mau menerima sadaqah itu berhubungan dengan kemungkinan dari sistem diatas, yang khusus di Indonesia mata uang kita terus turun nilai tukarnya. Hubungannya adalah dengan mindshet pemuda sekarang yang menginginkan uang dari hasil kerja sedangkan dia punya kemampuan mengeksploitasi lahan yang dipunya, misal kebun singkong dan dengan pendidikan yang telah dia tuntut, bolehlah sedikit kreasi dari produksi singkongnya bisa meningkatkan nilai marketnya. Anak ekonomi mungkin akan lebih khatam, terkadang poros perhatian kita selalu sesuatu yang belum tentu kita genggam sedangkan yang kita punya tidak dimaksimalkan potensi-akurasinya

Intinya pasca-kemerdekaan Indonesia ranah sosial, budaya, ekonomi mengalami perkembangan. Perkembangan itu tergantung dari sudut pandang mana diukurnya. Boleh jadi, bagi sebagian kalangan ini (Indonesia) kondisi yang sudah baik, tapi untuk sebagian lainnya mungkin saja buruk. Dalam perkembangannya life of society Indonesia mengalami fluktuatif yang relatif seimbang, terkadang terlalu menjadi ekstrim atau ruwet itu hanyalah permainan media yang kita tidak tahu persenstase benar-salahnya dan tidak pernah ada rumus untuk menghitungnya serta maksud dibalik publikasi berita-berita tersebut. Jadi media punya potensi besar menjadi alat pengatur hampir disetiap ide gagasan dan pola tingkah manusia Indonesia dalam perkembangan disemua sektor. Lebih jelas yang kurang hanyalah justice, belum sama seperti social justice. Semua bahan yang Indonesia miliki, baik kalangan yang konservatif ataupun yang mengatasnamakan modern sudah cukup mampu membuat tatanan sosial yang baik, dengan tradisi-tradisinya, segala hal bentuk ragam budaya yang sebenarnya menjadi salah satu penunjang utama dalam pengembangan tatanan sosial yang diinginkan, kembali yang kurang hanya tinggal justice (keadilan) dari pemangku kebijakan. Oleh karena kebijakan akan berimplikasi pada pola sifat karakter tatanan sosial dan juga percepatan tatanan sosial dan budaya tersebut berakomodasi dengan zaman teknologi, sehingga tidak menimbulkan disfusi antara tuntutan zaman dan keadaan sosial, juga karena kebijakan juga berimplikasi pada ekonomi rakyat.

Semua aspek menjadi terintegrasi-terinterkoneksi bisa berpisah tapi tidak bisa dipisah-pisahkan, karena segala alurnya menuju muara dan output yang sama. Bisa jadi rumusnya ekonomi-budaya-sosial, jadi maksudnya bukan untuk supaya masyarakat sejahtera secara materalis tapi kebijakan-kebijakan yang bersentuhan langsung dengan rakyat yang berhubungan dengan ekonomi diusahakan haruslah mencapai titik maksimal kebijakan yang berkeadilan sehingga setelah itu terciptalah budaya, pengamalan budaya, pelestarian budaya, yang perkembangannya tidak dikotomis dengan zaman. Tatanan sosial adalah hasil dari kedua sektor tersebut, sungguhpun bisa jadi ada pendapat lain.

Dalam al-kulliyyat al-khams (lima prinsip universal) perlindungan terhadap keyakinan, terhadap hak hidup, hak berpikir dan mengekspresikannya, hak reproduksi, dan hak perlindungan terhadap harta benda. Tak ada warga negara nomor dua, tak ada yang namanya dzimmi , dalam hukum Indonesia semuanya sama. Jadi bila akhir-akhir ini negara ini mulai digerogoti kembali oleh orang-orang baik yang ingin adanya formalisasi syar’iat atau macam-macam hal, merupakan sesuatu yang miris. Sekarang kita sudah jauh banyak terjebak dalam perdebatan-perdebatan yang tidak menguntungkan karena hanya bergeliat disitu-situ saja, lupa akan kemajuan dunia, teknologi, sosial, keilmuan, karya-karya, dan semacamnya. Sedangkan anak Indonesia yang orang tuanya tidak bisa menyekolahkan anaknya, mereka hanya yang penting hari ini masih bisa bernafas itu sudah mereka syukuri tanpa memperdulikan, memperhatikan, bahkan mengerti apa yang kita perdebatkan, lebih parah apa yang kita perdebatkan tidak seminimalnya berhubungan dengan apa yang mereka rasakan. Berpikir maju, luas, ataupun expert dibeberapa bidang boleh karena pada akhirnya demi kebaikan bersama think global and action local.

Semoga dikemudian hari demi hari Indonesia akan tetap berkembang, perkembangan kita untuk Indonesia. Terus su’ubawwaqoba ila lita’arafu, saling mengenal antar sesama anak bangsa, karakternya, segala bentuk konflik, debat, sehingga membuat seolah negeri ini menjadi carut murut sungguh suatu yang harus disyukuri, oleh karena bagaimanapun justru itulah yang menambah khazanah keilmuwan kita, pergerakan kita. Tidak perlu iri dengan negeri-negeri seberang, kemajuan mereka, pentingnya harus ada yang rela kotor-kotoran, terhinadinakan, teraniaya, ataupun bersusah payah demi memperbaiki jalan-jalan tikus yang menjadi tempat sebenarnya yang harus lebih diprioritaskan untuk dibenahi, karena tidak boleh diabaikan seekor tikus bisa jadi koruptor, maka datangilah sarangnya.

Semangat keberagaman dimulai saat Ahlu-sunnah Wal Jama’ah muncul zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan sebagai sebuah istilah semangat inklusivisme, persatuan, baik kalangan umawi, syi’ah, khawarij, dll. Serta juga konsep tarbi’ (Abu bakr, Umar, Utsman, Ali) yang sukses dikembangkan yang sebenarnya sebuah kesepakatan dan bukan dogma seperti yang kita yakini hari ini. Sehingga muncul slogan terkenal nahnu jama’atun wahidah tahta rayati din Allah (kita semua adalah anggota jama’ah yang tunggal dibawah bendera agama Allah). Jadi jika dinegeri yang Pancasilais ini kita yang menamengi diri ASWAJA tapi pola pikirnya masih menunjukan tanda-tanda ekslusivisme, maaf kita sampai kapanpun tidak akan jadi seperti Issac Newton. Gak pake Kiyai Haji.

Masih banyak hal yang ingin dituliskan, dirapikan dalam tulisan ini, tapi dirasa itu akan lebih baik jika nanti respon-respon dibelakang akan membuat kajian semakin berkembang. Tapi kekurangan dalam tulisan ini tetaplah kekurangan karena sedang menunggu pelengkapnya dari kawan seperjuangan.  Indonesia, TANAH AIR KITA !!! Untuk itu saatnya kita semua berkata nahnu jama’atun wahidah tahta rayati indhonasia KITA ADALAH ANGGOTA JAMA’AH YANG TUNGGAL DIBAWAH BENDERA INDONESIA !! :D